Beijing, ElrolumNews — Pemerintah China mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi bencana susulan pasca banjir bandang dan longsor lumpur dahsyat yang melanda perbatasan China-Nepal pada Rabu (26/8/2026). Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (28/8/2026), menyatakan bahwa kawasan sekitar masih memiliki banyak gletser dan danau glasial dengan risiko bahaya geologis yang cukup besar.
“Di kawasan sekitarnya masih terdapat banyak gletser dan danau glasial dengan risiko bahaya geologis yang cukup besar, sehingga menimbulkan kesulitan yang sangat besar bagi operasi penyelamatan dan penanganan bencana,” kata Lin Jian.
Lin Jian menegaskan bahwa rencana penyelamatan yang matang harus disusun dan segala upaya harus dikerahkan untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang masih hilang, baik warga China maupun warga negara asing . Perhatian ketat juga harus diberikan terhadap kestabilan danau bendungan alami dan pegunungan di sekitarnya, serta langkah-langkah efektif harus diambil untuk mencegah terjadinya bencana susulan.
Pemerintah China pada Kamis (27/8) memperingatkan bahwa sebuah danau di dekat pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo “sudah meluap” dan berisiko tinggi mengalami jebol . Fragmen aliran lumpur terlihat di kedua sisi bendungan, dan perkiraan awal menunjukkan bahwa danau tersebut berisi setidaknya 2,5 juta meter kubik air . Kedua sungai tersebut menyatu sebelum memasuki Nepal dan alirannya kemudian dikenal sebagai Sungai Bhotekoshi, anak sungai utama dari Sungai Trishuli.
Perdana Menteri China Li Qiang telah tiba di lokasi bencana pada Kamis (27/8) dan menyebut bahwa China saat ini masih berada dalam periode utama musim banjir dan situasi pengendalian banjir serta pencegahan topan masih tetap berat dan kompleks . “Pemerintah harus berpegang pada pemikiran mengenai skenario terburuk dan batas keselamatan, serta dengan tegas mengatasi sikap lengah,” kata PM Li Qiang dalam pernyataannya di media pemerintah.
Lin Jian mengungkapkan bahwa para ahli dan lembaga resmi China serta Nepal telah melakukan penilaian awal mengenai penyebab bencana tersebut. Berdasarkan analisis mereka, bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser di kawasan dataran tinggi di Nepal.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) pada Kamis (27/8) menyebutkan bahwa aktivitas seismik tersebut disebabkan oleh runtuhnya gletser sehingga menerjang permukiman di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli serta menyeret orang-orang dan membawa material longsoran ke arah hilir.
Data Korban di Nepal:
547 orang tewas
596 orang dari 33 negara masih hilang
127 warga Nepal masih belum diketahui keberadaannya
Data Korban di China (Tibet):
558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing
Dewan Pariwisata Nepal melaporkan bahwa 121 wisatawan asing berhasil diselamatkan hingga Jumat (28/8) pukul 15.30 waktu setempat . Mereka berasal dari India, China, Korea Selatan, Amerika Serikat, Rusia, Italia, Bulgaria, dan Swiss . Tiga kewarganegaraan dari 121 penyintas belum terkonfirmasi.
Operasi penyelamatan di Nepal kembali dilanjutkan setelah sempat dihentikan sementara akibat tingginya permukaan air . Otoritas Nepal telah mengevakuasi 3.253 orang selama banjir bandang.
Lin Jian menyatakan bahwa informasi terkait negara asal korban masih dalam proses verifikasi lebih lanjut . “Kami telah memberi tahu kedutaan besar negara-negara terkait di China dan akan tetap berkomunikasi dengan mereka,” tambahnya.
(*/fvs)




