IHSG Anjlok 4,31 Persen ke Bawah 5.000, Rupiah Melemah ke Rp18.035 Akibat Ancaman MSCI

Jakarta, ElrolumNews — Pasar keuangan Indonesia memasuki pekan ini dengan tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia dibuka anjlok 223,23 poin atau 4,31 persen ke posisi 4.961,88 pada perdagangan Senin pagi, 19 Oktober 2026.

Penurunan ini menembus batas psikologis 5.000 dan memperpanjang pelemahan tajam yang terjadi pada Jumat pekan lalu, ketika IHSG ditutup melemah 11,57 persen . Dari 602 saham yang diperdagangkan, sebanyak 542 melemah, 88 stagnan, dan hanya 64 yang menguat.

Tekanan utama berasal dari ketidakpastian status Indonesia dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI sebelumnya mengumumkan sedang mengkaji ulang klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

MSCI membuka periode konsultasi formal selama enam bulan, dengan batas masukan pelaku pasar hingga 30 April 2027 dan keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027 . Jika Indonesia benar-benar diturunkan ke standalone market, saham-saham domestik tidak lagi menjadi bagian dari indeks utama MSCI Emerging Markets. Padahal, indeks ini menjadi acuan bagi banyak pengelola dana investasi global.

Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan bahwa ketidakpastian ini meningkatkan risiko keluarnya dana asing dan menambah tekanan terhadap pasar keuangan domestik. “Tekanan terhadap IHSG dan rupiah masih berlanjut dalam jangka pendek seiring meningkatnya ketidakpastian atas status Indonesia di indeks MSCI,” demikian kutipan riset tersebut .

Meski demikian, FTSE Russell tetap mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market. Pilarmas mencatat FTSE Russell mengapresiasi reformasi terkait pengungkapan informasi pemegang saham, klasifikasi investor, batas minimum free float, dan perangkat pengawasan pasar.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga melemah pada pembukaan perdagangan Senin. Berdasarkan data ANTARA, rupiah turun 8 poin atau 0,04 persen menjadi Rp18.035 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.027.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan ini terjadi di tengah sentimen risk off domestik yang dipicu kekhawatiran investor terkait potensi downgrade MSCI.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya telah menjatuhkan sanksi administratif berupa denda total Rp2,1 triliun kepada tiga emiten. Rinciannya: PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp1,5 triliun, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp500 miliar, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar Rp100 miliar.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyatakan sanksi dijatuhkan setelah ditemukan indikasi manipulasi perdagangan saham DSSA serta pelanggaran dalam proses penawaran umum saham BREN dan CUAN.

Langkah lain datang dari Bursa Efek Indonesia. BEI menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) dari 15 persen menjadi 7 persen secara asimetris, berlaku sejak 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.

“Penyesuaian ini juga bertujuan memberikan kesempatan bagi investor untuk mengevaluasi dan mencerna informasi yang tersedia, sehingga dapat membantu proses pengambilan keputusan investasi secara lebih baik berdasarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia,” demikian pernyataan resmi BEI.

Batas Auto Rejection Atas (ARA) tidak mengalami perubahan. Untuk saham berharga Rp11 hingga Rp200, batas ARA tetap 35 persen. Saham di atas Rp200 hingga Rp5.000 memiliki batas ARA 25 persen, sedangkan saham di atas Rp5.000 tetap 20 persen.

Sumber: ANTARA, Bloomberg, RRI.co.id, CNBC Indonesia, Kompas.com, detikFinance, Bisnis.com, Kontan.co.id, SINDOnews

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkait
Diversifikasi portofolio membantu investor mengelola risiko dengan tidak bergantung pada satu saham, satu sektor, atau satu jenis aset.

Diversifikasi Portofolio Saham untuk Pemula: Cara Mengelola Risiko Investasi

Pasar Modal & Investasi, ELrolumNews — Setelah memahami analisis fundamental, valuasi, pertumbuhan, value trap, laporan keuangan, dan...
Siklus industri dapat memengaruhi laba, arus kas, dan valuasi perusahaan, terutama pada sektor yang sangat bergantung pada harga komoditas atau permintaan ekonomi

Mengenal Siklus Industri dan Dampaknya pada Valuasi

Pasar Modal & Investasi, ELrolumNews — Dalam analisis saham, investor sering bertanya: “PER-nya rendah, apakah saham ini...
Laporan keuangan membantu investor memahami kinerja, posisi keuangan, dan arus kas perusahaan sebelum menilai prospek investasinya.

Cara Membaca Laporan Keuangan Perusahaan untuk Pemula

Pasar Modal & Investasi, ELrolumNews — Sebelum menilai apakah sebuah saham murah atau mahal, investor perlu memahami...

Lainnya

Popular