Religion, ElrolumNews – Pada 1 Januari 1519, Huldrych Zwingli memulai pelayanannya di Grossmünster, gereja utama Zurich, dengan mengkhotbahkan Injil Matius secara berurutan. Ia tidak sekadar memilih ayat untuk menyampaikan pesan moral. Ia mengajak jemaat mendengarkan Alkitab dalam alur dan konteksnya sendiri.
Keputusan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Reformasi di Zurich. Bagi Zwingli, pembaruan gereja tidak boleh dimulai hanya dengan mengganti pemimpin atau memperbaiki kebiasaan tertentu. Gereja perlu kembali menguji ajaran, ibadah, dan kehidupannya berdasarkan Firman Allah.
Namun, kisah Zwingli bukan hanya tentang khotbah yang mengubah sebuah kota. Kisahnya juga memperlihatkan pergumulan tentang otoritas Alkitab, perbedaan penafsiran, serta hubungan yang rumit antara iman dan kekuasaan politik.
Dari Pegunungan Toggenburg ke Zurich
Huldrych Zwingli lahir pada 1 Januari 1484 di Wildhaus, wilayah Toggenburg, Swiss. Ia menerima pendidikan humanistik di Basel dan Wina, kemudian belajar di lingkungan pendidikan yang juga membentuk kemampuannya dalam bahasa, sastra, dan pemikiran klasik.
Sebelum menjadi salah satu tokoh Reformasi, Zwingli melayani sebagai imam Katolik. Ia juga pernah menjadi kapelan bagi tentara Swiss. Pengalaman tersebut membuatnya berhadapan dengan kenyataan pahit perang, termasuk praktik perekrutan tentara bayaran yang melibatkan kepentingan politik dan ekonomi.
Pengalaman itu turut membentuk pandangannya mengenai kehidupan gereja dan masyarakat. Zwingli semakin kritis terhadap praktik keagamaan yang menurutnya telah bercampur dengan kepentingan manusia.
Ketika ia tiba di Zurich pada akhir 1518, Zwingli telah membawa bekal pendidikan, pengalaman pelayanan, dan ketertarikan yang mendalam terhadap Kitab Suci. Ia mulai melayani di Grossmünster pada awal tahun berikutnya.
Di sana, ia menemukan kesempatan untuk menyampaikan pesan yang kelak mengubah arah kehidupan keagamaan kota tersebut.
Khotbah yang Berpusat pada Firman
Zwingli memulai pelayanannya dengan mengkhotbahkan Injil Matius secara berurutan. Ia kemudian melanjutkan pengajaran melalui bagian-bagian Alkitab lainnya.
Pendekatan ini penting karena jemaat tidak hanya mendengar potongan ayat yang dipilih untuk mendukung satu gagasan. Mereka diajak mengikuti alur teks, memahami pesannya, dan mempertimbangkan penerapannya dalam kehidupan.
Bagi Zwingli, khotbah bukan sekadar pidato yang menghibur atau nasihat moral. Firman Allah harus membentuk iman dan kehidupan umat. Karena itu, praktik gereja pun perlu diuji berdasarkan kesaksian Kitab Suci.
Prinsip yang kemudian dikenal sebagai Sola Scriptura—Alkitab sebagai otoritas tertinggi bagi iman dan kehidupan gereja—menjadi salah satu ciri penting Reformasi. Prinsip ini tidak berarti bahwa orang Kristen harus mengabaikan sejarah gereja atau semua bentuk tradisi. Artinya, tradisi dan keputusan manusia tidak boleh ditempatkan di atas otoritas Firman Allah.
Zwingli menerapkan keyakinan tersebut dalam berbagai persoalan, mulai dari praktik puasa dan penghormatan terhadap gambar-gambar keagamaan hingga bentuk ibadah dan otoritas gereja.
Baginya, pertanyaan mendasarnya bukan sekadar, “Apakah kebiasaan ini sudah lama dilakukan?” Melainkan, “Apakah praktik ini sesuai dengan kesaksian Kitab Suci?”
Ketika Reformasi Menjadi Keputusan Publik
Pada 1523, Zurich menjadi tempat berlangsungnya perdebatan teologis yang dikenal sebagai First Zurich Disputation. Zwingli mempertahankan pandangannya berdasarkan sejumlah pokok argumentasi yang kemudian dirangkum dalam 67 Artikel.
Perdebatan ini bukan sekadar pertukaran gagasan di antara para teolog. Pemerintah kota turut terlibat dalam proses pengambilan keputusan mengenai arah kehidupan gereja.
Setelah perdebatan tersebut, otoritas kota memberikan dukungan bagi kelanjutan pembaruan yang dipimpin Zwingli. Proses ini menjadi salah satu tonggak penting Reformasi Zurich, meskipun perubahan berikutnya berlangsung secara bertahap dan melibatkan keputusan-keputusan lain.
Reformasi kemudian menyentuh kehidupan publik. Perubahan dalam institusi keagamaan membuka kemungkinan pengalihan sumber daya untuk pendidikan, pelayanan kesehatan, dan bantuan bagi orang miskin. Pembaruan juga memengaruhi cara masyarakat memahami ibadah, pendidikan iman, dan tanggung jawab sosial.
Di sinilah kita melihat bahwa Reformasi Zurich bukan hanya persoalan apa yang terjadi di mimbar. Perdebatan mengenai Firman Allah turut membentuk keputusan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: pembaruan itu tidak berlangsung di luar kekuasaan politik. Pemerintah kota memiliki peran besar dalam menentukan perubahan keagamaan. Hal ini membuat sejarah Zwingli menarik sekaligus kompleks, sebab hubungan antara gereja dan pemerintah menjadi bagian penting dari kisahnya.
Perbedaan dengan Martin Luther
Zwingli sering dibandingkan dengan Martin Luther. Keduanya sama-sama menentang berbagai praktik gerejawi yang mereka anggap tidak sesuai dengan Kitab Suci. Keduanya juga menekankan pentingnya Firman Allah dalam kehidupan gereja.
Namun, mereka tidak sepakat dalam segala hal.
Perbedaan yang paling terkenal muncul dalam pemahaman mengenai Perjamuan Kudus. Bagi Luther, tubuh dan darah Kristus sungguh hadir dalam sakramen tersebut, sesuai dengan perkataan Kristus, “Inilah tubuh-Ku.”
Zwingli, sebaliknya, menekankan Perjamuan Kudus sebagai peringatan akan pengorbanan Kristus sekaligus pengakuan iman jemaat. Ia tidak memahaminya sebagai kehadiran tubuh Kristus secara jasmani di dalam roti dan anggur.
Perbedaan itu mencapai puncaknya dalam Kolokium Marburg pada 1529. Luther, Zwingli, dan sejumlah reformator lainnya berusaha mencari kesepakatan agar gerakan Reformasi dapat bersatu. Mereka berhasil mencapai persetujuan dalam banyak pokok ajaran Kristen, tetapi tidak menyelesaikan perbedaan mengenai Perjamuan Kudus.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa para reformator tidak selalu memiliki pemahaman yang seragam, bahkan ketika mereka sama-sama mengaku tunduk pada Kitab Suci.
Kita juga belajar bahwa kesungguhan memegang keyakinan tidak otomatis menghapus perbedaan penafsiran. Kesatuan Kristen membutuhkan kesetiaan terhadap kebenaran, tetapi juga kerendahan hati dalam menghadapi sesama yang memahami suatu persoalan secara berbeda.
Kematian di Kappel: Sisi Rumit Sang Reformator
Zwingli tidak menyaksikan seluruh perkembangan Reformasi yang telah ia perjuangkan. Pada 11 Oktober 1531, ia tewas dalam Pertempuran Kappel ketika konflik bersenjata antara Zurich dan wilayah-wilayah Katolik di Konfederasi Swiss mencapai puncaknya. Saat itu, ia bertugas sebagai kapelan bagi pasukan Zurich.
Kematian tersebut memperlihatkan sisi yang tidak sederhana dari warisannya. Zwingli adalah seorang pengkhotbah dan teolog, tetapi ia juga terlibat dalam politik kota serta konflik yang menggunakan kekuatan militer.
Kita tidak dapat memahami abad ke-16 seolah-olah gereja dan negara telah memiliki batas yang sama seperti dalam banyak masyarakat modern. Pada masa itu, perubahan agama berkaitan erat dengan pemerintahan, keamanan wilayah, dan keseimbangan kekuasaan.
Namun, konteks sejarah tidak berarti semua keputusan harus diterima tanpa pertanyaan. Kisah Zwingli mengundang kita untuk memikirkan bagaimana keyakinan Kristen berhubungan dengan kekuasaan, bagaimana gereja menjalankan kesaksiannya di tengah konflik, dan bagaimana semangat pembaruan dapat dijaga agar tidak kehilangan kerendahan hati.
Setelah kematiannya, Heinrich Bullinger meneruskan kepemimpinan Reformasi di Zurich. Melalui pelayanan dan karya teologisnya, Bullinger turut memperluas pengaruh tradisi Reformed, yang pada perkembangan berikutnya juga dibentuk oleh tokoh-tokoh lain, termasuk John Calvin.
Dengan demikian, warisan Zwingli tidak berhenti pada satu kota atau satu generasi. Gagasannya menjadi bagian dari sejarah panjang tradisi Reformed.
Warisan Zwingli: Gereja yang Terus Diuji oleh Firman
Warisan penting Zwingli terletak pada keyakinannya bahwa kehidupan gereja harus terus diperiksa berdasarkan Firman Allah. Khotbah, ibadah, pendidikan iman, dan pelayanan kepada masyarakat tidak boleh dijalankan hanya karena suatu kebiasaan telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi gereja masa kini, pertanyaan itu tetap relevan.
Apakah khotbah kita sungguh membantu jemaat memahami seluruh pesan Alkitab, atau hanya memilih bagian-bagian yang sesuai dengan gagasan kita sendiri? Apakah tradisi gereja menolong umat bertumbuh dalam iman, atau justru menjadi sesuatu yang tidak lagi berani diperiksa? Apakah pengajaran Firman menghasilkan kehidupan yang semakin setia kepada Kristus?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat gereja menolak semua warisan masa lalu. Sebaliknya, pertanyaan itu mengajak kita membedakan antara tradisi yang menolong dan kebiasaan yang perlu diperbarui.
Kisah Zwingli juga mengingatkan bahwa semangat Reformasi perlu disertai kebijaksanaan. Membela kebenaran tidak membebaskan gereja dari tanggung jawab untuk memeriksa cara kebenaran itu diterapkan, terutama ketika iman bersentuhan dengan kekuasaan dan konflik.
Pada akhirnya, Reformasi bukan sekadar peristiwa bersejarah ketika sebuah kota mengubah praktik keagamaannya. Reformasi juga merupakan panggilan yang terus hidup: kembali mendengarkan Firman Allah, membiarkan Firman itu mengoreksi kita, dan mewujudkan kebenarannya dalam kehidupan bersama.
Sebab gereja yang sungguh dibentuk oleh Firman bukan hanya gereja yang berani berkhotbah tentang kebenaran, melainkan juga gereja yang bersedia dikoreksi oleh kebenaran yang diberitakannya.
Melalui kisah-kisah seperti ini, ELrolumNews berupaya menghadirkan warisan iman yang tidak hanya dikenang, tetapi juga menggerakkan kehidupan hari ini.
Sumber :
Encyclopaedia Britannica, Huldrych Zwingli.
Zentralbibliothek Zürich, Reformation: Zürich im Mittelpunkt.
German History in Documents and Images, The Marburg Articles (1529).
Christian History Institute, Zwingli: Father of the Swiss Reformation.




