Jangan Malu terhadap Injil: Iman, Keberanian, dan Kesetiaan kepada Kristus — 2 Timotius 1:3–18
Religion, ElrolumNews – Ada masa ketika mempertahankan iman terasa mudah.
Kita dapat berbicara tentang Kristus ketika lingkungan menerima kita. Kita dapat mengaku sebagai orang Kristen ketika iman tidak menuntut pengorbanan besar.
Namun keadaan berubah ketika iman mulai memiliki harga.
Ketika mengakui Kristus membuat kita ditolak.
Ketika mempertahankan kebenaran membuat kita kehilangan keuntungan.
Ketika kesetiaan kepada firman membuat kita harus berjalan sendirian.
Ketika penderitaan datang karena Injil.
Dalam keadaan seperti itulah surat 2 Timotius menjadi sangat kuat.
Paulus menulis surat ini kepada Timotius ketika hidupnya berada dalam keadaan sulit. Paulus mengetahui bahwa pelayanannya sedang menuju akhir. Namun yang memenuhi pikirannya bukanlah ketakutan terhadap dirinya sendiri.
Ia memikirkan Injil.
Ia memikirkan Timotius.
Ia memikirkan generasi pelayan berikutnya.
Dan ia mengingatkan Timotius agar tidak malu terhadap kesaksian tentang Tuhan.
Di sinilah kita menemukan pesan utama perikop ini:
Orang percaya dipanggil bukan hanya untuk menerima Injil, tetapi juga untuk memegang, menjaga, menghidupi, dan memberitakan Injil dengan keberanian sekalipun harus menderita karenanya.
Paulus mengingat Timotius dalam doa
Paulus memulai bagian ini dengan mengatakan bahwa ia mengingat Timotius dalam doanya siang dan malam.
Ini bukan sekadar pembukaan surat.
Ada hubungan pastoral yang sangat dalam antara Paulus dan Timotius.
Paulus mengenal Timotius.
Ia mengetahui air mata Timotius.
Ia mengetahui imannya.
Ia mengetahui latar belakang keluarganya.
Ia juga mengetahui pergumulannya dalam pelayanan.
Karena itu Paulus tidak hanya memberikan instruksi.
Ia berdoa.
Ini menunjukkan sesuatu yang penting mengenai pelayanan Kristen.
Pelayanan bukan hanya menyampaikan informasi.
Pelayanan juga berarti membawa orang lain di hadapan takhta Allah.
Pelayan yang sungguh-sungguh tidak hanya berbicara kepada manusia tentang Allah; ia juga berbicara kepada Allah tentang manusia yang dilayaninya.
Doa Paulus juga menunjukkan bahwa hubungan rohani tidak harus berhenti ketika seseorang sedang berada jauh secara fisik.
Ia tidak dapat selalu berada di sisi Timotius.
Tetapi ia dapat berdoa.
Dan doa bukanlah pilihan terakhir ketika kita tidak dapat melakukan apa-apa.
Doa adalah pelayanan.
Iman yang tulus
Paulus kemudian mengingat iman Timotius yang tulus.
Ia menyebut iman yang terlebih dahulu hidup dalam nenek Timotius, Lois, dan ibunya, Eunike.
Kemudian iman itu terlihat dalam diri Timotius.
Bagian ini sering digunakan untuk berbicara mengenai pentingnya pendidikan iman dalam keluarga.
Dan memang ada prinsip penting di sana.
Keluarga memiliki peran besar dalam pembentukan iman.
Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari bagaimana orang tua hidup.
Mereka melihat bagaimana orang tua berdoa.
Bagaimana orang tua memperlakukan orang lain.
Bagaimana orang tua menghadapi penderitaan.
Bagaimana orang tua mengakui dosa.
Bagaimana orang tua mengampuni.
Bagaimana orang tua menghormati firman Tuhan.
Namun kita tidak boleh salah memahami teks ini.
Paulus tidak mengatakan bahwa iman diwariskan secara biologis.
Timotius tidak menjadi orang percaya hanya karena ibunya percaya.
Keselamatan bukan warisan genetis.
Anugerah Allah tidak mengalir melalui darah keluarga.
Iman tidak diwariskan melalui keturunan; iman adalah pemberian Allah yang bekerja dalam hati manusia melalui Injil.
Tetapi Allah sering memakai keluarga, gereja, pengajaran, dan teladan orang percaya sebagai sarana untuk membawa generasi berikutnya mengenal kebenaran.
Inilah pentingnya warisan iman.
“Kobarkanlah karunia Allah”
Paulus kemudian berkata:
“Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku.”
Timotius telah menerima karunia untuk menjalankan pelayanannya.
Namun Paulus tidak berkata:
“Karena engkau telah menerima karunia, semuanya akan berjalan otomatis.”
Sebaliknya, Timotius harus mengobarkannya.
Ini menunjukkan bahwa karunia Allah tidak membuat manusia pasif.
Allah memberikan karunia.
Manusia harus menggunakannya dengan setia.
Allah memanggil.
Manusia harus taat.
Allah memperlengkapi.
Manusia harus bekerja.
Di sini sekali lagi kita melihat hubungan antara anugerah dan tanggung jawab.
Anugerah Allah bukan alasan untuk pasif; anugerah justru menjadi dasar bagi kesungguhan dalam menjalankan panggilan.
Dalam pelayanan gereja, seseorang tidak boleh membanggakan karunianya.
Tetapi ia juga tidak boleh menyia-nyiakannya.
Karunia diberikan untuk pelayanan.
Bukan untuk membangun ego.
Bukan untuk mencari popularitas.
Bukan untuk mendapatkan pengakuan.
Karunia adalah pemberian Allah untuk membangun tubuh Kristus.
Allah tidak memberikan roh ketakutan
Kemudian muncul salah satu ayat paling dikenal dalam surat ini:
“Karena Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
Ayat ini sering digunakan dalam berbagai konteks kehidupan.
Namun konteksnya harus dipertahankan.
Paulus sedang berbicara kepada Timotius mengenai pelayanan Injil.
Timotius tidak dipanggil untuk menjalankan pelayanan dalam ketakutan.
Ia dipanggil untuk memberitakan Injil meskipun ada risiko.
Karena itu “kekuatan” di sini bukan janji bahwa orang Kristen tidak akan pernah mengalami ketakutan emosional.
Alkitab tidak mengajarkan bahwa orang beriman tidak pernah merasa takut.
Masalahnya adalah ketika ketakutan menguasai kita sehingga kita tidak lagi setia kepada Allah.
Keberanian Kristen bukan berarti tidak pernah merasa takut.
Keberanian Kristen berarti tetap taat kepada Allah ketika ketakutan hadir.
Dan sumber keberanian itu bukan kepribadian Timotius.
Sumbernya adalah Roh Kudus.
Kekuatan, kasih, dan ketertiban
Perhatikan tiga hal yang Paulus sebutkan:
kekuatan,
kasih,
ketertiban.
Kekuatan tanpa kasih dapat berubah menjadi kekerasan.
Kasih tanpa ketegasan dapat berubah menjadi kompromi.
Ketertiban tanpa kasih dapat berubah menjadi legalisme.
Namun pekerjaan Roh Kudus menghasilkan keseimbangan.
Timotius membutuhkan keberanian untuk berdiri bagi Injil.
Ia membutuhkan kasih agar keberanian itu tidak berubah menjadi kesombongan atau kekerasan.
Ia membutuhkan ketertiban agar pelayanannya tidak dikuasai oleh emosi dan ketakutan.
Ini juga menjadi pelajaran bagi gereja.
Kebenaran harus diberitakan dengan keberanian.
Tetapi keberanian harus disertai kasih.
Kasih harus berjalan bersama kebenaran.
Dan semuanya harus dijalankan dengan penguasaan diri.
Jangan malu bersaksi tentang Tuhan
Karena itu Paulus berkata:
“Janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita.”
Kalimat ini harus dibaca dalam konteks dunia Paulus.
Mengaku percaya kepada Kristus bukan selalu keputusan yang nyaman.
Injil berbicara tentang seorang Juruselamat yang disalibkan.
Bagi dunia tertentu, salib merupakan tanda kehinaan.
Namun justru melalui salib itulah Allah menyatakan kuasa keselamatan-Nya.
Karena itu Paulus tidak meminta Timotius untuk menciptakan Injil yang lebih mudah diterima.
Ia tidak berkata:
“Ubahlah pesannya agar orang tidak tersinggung.”
Ia berkata:
“Jangan malu.”
Mengapa?
Karena nilai Injil tidak ditentukan oleh penerimaan manusia.
Kebenaran Injil tidak menjadi lebih benar ketika manusia menerimanya, dan tidak menjadi kurang benar ketika manusia menolaknya.
Tugas gereja bukan membuat Injil populer.
Tugas gereja adalah setia kepada Injil.
Ikutlah menderita bagi Injil
Paulus kemudian mengatakan:
“Ikutlah menderita bagi Injil oleh kekuatan Allah.”
Ini mungkin salah satu kalimat paling berlawanan dengan budaya kekristenan yang berpusat pada kenyamanan.
Paulus tidak menjanjikan bahwa kesetiaan kepada Kristus akan selalu membuat hidup mudah.
Ia justru berbicara tentang penderitaan.
Tetapi ada hal yang sangat penting:
Penderitaan itu dijalani “oleh kekuatan Allah.”
Artinya, Paulus tidak sedang memuliakan penderitaan itu sendiri.
Kekristenan bukan agama yang mencari penderitaan.
Namun ketika penderitaan datang karena kesetiaan kepada Kristus, orang percaya tidak menghadapinya sendirian.
Allah memberikan kekuatan.
Kita tidak dipanggil untuk mencari penderitaan, tetapi kita dipanggil untuk tidak meninggalkan Kristus ketika kesetiaan kepada-Nya mendatangkan penderitaan.
Allah menyelamatkan dan memanggil
Paulus kemudian membawa Timotius kembali kepada Injil.
Allah telah menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus.
Perhatikan urutannya.
Allah menyelamatkan.
Allah memanggil.
Dan panggilan itu bukan berdasarkan perbuatan manusia.
Paulus mengatakan:
“Bukan berdasarkan perbuatan kita, tetapi berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri.”
Ini merupakan pernyataan yang sangat jelas mengenai anugerah.
Keselamatan bukan upah atas prestasi manusia.
Bukan hasil moralitas.
Bukan hasil pelayanan.
Bukan hasil usaha manusia.
Keselamatan berasal dari maksud dan kasih karunia Allah.
Jika keselamatan bergantung pada kualitas perbuatan kita, tidak seorang pun memiliki dasar untuk merasa aman. Tetapi karena keselamatan berakar pada kasih karunia Allah, orang percaya memiliki alasan untuk berharap kepada-Nya.
Namun anugerah ini tidak membuat kita hidup sembarangan.
Allah menyelamatkan kita untuk hidup dalam panggilan kudus.
Anugerah bukan lawan kekudusan.
Anugerah adalah sumber kekudusan.
Kasih karunia yang diberikan sebelum zaman
Paulus bahkan mengatakan bahwa kasih karunia itu telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.
Ini membawa kita kepada kedalaman doktrin pemilihan dan rencana keselamatan Allah.
Keselamatan bukan improvisasi Allah setelah manusia jatuh ke dalam dosa.
Allah tidak kehilangan kendali lalu harus mencari solusi.
Rencana keselamatan berada dalam maksud kekal Allah.
Dalam perspektif Reformed, ini berkaitan dengan pemilihan Allah dan tujuan kekal-Nya.
Namun kita harus berhati-hati.
Doktrin pemilihan bukan diberikan supaya orang percaya menjadi sombong.
Sebaliknya, pemilihan menghancurkan kesombongan manusia.
Jika keselamatan adalah anugerah Allah sejak semula, maka tidak ada ruang untuk berkata:
“Aku diselamatkan karena aku lebih baik daripada orang lain.”
Tidak.
Semua kemuliaan kembali kepada Allah.
Kristus telah mematahkan kuasa maut
Kemudian Paulus berbicara tentang Kristus yang telah menyatakan diri-Nya dan “mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa melalui Injil.”
Inilah pusat pengharapan Kristen.
Paulus tidak meminta Timotius berani hanya karena Timotius harus menjadi pribadi yang kuat.
Ia berani karena Kristus telah menang.
Maut bukan kata terakhir.
Penderitaan bukan kata terakhir.
Penolakan bukan kata terakhir.
Penjara bukan kata terakhir.
Kematian Paulus sendiri bukan kata terakhir.
Kristus telah bangkit.
Karena itu, Injil bukan sekadar nasihat moral.
Injil adalah berita tentang tindakan Allah dalam sejarah.
Kristus datang.
Kristus mati.
Kristus bangkit.
Kristus menghancurkan kuasa maut.
Kristus membawa kehidupan yang tidak dapat binasa.
Keberanian Kristen berakar bukan pada seberapa kuat kita memegang Kristus, tetapi pada kenyataan bahwa Kristus telah menang atas maut dan memegang kita dalam anugerah-Nya.
Paulus tidak malu
Karena itu Paulus berkata:
“Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu.”
Mengapa Paulus tidak malu?
Ia tahu kepada siapa ia percaya.
Dan ia yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan kepadanya sampai pada hari Tuhan.
Ini adalah iman yang kokoh.
Paulus tidak berkata:
“Aku tidak akan mengalami penderitaan.”
Ia justru sedang mengalaminya.
Ia tidak berkata:
“Semua orang akan menghargai pelayananku.”
Tidak.
Ia mengalami penolakan.
Tetapi ia memiliki sesuatu yang lebih kuat daripada penerimaan manusia:
keyakinan kepada Allah.
Iman Kristen bukan keyakinan bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai keinginan kita; iman adalah keyakinan bahwa Allah tetap dapat dipercaya ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan kita.
“Peganglah contoh ajaran sehat”
Paulus kemudian berkata kepada Timotius:
“Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat.”
Perhatikan bahwa Paulus tidak hanya berkata:
“Pertahankan semangatmu.”
Ia berkata:
“Peganglah ajaran.”
Ini penting bagi gereja masa kini.
Kekristenan bukan hanya pengalaman.
Bukan hanya perasaan.
Bukan hanya semangat pelayanan.
Ada kebenaran yang harus dipercayai.
Ada doktrin yang harus dijaga.
Ada Injil yang harus dipelihara.
Karena itu, gereja membutuhkan doktrin yang sehat.
Mengapa?
Karena doktrin membentuk kehidupan.
Apa yang kita percaya mengenai Allah akan memengaruhi cara kita beribadah.
Apa yang kita percaya mengenai dosa akan memengaruhi cara kita bertobat.
Apa yang kita percaya mengenai Kristus akan memengaruhi cara kita berharap.
Apa yang kita percaya mengenai keselamatan akan memengaruhi cara kita menjalani hidup.
Ajaran yang sehat menghasilkan kehidupan yang sehat ketika kebenaran itu benar-benar bekerja dalam hati.
Simpanlah harta yang indah
Paulus berkata:
“Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.”
“Harta” itu adalah Injil dan ajaran sehat yang telah dipercayakan kepada Timotius.
Perhatikan kata “dipercayakan”.
Timotius bukan pemilik Injil.
Paulus bukan pemilik Injil.
Gereja bukan pemilik Injil.
Kristus adalah Tuhan atas Injil.
Gereja menerima Injil sebagai amanat yang harus dijaga.
Karena itu gereja tidak memiliki hak untuk mengubah Injil agar sesuai dengan selera zaman.
Kita boleh menggunakan bahasa yang baru.
Kita boleh memakai teknologi baru.
Kita boleh menemukan cara baru untuk berkomunikasi.
Tetapi isi Injil tidak berada di tangan kita untuk diubah.
Gereja dipanggil untuk menyampaikan Injil dengan cara yang relevan tanpa mengubah Injil itu sendiri.
Roh Kudus memampukan kita menjaga Injil
Dan sekali lagi, Paulus tidak memberikan tugas ini kepada Timotius dengan kekuatan manusia.
Ia berkata agar harta itu dipelihara melalui Roh Kudus yang diam di dalam kita.
Ini sangat penting.
Tugas besar.
Kekuatan manusia terbatas.
Tetapi Roh Kudus tinggal di dalam umat Allah.
Karena itu gereja dapat setia.
Bukan karena gereja selalu kuat.
Bukan karena pemimpinnya selalu sempurna.
Bukan karena setiap generasi selalu lebih baik.
Tetapi karena Allah sendiri memelihara firman-Nya dan umat-Nya.
Inilah pengharapan gereja.
Ketika banyak orang meninggalkan Paulus
Kemudian nada surat menjadi lebih pribadi.
Paulus mengatakan bahwa semua yang berada di Asia telah berpaling darinya.
Di tengah kesulitan, Paulus mengalami kesepian.
Ada orang yang meninggalkannya.
Tetapi kemudian Paulus menyebut Onesiforus.
Ia sering menyegarkan hati Paulus.
Ia tidak malu terhadap rantai Paulus.
Ia bahkan mencari Paulus dengan sungguh-sungguh dan menemukannya di Roma.
Kontras ini sangat kuat.
Ada orang yang menjauh.
Ada orang yang tetap setia.
Dan Paulus mengingat kesetiaan Onesiforus.
Ini mengingatkan kita bahwa kesetiaan kepada Kristus terkadang terlihat dalam tindakan yang sangat sederhana.
Mengunjungi orang yang menderita.
Mendukung pelayan yang sedang kesulitan.
Tidak meninggalkan saudara yang sedang dipermalukan.
Tetap berdiri ketika orang lain pergi.
Kesetiaan Kristen tidak selalu terlihat di panggung besar; sering kali ia terlihat ketika seseorang tetap hadir pada saat yang paling sulit.
Apa arti perikop ini bagi kita?
2 Timotius 1:3–18 berbicara kepada gereja di setiap generasi.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang ingin kekristenan tanpa salib.
Kita ingin berkat tanpa penderitaan.
Kita ingin pengampunan tanpa pertobatan.
Kita ingin keselamatan tanpa kekudusan.
Kita ingin Kristus sebagai penghibur, tetapi tidak selalu sebagai Tuhan.
Paulus mengingatkan kita bahwa Injil jauh lebih besar daripada kenyamanan pribadi.
Kristus menyelamatkan kita.
Kristus memanggil kita.
Kristus memberi Roh Kudus.
Kristus mempercayakan Injil.
Kristus memampukan kita bertahan.
Dan Kristus akan membawa umat-Nya sampai kepada hari terakhir.
Karena itu, jangan malu terhadap Injil.
Jangan menukar kebenaran dengan penerimaan manusia.
Jangan meninggalkan Kristus ketika iman menjadi mahal.
Jangan menyia-nyiakan karunia yang Allah berikan.
Jangan melupakan warisan iman yang telah kita terima.
Jangan hanya mengetahui Injil.
Peganglah Injil. Hidupilah Injil. Jagalah Injil. Beritakanlah Injil. Dan jika diperlukan, bersedialah menderita demi Injil.
Renungan
Mungkin kita pernah merasa takut untuk berbicara tentang iman.
Mungkin kita pernah memilih diam karena takut dianggap berbeda.
Mungkin kita pernah menyembunyikan keyakinan karena takut kehilangan penerimaan.
Mungkin kita bahkan pernah merasa malu karena Injil dianggap terlalu sederhana, terlalu eksklusif, atau tidak sesuai dengan nilai zaman.
Namun pertanyaan Paulus tetap berdiri:
Apakah kita malu terhadap Injil?
Atau apakah kita percaya kepada Dia yang menjadi pusat Injil?
Kita tidak diminta untuk menjadi pemberani karena kita memiliki kepribadian yang kuat.
Kita diminta untuk setia karena Allah telah memberikan Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban.
Kita tidak diminta menyelamatkan diri sendiri.
Kristus telah menyelamatkan.
Kita tidak diminta menciptakan Injil.
Injil telah dipercayakan.
Kita tidak diminta memastikan bahwa semua orang menerima kita.
Kita dipanggil untuk setia.
Dan kita tidak perlu takut terhadap akhir perjalanan.
Sebab Kristus telah mengalahkan maut.
Pada akhirnya, keberanian Kristen bukanlah keberanian manusia yang berkata, “Aku kuat.” Keberanian Kristen adalah iman yang berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya.”
Soli Deo Gloria.
Pertanyaan untuk direnungkan
- Apakah saya pernah merasa malu atau takut mengakui iman kepada Kristus di hadapan orang lain?
- Apakah saya memahami bahwa keberanian Kristen berasal dari pekerjaan Roh Kudus, bukan semata-mata dari kepribadian yang kuat?
- Apakah saya menggunakan karunia yang Allah berikan untuk melayani atau untuk mencari pengakuan?
- Apakah saya sungguh-sungguh memahami dan memegang ajaran Injil?
- Apakah saya bersedia tetap setia ketika kesetiaan kepada Kristus mendatangkan kerugian atau penderitaan?
- Siapakah “Onesiforus” dalam kehidupan saya—orang yang membutuhkan dukungan, kehadiran, dan kesetiaan saya?
- Apakah kehidupan saya sedang meneruskan warisan iman kepada generasi berikutnya?
Doa
Tuhan Allah yang penuh kasih karunia,
kami bersyukur karena Engkau telah menyelamatkan kami bukan berdasarkan perbuatan kami, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Mu di dalam Kristus.
Terima kasih karena Kristus telah mengalahkan maut dan memberikan kehidupan yang tidak dapat binasa melalui Injil.
Ampunilah kami ketika kami malu mengakui nama-Nya.
Ampunilah kami ketika kami lebih takut kepada manusia daripada takut kepada-Mu.
Berikanlah kepada kami keberanian yang berasal dari Roh Kudus—kekuatan untuk berdiri dalam kebenaran, kasih untuk mengasihi manusia, dan ketertiban untuk hidup dalam kekudusan.
Tolong kami menggunakan setiap karunia yang Engkau berikan untuk kemuliaan-Mu.
Ajarlah kami menjaga Injil yang telah dipercayakan kepada gereja.
Jangan biarkan kami mengubah kebenaran demi penerimaan manusia.
Ketika kami mengalami penolakan, kuatkan kami.
Ketika kami mengalami penderitaan, teguhkan kami.
Ketika kami merasa sendirian, ingatkan kami bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan umat-Mu.
Jadikan kami generasi yang bukan hanya menerima Injil, tetapi juga setia meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Dan ketika perjalanan kami berakhir, kiranya kami dapat berkata dengan iman bahwa kami mengetahui kepada siapa kami percaya.
Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.




