Religion, ElrolumNews – Ia menghadapi pengasingan, tekanan kaisar, dan pertikaian yang membelah gereja. Namun, bagi Athanasius dari Alexandria, persoalan yang dipertaruhkan jauh lebih besar daripada jabatan atau kekuasaan: jika Yesus Kristus bukan Allah sejati, bagaimana manusia dapat diselamatkan dan dipulihkan kepada kehidupan Allah?
Pada abad keempat, gereja Kristen menghadapi salah satu pergumulan teologis paling menentukan dalam sejarahnya. Pertanyaannya terdengar sederhana, tetapi konsekuensinya sangat besar: siapakah Yesus Kristus sebenarnya?
Apakah Sang Anak adalah Allah yang kekal, sehakikat dengan Bapa, ataukah Ia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah dan karena itu tidak setara dengan-Nya?
Di tengah pergumulan tersebut, Athanasius dari Alexandria tampil sebagai salah satu pembela paling gigih iman yang dirumuskan dalam Konsili Nikaia pada 325. Perjuangannya berlangsung selama puluhan tahun, melewati perubahan kekuasaan politik, perselisihan antarusukup, tuduhan, dan lima periode pengasingan.
Ia bukan satu-satunya pembela iman Nikaia. Namun, ketekunannya menjadikan namanya melekat erat pada perjuangan gereja untuk mengakui keilahian Yesus Kristus.
Bagi Athanasius, persoalan ini bukan sekadar perdebatan mengenai istilah. Yang dipertaruhkan adalah identitas Sang Juruselamat, makna inkarnasi, dan pengharapan manusia akan keselamatan.
Alexandria: Ketika Identitas Kristus Dipertaruhkan
Athanasius lahir sekitar akhir abad ketiga di Alexandria, Mesir. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, tetapi sering diperkirakan sekitar 293–297. Alexandria merupakan salah satu pusat intelektual dan gerejawi terpenting dalam Kekaisaran Romawi.
Ia menjadi diaken dan sekretaris Uskup Alexander dari Alexandria, seorang pemimpin gereja yang menentang ajaran Arius, seorang presbiter yang mengajarkan pandangan berbeda mengenai hubungan Bapa dan Anak.
Arius menekankan keunikan Allah Bapa sebagai sumber segala sesuatu dan berpendapat bahwa Sang Anak tidak memiliki keberadaan kekal yang sama seperti Bapa. Dalam ajarannya, Sang Anak memiliki kedudukan yang sangat tinggi, tetapi bukan Allah sejati yang sehakikat dengan Bapa.
Bagi Athanasius, pandangan tersebut menimbulkan persoalan mendasar. Jika Sang Anak termasuk golongan makhluk ciptaan, bagaimana Ia dapat membawa manusia kepada persekutuan dengan Allah yang tidak diciptakan?
Persoalan ini bukan hanya menyangkut kedudukan Kristus dalam hierarki surgawi. Persoalan ini menyentuh inti Injil: siapa yang datang menyelamatkan manusia, dan bagaimana keselamatan itu dapat terjadi?
Athanasius memahami bahwa Sang Anak tidak dapat diperlakukan sebagai makhluk ciptaan biasa. Firman yang menjadi manusia adalah Dia yang sejak kekal bersama Bapa dan yang melalui-Nya segala sesuatu dijadikan.
Karena itu, perjuangannya bukan sekadar mempertahankan istilah teologis tertentu. Ia berusaha menjaga pengakuan gereja bahwa keselamatan berasal dari Allah sendiri, yang bertindak melalui Sang Anak yang menjadi manusia.
Konsili Nikaia: Sebuah Kata dengan Konsekuensi Besar
Pada tahun 325, Kaisar Konstantinus memanggil para uskup untuk berkumpul di Nikaia, di wilayah yang sekarang berada di Turki. Tujuannya mencakup penyelesaian perselisihan gerejawi yang mengancam kesatuan komunitas Kristen di dalam kekaisaran.
Athanasius hadir sebagai diaken yang mendampingi Uskup Alexander, bukan sebagai uskup. Ia bukan pemimpin utama konsili dan bukan penulis tunggal pengakuan iman yang dihasilkan.
Namun, keputusan Nikaia kelak menjadi pusat perjuangan hidupnya.
Konsili tersebut menegaskan bahwa Sang Anak adalah homoousios dengan Bapa, istilah Yunani yang berarti sehakikat dengan Bapa. Pengakuan iman itu menyatakan bahwa Sang Anak diperanakkan, bukan dijadikan, dan sungguh-sungguh Allah.
Rumusan ini menolak gagasan bahwa Sang Anak merupakan ciptaan yang memiliki awal keberadaan.
Mengapa sebuah istilah menjadi begitu penting?
Karena gereja membutuhkan bahasa yang cukup jelas untuk menolak pemahaman bahwa Yesus hanyalah makhluk tertinggi di antara semua ciptaan. Bahasa pengakuan iman itu berfungsi menjaga batas penting: Sang Anak bukan bagian dari tatanan ciptaan, melainkan memiliki hakikat ilahi yang sama dengan Bapa.
Tentu saja, istilah homoousios tidak menyelesaikan seluruh perdebatan dalam satu hari. Sesudah konsili, pertentangan terus berlanjut. Ada persoalan mengenai makna istilah, hubungan antara bahasa Alkitab dan bahasa filsafat, serta campur tangan kaisar dalam urusan gereja.
Di tengah semua itu, Athanasius semakin dikenal sebagai pembela utama iman Nikaia.
Ketika Alexander meninggal pada 328, Athanasius menjadi uskup Alexandria. Sejak saat itu, ia tidak hanya menjadi seorang teolog yang menyampaikan pendapat, tetapi juga seorang pemimpin gereja yang harus mempertanggungjawabkan keyakinannya di tengah konflik yang nyata.
Lima Pengasingan dan Harga Sebuah Keyakinan
Perjuangan Athanasius tidak berlangsung dalam keadaan yang stabil. Ia hidup pada masa ketika kaisar dapat memengaruhi pengangkatan, pemecatan, dan pemulihan jabatan para pemimpin gereja.
Sesudah Nikaia, sejumlah tokoh yang menentang atau menafsirkan ulang keputusan konsili tetap memiliki pengaruh. Beberapa kaisar mendukung kebijakan gerejawi yang berlawanan dengan posisi Athanasius. Konflik juga melibatkan persaingan antarkelompok di dalam gereja Alexandria dan persoalan yurisdiksi gerejawi.
Athanasius dituduh melakukan berbagai pelanggaran dan menghadapi proses gerejawi serta tekanan politik. Ia tidak selalu dapat kembali ke jabatannya ketika menginginkannya. Dalam perjalanan hidupnya, ia mengalami lima periode pengasingan.
Pada pengasingan pertamanya, ia dikirim ke Trier pada 335 setelah konflik yang memuncak dalam sinode di Tirus dan keputusan Kaisar Konstantinus. Pada periode-periode berikutnya, ia juga harus meninggalkan Alexandria akibat perubahan kebijakan kekaisaran dan keputusan para pemimpin gerejawi.
Pengasingan itu tidak selalu berarti ia berhenti melayani. Ia terus menulis, berkomunikasi dengan jemaat, mempertahankan kedudukannya sebagai uskup, dan menjelaskan keyakinan teologisnya.
Salah satu aspek menarik dari kehidupannya adalah hubungannya dengan para rahib dan komunitas monastik di Mesir. Mereka menjadi bagian penting dari lingkungan yang mendukungnya ketika ia menghadapi tekanan.
Karena itu, kisah Athanasius tidak tepat dipahami sebagai kisah seorang pahlawan yang sama sekali tidak memiliki pendukung. Ia memiliki sekutu, komunitas, dan jaringan gerejawi. Namun, dukungan tersebut tidak menghilangkan risiko yang harus dihadapinya.
Keberaniannya terlihat dalam kenyataan bahwa perubahan kekuasaan tidak membuatnya dengan mudah meninggalkan keyakinan yang telah diperjuangkannya.
Contra Mundum: Melawan Arus, Bukan Mengejar Popularitas
Nama Athanasius sering dikaitkan dengan ungkapan Latin contra mundum, yang berarti “melawan dunia”.
Ungkapan ini cocok menggambarkan bagaimana ia dikenang dalam sejarah gereja. Namun, ungkapan tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Athanasius tidak benar-benar berjuang sendirian melawan seluruh umat Kristen. Ia adalah salah satu tokoh dalam jaringan konflik yang kompleks, dengan banyak pendukung dan penentang.
Makna yang lebih penting dari ungkapan itu adalah kesediaannya untuk mempertahankan keyakinan meskipun keadaan politik dan gerejawi tidak menguntungkannya.
Athanasius memahami bahwa kebenaran teologis tidak seharusnya ditentukan hanya oleh siapa yang sedang berkuasa atau kelompok mana yang sedang memperoleh dukungan terbesar.
Akan tetapi, pengalaman menghadapi penolakan tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang benar. Banyak orang dapat ditentang karena berbagai alasan, dan tidak semua orang yang tidak populer sedang memperjuangkan kebenaran.
Karena itu, keberanian Kristen harus selalu diuji berdasarkan kebenaran yang dibela, dasar Kitab Suci yang digunakan, dan buah kehidupan yang dihasilkan.
Dalam kasus Athanasius, perjuangannya berpusat pada pengakuan bahwa Yesus Kristus bukan makhluk ciptaan, melainkan Sang Anak yang kekal, sehakikat dengan Bapa. Keyakinan itulah yang menjelaskan mengapa ia bersedia menanggung harga yang begitu besar.
Mengapa Keilahian Kristus Menentukan Keselamatan?
Inilah jantung teologi Athanasius.
Dalam karyanya yang terkenal, On the Incarnation atau Tentang Inkarnasi Firman, ia menjelaskan bahwa dosa telah membawa manusia ke dalam kerusakan dan kematian. Manusia membutuhkan lebih dari sekadar nasihat moral atau tambahan pengetahuan agama. Manusia membutuhkan tindakan Allah yang memulihkan.
Firman Allah menjadi manusia untuk menghadapi kerusakan tersebut. Sang Anak mengambil kemanusiaan yang sejati, menyerahkan diri-Nya dalam kematian, dan bangkit mengalahkan maut.
Bagi Athanasius, inkarnasi bukan suatu peristiwa tambahan dalam sejarah keselamatan. Inkarnasi merupakan pusat tindakan Allah untuk memulihkan manusia.
Jika Kristus hanyalah makhluk ciptaan, persoalan yang muncul sangat besar: bagaimana seorang makhluk dapat menjadi sumber kehidupan kekal dan membawa manusia ke dalam persekutuan dengan Allah?
Namun, karena Sang Anak adalah Firman Allah yang kekal, Ia dapat menyatakan Bapa dan mengerjakan pemulihan yang tidak mampu dicapai manusia dengan kekuatannya sendiri.
Di sini kita perlu memahami satu hal dengan tepat. Pengakuan bahwa Kristus adalah Allah sejati tidak berarti hakikat ilahi-Nya berhenti hidup atau berhenti menjadi Allah ketika Ia mati di kayu salib. Dalam iman Kristen, Sang Anak yang kekal sungguh-sungguh menjadi manusia dan mengalami kematian dalam kemanusiaan-Nya, lalu bangkit mengalahkan maut.
Dengan demikian, salib dan kebangkitan tidak dapat dipisahkan dari identitas Kristus sebagai Allah sejati dan manusia sejati.
Athanasius juga menggunakan gagasan tentang pemulihan manusia kepada kehidupan Allah yang sering dibahas dengan istilah theosis, atau pendewaan dalam pengertian partisipasi manusia oleh anugerah dalam kehidupan Allah. Ini bukan berarti manusia berubah menjadi Allah dalam hakikat-Nya. Maksudnya, manusia dipulihkan untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah melalui Kristus dan karya Roh Kudus.
Dalam bahasa yang sederhana: Allah tidak hanya mengampuni manusia dari kejauhan. Dalam Kristus, Allah datang untuk menyelamatkan, memulihkan, dan membawa manusia kembali kepada kehidupan yang dikehendaki-Nya.
Itulah sebabnya perdebatan tentang keilahian Kristus begitu penting bagi Athanasius. Yang dipertaruhkan bukan sekadar ketepatan istilah, melainkan pengakuan tentang siapa yang menyelamatkan manusia dan bagaimana keselamatan itu dimungkinkan.
Warisan Athanasius bagi Gereja
Athanasius wafat di Alexandria pada 2 Mei 373. Ia telah menjalani kehidupan yang panjang di tengah konflik teologis dan politik, tetapi perjuangannya meninggalkan pengaruh yang jauh melampaui masa hidupnya.
Ia dikenang terutama karena pembelaannya terhadap iman Nikaia dan penekanannya pada keilahian Sang Anak. Melalui tulisan-tulisannya, ia turut membentuk cara gereja memahami hubungan antara Bapa dan Anak, inkarnasi, serta keselamatan.
Warisan Athanasius juga lebih luas daripada kontroversi Arian. Ia menulis mengenai kehidupan Kristen, membina hubungan dengan komunitas monastik, dan melalui Life of Antony, turut memengaruhi perkembangan tradisi monastik Kristen.
Namun, penting untuk tidak menyederhanakan sejarah seolah-olah seluruh gereja langsung menerima semua rumusan Nikaia setelah Athanasius berjuang. Perkembangan doktrin Trinitas berlangsung melalui pergumulan yang panjang, dengan kontribusi banyak tokoh dan konsili.
Pengakuan iman Nikaia kemudian berkembang dalam tradisi gereja, terutama melalui rumusan yang berkaitan dengan Konsili Konstantinopel pada 381.
Athanasius bukan satu-satunya tokoh yang membentuk hasil sejarah tersebut. Namun, ia adalah salah satu tokoh penting yang membantu mempertahankan keyakinan bahwa Sang Anak sungguh-sungguh Allah.
Warisan terbesarnya bukanlah gambaran tentang seorang manusia yang selalu menang. Warisannya adalah kesetiaan pada keyakinan teologis yang ia anggap mendasar bagi iman Kristen, bahkan ketika kesetiaan tersebut menuntut pengorbanan.
Pelajaran bagi Gereja Masa Kini
Kisah Athanasius mengajak gereja masa kini untuk kembali memikirkan pertanyaan yang mendasari seluruh pelayanannya: siapakah Yesus Kristus bagi kita?
Di tengah zaman ketika popularitas, kekuasaan, dan dukungan massa dapat menentukan arah banyak hal, gereja perlu mengingat bahwa iman tidak dapat dibangun hanya berdasarkan apa yang sedang disukai orang banyak.
Namun, mempertahankan kebenaran juga tidak berarti kita harus selalu berkonflik, menolak semua kritik, atau menganggap setiap orang yang berbeda pendapat sebagai musuh iman.
Athanasius mengingatkan kita tentang pentingnya keteguhan doktrinal. Pada saat yang sama, sejarah hidupnya mengajarkan bahwa kita perlu memahami konteks, menguji tuduhan, dan menilai konflik secara cermat sebelum mengambil kesimpulan.
Dari kehidupannya, setidaknya ada tiga pelajaran yang patut direnungkan.
Pertama, doktrin tentang Kristus menentukan isi iman Kristen. Jika kita keliru memahami siapa Kristus, kita juga akan keliru memahami karya keselamatan-Nya. Karena itu, gereja harus terus mempelajari Kitab Suci dan mengajarkan identitas Kristus dengan setia.
Kedua, kesetiaan tidak selalu menghasilkan kemenangan yang cepat. Ada masa ketika keyakinan yang kita pertahankan membuat kita kehilangan kenyamanan, kedudukan, atau dukungan. Kesetiaan tidak diukur semata-mata berdasarkan hasil yang segera terlihat.
Ketiga, keberanian harus berakar pada kebenaran, bukan ego. Kita tidak dipanggil untuk melawan arus hanya demi terlihat berani. Kita dipanggil untuk menguji segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, mempertahankan apa yang benar, dan melakukannya dengan kerendahan hati.
Athanasius menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mempertahankan pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati. Perjuangannya mengingatkan bahwa iman Kristen bukan sekadar kumpulan nilai moral atau tradisi keagamaan. Iman Kristen berpusat pada pribadi dan karya Kristus.
Karena itulah pertanyaan yang diwariskannya tetap relevan: apakah kita sungguh-sungguh mengenal Kristus yang diberitakan oleh Kitab Suci, ataukah kita hanya mengikuti gambaran tentang Yesus yang paling nyaman bagi kita?
Membela Kristus bukan berarti mencari pertengkaran. Membela Kristus berarti mengenal siapa Dia, memahami Injil yang diberitakan tentang-Nya, dan tetap setia kepada kebenaran itu dengan keberanian sekaligus kerendahan hati.
Melalui kisah-kisah sejarah seperti ini, ELrolumNews berupaya menghadirkan warisan iman Kristen yang bukan hanya dikenang, melainkan juga dipelajari secara mendalam, diuji dengan jujur, dan diterapkan secara bertanggung jawab dalam kehidupan masa kini.
Sebab pertanyaan terpenting bukanlah seberapa berani kita melawan arus, melainkan apakah kita sungguh-sungguh berdiri di atas kebenaran tentang Kristus.
Soli Deo Gloria — Segala kemuliaan hanya bagi Allah.
Sumber dan bacaan lanjutan
Uta Heil, Athanasius Werke, “Athanasius of Alexandria (328–373).” Kajian akademis mengenai kehidupan, pengasingan, karya, dan konteks sejarah Athanasius.
https://www.athanasius.theologie.uni-erlangen.de/athanasius-life-and-works.htmlAthanasius, On the Incarnation of the Word. Sumber primer untuk memahami pemikirannya tentang inkarnasi, dosa, kematian, kebangkitan, dan pemulihan manusia.
https://www.ccel.org/ccel/athanasius/incarnation.htmlOxford Classical Dictionary, “Athanasius, c. 295–373 CE.” Ringkasan akademis mengenai peran Athanasius dalam sejarah gereja abad keempat.
https://academic.oup.com/edited-volume/61673/chapter-abstract/548508540Westminster Seminary California, “Athanasius of Alexandria.” Pengantar dari perspektif teologi Reformed mengenai kehidupan dan pembelaan Athanasius terhadap iman Nikaia.
https://www.wscal.edu/athanasius/




