7 Brand Kopi Lokal Indonesia yang Berkembang Pesat pada 2026: Strategi, Model Bisnis, dan Persaingannya

Bisnis & Startup, ELrolumNews – Industri kedai kopi Indonesia terus berkembang dan memasuki fase persaingan yang semakin matang. Pertumbuhan jaringan coffee chain tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah outlet, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan membangun merek, menjaga kualitas, mengendalikan biaya, memanfaatkan teknologi, dan menemukan format gerai yang sesuai dengan perubahan perilaku konsumen.

Salah satu indikator perkembangan tersebut terlihat dari ekspansi sejumlah pemain lokal. Kopi Kenangan telah berkembang menjadi jaringan internasional dengan lebih dari 1.300 gerai secara grup, sementara Fore Coffee terus memperluas jaringan dan pada semester pertama 2026 telah memiliki ratusan gerai aktif.

Di sisi lain, pemain seperti Kopi Tuku mempertahankan pendekatan yang lebih berbasis identitas merek dan kedekatan dengan komunitas, sedangkan Anomali Coffee membangun diferensiasi melalui specialty coffee dan biji kopi Indonesia.

Artikel ini membahas tujuh brand lokal yang menarik untuk diperhatikan pada 2026, bukan berdasarkan peringkat “terbaik”, melainkan berdasarkan model bisnis, perkembangan jaringan, positioning, dan diferensiasi masing-masing.

Catatan metodologi: jumlah outlet dan kinerja keuangan dapat berubah sepanjang 2026. Jika perusahaan tidak mempublikasikan angka tertentu, artikel ini tidak menggunakan estimasi yang tidak dapat diverifikasi sebagai fakta.

1. Kopi Kenangan: Dari Startup Lokal Menjadi Jaringan Kopi Regional

Kopi Kenangan merupakan salah satu contoh paling jelas bagaimana brand kopi Indonesia berkembang dari konsep grab-and-go menjadi jaringan regional.

Pada akhir 2025, Kopi Kenangan Group mengoperasikan 1.324 gerai di enam negara. Indonesia menjadi pasar utamanya dengan 1.136 gerai.

Perusahaan juga mencatat perkembangan finansial yang signifikan.

Pada 2025, pendapatan grup mencapai sekitar US$184 juta, naik 45% dibandingkan tahun sebelumnya, dan untuk pertama kalinya perusahaan mencatat laba bersih tahunan sekitar US$17 juta.

Untuk bisnis Indonesia, pendapatan bersih mencapai sekitar Rp2,3 triliun pada 2025, tumbuh sekitar 40% YoY.

Apa yang membuat Kopi Kenangan berkembang?

1. Model grab-and-go

Kopi Kenangan tidak mencoba meniru seluruh karakter coffee shop tradisional.

Modelnya lebih menekankan:

  • lokasi dengan traffic tinggi;
  • pembelian cepat;
  • harga yang relatif terjangkau;
  • produk yang mudah dikenali;
  • dan transaksi melalui kanal digital.

2. Teknologi sebagai bagian dari model bisnis

Pada 2025, jumlah pengguna digital yang bertransaksi setiap bulan mencapai sekitar 1,5 juta, naik 116% YoY. Perusahaan juga menyebut akuisisi pelanggan baru melalui ekosistem digital meningkat signifikan.

Teknologi dengan demikian bukan hanya alat pembayaran, tetapi bagian dari strategi akuisisi dan retensi pelanggan.

3. Ekspansi dengan skala besar

Kopi Kenangan menambah 347 gerai secara bersih pada 2025. Manajemen juga menetapkan target ekspansi lebih lanjut pada 2026.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa keunggulan jaringan dapat menjadi salah satu sumber efisiensi dalam bisnis minuman.

Pelajaran bisnis

Kopi Kenangan menunjukkan bahwa brand lokal dapat berkembang apabila mampu menggabungkan:

produk yang mudah diterima + harga + teknologi + lokasi + skala.

2. Fore Coffee: Premium Affordable dengan Ekspansi Berbasis Data

Fore Coffee merupakan salah satu pemain lokal yang perkembangan bisnisnya paling mudah diamati karena perusahaan telah menjadi emiten publik.

Riset Redseer yang dikutip dalam prospektus Fore memperkirakan industri chained coffee Indonesia bernilai sekitar US$1,6 miliar pada 2026F dan berpotensi mencapai US$3,3 miliar pada 2030F. Perlu dicatat bahwa angka tersebut merupakan proyeksi, bukan realisasi pasar, dan dinyatakan sebagai data yang tidak diverifikasi secara independen oleh perusahaan.

Fore sendiri menunjukkan ekspansi yang cukup agresif.

Pada akhir 2025, Fore Coffee Indonesia memiliki 316 gerai aktif. Pada akhir kuartal I 2026 jumlahnya meningkat menjadi 338 gerai, dan pada akhir semester I 2026 mencapai 363 gerai.

Jika Fore Donut dan outlet Singapura turut dihitung, jaringan grup mencapai 377 outlet pada akhir Juni 2026.

Kinerja keuangan

Pada semester I 2026:

  • Pendapatan mencapai sekitar Rp1 triliun;
  • tumbuh 52% YoY;
  • EBITDA mencapai Rp216 miliar;
  • EBITDA tumbuh 65% YoY;
  • laba bersih mencapai Rp56,5 miliar.

Ini membuat Fore menarik bukan hanya karena pertumbuhan outlet, tetapi karena ekspansi tersebut berjalan bersamaan dengan peningkatan profitabilitas.

Strategi Fore

Premium affordable

Fore menempatkan diri di antara kopi mass market dan coffee shop premium.

Ekspansi Tier 2 dan Tier 3

Lebih dari 40% gerai baru pada semester I 2026 dibuka di kota Tier 2 dan Tier 3.

Operational discipline

Perusahaan menekankan pemilihan lokasi dan produktivitas gerai agar outlet baru dapat mencapai tingkat profitabilitas dengan lebih cepat.

Pelajaran bisnis

Fore menunjukkan bahwa ekspansi tidak harus hanya di kota metropolitan.

Ketika model bisnis sudah terstandardisasi, kota Tier 2 dan Tier 3 dapat menjadi sumber pertumbuhan baru.

3. Janji Jiwa: Mengubah Kopi Lokal Menjadi Brand Mass Market

Janji Jiwa merupakan salah satu brand kopi lokal yang berhasil membangun jaringan luas di Indonesia.

Aplikasi resmi JIWA+ pada 2026 menyebut bahwa jaringan Jiwa Group telah memiliki lebih dari 1.000 outlet di seluruh Indonesia, mencakup Janji Jiwa serta brand dalam ekosistem Jiwa Group.

Karena angka tersebut mencakup ekosistem Jiwa Group dan bukan semata-mata jumlah gerai Janji Jiwa, angka outlet tidak sebaiknya disederhanakan menjadi satu angka pasti untuk Janji Jiwa tanpa definisi yang jelas.

Strategi Janji Jiwa

1. Produk yang mudah diterima pasar

Kopi susu, minuman berbasis kopi, serta makanan pendamping memungkinkan brand menjangkau konsumen yang lebih luas daripada sekadar coffee enthusiast.

2. Jaringan distribusi

Skala outlet memungkinkan brand hadir di berbagai kota dan titik konsumsi.

3. Pengalaman digital

JIWA+ menyediakan:

  • pemesanan;
  • pickup;
  • delivery;
  • membership;
  • voucher;
  • dan pencarian outlet.

4. Pengembangan consumer journey

Jiwa Group juga sebelumnya memperkenalkan konsep outlet yang menggunakan self-service kiosk dan sistem pemesanan yang lebih terintegrasi.

Pelajaran bisnis

Janji Jiwa memperlihatkan pentingnya scale dan accessibility dalam bisnis minuman mass market.

Tidak semua konsumen mencari pengalaman specialty coffee. Banyak konsumen menginginkan produk yang familiar, mudah diperoleh, dan sesuai dengan rutinitas sehari-hari.

4. Kopi Tuku: Kekuatan Brand dari Konsep “Tetangga”

Berbeda dari jaringan yang mengejar ekspansi nasional dalam skala sangat besar, Kopi Tuku membangun diferensiasi melalui identitas merek yang lebih kuat.

TUKU memulai perjalanannya dari Cipete pada 2015 dengan konsep yang dekat dengan kehidupan lingkungan sekitar. Brand tersebut menggunakan istilah “Tetangga” sebagai bagian dari identitas komunitasnya.

Pada situs resminya, TUKU menyebut telah hadir di 65 toko/neighborhood dan masih terus berkembang.

Signature product

Salah satu produk yang paling dikenal adalah:

Es Kopi Susu Tetangga.

TUKU juga mengembangkan kategori:

  • white milk;
  • black coffee;
  • non-coffee;
  • makanan ringan;
  • biji kopi;
  • dan merchandise.

Mengapa positioning TUKU menarik?

TUKU tidak hanya menjual kopi.

Ia menjual gagasan tentang:

kopi + lingkungan + identitas lokal + komunitas.

Ini merupakan strategi brand yang berbeda dari kompetisi berbasis diskon.

Pelajaran bisnis

Brand yang kuat tidak selalu membutuhkan ekspansi tercepat.

Dalam kategori yang sangat kompetitif, identitas yang konsisten dapat menjadi aset jangka panjang.

5. Anomali Coffee: Mempertahankan Jalur Specialty Coffee

Anomali Coffee mengambil posisi berbeda dari pemain kopi mass market.

Brand ini menempatkan kopi Indonesia dan specialty coffee sebagai bagian penting dari identitasnya.

Situs resmi Anomali menyediakan berbagai biji kopi Indonesia, termasuk:

  • Aceh Gayo;
  • Bali Kintamani;
  • Flores;
  • Papua;
  • Sumatra;
  • Toraja;
  • dan berbagai origin lainnya.

Anomali juga tidak hanya menjalankan coffee shop.

Ekosistemnya mencakup:

  • penjualan biji kopi;
  • peralatan kopi;
  • coffee class;
  • produk retail;
  • dan kanal Horeca.

Strategi yang berbeda

Jika coffee chain mass market berusaha menjual sebanyak mungkin minuman dalam waktu singkat, specialty coffee lebih banyak membangun nilai melalui:

kualitas + origin + edukasi + pengalaman.

Anomali menjadi contoh bagaimana brand lokal dapat membangun posisi dengan mengangkat kekayaan kopi Indonesia.

Pelajaran bisnis

Tidak semua pemain harus memenangkan pasar melalui jumlah outlet.

Segmen specialty memungkinkan perusahaan membangun diferensiasi melalui pengetahuan, kualitas produk, dan pengalaman konsumen.

6. Tomoro Coffee: Ekspansi Cepat dan Format Outlet yang Fleksibel

Tomoro Coffee merupakan pemain yang berkembang cepat sejak muncul pada 2022.

Jaringan outlet Tomoro pada 2026 sudah tersebar di berbagai kota Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, Bogor, Bekasi, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Palembang, hingga sejumlah kota lainnya. Daftar outlet yang tersedia melalui mitra pembayaran dan layanan lokal menunjukkan cakupan jaringan yang luas.

Yang menarik dari Tomoro adalah variasi lokasi.

Outlet dapat ditemukan di:

  • pusat perbelanjaan;
  • kawasan perkantoran;
  • SPBU;
  • area kampus;
  • kawasan residensial;
  • pusat transportasi;
  • dan lokasi high-traffic lainnya.

Mengapa strategi lokasi penting?

Coffee chain memiliki persoalan klasik:

bagaimana memperoleh traffic tanpa membayar biaya lokasi yang terlalu mahal?

Tomoro mencoba menyelesaikan masalah tersebut dengan memperluas format dan jenis lokasi.

Pendekatan seperti ini dapat memberikan lebih banyak pilihan dalam menentukan unit economics setiap outlet.

Pelajaran bisnis

Dalam bisnis jaringan, lokasi bukan sekadar soal “tempat yang ramai”.

Yang lebih penting adalah:

traffic yang relevan + biaya sewa + frekuensi pembelian + kecepatan transaksi.

7. HAUS!: Memperluas Pasar Minuman di Luar Kopi

HAUS! menarik karena tidak memposisikan diri semata-mata sebagai coffee shop.

Aplikasi resmi HAUS! menyebut jaringan tersebut memiliki lebih dari 200 toko di Indonesia. Konsumen dapat memesan minuman dan makanan melalui delivery, pickup, maupun dine-in.

Model ini memperlihatkan perubahan penting dalam industri minuman modern.

Konsumen tidak selalu membedakan bisnis berdasarkan kategori:

“coffee shop”

atau

“non-coffee beverage”.

Yang mereka cari sering kali adalah:

minuman yang enak, harga terjangkau, mudah ditemukan, dan mudah dipesan.

HAUS! juga menawarkan berbagai produk selain kopi, termasuk makanan pendamping dan minuman dengan berbagai tingkat gula, es, ukuran, dan topping.

Pelajaran bisnis

Pasar minuman modern sangat luas.

Brand yang mampu menggabungkan:

harga + variasi produk + convenience + jaringan outlet

dapat menjangkau konsumen di luar segmen coffee enthusiast.

Perbandingan Model Bisnis

Daripada memberikan angka valuasi dan revenue 2026 yang tidak semuanya tersedia secara publik, perbandingan yang lebih aman adalah melihat positioning dan strategi utama.

BrandPositioningModel UtamaDiferensiasi
Kopi KenanganMass/premium affordableGrab-and-go + digitalSkala, teknologi, ekspansi
Fore CoffeePremium affordableChain + digitalEkspansi terukur dan operational efficiency
Janji JiwaMass marketChain + digitalJaringan luas dan accessibility
Kopi TukuLocal lifestyleNeighborhood coffeeBrand identity dan komunitas
Anomali CoffeeSpecialtyCoffee shop + retailKopi Indonesia dan edukasi
Tomoro CoffeeMass/premium affordableChain + digitalEkspansi dan variasi lokasi
HAUS!Affordable beverageChain + digitalVariasi minuman dan convenience
💡 Catatan: Tabel tersebut merupakan perbandingan model bisnis, bukan ranking kualitas atau profitabilitas.

Mengapa Brand Lokal Bisa Berkembang?

Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa coffee chain lokal mampu berkembang di Indonesia.

1. Selera Lokal

Brand lokal dapat mengembangkan produk yang sesuai dengan preferensi konsumen Indonesia.

Contohnya adalah:

  • kopi susu;
  • gula aren;
  • minuman susu;
  • teh;
  • cokelat;
  • matcha;
  • serta berbagai produk non-coffee.

2. Harga yang Lebih Terjangkau

Coffee chain lokal umumnya bermain pada rentang harga yang lebih luas dibandingkan coffee shop internasional premium.

Hal ini membuat kopi dapat masuk ke rutinitas harian konsumen, bukan hanya menjadi konsumsi sesekali.


3. Lokasi yang Dekat dengan Konsumen

Gerai kopi modern tidak hanya berada di pusat perbelanjaan.

Format baru dapat ditemukan di:

  • perkantoran;
  • SPBU;
  • kampus;
  • kawasan perumahan;
  • ruko;
  • stasiun;
  • dan pusat transportasi.

4. Teknologi

Aplikasi, loyalty program, pembayaran digital, promosi personal, dan layanan delivery memungkinkan coffee chain memahami konsumennya dengan lebih baik.


5. Brand Storytelling

Kopi Tuku merupakan contoh bagaimana konsep sederhana seperti “tetangga” dapat menjadi identitas merek yang kuat.

Sementara Anomali membangun cerita melalui kopi Indonesia dan specialty coffee.

Artinya, brand tidak hanya menjual minuman.

Brand juga menjual cerita dan pengalaman.


Tantangan Besar Bisnis Coffee Chain pada 2026

Pertumbuhan outlet tidak otomatis berarti bisnis semakin sehat.

Justru semakin besar jaringan, semakin kompleks tantangannya.

1. Biaya bahan baku

Kopi merupakan komoditas global yang dipengaruhi:

  • cuaca;
  • produksi negara penghasil;
  • nilai tukar;
  • biaya logistik;
  • dan kondisi pasar komoditas.

Kenaikan harga bahan baku dapat menekan margin jika perusahaan tidak mampu mengimbanginya dengan produktivitas atau penyesuaian harga.


2. Biaya lokasi

Lokasi premium dapat meningkatkan traffic, tetapi juga meningkatkan biaya sewa.

Karena itu perusahaan harus menghitung:

sales per outlet vs occupancy cost.

Outlet dengan penjualan tinggi belum tentu menguntungkan jika biaya lokasinya terlalu mahal.


3. Konsistensi kualitas

Semakin banyak outlet, semakin sulit menjaga:

  • rasa;
  • kecepatan pelayanan;
  • kebersihan;
  • kualitas bahan;
  • dan pengalaman pelanggan.

Standardisasi menjadi sangat penting.


4. Ketergantungan pada promosi

Diskon dapat meningkatkan transaksi jangka pendek.

Tetapi jika konsumen hanya membeli ketika ada promo, brand dapat menghadapi masalah loyalitas dan margin.

Karena itu coffee chain perlu membangun alasan lain bagi pelanggan untuk kembali.


5. Risiko ekspansi terlalu cepat

Membuka ratusan outlet membutuhkan:

  • modal;
  • tenaga kerja;
  • supply chain;
  • sistem teknologi;
  • training;
  • quality control;
  • dan kemampuan manajemen.

Pertumbuhan outlet harus berjalan bersama produktivitas setiap gerai.


Apa yang Bisa Dipelajari Pengusaha Baru?

Bagi entrepreneur yang ingin masuk bisnis coffee shop pada 2026, kesalahan paling umum adalah langsung berpikir:

“Bagaimana membuka 100 outlet?”

Pertanyaan yang lebih penting justru:

“Apakah satu outlet saya benar-benar memiliki unit economics yang sehat?”

Sebelum ekspansi, pengusaha perlu mengetahui:

  • omzet harian;
  • gross margin;
  • biaya bahan baku;
  • biaya tenaga kerja;
  • sewa;
  • biaya platform delivery;
  • biaya marketing;
  • break-even point;
  • repeat customer;
  • dan payback period.

Jika satu outlet belum memiliki model ekonomi yang sehat, memperbanyak outlet justru dapat memperbesar kerugian.


Lima Strategi untuk Brand Kopi Baru

1. Cari positioning yang jelas

Jangan hanya menjadi “coffee shop yang menjual kopi”.

Tentukan alasan konsumen harus memilih brand tersebut.

Contohnya:

  • specialty coffee;
  • neighborhood coffee;
  • family coffee;
  • coffee + coworking;
  • coffee + bookstore;
  • coffee + lifestyle;
  • atau affordable premium.

2. Mulai dari produk unggulan

Tidak perlu langsung memiliki puluhan menu.

Satu atau dua produk yang kuat dapat menjadi pintu masuk untuk membangun brand.


3. Uji unit economics

Sebelum ekspansi, ukur:

berapa biaya untuk membuka outlet dan berapa lama modal tersebut kembali.


4. Gunakan teknologi secara proporsional

Teknologi tidak harus berarti membangun aplikasi sendiri.

Bisnis kecil dapat memulai dari:

  • POS;
  • QRIS;
  • delivery platform;
  • customer database;
  • social media;
  • dan loyalty sederhana.

5. Bangun komunitas

Coffee shop dapat menjadi ruang komunitas melalui:

  • workshop;
  • musik;
  • diskusi;
  • coffee class;
  • kolaborasi UMKM;
  • event lokal;
  • dan kegiatan kreatif.

Ini dapat menciptakan hubungan yang lebih kuat dibandingkan sekadar promosi harga.


Bagaimana Prospek Industri Coffee Chain ke Depan?

Prospek coffee chain Indonesia tetap menarik, tetapi angka pertumbuhannya perlu dibaca secara hati-hati.

Riset Redseer yang dikutip dalam prospektus Fore memproyeksikan pasar chained coffee Indonesia dari sekitar US$1,6 miliar pada 2026F menjadi US$3,3 miliar pada 2030F. Ini adalah proyeksi pasar tertentu, bukan angka realisasi seluruh bisnis coffee shop Indonesia.

Di sisi perusahaan, ekspansi juga masih berlangsung.

Fore menargetkan tambahan 100 outlet pada 2026, terdiri dari 70 Fore Coffee dan 30 Fore Donut.

Kopi Kenangan juga menargetkan ekspansi jaringan lebih lanjut setelah menambah ratusan gerai pada 2025.

Namun, pertumbuhan outlet bukan satu-satunya indikator yang perlu diperhatikan.

Investor dan pelaku industri juga akan semakin memperhatikan:

  • same-store sales;
  • margin;
  • EBITDA;
  • cash flow;
  • payback period;
  • produktivitas outlet;
  • dan retensi pelanggan.

Dengan kata lain, era “tumbuh sebanyak mungkin” perlahan bergeser menuju “tumbuh dengan ekonomi unit yang sehat.”


Perkembangan coffee chain Indonesia pada 2026 menunjukkan bahwa brand lokal tidak harus menggunakan strategi yang sama untuk berkembang.

Kopi Kenangan membangun skala dan teknologi hingga menjadi jaringan regional.

Fore Coffee menggabungkan positioning premium affordable dengan ekspansi dan disiplin operasional.

Janji Jiwa memanfaatkan jaringan luas dan aksesibilitas untuk menjangkau pasar mass market.

Kopi Tuku membangun identitas melalui konsep neighborhood dan komunitas.

Anomali Coffee mempertahankan diferensiasi melalui specialty coffee dan kekayaan origin kopi Indonesia.

Tomoro Coffee menunjukkan bagaimana ekspansi dan variasi lokasi dapat menjadi bagian dari strategi jaringan.

Sementara HAUS! memperlihatkan bahwa bisnis minuman modern tidak harus dibatasi pada kategori coffee shop.

Dari ketujuh model tersebut terlihat satu pelajaran penting:

Tidak ada satu formula untuk memenangkan bisnis kopi.

Ada brand yang menang melalui skala, ada yang melalui teknologi, ada yang melalui komunitas, ada yang melalui specialty coffee, dan ada pula yang memperluas kategori minuman.

Bagi pengusaha baru, tantangan sebenarnya bukan sekadar membuka outlet sebanyak mungkin.

Tantangannya adalah menemukan kombinasi:

produk yang disukai konsumen + brand yang berbeda + lokasi yang tepat + operasional efisien + unit economics yang sehat.

Dan ketika kombinasi tersebut berhasil ditemukan, ekspansi menjadi konsekuensi dari model bisnis yang sehat—bukan sekadar tujuan itu sendiri.


FAQ

Berapa besar pasar coffee shop Indonesia pada 2026?

Angka bergantung pada definisi pasar yang digunakan. Riset Redseer yang dikutip dalam prospektus Fore memproyeksikan chained coffee industry Indonesia sekitar US$1,6 miliar pada 2026F. Angka ini merupakan proyeksi untuk kategori tertentu, bukan ukuran seluruh industri coffee shop Indonesia.

Berapa outlet Kopi Kenangan di Indonesia?

Pada akhir 2025, Kopi Kenangan mengoperasikan sekitar 1.136 gerai di Indonesia. Secara grup, jumlahnya mencapai 1.324 gerai di enam negara.

Berapa outlet Fore Coffee pada 2026?

Pada akhir Juni 2026, Fore Coffee Indonesia memiliki 363 outlet aktif. Jika termasuk Fore Donut dan Fore Coffee Singapore, jaringan grup mencapai 377 outlet.

Apakah Kopi Tuku memiliki ratusan outlet?

Situs resmi TUKU saat ini menyebut mereka telah hadir di 65 toko/neighborhood, sehingga angka 280 outlet dalam draft awal tidak sebaiknya digunakan.

Apa yang membuat coffee chain bisa berkembang?

Beberapa faktor penting adalah positioning yang jelas, produk yang sesuai dengan pasar, lokasi strategis, supply chain yang efisien, teknologi, brand loyalty, serta unit economics yang sehat.

Apakah membuka banyak outlet selalu berarti bisnis coffee shop berhasil?

Tidak. Jumlah outlet hanya menunjukkan skala jaringan. Profitabilitas membutuhkan analisis tambahan seperti penjualan per outlet, margin, biaya lokasi, biaya tenaga kerja, cash flow, dan payback period.

Mengapa data coffee shop sering berbeda antara satu laporan dan laporan lainnya?

Karena setiap penelitian dapat menggunakan definisi berbeda. Ada laporan yang menghitung seluruh café dan bar, ada yang hanya menghitung chained coffee, ada yang menggunakan nilai penjualan, dan ada yang menghitung GMV atau revenue perusahaan. Karena itu angka harus selalu dibaca bersama definisi dan periode pengukurannya.


Sumber Utama
  • Fore Coffee — Laporan Tahunan 2025 dan laporan kinerja 1H26.
  • Kopi Kenangan — data outlet dan perkembangan bisnis.
  • TUKU — informasi perusahaan, produk, dan jaringan toko.
  • Jiwa Group / JIWA+ — jaringan dan layanan digital.
  • Anomali Coffee — produk dan ekosistem specialty coffee.
  • Sumber outlet Tomoro Coffee.
  • HAUS! — aplikasi dan jaringan toko.
  • RedSeer — proyeksi industri chained coffee yang dikutip dalam prospektus Fore.

 

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkait
IHSG anjlok 4,31 persen ke bawah 5.000, rupiah melemah ke Rp18.035 akibat ancaman MSCI

IHSG Anjlok 4,31 Persen ke Bawah 5.000, Rupiah Melemah...

Jakarta, ElrolumNews — Pasar keuangan Indonesia memasuki pekan ini dengan tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)...
Diversifikasi portofolio membantu investor mengelola risiko dengan tidak bergantung pada satu saham, satu sektor, atau satu jenis aset.

Diversifikasi Portofolio Saham untuk Pemula: Cara Mengelola Risiko Investasi

Pasar Modal & Investasi, ELrolumNews — Setelah memahami analisis fundamental, valuasi, pertumbuhan, value trap, laporan keuangan, dan...
Siklus industri dapat memengaruhi laba, arus kas, dan valuasi perusahaan, terutama pada sektor yang sangat bergantung pada harga komoditas atau permintaan ekonomi

Mengenal Siklus Industri dan Dampaknya pada Valuasi

Pasar Modal & Investasi, ELrolumNews — Dalam analisis saham, investor sering bertanya: “PER-nya rendah, apakah saham ini...

Lainnya

Popular