Anugerah yang Mengubah Hidup: Bertumbuh dalam Panggilan dan Pemilihan Allah — 2 Petrus 1:3–15
Religion, ElrolumNews – Ada satu kesalahpahaman yang terus muncul dalam kehidupan Kristen.
Sebagian orang berbicara tentang anugerah seolah-olah karena keselamatan adalah pemberian Allah, maka pertumbuhan dalam kekudusan tidak terlalu penting.
Sebaliknya, ada pula yang berbicara tentang kekudusan seolah-olah keselamatan bergantung pada seberapa baik seseorang mampu menjalankan kehidupan Kristen.
2 Petrus 1:3–15 menolak kedua kesalahan tersebut.
Petrus memperlihatkan bahwa kehidupan Kristen dimulai dari apa yang telah Allah kerjakan, tetapi tidak berhenti di sana. Anugerah yang menyelamatkan juga merupakan anugerah yang mengubah dan mendorong orang percaya untuk bertumbuh.
Allah telah memberikan segala sesuatu yang diperlukan untuk kehidupan dan kesalehan. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk sungguh-sungguh mengejar pertumbuhan rohani.
Di sinilah kita menemukan salah satu keseimbangan penting dalam iman Kristen: keselamatan adalah karya anugerah Allah, tetapi anugerah itu tidak pernah menghasilkan kehidupan yang pasif terhadap kekudusan.
Segala sesuatu telah diberikan oleh kuasa ilahi
Petrus memulai bagian ini dengan sebuah pernyataan yang sangat besar:
“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh.”
Perhatikan siapa yang bertindak.
Allah.
Petrus tidak berkata bahwa manusia telah berhasil menemukan semua yang dibutuhkan untuk kehidupan rohani.
Ia berkata bahwa Allah telah menganugerahkan.
Inisiatif datang dari Allah.
Sumber kehidupan rohani berasal dari Allah.
Kemampuan untuk hidup saleh juga berasal dari Allah.
Ini merupakan dasar yang sangat penting bagi teologi Reformed.
Keselamatan manusia tidak dimulai dari kemampuan manusia untuk memperbaiki dirinya.
Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa tidak mempunyai kemampuan moral untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Allah harus bertindak.
Dan Allah memang bertindak.
Ia memanggil manusia kepada diri-Nya, memberikan iman, mempersatukan orang percaya dengan Kristus, dan kemudian mengerjakan pengudusan dalam kehidupan mereka.
Karena itu, kehidupan Kristen bukan proyek manusia untuk membuat dirinya layak di hadapan Allah.
Kita tidak mengejar kekudusan supaya Allah mulai mengasihi kita; kita mengejar kekudusan karena di dalam Kristus Allah telah mengasihi dan menyelamatkan kita.
Urutan ini sangat penting.
Anugerah lebih dahulu.
Kemudian pertumbuhan.
Melalui pengenalan akan Kristus
Petrus melanjutkan bahwa segala sesuatu itu diberikan melalui pengenalan akan Dia yang telah memanggil kita oleh kemuliaan dan kebajikan-Nya.
Kekristenan bukan sekadar kumpulan prinsip moral.
Bukan hanya daftar larangan dan perintah.
Bukan sekadar pengetahuan tentang agama.
Pusat kehidupan Kristen adalah Kristus.
Kita menerima kehidupan dan kesalehan melalui pengenalan akan Dia.
Kata “pengenalan” dalam konteks ini bukan sekadar mengetahui fakta tentang Yesus.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal mengenai Yesus tetapi tidak mengenal-Nya dalam hubungan iman.
Pengenalan yang dimaksud Petrus memiliki dimensi relasional sekaligus kognitif.
Kita mengetahui siapa Kristus, apa yang telah Ia kerjakan, dan kemudian hidup dalam hubungan iman kepada-Nya.
Karena itu, pertumbuhan rohani tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan dalam pengenalan akan Kristus.
Semakin kita memahami siapa Kristus, semakin kita memahami siapa kita.
Semakin kita memahami kasih karunia-Nya, semakin kita menyadari betapa dalamnya dosa kita.
Semakin kita mengenal kekudusan-Nya, semakin kita rindu hidup kudus.
Kristus bukan sekadar pintu masuk menuju kehidupan Kristen; Kristus adalah pusat dan sumber kehidupan Kristen itu sendiri.
Janji-janji yang sangat besar dan berharga
Ayat 4 mengatakan bahwa Allah telah mengaruniakan kepada kita janji-janji yang sangat besar dan berharga.
Janji Allah bukan sekadar kata-kata penghiburan.
Janji Allah menjadi dasar kehidupan orang percaya.
Mengapa?
Karena orang percaya hidup berdasarkan apa yang Allah katakan, bukan berdasarkan perubahan keadaan.
Keadaan dapat berubah.
Perasaan dapat berubah.
Kesehatan dapat berubah.
Keadaan ekonomi dapat berubah.
Manusia dapat mengecewakan.
Tetapi firman dan janji Allah tidak berubah.
Karena itu, iman Kristen tidak berdiri di atas optimisme manusia.
Iman berdiri di atas kesetiaan Allah.
Di sinilah iman berbeda dari sekadar berpikir positif.
Berpikir positif berkata:
“Semoga semuanya menjadi baik.”
Iman berkata:
“Allah telah berjanji, dan karena itu aku dapat mempercayai-Nya.”
“Mengambil bagian dalam kodrat ilahi”
Salah satu ungkapan yang paling menarik dalam bagian ini adalah bahwa melalui janji-janji Allah kita “boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi.”
Ungkapan ini perlu dipahami dengan hati-hati.
Petrus tidak sedang mengajarkan bahwa manusia berubah menjadi Allah.
Manusia tetap manusia.
Allah tetap Allah.
Pencipta dan ciptaan tidak pernah menjadi identik.
Yang dimaksud adalah bahwa orang percaya mengambil bagian dalam kehidupan yang Allah kerjakan di dalam dirinya, terutama melalui pembaruan moral dan rohani.
Kekudusan Allah mulai tercermin dalam kehidupan orang percaya.
Kasih.
Kebenaran.
Kemurnian.
Penguasaan diri.
Kesetiaan.
Kesabaran.
Semua itu merupakan buah pekerjaan Allah dalam diri orang percaya.
Dalam bahasa teologi Reformed, kita dapat memahami hal ini dalam kerangka pengudusan: gambar Allah yang telah dirusak oleh dosa sedang diperbarui dalam kehidupan orang percaya.
Jadi, “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” bukan berarti manusia menjadi ilahi.
Sebaliknya, manusia yang telah dipersatukan dengan Kristus semakin dibentuk untuk mencerminkan karakter Kristus.
Inilah arah pengudusan.
“Justru karena itu”
Kemudian Petrus mengatakan:
“Justru karena itu…”
Dua kata ini sangat penting.
Mengapa Petrus meminta orang percaya berusaha dengan sungguh-sungguh?
Karena Allah telah memberikan semuanya.
Bukan meskipun Allah telah memberikan semuanya.
Justru karena Allah telah memberikan semuanya.
Inilah pola Injil yang sering ditemukan dalam Perjanjian Baru.
Allah bertindak terlebih dahulu.
Kemudian manusia dipanggil untuk merespons dalam ketaatan.
Anugerah tidak membatalkan tanggung jawab.
Anugerah menciptakan dasar bagi tanggung jawab.
Karena itu Petrus berkata agar orang percaya dengan sungguh-sungguh menambahkan kepada iman mereka kebajikan.
Di sini kita melihat sesuatu yang sangat penting.
Kedaulatan Allah dalam keselamatan tidak pernah menjadi alasan bagi kemalasan rohani.
Sebaliknya, orang yang memahami anugerah justru mempunyai alasan yang lebih besar untuk hidup kudus.
Iman yang harus bertumbuh
Petrus kemudian menyebut rangkaian kebajikan:
iman,
kebajikan,
pengetahuan,
penguasaan diri,
ketekunan,
kesalehan,
kasih akan saudara-saudara,
dan kasih.
Rangkaian ini tidak boleh dipahami sebagai tangga keselamatan seolah-olah seseorang harus mengumpulkan semua kebajikan tersebut supaya akhirnya Allah menyelamatkannya.
Iman berada pada awal rangkaian.
Kemudian iman itu menghasilkan kehidupan yang semakin matang.
Dengan kata lain, iman yang hidup tidak tinggal sendirian.
Ia menghasilkan buah.
Yakobus berbicara dengan cara yang serupa ketika menjelaskan bahwa iman yang tidak menghasilkan perbuatan adalah iman yang mati.
Paulus juga mengatakan bahwa iman bekerja oleh kasih.
Dan Petrus mengatakan bahwa orang yang telah menerima iman harus sungguh-sungguh bertumbuh dalam karakter Kristen.
Ini sangat penting.
Iman yang menyelamatkan tidak pernah menjadi iman yang tidak menghasilkan perubahan.
Kita bukan diselamatkan oleh perbuatan baik.
Tetapi kita juga tidak diselamatkan kepada kehidupan tanpa perbuatan baik.
Perbuatan baik bukan akar keselamatan.
Perbuatan baik adalah buah keselamatan.
Dari kebajikan menuju pengetahuan
Petrus pertama-tama berbicara tentang kebajikan.
Kebajikan di sini berhubungan dengan kualitas moral dan keberanian untuk hidup sesuai dengan apa yang benar.
Kemudian ia berbicara tentang pengetahuan.
Pengetahuan Kristen bukan sekadar kemampuan menghafal doktrin.
Tetapi kita juga tidak boleh memisahkan pengetahuan dari doktrin.
Kekristenan adalah iman yang memiliki isi kebenaran.
Kita harus mengetahui siapa Allah.
Kita harus mengetahui siapa Kristus.
Kita harus mengetahui apa yang dilakukan Kristus.
Kita harus mengetahui apa arti dosa.
Kita harus mengetahui keselamatan.
Kita harus mengetahui karya Roh Kudus.
Tanpa kebenaran, kesalehan mudah berubah menjadi perasaan religius tanpa dasar.
Namun pengetahuan tanpa kehidupan juga dapat berubah menjadi kesombongan.
Karena itu Petrus menempatkan pengetahuan di tengah proses pertumbuhan karakter.
Kebenaran harus membentuk kehidupan, dan kehidupan harus mencerminkan kebenaran yang kita percayai.
Penguasaan diri
Selanjutnya Petrus berbicara tentang penguasaan diri.
Ini sangat relevan bagi manusia modern.
Kita hidup dalam budaya yang sering berkata:
“Kalau saya ingin melakukannya, saya berhak melakukannya.”
Keinginan kemudian menjadi ukuran moral.
Tetapi Alkitab berkata sebaliknya.
Tidak semua keinginan harus diikuti.
Tidak semua dorongan harus dilayani.
Tidak semua kemarahan harus dilampiaskan.
Tidak semua kata harus diucapkan.
Tidak semua kesenangan harus dikejar.
Penguasaan diri merupakan bagian dari kehidupan yang dikuduskan.
Namun sekali lagi, penguasaan diri bukan sekadar kekuatan mental.
Orang percaya belajar menguasai diri karena Roh Kudus bekerja di dalam dirinya.
Kita bertanggung jawab.
Tetapi kita tidak berjalan sendirian.
Ketekunan
Penguasaan diri harus disertai ketekunan.
Mengapa?
Karena kehidupan Kristen bukan perlombaan satu hari.
Ada hari ketika kita bersemangat.
Ada hari ketika kita lemah.
Ada masa ketika doa terasa mudah.
Ada masa ketika kita harus berdoa dengan air mata.
Ada waktu ketika firman Tuhan terasa sangat menghibur.
Ada waktu ketika kita harus terus percaya meskipun kita belum melihat jawabannya.
Ketekunan berarti tetap berjalan.
Bukan karena kita kuat.
Tetapi karena Allah setia.
Dalam kerangka doktrin perseverance of the saints, orang-orang yang sungguh-sungguh berada di dalam Kristus akan dipelihara Allah sampai akhir.
Tetapi pemeliharaan Allah tidak membuat manusia pasif.
Allah memelihara umat-Nya melalui sarana-sarana yang Ia tetapkan: firman, doa, persekutuan gereja, sakramen, teguran, penghiburan, dan kehidupan iman sehari-hari.
Allah memelihara orang percaya sampai akhir, dan salah satu cara-Nya memelihara kita adalah dengan membuat kita terus bertumbuh dan bertekun.
Kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih
Rangkaian itu kemudian bergerak kepada kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih.
Menarik bahwa Petrus tidak berhenti pada hubungan pribadi dengan Allah.
Kesalehan harus menghasilkan kasih kepada sesama.
Kita tidak dapat berkata:
“Saya mengasihi Tuhan, tetapi saya tidak peduli kepada saudara seiman.”
Kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia tidak boleh dipisahkan.
Bahkan rangkaian Petrus berakhir pada kasih.
Kasih bukan sekadar perasaan lembut.
Kasih adalah kehendak untuk mencari kebaikan orang lain sesuai dengan kehendak Allah.
Kasih membutuhkan pengorbanan.
Kasih membutuhkan kesabaran.
Kasih membutuhkan pengampunan.
Kasih membutuhkan kebenaran.
Kasih membutuhkan ketekunan.
Karena itu, pertumbuhan rohani dapat terlihat dari bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Seseorang mungkin sangat fasih berbicara mengenai doktrin.
Namun jika pengetahuannya membuat dia semakin sombong, ada sesuatu yang salah.
Seseorang mungkin sangat aktif dalam pelayanan.
Namun jika ia tidak mampu mengasihi orang yang berbeda dengannya, ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Kedewasaan Kristen bukan hanya semakin banyak mengetahui tentang Allah, tetapi semakin menyerupai Kristus dalam cara kita hidup dan mengasihi.
Jika semuanya ada, jangan menjadi tidak efektif
Petrus kemudian mengatakan bahwa jika kualitas-kualitas tersebut ada dan semakin bertambah, orang percaya tidak akan menjadi tidak berguna atau tidak berbuah dalam pengenalan akan Yesus Kristus.
Perhatikan kata “semakin bertambah.”
Pertumbuhan Kristen bukan sekadar memiliki.
Tetapi memiliki dan bertambah.
Kita tidak dipanggil untuk berkata:
“Saya sudah cukup sabar.”
“Saya sudah cukup mengasihi.”
“Saya sudah cukup dewasa.”
Selama kita masih hidup, proses pengudusan belum selesai.
Masih ada dosa yang harus dimatikan.
Masih ada karakter yang harus dibentuk.
Masih ada kasih yang harus diperluas.
Masih ada kesabaran yang harus dipelajari.
Masih ada kesombongan yang harus dihancurkan.
Masih ada ketergantungan kepada Kristus yang harus semakin dalam.
Karena itu, kehidupan Kristen adalah kehidupan yang terus bertumbuh.
Bahaya melupakan bahwa kita telah dibersihkan
Ayat 9 memberikan peringatan yang tajam.
Orang yang tidak memiliki kualitas-kualitas tersebut adalah orang yang rabun, bahkan buta, karena ia lupa bahwa ia telah dibersihkan dari dosa-dosanya yang dahulu.
Masalahnya bukan sekadar kurangnya pengetahuan.
Ia lupa.
Lupa bahwa ia telah dibersihkan.
Lupa dari mana ia berasal.
Lupa akan anugerah.
Ini merupakan bahaya besar dalam kehidupan Kristen.
Kita dapat begitu sibuk mengejar pertumbuhan sehingga lupa bahwa kita bertumbuh karena anugerah.
Kita dapat begitu fokus pada kegagalan sehingga lupa bahwa Kristus telah mengampuni.
Kita dapat begitu sibuk melayani sehingga lupa siapa yang terlebih dahulu melayani kita.
Kita dapat begitu bangga dengan kemajuan rohani sehingga lupa bahwa semua yang kita miliki berasal dari Allah.
Karena itu, pengudusan harus selalu kembali kepada Injil.
Kita bertumbuh bukan untuk meninggalkan salib, tetapi justru karena kita terus hidup dari kasih karunia yang dinyatakan di salib.
“Berusahalah sungguh-sungguh”
Kemudian Petrus berkata:
“Karena itu, saudara-saudara, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh.”
Ayat ini sering menimbulkan pertanyaan.
Jika Allah memilih, mengapa kita harus berusaha memastikan panggilan dan pemilihan?
Jawabannya terletak pada cara Alkitab memahami hubungan antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia.
Petrus tidak mengatakan bahwa usaha kita membuat Allah akhirnya memilih kita.
Pemilihan Allah tidak bergantung pada prestasi manusia.
Sebaliknya, kehidupan yang bertumbuh menjadi bukti nyata bahwa iman kita bukan iman yang mati.
Kita tidak bekerja untuk menciptakan pemilihan.
Kita bertumbuh sebagai buah dari pemilihan dan panggilan Allah.
Perbuatan baik tidak menjadi dasar pemilihan Allah; perbuatan baik menjadi buah yang memperlihatkan karya anugerah Allah dalam diri orang yang telah dipanggil-Nya.
Inilah yang membedakan pengudusan dari legalisme.
Legalisme berkata:
“Lakukan ini supaya Allah menerima kamu.”
Injil berkata:
“Allah telah menerima kamu di dalam Kristus; karena itu, hiduplah sebagai orang yang telah menerima anugerah-Nya.”
Kepastian keselamatan dan kehidupan kudus
Ada orang yang takut bahwa jika kita terlalu yakin akan keselamatan, kita akan menjadi malas dalam kekudusan.
Petrus justru menunjukkan sebaliknya.
Kepastian keselamatan yang sehat menghasilkan ketekunan.
Orang yang benar-benar memahami anugerah tidak berkata:
“Karena saya sudah diselamatkan, saya bebas hidup sesuka hati.”
Ia berkata:
“Karena saya telah menerima anugerah sebesar ini, saya ingin hidup bagi Kristus.”
Kepastian bukan bahan bakar untuk kesombongan.
Kepastian yang benar menghasilkan syukur.
Dan syukur menghasilkan ketaatan.
Sebab kita tidak sedang berusaha membeli keselamatan.
Kita sedang merespons keselamatan yang telah diberikan.
“Masuk ke dalam Kerajaan kekal”
Ayat 11 berbicara tentang masuk ke dalam Kerajaan kekal Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Ini adalah tujuan akhir.
Kehidupan Kristen tidak berhenti pada perubahan karakter di dunia sekarang.
Ada masa depan.
Ada Kerajaan.
Ada kedatangan Kristus.
Ada kemuliaan yang akan datang.
Karena itu, pengudusan memiliki arah eskatologis.
Kita sedang dipersiapkan untuk kemuliaan.
Hari ini kita masih bergumul dengan dosa.
Suatu hari Kristus akan menyempurnakan pekerjaan-Nya.
Hari ini kita masih harus mematikan dosa.
Suatu hari dosa tidak lagi memiliki tempat.
Hari ini kita masih bertumbuh dalam kasih.
Suatu hari kita akan menikmati kepenuhan kasih dalam hadirat Allah.
Pengudusan hari ini mengarahkan mata kita kepada kemuliaan yang akan datang.
Petrus tidak ingin jemaat lupa
Ayat 12–15 memperlihatkan hati pastoral Petrus.
Ia tahu bahwa jemaat sudah mengetahui kebenaran itu.
Tetapi ia tetap ingin mengingatkan mereka.
Ini penting.
Dalam kehidupan Kristen, masalah kita sering bukan karena kita tidak pernah mengetahui kebenaran.
Kita lupa.
Kita membutuhkan pengingat.
Kita tahu bahwa Allah berdaulat, tetapi ketika masalah datang kita panik.
Kita tahu bahwa Kristus mengampuni dosa, tetapi ketika jatuh kita merasa tidak ada harapan.
Kita tahu bahwa hidup ini sementara, tetapi kita hidup seolah-olah dunia sekarang adalah segala-galanya.
Kita tahu bahwa kekudusan penting, tetapi kita mulai berkompromi sedikit demi sedikit.
Karena itu, pelayanan firman bukan hanya memberikan informasi baru.
Sering kali pelayanan firman adalah mengingatkan kita kembali kepada kebenaran yang sudah kita dengar.
Jemaat yang sehat bukan hanya jemaat yang terus mencari sesuatu yang baru, tetapi jemaat yang terus diingatkan untuk hidup setia dalam kebenaran yang telah diterimanya.
Anugerah yang menghasilkan kesungguhan
2 Petrus 1:3–15 akhirnya memperlihatkan sebuah pola yang sangat indah.
Allah memberikan.
Manusia menerima.
Allah memanggil.
Manusia merespons.
Allah menyediakan kuasa.
Orang percaya berusaha.
Allah memberikan janji.
Orang percaya bertumbuh.
Allah memilih.
Orang percaya menunjukkan buah panggilan itu dalam kehidupan.
Tidak ada pertentangan antara anugerah dan tanggung jawab.
Yang ada adalah urutan yang benar.
Anugerah adalah akar; kekudusan adalah buah.
Jika kita membaliknya, kita jatuh ke dalam legalisme.
Jika kita memisahkannya, kita jatuh ke dalam kemalasan rohani.
Tetapi jika kita memahami hubungan keduanya, kita melihat keindahan Injil.
Allah menyelamatkan orang berdosa tanpa jasa manusia.
Kemudian Allah mengubah orang yang telah diselamatkan itu.
Ia tidak membiarkannya tetap seperti dahulu.
Roh Kudus bekerja.
Firman membentuk.
Gereja menegur dan menguatkan.
Doa membawa kita kembali kepada Allah.
Dan perlahan-lahan, Kristus dibentuk dalam kehidupan kita.
Renungan
Mungkin hari ini kita merasa kehidupan rohani kita tidak mengalami kemajuan.
Mungkin kita melihat dosa yang sama berulang kali.
Mungkin kita kecewa terhadap diri sendiri.
Mungkin kita merasa tidak cukup baik untuk menjadi orang Kristen yang bertumbuh.
2 Petrus 1 mengingatkan kita untuk melihat ke arah yang benar.
Jangan mulai dengan melihat kemampuan kita.
Mulailah dengan melihat apa yang telah Allah berikan.
Kuasa-Nya telah memberikan segala sesuatu yang diperlukan untuk hidup dan kesalehan.
Janji-Nya telah diberikan.
Kristus telah datang.
Roh Kudus bekerja.
Firman telah diberikan.
Anugerah telah dicurahkan.
Karena itu, jangan menyerah dalam pertumbuhan.
Datanglah kepada Kristus.
Bertumbuhlah dalam pengenalan akan-Nya.
Latihlah penguasaan diri.
Belajarlah tekun.
Kembangkan kesalehan.
Kasihilah saudara seiman.
Kasihilah sesama.
Dan teruslah bertumbuh.
Bukan untuk membeli keselamatan.
Bukan untuk membuat Allah akhirnya mengasihi kita.
Tetapi karena kita telah menerima kasih karunia yang begitu besar.
Orang yang benar-benar memahami anugerah tidak bertanya, “Seberapa sedikit saya dapat hidup bagi Tuhan dan tetap selamat?” Ia bertanya, “Bagaimana saya dapat semakin hidup bagi Kristus yang telah menyelamatkan saya?”
Kiranya hidup kita semakin menunjukkan bahwa anugerah yang kita akui dengan mulut benar-benar bekerja dalam hati kita.
Dan ketika suatu hari kita berdiri di hadapan Kristus, kiranya kita mendapati bahwa seluruh perjalanan iman kita ternyata ditopang oleh satu tangan yang setia: tangan Allah yang menyelamatkan, memelihara, menguduskan, dan membawa umat-Nya sampai kepada kemuliaan.
Soli Deo Gloria.
Pertanyaan untuk direnungkan
- Apakah saya memahami bahwa Allah telah memberikan segala sesuatu yang diperlukan untuk kehidupan dan kesalehan?
- Apakah saya menggunakan doktrin anugerah sebagai alasan untuk bertumbuh dalam kekudusan, atau justru sebagai alasan untuk menjadi pasif?
- Kebajikan mana dalam 2 Petrus 1:5–7 yang paling perlu bertumbuh dalam kehidupan saya?
- Apakah kehidupan saya menunjukkan bahwa iman saya menghasilkan buah?
- Apakah saya semakin mengenal Kristus, atau hanya semakin banyak mengetahui tentang kekristenan?
- Apakah saya memiliki kepastian keselamatan yang berakar pada Kristus sekaligus mendorong saya hidup kudus?
- Apa yang perlu saya lakukan hari ini untuk lebih sungguh-sungguh dalam panggilan yang Allah berikan?
Doa
Tuhan Allah yang penuh anugerah,
kami bersyukur karena kuasa ilahi-Mu telah memberikan kepada kami segala sesuatu yang kami perlukan untuk hidup dan kesalehan.
Kami mengakui bahwa tanpa anugerah-Mu kami tidak memiliki dasar untuk membanggakan diri.
Terima kasih untuk Yesus Kristus, yang telah menebus kami dari dosa dan membawa kami kepada kehidupan yang baru.
Ampunilah kami ketika kami melupakan anugerah-Mu.
Ampunilah kami ketika kami menjadi malas dalam pertumbuhan rohani.
Ampunilah kami ketika kami mencoba mengandalkan kekuatan sendiri dan ketika kami menggunakan anugerah sebagai alasan untuk berkompromi dengan dosa.
Melalui Roh Kudus, mampukan kami bertumbuh dalam iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih.
Tolong kami untuk hidup dengan sungguh-sungguh dalam panggilan yang Engkau berikan.
Biarlah kehidupan kami menjadi bukti bahwa iman yang benar menghasilkan buah.
Dan ketika kami merasa lemah, ingatkan kami bahwa Engkau adalah Allah yang bukan hanya memanggil, tetapi juga memelihara umat-Mu sampai akhir.
Arahkan mata kami kepada Kristus dan kepada Kerajaan kekal yang telah Engkau janjikan.
Kiranya seluruh pertumbuhan kami, seluruh pelayanan kami, dan seluruh hidup kami akhirnya hanya membawa satu tujuan:
kemuliaan bagi nama-Mu.
Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.




