8 Reksadana Syariah yang Perlu Diketahui pada 2026: Jenis, Risiko, dan Cara Memilihnya

Pasar Modal & Investasi, ELrolumNews – Investasi syariah semakin mendapat tempat dalam industri pasar modal Indonesia. Pertumbuhan tersebut tidak hanya terlihat dari bertambahnya produk, tetapi juga dari perkembangan dana kelolaan dan semakin luasnya pilihan instrumen yang tersedia bagi investor.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa Asset Under Management (AUM) reksa dana syariah meningkat 11,71% secara year-to-date hingga Juli 2026. Pada periode yang sama, industri pengelolaan investasi secara keseluruhan memiliki AUM sekitar Rp1.025,12 triliun, sementara NAB seluruh reksa dana mencapai Rp663,26 triliun.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa reksa dana syariah merupakan bagian penting dari perkembangan pasar modal syariah Indonesia.

Namun, investor perlu berhati-hati dalam membaca kinerja produk.

Reksa dana syariah tidak otomatis menghasilkan return tinggi, tidak bebas risiko, dan tidak ada produk yang dapat dijamin memberikan keuntungan tertentu setiap tahun.

Karena itu, daripada membuat daftar “reksa dana syariah terbaik”, artikel ini membahas delapan produk reksa dana syariah yang dapat menjadi referensi untuk dipelajari, berdasarkan keberadaan produknya, kategori, strategi investasi, serta data yang tersedia pada 2026.

Catatan: Data kinerja reksa dana berubah setiap hari. Angka dalam artikel ini menggunakan data yang tersedia dari OJK, manajer investasi, dan penyedia data pada periode 2026 dan bukan merupakan jaminan kinerja masa depan.

Perkembangan Reksadana Syariah Indonesia pada 2026

Pasar reksa dana syariah berada di tengah perkembangan yang menarik.

OJK mencatat bahwa hingga Juli 2026, AUM reksa dana syariah tumbuh 11,71% YTD. Pada Agustus 2026, OJK kembali mencatat AUM reksa dana syariah masih tumbuh 1,63% YTD.

Pada saat yang sama, pasar saham syariah menghadapi kondisi yang tidak sepenuhnya mudah.

OJK menyebut kinerja Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) secara YTD pada 2026 masih mengalami pelemahan sejalan dengan IHSG.

Artinya, pertumbuhan dana kelolaan reksa dana syariah tidak boleh diterjemahkan secara sederhana sebagai bukti bahwa seluruh produk saham syariah memberikan return positif.

Pertumbuhan AUM dan return investasi adalah dua hal yang berbeda.

8 Reksadana Syariah yang Menarik untuk Dipelajari pada 2026

Daftar berikut bukan peringkat dan bukan rekomendasi personal.

Produk dipilih untuk memperlihatkan beberapa karakter berbeda dalam ekosistem reksa dana syariah: saham domestik, saham global, campuran, pendapatan tetap, pasar uang, dan indeks.

1. Sucorinvest Sharia Equity Fund

Manajer investasi: Sucorinvest Asset Management
Kategori: Reksa Dana Saham Syariah

Sucorinvest Sharia Equity Fund merupakan reksa dana saham yang berinvestasi terutama pada efek syariah berbasis ekuitas.

Menurut data Bareksa September 2026, produk ini memiliki dana kelolaan sekitar Rp983 miliar dan minimum pembelian awal Rp100.000. Kebijakan investasinya menetapkan 80–100% NAB pada efek syariah bersifat ekuitas, sedangkan sisanya dapat ditempatkan pada sukuk, SBSN, instrumen pasar uang syariah, atau deposito syariah.

Data portofolio Juli 2026 yang ditampilkan Bareksa antara lain mencakup:

  • Bank Aladin Syariah;
  • Bank Syariah Indonesia;
  • Bukit Asam;
  • Aneka Tambang;
  • Indofood CBP;
  • Jasa Marga;
  • Semen Indonesia;
  • Timah.

Karakteristik

Produk ini cocok dipahami sebagai contoh reksa dana saham syariah dengan eksposur tinggi terhadap pasar saham domestik.

Karena mayoritas portofolionya berada pada saham, nilai unit penyertaan dapat mengalami fluktuasi yang cukup besar.

2. Batavia Dana Saham Syariah

Manajer investasi: Batavia Prosperindo Aset Manajemen
Kategori: Reksa Dana Saham Syariah

Batavia Dana Saham Syariah merupakan produk yang telah beroperasi sejak 2007.

Kebijakan investasinya menetapkan:

  • 80–100% pada efek ekuitas syariah;
  • 0–20% pada efek syariah berpendapatan tetap dan/atau instrumen pasar uang syariah.

Data Bareksa September 2026 menunjukkan dana kelolaan sekitar Rp26,3 miliar dan minimum pembelian Rp10.000.

Portofolio yang ditampilkan pada 2026 mencakup sejumlah saham seperti:

  • Telkom Indonesia;
  • Merdeka Copper Gold;
  • Aneka Tambang;
  • Alamtri Resources Indonesia;
  • Indofood;
  • Kalbe Farma;
  • Indofood CBP;
  • XLSmart.

Hal penting yang perlu diperhatikan

Kinerja historis produk ini menunjukkan bahwa reksa dana saham syariah tetap memiliki risiko pasar yang besar.

Data Bareksa per September 2026 menunjukkan return tiga tahun sekitar -13,96%.

Ini justru menjadi contoh penting mengapa investor tidak boleh menganggap label “syariah” sebagai sinonim dari “return tinggi”.

3. Principal Islamic Equity Growth Syariah

Manajer investasi: Principal Asset Management
Kategori: Reksa Dana Saham Syariah

Principal Islamic Equity Growth Syariah merupakan reksa dana saham syariah yang telah diluncurkan sejak 2007.

Kebijakan investasinya menetapkan:

  • 80–95% pada efek syariah bersifat ekuitas;
  • 5–20% pada instrumen pasar uang syariah.

Data Bareksa September 2026 menunjukkan dana kelolaan sekitar Rp65,3 miliar dengan minimum pembelian Rp10.000.

Portofolio Juli 2026 yang ditampilkan mencakup beberapa saham seperti:

  • Adaro Andalan Indonesia;
  • Aneka Tambang;
  • Chandra Asri Petrochemical;
  • Mayora Indah;
  • Selamat Sempurna;
  • XLSmart Telecom Sejahtera.

Kinerja

Data Principal per 31 Agustus 2026 menunjukkan Principal Islamic Equity Growth Syariah mencatat kinerja:

  • 1 tahun: -7,18%
  • YTD: -15,54%

Data tersebut memperlihatkan kembali bahwa periode pengamatan sangat menentukan ketika membandingkan reksa dana.

4. Principal Islamic Asia Pacific Equity Syariah

Manajer investasi: Principal Asset Management
Kategori: Reksa Dana Saham Syariah berbasis kawasan Asia Pasifik
Mata uang: USD

Produk ini memberikan eksposur yang berbeda karena investasinya tidak hanya berfokus pada saham Indonesia.

Data Principal per 31 Agustus 2026 menunjukkan:

  • YTD: +29,18%
  • 1 tahun: +44,89%
  • 3 tahun: +34,66%
  • AUM sekitar US$3,07 juta.

Namun, angka tersebut harus dibaca bersama dengan risikonya.

Karena menggunakan mata uang USD dan berinvestasi pada pasar Asia Pasifik, investor menghadapi faktor tambahan seperti:

  • pergerakan pasar saham luar negeri;
  • risiko nilai tukar;
  • kondisi ekonomi negara tujuan investasi;
  • dan volatilitas pasar global.

Karena itu, kinerja tinggi dalam satu periode tidak boleh dianggap sebagai return yang akan terulang pada periode berikutnya.

5. Schroder Syariah Balanced Fund

Manajer investasi: Schroders Indonesia
Kategori: Reksa Dana Campuran Syariah

Produk ini penting dimasukkan karena memperlihatkan bahwa reksa dana syariah tidak hanya terdiri dari reksa dana saham.

Schroder Syariah Balanced Fund merupakan produk reksa dana campuran syariah.

Data BCA per September 2026 menunjukkan dana kelolaan sekitar Rp183,5 miliar. Pada periode tersebut, kinerja yang ditampilkan antara lain sekitar 14,43% untuk periode satu tahun.

Schroders sendiri mencatat bahwa produk ini pernah memperoleh berbagai penghargaan historis dalam kategori reksa dana syariah, termasuk penghargaan untuk periode 1, 3, dan 5 tahun pada tahun-tahun sebelumnya.

Mengapa berbeda dari reksa dana saham?

Reksa dana campuran dapat menggabungkan beberapa kelas aset sesuai kebijakan investasinya.

Tujuannya bukan sekadar mengejar kenaikan saham, tetapi mengelola kombinasi aset dengan tingkat risiko yang berbeda.

6. Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USD

Manajer investasi: Eastspring Investments Indonesia
Kategori: Saham Syariah
Mata uang: USD

Eastspring menawarkan sejumlah produk syariah dengan berbagai karakteristik.

Salah satunya adalah Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USD.

Data Eastspring per 29 September 2026 menunjukkan NAB sekitar US$2,127 per unit untuk Kelas A.

Produk ini memberikan eksposur ke saham syariah kawasan Asia Pasifik.

Investor perlu memperhatikan bahwa penggunaan mata uang USD berarti hasil investasi dalam rupiah dapat dipengaruhi oleh perubahan kurs selain pergerakan harga saham.

Eastspring juga memiliki beberapa produk syariah lainnya, termasuk:

  • Eastspring Syariah Fixed Income Amanah;
  • Eastspring Syariah Money Market Khazanah;
  • Eastspring Syariah Mixed Asset Fund;
  • Eastspring Syariah Greater China Equity USD;
  • Eastspring Syariah Income Global Mixed Asset USD.

7. Danareksa Indeks Syariah

Manajer investasi: Danareksa Investment Management
Kategori: Reksa Dana Indeks Syariah

Danareksa Indeks Syariah merupakan salah satu produk indeks syariah yang telah lama tercatat dalam daftar produk reksa dana syariah OJK.

Dokumen OJK mencatat produk tersebut sebagai reksa dana indeks yang diluncurkan pada 2006.

Reksa dana indeks memiliki pendekatan berbeda dibandingkan active fund.

Manajer investasi tidak berusaha memilih saham untuk mengalahkan pasar secara aktif dalam setiap periode, tetapi berusaha mengikuti indeks acuan sesuai mandat produk.

Keuntungan pendekatan indeks

Investor mendapatkan:

  • pendekatan yang relatif sederhana;
  • portofolio yang mengikuti indeks;
  • diversifikasi sesuai konstituen indeks;
  • dan transparansi terhadap metodologi indeks.

Namun, reksa dana indeks juga tetap menghadapi risiko penurunan pasar ketika indeks acuannya turun.

8. Eastspring Syariah Money Market Khazanah

Manajer investasi: Eastspring Investments Indonesia
Kategori: Pasar Uang Syariah

Untuk investor yang mempelajari reksa dana syariah, penting untuk memahami bahwa tidak semua produk syariah harus berupa saham.

Eastspring menawarkan Eastspring Syariah Money Market Khazanah, yang dikategorikan sebagai reksa dana pasar uang syariah. Data NAB Eastspring per 29 September 2026 menunjukkan nilai sekitar Rp1.233,82 per unit untuk kelas yang tercantum.

Karakteristik pasar uang berbeda dari reksa dana saham.

Fokusnya adalah instrumen pasar uang syariah dan/atau instrumen berjangka pendek sesuai ketentuan produk.

Karena karakter asetnya berbeda, investor biasanya perlu melihat produk pasar uang dalam konteks:

  • kebutuhan likuiditas;
  • horizon investasi;
  • toleransi terhadap fluktuasi;
  • dan tujuan keuangan.

Perbandingan Karakter 8 Produk

Daripada menggunakan tabel “return tertinggi” yang dapat berubah setiap hari, perbandingan berikut lebih aman secara editorial.

ProdukKategoriFokusMata UangKarakter Risiko
Sucorinvest Sharia Equity FundSahamSaham syariah IndonesiaRupiahTinggi
Batavia Dana Saham SyariahSahamSaham syariah IndonesiaRupiahTinggi
Principal Islamic Equity Growth SyariahSahamSaham syariah IndonesiaRupiahTinggi
Principal Islamic Asia Pacific Equity SyariahSahamAsia PasifikUSDTinggi
Schroder Syariah Balanced FundCampuranMulti-aset syariahRupiahMenengah–tinggi
Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USDSahamAsia PasifikUSDTinggi
Danareksa Indeks SyariahIndeksIndeks saham syariahRupiahTinggi
Eastspring Syariah Money Market KhazanahPasar uangInstrumen pasar uang syariahRupiahRelatif lebih rendah
💡 Catatan: Kategori risiko di atas merupakan karakteristik umum berdasarkan kelas aset, bukan penilaian risiko personal untuk setiap investor.

Apa Itu Reksa Dana Syariah?

Reksa dana syariah merupakan produk investasi yang portofolionya dikelola berdasarkan prinsip syariah dan ketentuan pasar modal yang berlaku.

OJK menyediakan kerangka pasar modal syariah yang mencakup berbagai jenis reksa dana syariah, termasuk reksa dana saham syariah, reksa dana campuran syariah, reksa dana pasar uang syariah, reksa dana berbasis sukuk, dan produk berbasis efek syariah luar negeri.

Artinya, istilah “reksa dana syariah” bukan satu jenis produk tunggal.

Karakter risikonya tetap bergantung pada aset yang berada di dalam portofolio.

Bagaimana Saham Syariah Ditentukan?

Salah satu instrumen penting dalam pasar modal syariah Indonesia adalah Daftar Efek Syariah (DES).

OJK menerbitkan DES secara periodik. Untuk periode I 2026, OJK menerbitkan KEP-21/D.04/2026 yang efektif mulai 1 Juni 2026 dan mencakup 622 saham emiten dan perusahaan publik serta efek syariah lainnya.

DES tersebut menjadi acuan bagi berbagai pihak, termasuk manajer investasi yang mengelola reksa dana syariah.

Bursa Efek Indonesia kemudian menggunakan DES sebagai dasar untuk penyusunan indeks saham syariah seperti:

  • ISSI;
  • JII;
  • JII70;
  • IDX-MES BUMN 17;
  • IDX Sharia Growth.

Screening Syariah Tidak Hanya Melihat Jenis Bisnis

Kriteria saham syariah tidak hanya melihat apakah bisnis perusahaan dianggap halal.

Terdapat pula screening keuangan.

Berdasarkan ketentuan yang berlaku, kriteria rasio keuangan mencakup batas total utang berbasis bunga terhadap total aset serta batas pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal.

Namun, terdapat perubahan regulasi penting.

POJK Nomor 8 Tahun 2025 menetapkan bahwa batas total utang berbasis bunga akan diturunkan secara bertahap dari 45% menuju 33% dalam jangka waktu 10 tahun, sementara batas pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal diturunkan dari 10% menjadi 5%.

Jadi, artikel investasi syariah pada 2026 sebaiknya tidak lagi menulis:

“batas utang syariah selalu 45%.”

Lebih tepat menjelaskan bahwa 45% merupakan batas yang masih terdapat dalam kriteria yang berlaku pada tahap awal, sementara regulasi telah menetapkan proses penurunan bertahap.

Reksadana Syariah Tidak Berarti Bebas Risiko

Ini merupakan bagian yang sangat penting bagi investor pemula.

Reksa Dana Saham

Nilainya dapat berfluktuasi cukup besar karena mengikuti kondisi pasar saham.

Contoh nyata terlihat pada sejumlah produk saham syariah pada 2026 yang mengalami return negatif dalam periode tertentu. Principal Islamic Equity Growth Syariah, misalnya, mencatat YTD -15,54% per 31 Agustus 2026.

Reksa Dana Campuran

Risikonya bergantung pada komposisi saham, sukuk, dan instrumen lainnya.

Reksa Dana Pendapatan Tetap Syariah

Lebih banyak berfokus pada sukuk dan instrumen pendapatan tetap syariah, tetapi tetap memiliki risiko harga dan suku bunga pasar yang relevan.

Reksa Dana Pasar Uang Syariah

Umumnya memiliki volatilitas yang lebih rendah dibandingkan reksa dana saham, tetapi return potensialnya juga berbeda.

Jangan Menggunakan Return Historis sebagai Janji Masa Depan

Kesalahan yang cukup sering muncul dalam artikel investasi adalah menulis:

“Return produk ini 15% per tahun, sehingga investor dapat mengharapkan 15% per tahun.”

Cara membaca data tersebut tidak tepat.

Return historis hanya menunjukkan apa yang terjadi pada periode sebelumnya.

Hasil masa lalu tidak menjamin hasil masa depan.

Bahkan data 2026 memperlihatkan perbedaan yang sangat besar antarproduk dan antarperiode.

Principal Islamic Asia Pacific Equity Syariah, misalnya, mencatat return satu tahun 44,89% per 31 Agustus 2026, sementara Principal Islamic Equity Growth Syariah mencatat -7,18% pada periode satu tahun yang sama.

Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya memahami aset, wilayah investasi, mata uang, dan strategi fund, bukan hanya melihat angka return.

Bagaimana Memilih Reksa Dana Syariah?

Tidak ada satu produk yang cocok untuk seluruh investor.

Beberapa hal yang dapat diperiksa:

1. Tujuan Investasi

Tentukan terlebih dahulu apakah dana tersebut digunakan untuk:

  • dana jangka pendek;
  • pendidikan;
  • rumah;
  • pensiun;
  • atau tujuan jangka panjang lainnya.

2. Horizon Investasi

Semakin tinggi eksposur saham, semakin penting mempertimbangkan horizon investasi yang cukup panjang.

Jangan memilih reksa dana saham untuk kebutuhan yang harus dibayar dalam waktu sangat dekat hanya karena melihat return historis yang tinggi.

3. Kelas Aset

Periksa apakah produk termasuk:

  • pasar uang;
  • pendapatan tetap;
  • campuran;
  • saham;
  • indeks;
  • atau berbasis efek syariah luar negeri.

Kelas aset akan sangat memengaruhi karakter risiko.

4. Portofolio

Periksa isi portofolio melalui fund fact sheet.

Lihat:

  • saham terbesar;
  • sektor;
  • konsentrasi;
  • porsi kas;
  • sukuk;
  • serta perubahan portofolio.

5. Biaya

Jangan hanya melihat return bruto.

Perhatikan pula:

  • subscription fee;
  • redemption fee;
  • switching fee;
  • management fee;
  • dan biaya lain yang relevan sesuai prospektus.

6. Dana Kelolaan

AUM dapat memberikan informasi tentang skala produk, tetapi AUM besar bukan jaminan bahwa produk tersebut akan memberikan return lebih tinggi.

Begitu juga AUM kecil tidak otomatis berarti produk buruk.

7. Manajer Investasi

Periksa:

  • izin;
  • pengalaman;
  • tata kelola;
  • transparansi;
  • fund fact sheet;
  • prospektus;
  • serta konsistensi pengelolaan.

Apakah Reksa Dana Syariah Selalu Lebih Baik daripada Reksa Dana Konvensional?

Tidak ada jawaban universal.

Perbedaannya terutama terletak pada mandat investasi dan proses screening syariah.

Reksa dana syariah harus mengikuti prinsip syariah dan hanya berinvestasi pada instrumen yang memenuhi ketentuan yang berlaku.

Sementara reksa dana konvensional tidak memiliki batasan syariah tersebut.

Karena mandatnya berbeda, perbandingan sebaiknya tidak hanya menggunakan return.

Investor juga perlu mempertimbangkan:

  • tujuan investasi;
  • kelas aset;
  • risiko;
  • biaya;
  • horizon;
  • diversifikasi;
  • dan preferensi terhadap prinsip syariah.

Bagaimana Prospek Reksa Dana Syariah?

Data OJK menunjukkan bahwa AUM reksa dana syariah masih mengalami pertumbuhan pada 2026.

Namun, belum tepat membuat proyeksi seperti:

“AUM pasti menjadi Rp125 triliun pada 2027”

atau

“reksa dana syariah akan mencapai 25% industri pada 2030”

tanpa model dan sumber proyeksi yang jelas.

Untuk artikel berita dan analisis ELrolumNews, lebih aman membedakan data aktual dari proyeksi industri.

Yang dapat dikatakan berdasarkan data OJK adalah bahwa industri reksa dana syariah masih berkembang, sementara regulator terus memperluas dan memperbarui ekosistem efek syariah. Pada Mei 2026, OJK menerbitkan DES periode I 2026 dengan 622 saham emiten dan perusahaan publik.

Reksa dana syariah Indonesia pada 2026 menawarkan pilihan yang semakin beragam.

Ada produk yang berfokus pada:

  • saham Indonesia;
  • saham Asia Pasifik;
  • pasar uang syariah;
  • instrumen pendapatan tetap;
  • portofolio campuran;
  • hingga pendekatan indeks.

OJK mencatat AUM reksa dana syariah tumbuh 11,71% YTD hingga Juli 2026, menunjukkan bahwa produk syariah tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan industri pengelolaan investasi Indonesia.

Namun, pertumbuhan industri tidak berarti semua produk menghasilkan keuntungan.

Data 2026 justru memperlihatkan variasi kinerja yang cukup lebar antarproduk. Karena itu, investor sebaiknya tidak memilih reksa dana hanya berdasarkan return tertinggi.

Yang lebih penting adalah memahami:

apa asetnya, bagaimana strateginya, berapa risikonya, berapa biayanya, siapa manajer investasinya, dan apakah produk tersebut sesuai dengan tujuan keuangan pribadi.

Bagi investor yang ingin mengikuti prinsip syariah, reksa dana syariah menyediakan kerangka investasi yang telah diatur dalam ekosistem pasar modal Indonesia.

Tetapi prinsip dasarnya tetap sama seperti investasi lainnya:

pahami produknya sebelum membeli, pahami risikonya sebelum berharap return, dan jangan menganggap kinerja masa lalu sebagai jaminan hasil di masa depan.

FAQ

Apakah reksa dana syariah aman?

Reksa dana syariah tetap memiliki risiko investasi. Tingkat risikonya bergantung pada kelas aset. Reksa dana saham umumnya memiliki fluktuasi lebih tinggi daripada reksa dana pasar uang.

Apakah reksa dana syariah dijamin OJK?

OJK mengatur dan mengawasi industri pasar modal, tetapi pengawasan tersebut bukan jaminan bahwa investor pasti memperoleh keuntungan atau tidak mengalami kerugian.

Apakah reksa dana syariah bisa rugi?

Bisa. Nilai unit penyertaan dapat turun, terutama pada produk yang memiliki eksposur besar terhadap saham.

Apa perbedaan reksa dana saham syariah dan reksa dana pasar uang syariah?

Reksa dana saham syariah terutama berinvestasi pada saham yang masuk kriteria syariah, sedangkan reksa dana pasar uang syariah berfokus pada instrumen pasar uang syariah dan instrumen berjangka pendek sesuai ketentuan produk.

Apakah semua saham dalam reksa dana syariah pasti saham yang sama?

Tidak. Manajer investasi memilih portofolio sesuai mandat dan strategi produk. Acuan efek syariahnya berasal dari Daftar Efek Syariah yang diterbitkan sesuai ketentuan OJK.

Apakah return 15% per tahun bisa dijadikan target?

Tidak sebaiknya. Return historis tidak menjamin return masa depan. Kinerja dapat berubah karena kondisi pasar, komposisi portofolio, strategi manajer investasi, nilai tukar, dan faktor ekonomi lainnya.

Berapa lama sebaiknya investasi di reksa dana saham syariah?

Tidak ada satu periode yang cocok untuk semua investor. Namun, karena fluktuasinya dapat besar, reksa dana saham umumnya lebih sesuai untuk tujuan dengan horizon lebih panjang dibandingkan kebutuhan dana jangka pendek.


Sumber Utama
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) — Statistik Reksa Dana Syariah 2026.
  • OJK — Daftar Efek Syariah Periode I 2026.
  • OJK — POJK Nomor 8 Tahun 2025 tentang Penerbitan Daftar Efek Syariah.
  • Bursa Efek Indonesia — Indeks Saham Syariah.
  • Sucorinvest Sharia Equity Fund — data produk dan portofolio.
  • Batavia Dana Saham Syariah — data produk dan portofolio.
  • Principal Asset Management — data kinerja produk syariah 2026.
  • Schroders Indonesia — produk dan penghargaan reksa dana syariah.
  • Eastspring Investments Indonesia — data produk dan NAB 2026.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkait
IHSG anjlok 4,31 persen ke bawah 5.000, rupiah melemah ke Rp18.035 akibat ancaman MSCI

IHSG Anjlok 4,31 Persen ke Bawah 5.000, Rupiah Melemah...

Jakarta, ElrolumNews — Pasar keuangan Indonesia memasuki pekan ini dengan tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)...
Diversifikasi portofolio membantu investor mengelola risiko dengan tidak bergantung pada satu saham, satu sektor, atau satu jenis aset.

Diversifikasi Portofolio Saham untuk Pemula: Cara Mengelola Risiko Investasi

Pasar Modal & Investasi, ELrolumNews — Setelah memahami analisis fundamental, valuasi, pertumbuhan, value trap, laporan keuangan, dan...
Siklus industri dapat memengaruhi laba, arus kas, dan valuasi perusahaan, terutama pada sektor yang sangat bergantung pada harga komoditas atau permintaan ekonomi

Mengenal Siklus Industri dan Dampaknya pada Valuasi

Pasar Modal & Investasi, ELrolumNews — Dalam analisis saham, investor sering bertanya: “PER-nya rendah, apakah saham ini...

Lainnya

Popular