Allah yang Mengenal, Menyertai, dan Menyelidiki Hati
Renungan Mazmur 139:1–24
Religion, Elrolumnews – Ada satu hal yang sering membuat manusia gelisah: dikenal sepenuhnya.
Kita mungkin senang ketika orang mengenal prestasi kita, memahami kemampuan kita, atau mengetahui sisi-sisi baik kehidupan kita. Tetapi kita tidak selalu nyaman ketika seseorang mengetahui pikiran, motivasi, kelemahan, dosa, ketakutan, dan pergumulan yang selama ini kita sembunyikan.
Mazmur 139 membawa kita berhadapan dengan Allah yang mengenal kita secara sempurna.
Pemazmur berkata bahwa Tuhan menyelidiki dan mengenal dirinya. Tuhan mengetahui ketika ia duduk dan berdiri, memahami pikirannya dari jauh, mengetahui jalannya, bahkan mengenal perkataannya sebelum perkataan itu keluar dari lidahnya.
Tidak ada bagian kehidupan manusia yang tersembunyi dari Allah.
Namun menariknya, Mazmur 139 tidak berhenti pada ketakutan karena Allah mengetahui segala sesuatu. Pengetahuan Allah justru menjadi sumber penghiburan bagi orang yang percaya. Allah yang mengenal kita sepenuhnya adalah Allah yang menyertai kita sepenuhnya.
Dan pada akhirnya, pemazmur tidak berkata, “Tuhan, biarkan aku mengikuti apa yang kuinginkan.”
Ia justru berdoa:
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
— Mazmur 139:23–24
Inilah inti mazmur ini: Allah mengenal kita lebih dalam daripada kita mengenal diri sendiri, menyertai kita di mana pun kita berada, dan karena itu kita dipanggil untuk hidup terbuka di hadapan-Nya serta rela dibentuk oleh-Nya.
1. Allah Mengenal Kita Secara Sempurna
Mazmur 139 dimulai dengan sebuah pernyataan yang sangat pribadi:
“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku.”
Kata “mengenal” di sini bukan sekadar mengetahui informasi tentang seseorang.
Allah tidak sekadar mengetahui nama kita, tempat tinggal kita, pekerjaan kita, atau sejarah hidup kita. Ia mengetahui keseluruhan keberadaan kita.
Ayat 2 berkata:
“Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.”
Kemudian ayat 3:
“Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.”
Perhatikan bagaimana pemazmur menggambarkan pengetahuan Allah.
Allah mengetahui aktivitasnya.
Allah mengetahui pikirannya.
Allah mengetahui jalannya.
Allah mengetahui perkataannya bahkan sebelum perkataan itu diucapkan.
Ini adalah pengetahuan yang tidak terbatas.
Dalam teologi Reformed, hal ini berkaitan dengan sifat Allah yang mahatahu. Allah tidak memperoleh pengetahuan secara bertahap seperti manusia.
Kita belajar sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui.
Allah tidak demikian.
Tidak ada sesuatu pun yang Allah pelajari untuk pertama kalinya.
Pengetahuan Allah sempurna.
Karena itu, tidak mungkin manusia benar-benar bersembunyi dari hadapan-Nya.
Kita dapat menyembunyikan sesuatu dari manusia.
Kita dapat menjaga citra di depan keluarga.
Kita dapat terlihat rohani di hadapan jemaat.
Kita dapat membangun reputasi yang baik di tempat kerja.
Tetapi tidak ada reputasi yang dapat menyembunyikan hati dari Allah.
Mazmur 139 menghancurkan ilusi bahwa kehidupan rohani dapat dibangun hanya berdasarkan penampilan.
Allah melihat lebih dalam daripada apa yang dilihat manusia.
2. Allah Mengetahui Bahkan Sebelum Kita Berbicara
Ayat 4 mengatakan:
“Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.”
Ini merupakan gambaran yang sangat kuat mengenai pengetahuan Allah.
Manusia hanya dapat mengetahui perkataan setelah perkataan itu diucapkan.
Allah mengetahui bahkan sebelum perkataan keluar.
Hal ini seharusnya membuat kita berhati-hati terhadap kehidupan kita.
Bukan hanya perkataan yang terdengar oleh manusia yang penting, tetapi juga apa yang ada di dalam hati.
Seseorang dapat berbicara dengan lembut tetapi menyimpan kebencian.
Seseorang dapat mengatakan “saya mengampuni” tetapi terus memelihara kepahitan.
Seseorang dapat berbicara tentang pelayanan tetapi sebenarnya mencari kehormatan.
Seseorang dapat menggunakan bahasa rohani tetapi memiliki motivasi yang berpusat pada diri sendiri.
Manusia mungkin tidak mengetahuinya.
Allah mengetahuinya.
Namun ini bukan hanya kabar yang menakutkan.
Justru di sinilah Injil menjadi begitu indah.
Jika keselamatan bergantung pada keberhasilan kita menyembunyikan dosa, tidak seorang pun akan memiliki pengharapan.
Tetapi keselamatan tidak dibangun di atas kemampuan kita menyembunyikan diri.
Keselamatan dibangun di atas karya Kristus.
Orang percaya tidak datang kepada Allah sambil berkata, “Tuhan, lihatlah betapa baiknya aku.”
Ia datang dengan pengakuan:
“Ya Tuhan, Engkau mengenalku. Engkau mengetahui dosaku. Tetapi aku datang kepada-Mu melalui Kristus.”
Pengetahuan Allah tentang dosa kita tidak membuat Injil menjadi tidak diperlukan; justru pengetahuan itu menunjukkan mengapa kita membutuhkan Injil.
3. Allah Tidak Hanya Mengetahui Kita, Ia Menyertai Kita
Pada ayat 7, pemazmur bertanya:
“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?”
Kemudian ayat 8–10 menggambarkan berbagai tempat:
langit,
dunia orang mati,
ujung timur,
ujung barat,
bahkan tempat yang sangat jauh.
Kesimpulannya sederhana:
Tidak ada tempat di mana kehadiran Allah dapat ditinggalkan.
Pemazmur tidak sedang mengatakan bahwa Allah hadir dengan cara yang identik di setiap tempat. Alkitab tetap membedakan cara Allah menyatakan kehadiran-Nya dan bekerja dalam ciptaan.
Yang ditekankan di sini adalah bahwa tidak ada tempat di alam semesta yang berada di luar jangkauan Allah.
Jika pemazmur naik ke langit, Allah ada di sana.
Jika ia turun ke dunia orang mati, Allah tetap berdaulat.
Jika ia terbang ke ujung timur, tangan Allah menuntun.
Jika ia tinggal di ujung laut, tangan kanan Allah tetap memegangnya.
Betapa kuatnya gambaran itu.
Orang percaya tidak pernah berada di luar jangkauan Allah.
Ketika kita berada di tempat yang menyenangkan, Allah ada.
Ketika kita berada dalam kesendirian, Allah ada.
Ketika kita mengalami penderitaan, Allah tidak kehilangan kita.
Ketika kita tidak memahami jalan hidup kita, Allah tetap mengetahui jalan itu.
Kehadiran Allah bukan sekadar konsep teologis.
Kehadiran Allah adalah penghiburan bagi umat-Nya.
4. Bahkan Kegelapan Tidak Menyembunyikan Kita dari Allah
Ayat 11 berkata:
“Jika aku berkata: ‘Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,’ maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu.”
Manusia sering menggunakan kegelapan sebagai tempat persembunyian.
Kita lebih berani melakukan sesuatu ketika merasa tidak ada orang yang melihat.
Tetapi bagi Allah, kegelapan tidak pernah benar-benar menjadi tempat tersembunyi.
Ayat 12 berkata:
“Kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu.”
Ini memiliki dua sisi.
Di satu sisi, ini merupakan peringatan serius terhadap dosa.
Tidak ada dosa yang tersembunyi dari Allah.
Tetapi di sisi lain, ini merupakan penghiburan yang luar biasa bagi orang yang sedang menderita.
Ketika manusia lain tidak melihat air mata kita, Allah melihat.
Ketika tidak ada seorang pun memahami pergumulan kita, Allah mengetahui.
Ketika seseorang merasa sendirian dalam penderitaan, ia tidak benar-benar sendirian.
Allah yang melihat dosa kita juga adalah Allah yang melihat air mata kita.
Pengetahuan Allah tidak hanya membawa pertanggungjawaban.
Pengetahuan Allah juga membawa penghiburan.
5. Allah Mengenal Kita Sejak Dalam Kandungan
Ayat 13–16 membawa pemazmur lebih jauh:
“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.”
Pemazmur kemudian memuji Allah karena dirinya dijadikan dengan dahsyat dan ajaib.
Ini adalah salah satu bagian Alkitab yang sangat indah mengenai karya Allah dalam penciptaan manusia.
Manusia bukan hasil kebetulan yang tidak bermakna.
Kehidupan manusia berada di bawah providensi Allah.
Pemazmur berkata bahwa Allah melihat ketika ia masih dalam kandungan.
Bahkan sebelum manusia lain mengenalnya, Allah sudah mengenalnya.
Sebelum ia memiliki prestasi, jabatan, kekayaan, atau reputasi, ia sudah berada di bawah pengetahuan dan pemeliharaan Allah.
Ini memberikan dasar penting bagi cara orang percaya memandang dirinya.
Nilai manusia tidak pertama-tama berasal dari apa yang berhasil ia capai.
Nilai manusia tidak ditentukan oleh popularitas, produktivitas, kekayaan, atau pengakuan manusia.
Manusia adalah ciptaan Allah.
Dan bagi orang percaya, identitas terdalamnya bahkan lebih jauh lagi: ia adalah manusia yang telah ditebus oleh Kristus.
Karena itu, kehidupan tidak boleh dipahami hanya berdasarkan pertanyaan:
“Apa yang sudah saya capai?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
“Untuk siapa saya hidup?”
6. Providensi Allah: Tidak Ada Satu Hari Pun yang Lepas dari Tangan-Nya
Ayat 16 berkata:
“Dalam kitab-Mu semuanya tertulis, hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.”
Ayat ini harus dibaca dalam keseluruhan kesaksian Alkitab mengenai kedaulatan dan providensi Allah.
Allah bukan penonton yang hanya melihat sejarah setelah semuanya terjadi.
Ia adalah Tuhan atas sejarah.
Ia menopang ciptaan-Nya dan bekerja dalam segala sesuatu menurut hikmat-Nya.
Teologi Reformed menyebutnya providensi Allah.
Namun providensi tidak berarti manusia menjadi robot.
Alkitab secara konsisten mempertahankan dua kebenaran:
Allah berdaulat.
Manusia bertanggung jawab.
Kita tidak selalu mampu menjelaskan secara sempurna bagaimana keduanya bekerja bersama dalam setiap peristiwa, tetapi kita dipanggil untuk mempercayai keduanya karena keduanya diajarkan oleh Kitab Suci.
Karena itu, kedaulatan Allah bukan alasan untuk hidup pasif.
Justru karena Allah berdaulat, kita dapat bekerja, berdoa, mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya.
7. Pengetahuan tentang Allah Seharusnya Membawa Kita kepada Kekaguman
Setelah merenungkan pengetahuan Allah, pemazmur berkata:
“Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!”
Pemazmur tidak menjadi semakin sombong karena mengenal Allah.
Ia justru semakin kagum.
Semakin kita memahami kebesaran Allah, semakin kita menyadari keterbatasan diri.
Ini merupakan ciri penting kehidupan rohani.
Orang yang benar-benar mengenal Allah tidak akan semakin membesar-besarkan dirinya.
Ia akan semakin kagum kepada Allah.
Di sinilah teologi dan penyembahan bertemu.
Teologi yang benar seharusnya membawa manusia kepada penyembahan yang lebih dalam, bukan kesombongan intelektual.
Kita belajar tentang kemahatahuan Allah agar kita semakin percaya.
Kita belajar tentang kedaulatan Allah agar kita semakin berserah.
Kita belajar tentang kekudusan Allah agar kita semakin membenci dosa.
Kita belajar tentang kasih karunia Allah agar kita semakin mengasihi Kristus.
8. Bagaimana dengan Ayat 19–22?
Bagian ini sering membuat pembaca modern berhenti.
Pemazmur berbicara dengan sangat keras mengenai orang fasik dan orang yang membenci Allah.
Ia bahkan mengatakan bahwa ia membenci mereka dengan kebencian yang sangat besar.
Bagaimana bagian ini harus dipahami?
Pertama, kita harus membacanya dalam konteks Mazmur secara keseluruhan.
Pemazmur sedang berdiri di pihak Allah dan menolak kejahatan yang secara terbuka memberontak terhadap Tuhan.
Ini bukan ajaran agar orang percaya memelihara kebencian pribadi terhadap orang yang menyakiti mereka.
Kedua, Alkitab membedakan antara membenci kejahatan dan memelihara dendam pribadi.
Orang percaya dipanggil untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka. Karena itu, Mazmur 139 tidak boleh digunakan sebagai pembenaran untuk kebencian pribadi, kekerasan, atau pembalasan dendam.
Ketiga, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari sikap terhadap dosa.
Kita tidak dapat berkata bahwa kita mengasihi Allah sambil dengan sengaja berdamai dengan kejahatan.
Kasih kepada Allah berarti mencintai apa yang Allah kasihi dan membenci apa yang Allah nyatakan sebagai kejahatan.
Tetapi kita harus berhati-hati agar kebencian terhadap dosa tidak berubah menjadi kesombongan terhadap manusia lain.
Kita sendiri adalah orang berdosa yang hidup hanya karena anugerah.
9. Puncak Mazmur: “Selidikilah Aku”
Bagian paling indah dari Mazmur 139 justru terdapat di bagian akhirnya.
Setelah berbicara mengenai pengetahuan Allah yang sempurna, pemazmur berkata:
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku.”
Bukankah ini luar biasa?
Pemazmur tidak berkata:
“Tuhan, jangan lihat terlalu dalam.”
Ia justru berkata:
“Tuhan, lihatlah lebih dalam.”
Ia tidak meminta Allah sekadar melihat tindakannya.
Ia meminta Allah menyelidiki hatinya.
Ia berkata:
“Ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.”
Ini adalah doa pertobatan dan penyerahan diri.
Pemazmur sadar bahwa ada sesuatu yang bahkan mungkin belum ia lihat dalam dirinya sendiri.
Karena itu ia meminta Allah menunjukkan jalan yang serong.
Dan akhirnya:
“Tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
Perhatikan urutannya.
Allah mengenal.
Allah menyelidiki.
Allah menunjukkan.
Allah menuntun.
Inilah kehidupan pengudusan.
Orang percaya tidak hanya membutuhkan pengampunan atas dosa yang sudah diketahui.
Kita juga membutuhkan pekerjaan Roh Kudus untuk membuka dosa-dosa yang belum kita sadari dan membawa kita semakin menyerupai Kristus.
10. Mazmur 139 dan Pengudusan
Mazmur 139 sangat relevan dengan doktrin pengudusan.
Pengudusan bukan usaha manusia untuk membuat dirinya layak diterima Allah.
Dalam Injil, pembenaran dan pengudusan harus dibedakan.
Dalam pembenaran, orang berdosa dinyatakan benar di hadapan Allah berdasarkan kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepadanya melalui iman.
Dalam pengudusan, orang yang telah dibenarkan itu terus-menerus diperbarui oleh karya Roh Kudus sehingga hidupnya semakin sesuai dengan kehendak Allah.
Karena itu, doa:
“Selidikilah aku”
bukanlah doa seseorang yang sedang berusaha membeli keselamatan.
Ini adalah doa seseorang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah dan rindu hidup semakin sesuai dengan kehendak-Nya.
Anugerah tidak membuat kita takut terhadap pemeriksaan Allah; anugerah membuat kita berani datang kepada-Nya untuk dibentuk.
11. Kristus: Dia yang Menanggung Penghakiman bagi Kita
Mazmur 139 tidak secara langsung berbicara mengenai Yesus Kristus.
Namun sebagai orang Kristen, kita membaca mazmur ini dalam keseluruhan kesaksian Kitab Suci.
Dan di sinilah Injil memberikan pengharapan yang sangat dalam.
Jika Allah mengetahui seluruh hidup kita, termasuk dosa yang tidak diketahui orang lain, maka pertanyaan terbesarnya adalah:
“Bagaimana orang berdosa dapat berdiri di hadapan Allah yang mahatahu?”
Jawabannya adalah Kristus.
Di salib, Kristus menanggung hukuman dosa umat-Nya.
Ia tidak mati karena Ia memiliki dosa tersembunyi.
Ia mati sebagai Pengganti orang berdosa.
Karena itu, orang percaya tidak berdiri di hadapan Allah dengan membawa catatan kebaikannya sendiri.
Ia berdiri dalam kebenaran Kristus.
Ini tidak berarti dosa menjadi tidak serius.
Justru salib menunjukkan betapa seriusnya dosa.
Tetapi salib juga menunjukkan betapa besar kasih karunia Allah.
Allah mengetahui kita sepenuhnya, namun bagi mereka yang ada di dalam Kristus, pengetahuan-Nya bukan alasan untuk bersembunyi; pengetahuan-Nya menjadi tempat kita datang dengan pertobatan, iman, dan pengharapan.
12. Apa Arti Mazmur 139 bagi Kehidupan Kita?
Mazmur ini memberikan beberapa panggilan yang sangat praktis.
Jangan membangun kehidupan berdasarkan citra
Kita dapat menipu manusia.
Kita tidak dapat menipu Allah.
Karena itu, kehidupan Kristen harus memiliki integritas antara apa yang terlihat dan apa yang sebenarnya ada dalam hati.
Jangan takut ketika merasa sendirian
Kehadiran manusia dapat berubah.
Teman dapat pergi.
Keluarga dapat mengecewakan.
Keadaan dapat berubah.
Tetapi Allah tidak pernah kehilangan jejak umat-Nya.
Jangan menganggap hidup sebagai kebetulan
Hari-hari kita berada dalam pengetahuan dan providensi Allah.
Ini bukan alasan untuk pasif, tetapi alasan untuk hidup dengan iman dan tanggung jawab.
Jangan takut terhadap pemeriksaan Allah
Berdoalah seperti pemazmur:
“Selidikilah aku.”
Mintalah Tuhan menunjukkan kesombongan, kepahitan, hawa nafsu, iri hati, cinta uang, keinginan akan pujian manusia, dan dosa-dosa lain yang mungkin kita sembunyikan bahkan dari diri sendiri.
Jangan berhenti pada rasa bersalah
Mazmur 139 tidak membawa kita hanya kepada kesadaran dosa.
Ia membawa kita kepada Tuhan.
Dan Injil membawa kita lebih jauh lagi kepada Kristus.
Orang yang melihat dosanya harus berlari kepada Kristus, bukan menjauh dari-Nya.
Penutup: Dikenal Sepenuhnya, Dikasihi oleh Anugerah
Mazmur 139 membawa kita kepada sebuah paradoks yang indah.
Kita sepenuhnya dikenal oleh Allah.
Tidak ada pikiran yang tersembunyi.
Tidak ada motivasi yang tidak diketahui.
Tidak ada masa lalu yang tidak dilihat.
Tidak ada tempat yang membuat kita berada di luar jangkauan-Nya.
Dan justru karena itu, kita tidak perlu menjalani hidup dengan kepura-puraan.
Kita dapat datang kepada Allah dengan jujur.
Kita dapat mengakui dosa.
Kita dapat meminta pengampunan.
Kita dapat meminta Roh Kudus menyelidiki hati kita.
Kita dapat menyerahkan masa depan kepada providensi-Nya.
Dan kita dapat beristirahat dalam karya Kristus.
Maka doa pemazmur menjadi doa kita:
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
Kiranya kita bukan hanya ingin dikenal manusia sebagai orang baik.
Kiranya kita ingin hidup benar di hadapan Allah yang mengenal kita sepenuhnya.
Dan ketika kita menemukan dosa dalam hati kita, kiranya kita tidak bersembunyi.
Datanglah kepada Kristus.
Sebab Injil tidak berkata bahwa kita diselamatkan karena Allah tidak melihat dosa kita.
Injil berkata bahwa Allah melihat dosa kita dengan sempurna, dan bagi orang yang percaya kepada Kristus, hukuman atas dosa itu telah ditanggung oleh Kristus.
Karena itu, kita boleh hidup dalam terang.
Bukan karena kita sempurna.
Tetapi karena kita berada di dalam Kristus.
Allah mengenal kita. Allah menyertai kita. Allah menyelidiki kita. Dan di dalam Kristus, Allah juga mengarahkan kita menuju jalan yang kekal.
Soli Deo Gloria.
Referensi
Alkitab. Alkitab Terjemahan Baru (TB). Lembaga Alkitab Indonesia.
Calvin, John. Commentary on the Book of Psalms. Calvin’s Commentaries.
Kidner, Derek. Psalms 101–150: An Introduction and Commentary. Tyndale Old Testament Commentaries. InterVarsity Press.
Spurgeon, Charles H. The Treasury of David. Hendrickson Publishers.
VanGemeren, Willem A. Psalms. In The Expositor’s Bible Commentary.
Bavinck, Herman. Reformed Dogmatics: God and Creation. Baker Academic.
Berkhof, Louis. Systematic Theology. Eerdmans.




