IHSG Dibuka Melemah ke 5.249, Rupiah Tertekan di Rp18.161 Menanti Keputusan The Fed

Jakarta, ElrolumNews — Pasar keuangan Indonesia kembali dibuka di zona merah pada Rabu, 28 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 17,06 poin atau 0,32 persen ke level 5.249,07. Sepanjang awal sesi, indeks bergerak di kisaran terendah 5.242,20 hingga tertinggi 5.255,67 .

Tekanan jual terlihat pada saham-saham utama. Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Telkom Indonesia (TLKM) kompak turun pada pembukaan . Pelemahan IHSG dibebani sektor infrastruktur yang anjlok 2,4 persen, disusul sektor teknologi yang turun 1,3 persen dan sektor energi yang melemah 0,7 persen .

Dari sisi nilai tukar, rupiah dibuka melemah 5 poin atau sekitar 0,028 persen ke level Rp18.161 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp18.156 .

- Advertisement -

Sentimen terbesar yang menahan pasar hari ini adalah keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. The Fed dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneternya pada Rabu waktu AS atau Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 01.00 WIB, dilanjutkan konferensi pers pada pukul 01.30 WIB .

Konsensus pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75 hingga 4,00 persen, setelah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Meski suku bunga diperkirakan tidak berubah, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai prospek inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan kemungkinan pengetatan kebijakan berikutnya .

- Advertisement -

Sikap yang lebih hawkish berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk saham negara berkembang. Bagi Indonesia, arah kebijakan The Fed menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan rupiah, arus modal asing, serta daya tarik Surat Berharga Negara.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyatakan pelemahan rupiah diperkirakan terjadi akibat kenaikan indeks dolar AS oleh antisipasi sikap hawkish dari The Fed dalam pertemuan FOMC malam ini.

“Harga minyak yang masih tinggi dan net sell investor asing di pasar ekuitas domestik juga masih membebani,” kata Lukman.

Sentimen negatif lain datang dari pasar surat utang. Minat investor dalam lelang Surat Utang Negara merosot tajam pada Selasa, 27 Oktober 2026. Total penawaran masuk hanya Rp31,09 triliun, anjlok 52,1 persen dari lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024.

Di tengah lesunya permintaan, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk SUN tenor sekitar 10 tahun justru melonjak ke 7,54 persen, tertinggi sejak November 2022. Angka ini naik 30 basis poin dalam dua pekan dan sekitar 147 basis poin dibandingkan awal 2026.

Pemerintah hanya menyerap SUN sebesar Rp20,65 triliun, di bawah target indikatif Rp30 triliun. Kombinasi penawaran yang melemah dan yield yang meningkat mengindikasikan tekanan pembiayaan, sekaligus berpotensi membuat biaya utang baru pemerintah semakin mahal .

Dari sisi fundamental, Phintraco Sekuritas mencatat Fitch Ratings memperkirakan kinerja ekonomi Indonesia tumbuh melambat di bawah level 5 persen pada semester II 2026. Secara kumulatif, ekonomi sepanjang tahun diproyeksi maksimal tumbuh 5,2 persen, di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen .

Fitch menilai dampak dukungan fiskal pemerintah akan memudar setelah belanja difokuskan di awal tahun pada semester I 2026. Belanja konsumen juga diperkirakan melambat sepanjang sisa tahun ini, di tengah tingkat keyakinan konsumen yang lebih rendah dibanding awal tahun.

Dalam laporan bertajuk “Indonesia’s Policy Uncertainty, External Headwinds Cloud Growth Outlook” yang dirilis 21 Oktober 2026, Fitch mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,4 persen secara tahunan pada semester I 2026. Namun momentum tersebut diperkirakan melemah pada paruh kedua tahun ini.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memastikan bank sentral selalu memantau pergerakan nilai tukar rupiah yang tengah menghadapi volatilitas akibat situasi global. BI menggunakan berbagai instrumen, termasuk intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward, serta insentif biaya lindung nilai.

Insentif hedging yang diberlakukan sejak akhir Juni 2026 telah menghasilkan aliran dana melalui swap dan domestic NDF sebesar sekitar 8 hingga 9 miliar dolar AS.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan rupiah tidak sepenuhnya merugikan. Menurutnya, nilai tukar yang lebih lemah dapat meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar internasional.

“Kalau buat ekspor kan, menambah daya saing, ya,” kata Airlangga.

Sumber: CNBC Indonesia, Bisnis.com, Katadata.co.id, Kontan.co.id, detikFinance, RRI.co.id, iNews.ID

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Iklan

Terkait
IHSG anjlok 4,31 persen ke bawah 5.000, rupiah melemah ke Rp18.035 akibat ancaman MSCI

IHSG Anjlok 4,31 Persen ke Bawah 5.000, Rupiah Melemah...

Jakarta, ElrolumNews — Pasar keuangan Indonesia memasuki pekan ini dengan tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)...
Diversifikasi portofolio membantu investor mengelola risiko dengan tidak bergantung pada satu saham, satu sektor, atau satu jenis aset.

Diversifikasi Portofolio Saham untuk Pemula: Cara Mengelola Risiko Investasi

Pasar Modal & Investasi, ELrolumNews — Setelah memahami analisis fundamental, valuasi, pertumbuhan, value trap, laporan keuangan, dan...
Siklus industri dapat memengaruhi laba, arus kas, dan valuasi perusahaan, terutama pada sektor yang sangat bergantung pada harga komoditas atau permintaan ekonomi

Mengenal Siklus Industri dan Dampaknya pada Valuasi

Pasar Modal & Investasi, ELrolumNews — Dalam analisis saham, investor sering bertanya: “PER-nya rendah, apakah saham ini...
Advertisement

Lainnya

Popular