Jabatan Kudus, Karakter yang Diuji: Pelajaran dari 1 Timotius 3:1–13
Renungan Kristen | 1 Timotius 3:1–13
“Jika seseorang menghendaki jabatan penilik jemaat, ia menginginkan pekerjaan yang indah.”
— 1 Timotius 3:1
Renungan Kristen, ELrolumnews – Ada sesuatu yang paradoks dalam cara Alkitab berbicara tentang kepemimpinan gereja.
Di satu sisi, Paulus menyebut keinginan untuk menjadi penilik jemaat sebagai sesuatu yang baik. Tetapi di sisi lain, hampir seluruh bagian 1 Timotius 3:1–13 justru berbicara tentang beban karakter, kedewasaan, integritas, dan tanggung jawab yang harus dimiliki seorang pemimpin.
Paulus tidak memberikan daftar tentang seberapa terkenal seseorang, berapa banyak orang yang mengikutinya, seberapa besar gereja yang pernah dibangunnya, atau seberapa hebat kemampuan komunikasinya.
Yang diperiksa terutama adalah siapa dirinya.
Ia harus tidak bercacat, mampu menguasai diri, bijaksana, suka memberi tumpangan, cakap mengajar, tidak suka bertengkar, tidak cinta uang, mampu mengurus rumah tangga, tidak sombong, memiliki kesaksian yang baik di luar jemaat, dan telah teruji. Para diaken pun harus memiliki karakter yang dapat dipercaya serta memegang teguh iman dengan hati nurani yang murni.
Dengan demikian, 1 Timotius 3:1–13 memberikan sebuah prinsip yang sangat penting bagi gereja:
Dalam Kerajaan Allah, jabatan tidak pernah boleh dipisahkan dari karakter.
Dan jika dibaca dari perspektif teologi Reformed, bagian ini membawa kita lebih jauh lagi. Gereja bukan milik manusia. Gereja adalah milik Kristus. Karena itu, orang yang menerima tanggung jawab untuk memimpin dan melayani gereja harus dipandang bukan sebagai pemilik gereja, melainkan sebagai pelayan di bawah pemerintahan Kristus.
Gereja membutuhkan pemimpin, tetapi bukan sekadar orang yang memiliki kemampuan memimpin
Surat 1 Timotius ditulis Paulus kepada Timotius dalam konteks pelayanan gereja di Efesus. Salah satu persoalan besar yang muncul dalam surat ini adalah bagaimana kehidupan dan tata tertib jemaat harus dijalankan di tengah munculnya pengajaran yang menyimpang.
Karena itu, pembicaraan mengenai pemimpin gereja dalam pasal 3 bukanlah topik yang berdiri sendiri.
Paulus sedang berbicara mengenai bagaimana rumah tangga Allah harus diatur.
Beberapa ayat kemudian, ia menjelaskan bahwa jemaat adalah “rumah Allah” dan “tiang penopang dan dasar kebenaran.” Jadi, persyaratan bagi penilik jemaat dan diaken berkaitan langsung dengan kesehatan kehidupan gereja.
Ini penting.
Pemilihan pemimpin gereja bukan sekadar persoalan organisasi.
Ini adalah persoalan eklesiologi—doktrin tentang gereja.
Jika gereja adalah milik Kristus, maka gereja tidak bebas memilih pemimpin berdasarkan ukuran dunia.
Dunia dapat berkata:
“Pilih orang yang paling sukses.”
Alkitab berkata:
“Perhatikan karakternya.”
Dunia dapat berkata:
“Pilih orang yang paling berpengaruh.”
Alkitab bertanya:
“Apakah ia dapat dipercaya?”
Dunia melihat panggung.
Alkitab melihat kehidupan.
Dunia menghitung pengikut.
Alkitab menguji kesetiaan.
1. “Menghendaki jabatan” bukan berarti mengejar kehormatan
Paulus memulai dengan kalimat yang menarik:
“Jika seseorang menghendaki jabatan penilik jemaat, ia menginginkan pekerjaan yang indah.”
Kata yang digunakan menunjuk kepada keinginan atau aspirasi terhadap tugas pengawasan. Istilah Yunani episkopos secara harfiah berkaitan dengan seseorang yang mengawasi atau menjaga, dan dalam konteks gereja menunjuk kepada tanggung jawab kepemimpinan serta penggembalaan. Dalam tradisi Reformed, istilah penilik/overseer dipahami berkaitan erat dengan jabatan penatua, sebagaimana terlihat dalam hubungan istilah episkopos dan presbuteros dalam Titus 1.
Tetapi perhatikan kata terakhir Paulus:
pekerjaan.
Bukan:
kehormatan.
Bukan:
popularitas.
Bukan:
kekuasaan.
Bukan:
status sosial.
Pelayanan adalah pekerjaan.
Dan pekerjaan itu indah bukan karena membuat seseorang menjadi besar, tetapi karena pekerjaan itu dilakukan untuk umat Allah.
Inilah perbedaan antara panggilan pelayanan dan ambisi rohani.
Seseorang dapat menginginkan pelayanan karena ia mengasihi Kristus dan umat-Nya.
Tetapi seseorang juga dapat menginginkan jabatan karena ia mencintai posisi.
Keduanya dapat terlihat serupa dari luar.
Namun Allah melihat hati.
Karena itu, pertanyaan pertama bukan:
“Seberapa besar keinginannya menjadi pemimpin?”
Melainkan:
“Mengapa ia menginginkan pelayanan itu?”
Dalam perspektif Reformed, panggilan pelayanan tidak boleh dipisahkan dari anugerah dan providensia Allah. Allah memberikan karunia kepada tubuh Kristus dan memanggil orang-orang tertentu untuk menjalankan tugas tertentu.
Karena itu, jabatan gerejawi bukanlah tangga untuk menaikkan status seseorang.
Ia adalah salib tanggung jawab.
2. Syarat pertama bukan kemampuan, tetapi “tidak bercacat”
Ayat 2 dimulai dengan pernyataan:
“Seorang penilik jemaat haruslah seorang yang tidak bercacat.”
Ini adalah pusat dari daftar persyaratan berikutnya.
Menarik bahwa Paulus tidak berkata bahwa penilik jemaat harus tanpa dosa.
Jika demikian, tidak ada manusia yang dapat memenuhi syarat itu.
Teologi Reformed justru mulai dari pengakuan bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa. Tidak ada seorang pun yang memiliki kebenaran bawaan yang membuatnya layak berdiri di hadapan Allah.
Seorang pendeta berdiri di mimbar bukan karena ia lebih suci secara alami daripada jemaat.
Ia juga membutuhkan Kristus.
Ia juga dibenarkan oleh iman.
Ia juga hidup dari anugerah.
Maka “tidak bercacat” tidak boleh dibaca sebagai tuntutan kesempurnaan tanpa dosa, melainkan sebagai tuntutan terhadap integritas hidup yang tidak memberikan dasar yang layak bagi tuduhan serius terhadap karakter dan kesaksiannya.
Ini penting karena ada dua ekstrem yang harus dihindari.
Ekstrem pertama:
“Pemimpin gereja harus sempurna.”
Tidak mungkin.
Ekstrem kedua:
“Karena semua orang berdosa, karakter tidak terlalu penting.”
Ini juga bertentangan dengan Paulus.
Justru karena semua orang berdosa, seorang pemimpin harus menjadi orang yang bertobat, dapat ditegur, hidup dalam pertobatan, dan menunjukkan buah pengudusan.
Dengan kata lain:
Pemimpin gereja bukan orang yang tidak pernah jatuh; ia adalah orang yang hidupnya menunjukkan bahwa ia tunduk kepada Kristus ketika ia jatuh.
3. “Suami dari satu istri”: integritas dalam kehidupan pernikahan
Paulus kemudian menyebut:
“suami dari satu isteri.”
Ungkapan Yunani yang digunakan secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “seorang laki-laki dari satu perempuan”. Karena itu, bagian ini telah lama didiskusikan dalam penafsiran Kristen. Terjemahan modern juga menunjukkan adanya beberapa kemungkinan nuansa interpretasi.
Namun kita tidak perlu memaksakan kesimpulan yang melampaui teks.
Yang jelas, Paulus menempatkan kesetiaan moral dan integritas kehidupan pernikahan di antara kualifikasi pemimpin gereja.
Ini menunjukkan bahwa kehidupan pribadi bukan sesuatu yang terpisah dari pelayanan publik.
Seorang pemimpin dapat berkhotbah mengenai kesetiaan Allah, tetapi ia sendiri harus menunjukkan kesetiaan dalam kehidupannya.
Ia dapat mengajarkan kasih Kristus, tetapi keluarganya seharusnya tidak menjadi tempat di mana ia memperlakukan orang lain dengan kejam.
Ia dapat mengajarkan kekudusan, tetapi kehidupan pribadinya tidak boleh menjadi kontradiksi terhadap Injil yang diberitakannya.
Bukan berarti keluarga seorang pendeta harus sempurna.
Tidak.
Tetapi kehidupan seorang pemimpin harus menunjukkan arah pertobatan, kesetiaan, dan integritas.
4. Daftar Paulus sebenarnya sedang menggambarkan manusia yang mampu menguasai dirinya
Perhatikan rangkaian karakter dalam ayat 2–3:
- dapat menahan diri;
- bijaksana;
- sopan;
- suka memberi tumpangan;
- cakap mengajar;
- tidak mabuk;
- tidak kasar;
- lemah lembut;
- tidak suka bertengkar;
- tidak cinta uang.
Ini bukan daftar kemampuan administratif.
Ini adalah gambaran karakter yang telah dibentuk oleh penguasaan diri.
Dan di sinilah doktrin pengudusan menjadi penting.
Dalam teologi Reformed, keselamatan tidak berhenti pada pembenaran.
Kita memang dibenarkan hanya oleh iman karena karya Kristus.
Tetapi orang yang telah dibenarkan juga sedang dikuduskan oleh Roh Kudus.
Justification berbicara tentang status kita yang benar di hadapan Allah karena kebenaran Kristus.
Sanctification berbicara tentang karya Roh Kudus yang terus membentuk kehidupan kita agar semakin serupa dengan Kristus.
1 Timotius 3 berbicara terutama tentang buah yang terlihat dalam kehidupan seseorang.
Bukan berarti karakter tersebut membuat seseorang layak mendapatkan keselamatan.
Sebaliknya:
Karakter Kristen adalah buah dari kehidupan yang telah disentuh dan terus dikerjakan oleh anugerah Allah.
Ini membebaskan kita dari dua kesalahan.
Kita tidak menjadi legalistis dengan berpikir:
“Saya harus memiliki karakter ini supaya Allah menyelamatkan saya.”
Tetapi kita juga tidak menjadi antinomian dengan berkata:
“Karena saya diselamatkan oleh anugerah, karakter tidak penting.”
Injil berkata:
Kita diselamatkan oleh anugerah, dan anugerah yang menyelamatkan juga menguduskan.
5. “Cakap mengajar”: gereja tidak dapat hidup tanpa Firman
Di tengah daftar karakter, Paulus memasukkan satu kemampuan khusus:
“cakap mengajar.”
Ini penting.
Karena seorang penilik jemaat bukan hanya administrator.
Ia adalah penjaga dan pengajar kebenaran yang dipercayakan kepada gereja.
Kepemimpinan gereja tidak boleh dipisahkan dari Firman Allah.
Inilah salah satu ciri penting tradisi Reformed.
Gereja yang sehat bukan gereja yang paling spektakuler.
Gereja yang sehat adalah gereja yang tunduk kepada Firman Allah.
Karena itu, kemampuan mengajar bukan sekadar kemampuan berbicara di depan umum.
Seseorang dapat sangat pandai berbicara tetapi tidak mampu menjelaskan teks Alkitab dengan benar.
Seseorang dapat memiliki suara yang menarik tetapi tidak mampu membedakan doktrin yang benar dan yang salah.
Seseorang dapat membuat jemaat menangis tetapi tidak membawa mereka kepada pengenalan yang benar tentang Allah.
Karunia komunikasi bukan pengganti kesetiaan kepada Firman.
Dalam tradisi Reformed, pemberitaan Firman memiliki tempat sentral dalam kehidupan gereja. Karena itu, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan memahami, menjelaskan, dan menerapkan kebenaran Kitab Suci.
6. Rumah tangga adalah tempat pertama kepemimpinan diuji
Kemudian Paulus membuat argumen yang sangat kuat:
“Jika seseorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?”
Ini bukan berarti keluarga adalah gereja kecil dalam arti identik dengan gereja.
Tetapi Paulus menggunakan rumah tangga sebagai ujian nyata terhadap kemampuan seseorang menjalankan tanggung jawab kepemimpinan.
Seseorang dapat tampil sangat rohani di depan jemaat.
Tetapi rumahnya melihat sisi lain dirinya.
Keluarga melihat bagaimana ia:
- berbicara ketika marah;
- menggunakan uang;
- memperlakukan pasangan;
- mendidik anak;
- menerima kritik;
- menghadapi kegagalan;
- meminta maaf;
- dan menjalankan tanggung jawab ketika tidak ada orang yang melihat.
Karena itu, kepemimpinan rohani tidak dimulai di mimbar.
Ia dimulai dalam kesetiaan sehari-hari.
Prinsip ini juga memperlihatkan bahwa Alkitab tidak memisahkan iman dari kehidupan.
Doktrin yang benar harus menghasilkan kehidupan yang benar.
7. Mengapa orang yang baru bertobat tidak boleh buru-buru menjadi pemimpin?
Ayat 6 memberikan larangan:
“Janganlah ia seorang yang baru bertobat.”
Alasannya sangat serius:
“agar jangan ia menjadi sombong.”
Perhatikan sekali lagi apa yang menjadi ancaman utama bagi pemimpin gereja.
Bukan hanya skandal moral.
Bukan hanya uang.
Bukan hanya konflik.
Tetapi kesombongan.
Ini sangat dalam secara teologis.
Mengapa?
Karena jabatan rohani dapat menjadi tempat yang sangat berbahaya bagi hati manusia yang belum matang.
Jika seseorang menerima penghormatan sebelum memiliki kerendahan hati, jabatan dapat memperbesar egonya.
Jika seseorang menerima pengaruh sebelum memiliki kedewasaan, pengaruh dapat menjadi racun.
Jika seseorang menerima mimbar sebelum belajar tunduk kepada Firman, ia dapat menggunakan Firman untuk meninggikan dirinya sendiri.
Karena itu gereja harus mengerti:
Karunia dapat muncul dengan cepat; kedewasaan tidak.
Seseorang mungkin dalam beberapa bulan terlihat sangat berbakat.
Tetapi gereja harus melihat proses hidupnya.
Apakah ia dapat ditegur?
Apakah ia bertobat?
Apakah ia rendah hati?
Apakah ia mencintai Firman?
Apakah ia tetap setia ketika tidak mendapatkan penghargaan?
Inilah alasan Paulus mengatakan bahwa seseorang harus teruji.
8. Kesaksian di luar gereja juga penting
Ayat 7 menambahkan bahwa seorang penilik jemaat harus mempunyai:
“nama baik di luar jemaat.”
Perhatikan keseimbangannya.
Paulus tidak mengatakan bahwa pemimpin gereja harus populer di dunia.
Ia mengatakan bahwa ia harus memiliki kesaksian yang baik.
Ada perbedaan besar antara popularitas dan integritas.
Popularitas berbicara tentang berapa banyak orang menyukai kita.
Integritas berbicara tentang apakah kehidupan kita dapat dipercaya.
Seorang Kristen tidak harus membuat dunia menyukai Injil.
Kristus sendiri berkata bahwa dunia dapat membenci para pengikut-Nya.
Tetapi gereja tidak boleh memberikan kepada dunia alasan yang sah untuk menuduh seorang pemimpinnya sebagai penipu, tidak jujur, kasar, atau tidak dapat dipercaya.
Injil memang akan ditolak oleh sebagian orang.
Tetapi kehidupan kita tidak boleh menjadi batu sandungan yang kita ciptakan sendiri.
9. Diaken: pelayanan yang sering dianggap kecil justru diuji dengan serius
Mulai ayat 8, Paulus berbicara mengenai diaken.
Istilah diakonos berkaitan dengan pelayanan. Dalam pemahaman Reformed klasik, jabatan diaken merupakan salah satu bentuk pelayanan resmi dalam gereja, dengan perhatian khusus pada pelayanan kasih dan kebutuhan umat Allah.
Dan sekali lagi, Paulus tidak mengutamakan kemampuan teknis.
Ia berbicara tentang:
integritas.
Diaken harus:
- terhormat;
- tidak bercabang lidah;
- tidak dikuasai minuman keras;
- tidak serakah;
- memegang rahasia iman dengan hati nurani yang murni;
- teruji sebelum menjalankan pelayanan.
Ada prinsip yang sangat indah di sini:
Dalam gereja Kristus, pelayanan yang terlihat sederhana tetap merupakan pelayanan yang kudus.
Mengurus kebutuhan jemaat bukan pekerjaan kelas dua.
Menolong orang miskin bukan pekerjaan kelas dua.
Mengunjungi orang yang membutuhkan bukan pekerjaan kelas dua.
Melayani dengan setia tanpa berdiri di panggung bukan pekerjaan kelas dua.
Sebab nilai pelayanan tidak ditentukan oleh seberapa banyak manusia melihatnya.
Nilai pelayanan ditentukan oleh kepada siapa pelayanan itu dipersembahkan.
Dan jika pelayanan itu diberikan kepada Kristus, maka pelayanan yang paling tersembunyi sekalipun memiliki nilai kekal.
10. “Memegang rahasia iman”: doktrin harus tinggal dalam hati nurani
Ayat 9 mengatakan bahwa diaken harus:
“memegang rahasia iman dengan hati nurani yang suci.”
“Rahasia iman” bukan berarti ajaran rahasia yang hanya diketahui kelompok tertentu.
Dalam Perjanjian Baru, “misteri” menunjuk kepada karya keselamatan Allah yang dinyatakan dalam Kristus.
Maka seorang pelayan harus bukan hanya mengetahui doktrin, tetapi hidup di bawah kebenaran doktrin tersebut.
Di sinilah hubungan antara ortodoksi dan ortopraksi menjadi penting.
Ortodoksi:
percaya dengan benar.
Ortopraksi:
hidup dengan benar.
Keduanya tidak boleh dipisahkan.
Kita tidak membutuhkan gereja yang hanya memiliki doktrin yang benar tetapi kehidupan yang munafik.
Kita juga tidak membutuhkan gereja yang sangat aktif dalam pelayanan tetapi tidak memiliki fondasi kebenaran.
Gereja membutuhkan:
kebenaran yang dipercaya dan kebenaran yang dihidupi.
11. Ayat 11 dan persoalan “perempuan” atau “istri”
Ayat 11 merupakan salah satu bagian yang memerlukan kehati-hatian dalam penafsiran.
Beberapa terjemahan menerjemahkannya sebagai “istri mereka”, sementara yang lain menerjemahkannya sebagai “perempuan”. Catatan terjemahan menunjukkan bahwa secara tekstual memang terdapat perbedaan interpretasi mengenai apakah Paulus berbicara tentang istri para diaken atau perempuan yang melayani dalam kapasitas tertentu.
Karena itu, kita sebaiknya tidak menggunakan ayat ini untuk membuat klaim yang lebih besar daripada yang dapat ditanggung teks.
Namun satu hal sangat jelas:
karakter tetap menjadi pusat perhatian.
Perempuan yang dimaksud dalam ayat ini—apapun posisi persis yang dimaksud Paulus—harus memiliki karakter yang serius, tidak memfitnah, mampu menguasai diri, dan dapat dipercaya.
Artinya, pelayanan gereja tidak boleh dipisahkan dari kekudusan hidup.
12. “Teruji” adalah kata yang sangat penting bagi kepemimpinan gereja
Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan:
“Pilihlah mereka karena mereka terlihat hebat.”
Ia mengatakan:
“Biarlah mereka diuji terlebih dahulu.”
Ini adalah prinsip yang sangat sehat bagi gereja.
Jangan hanya melihat seseorang ketika ia berada di mimbar.
Lihat kehidupannya.
Lihat bagaimana ia bekerja.
Lihat bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak dapat memberikan keuntungan kepadanya.
Lihat bagaimana ia mengelola uang.
Lihat bagaimana ia menghadapi kritik.
Lihat bagaimana ia bertobat.
Lihat bagaimana ia memperlakukan keluarganya.
Lihat apakah perkataannya sesuai dengan kehidupannya.
Waktu menguji karakter.
Dan gereja tidak seharusnya takut melakukan proses pengujian itu.
13. Masalah terbesar pemimpin bukanlah kurangnya pengaruh, tetapi kurangnya kekudusan
Jika kita membaca keseluruhan 1 Timotius 3:1–13, ada sesuatu yang sangat mencolok.
Paulus hampir tidak berbicara mengenai:
- ukuran gereja;
- jumlah jemaat;
- popularitas;
- kekayaan;
- kemampuan membangun gedung;
- keberhasilan finansial;
- jumlah pengikut;
- pengaruh sosial.
Yang ia bicarakan adalah:
karakter.
Mengapa?
Karena bagi Allah, kesetiaan lebih penting daripada kemegahan manusia.
Dalam kerajaan dunia, pemimpin sering diukur berdasarkan kekuasaan.
Dalam gereja, pemimpin harus diukur berdasarkan kesetiaan kepada Kristus.
Ini bukan berarti kemampuan, kecerdasan, atau kepemimpinan organisasi tidak penting.
Semua itu dapat menjadi karunia yang berguna.
Tetapi karunia tanpa karakter dapat menjadi berbahaya.
Karena itu:
Karunia membuat seseorang mampu melakukan sesuatu; karakter menentukan bagaimana ia menggunakan kemampuan itu.
14. Namun jangan salah: 1 Timotius 3 bukan Injil “jadilah orang baik”
Di sinilah kita harus berhenti sejenak.
Ada bahaya ketika membaca bagian ini secara moralistis.
Kita dapat membaca:
“Jadilah bijaksana.”
“Jangan marah.”
“Jangan cinta uang.”
“Jadilah suami yang baik.”
“Jadilah pemimpin yang baik.”
Semua itu benar.
Tetapi jika berhenti di sana, kita belum membaca teks ini dalam terang Injil.
Karena manusia berdosa tidak mampu mengubah dirinya menjadi kudus hanya dengan mendengar daftar perintah.
Kita membutuhkan anugerah.
Kita membutuhkan kelahiran baru.
Kita membutuhkan Roh Kudus.
Kita membutuhkan Kristus.
Inilah salah satu kekuatan perspektif Reformed:
Perintah Allah menunjukkan standar kekudusan; Injil menunjukkan sumber kuasa untuk hidup dalam kekudusan.
Kita tidak menguduskan diri agar Kristus mau menerima kita.
Kita dikuduskan karena kita telah diterima di dalam Kristus.
Pembenaran mendahului pengudusan.
Anugerah bukan musuh kekudusan.
Anugerah adalah sumber kekudusan.
15. Kristus adalah Kepala Gereja—bukan pendeta, bukan penatua, bukan diaken
Pada akhirnya, seluruh pembahasan tentang pemimpin gereja harus membawa kita kepada Kristus.
Sebab ada bahaya besar dalam pembicaraan tentang kepemimpinan:
kita dapat terlalu terpesona kepada pemimpin manusia.
Alkitab tidak mengizinkan itu.
Pemimpin gereja bukan penyelamat gereja.
Pendeta bukan kepala gereja.
Penatua bukan pemilik gereja.
Diaken bukan pemilik jemaat.
Kristus adalah Kepala Gereja.
Para pemimpin hanyalah pelayan di bawah otoritas-Nya.
Karena itu, ketika seorang pendeta gagal, iman kita tidak boleh runtuh seolah-olah Kristus gagal.
Ketika seorang penatua mengecewakan kita, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa Injil gagal.
Ketika seorang pemimpin jatuh, kita perlu melakukan disiplin, pertobatan, dan pemulihan sesuai Firman—tetapi kita tetap mengarahkan mata kepada Kristus.
Sebab keselamatan gereja tidak pernah berdiri di atas kualitas manusia.
Keselamatan gereja berdiri di atas karya Kristus yang sempurna.
16. Pemimpin gereja bukan manusia super
Ada satu hal lagi yang perlu ditekankan.
1 Timotius 3 tidak sedang menciptakan kelas manusia yang lebih suci daripada jemaat biasa.
Pemimpin gereja tetap manusia berdosa yang hidup dari anugerah.
Jabatan tidak otomatis membuat seseorang lebih kudus.
Sebaliknya, jabatan memberikan tanggung jawab untuk menjadi teladan.
Tradisi Reformed juga menekankan bahwa jabatan gerejawi tidak membuat seorang pemimpin menjadi lebih bernilai di hadapan Allah daripada anggota tubuh Kristus lainnya. Seluruh tubuh Kristus memiliki fungsi dan nilai dalam kehidupan gereja.
Maka jangan berpikir:
“Saya bukan pendeta, berarti pelayanan saya tidak penting.”
Tidak.
Anda dapat menjadi ayah yang setia.
Ibu yang membesarkan anak dalam takut akan Tuhan.
Pekerja yang jujur.
Pengusaha yang tidak menipu.
Guru yang mengajar dengan integritas.
Tetangga yang menolong orang lain.
Anggota jemaat yang berdoa.
Semua itu adalah panggilan untuk hidup bagi kemuliaan Allah.
Jabatan gerejawi tertentu adalah panggilan khusus.
Tetapi seluruh kehidupan orang percaya adalah panggilan untuk melayani Allah.
17. Apa yang harus kita cari dari seorang pemimpin gereja?
1 Timotius 3 memberikan sebuah koreksi bagi budaya gereja modern.
Kita perlu berhenti bertanya hanya:
“Apakah dia pandai berkhotbah?”
Dan mulai bertanya:
“Apakah dia hidup dalam kekudusan?”
Bukan hanya:
“Apakah dia mempunyai banyak pengikut?”
Tetapi:
“Apakah ia setia kepada Firman?”
Bukan hanya:
“Apakah gerejanya besar?”
Tetapi:
“Apakah ia menggembalakan umat Allah dengan rendah hati?”
Bukan hanya:
“Apakah ia mampu memimpin?”
Tetapi:
“Apakah ia mampu menguasai dirinya?”
Bukan hanya:
“Apakah ia mempunyai karunia?”
Tetapi:
“Apakah karunia itu dipakai untuk kemuliaan Kristus?”
18. Pelajaran bagi kita semua
Walaupun 1 Timotius 3 secara khusus berbicara tentang persyaratan bagi penilik jemaat dan diaken, prinsip-prinsipnya tidak hanya relevan bagi para pemimpin.
Bagian ini menjadi cermin bagi seluruh gereja.
Apakah kita mengejar posisi atau pelayanan?
Jika kita selalu ingin terlihat, kita perlu memeriksa hati.
Apakah kita lebih mencintai pengaruh daripada kesetiaan?
Jika kita lebih sedih kehilangan popularitas daripada kehilangan kekudusan, ada sesuatu yang perlu kita pertobatkan.
Apakah kehidupan pribadi kita sesuai dengan pengakuan iman kita?
Sebab iman yang benar tidak berhenti pada mulut.
Apakah keluarga kita melihat Kristus dalam kehidupan kita?
Rumah adalah salah satu tempat paling jujur untuk menguji iman.
Apakah kita mencintai Firman?
Sebab gereja tidak dapat sehat tanpa kebenaran Allah.
Kesimpulan: Jabatan Kudus, Karakter yang Diuji
1 Timotius 3:1–13 bukan terutama sebuah manual untuk mencari manusia yang sempurna.
Ini adalah panggilan untuk melihat bahwa kepemimpinan gereja adalah tanggung jawab kudus di bawah otoritas Kristus.
Paulus menunjukkan bahwa orang yang melayani gereja harus memiliki kehidupan yang dapat dipercaya.
Karakter lebih penting daripada karisma.
Kesetiaan lebih penting daripada popularitas.
Kekudusan lebih penting daripada status.
Firman lebih penting daripada strategi.
Pelayanan lebih penting daripada kehormatan.
Tetapi semua ini tidak boleh membawa kita kepada kesombongan rohani.
Sebaliknya, semua ini harus membawa kita kepada pengakuan:
Kita membutuhkan Kristus.
Sebab tidak ada seorang pun yang mampu memenuhi standar Allah dengan kekuatannya sendiri.
Kristuslah yang sempurna.
Ia adalah Kepala Gereja.
Ia adalah Gembala Agung.
Ia adalah teladan ketaatan.
Ia adalah dasar keselamatan.
Dan orang-orang yang telah diselamatkan oleh anugerah-Nya dipanggil untuk semakin serupa dengan Dia.
Maka seorang pendeta tidak dipanggil untuk menjadi selebritas rohani.
Seorang penatua tidak dipanggil untuk menjadi penguasa.
Seorang diaken tidak dipanggil untuk mengejar kehormatan.
Mereka dipanggil untuk melayani Kristus dan umat-Nya.
Dan seluruh gereja dipanggil untuk hidup dalam kekudusan sebagai umat yang telah ditebus.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan:
“Seberapa besar pelayanan kita?”
Tetapi:
“Apakah dalam pelayanan kita, Kristus semakin besar dan diri kita semakin kecil?”
Sebab gereja bukan panggung untuk memuliakan manusia.
Gereja adalah umat yang ditebus untuk memuliakan Allah.
Dan tujuan akhirnya tetap sama:
SOLI DEO GLORIA
Segala kemuliaan hanya bagi Allah.
Refleksi Pribadi
Sudahkah saya melihat pelayanan sebagai kesempatan untuk melayani Kristus, atau sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengakuan?
Apakah karakter saya di rumah sama dengan karakter saya di gereja?
Apakah saya lebih mengejar karunia daripada kekudusan?
Apakah saya mencintai Firman Allah atau hanya menyukai bagian-bagian Alkitab yang sesuai dengan keinginan saya?
Dan jika saya dipercaya memimpin, apakah saya sedang menggembalakan milik Kristus—atau tanpa sadar sedang membangun kerajaan saya sendiri?
Doa
Tuhan Allah yang Mahakudus,
kami mengakui bahwa tidak ada seorang pun yang layak berdiri di hadapan-Mu berdasarkan kebaikannya sendiri. Kami membutuhkan kasih karunia-Mu setiap hari.
Ajarlah kami untuk memahami bahwa pelayanan bukanlah tempat mencari kehormatan, melainkan tempat menyangkal diri dan melayani Kristus.
Bentuklah para pendeta, penatua, dan diaken dengan karakter yang sesuai dengan Firman-Mu. Berikan kepada mereka kerendahan hati, kesetiaan, penguasaan diri, kasih kepada jemaat, dan keberanian untuk memegang teguh kebenaran.
Jagalah gereja-Mu dari kesombongan, cinta uang, penyalahgunaan kekuasaan, kemunafikan, dan keinginan untuk memuliakan manusia.
Dan bagi kami semua, jadikanlah hidup kami semakin serupa dengan Kristus.
Bukan karena kami mampu menguduskan diri dengan kekuatan kami sendiri, tetapi karena Roh Kudus terus mengerjakan karya pengudusan di dalam hidup kami.
Kiranya dalam setiap pelayanan, setiap khotbah, setiap keputusan, setiap keluarga, dan setiap kehidupan umat-Mu, nama Kristus semakin ditinggikan.
Sebab gereja adalah milik-Mu, keselamatan berasal dari-Mu, dan segala kemuliaan hanya bagi-Mu.
Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.


