Trend & Culture, ElrolumNews — Dulu, sebuah merek fashion membutuhkan toko untuk memperlihatkan produknya.
Kini, sebuah video berdurasi singkat dapat menjadi etalase, katalog, ruang rekomendasi sekaligus pintu transaksi.
Perubahan tersebut sedang membentuk kembali industri fashion lokal Indonesia.
Data yang disampaikan Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia menunjukkan nilai transaksi kategori fashion pada Semester I 2026 meningkat 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode tersebut, jumlah kreator fashion meningkat 74 persen, sementara nilai transaksi melalui TikTok Shop yang dihasilkan kreator fashion meningkat 95 persen.
Ketika orang membeli karena menemukan, bukan mencari
Model ini sering disebut discovery commerce.
Konsumen tidak selalu membuka platform dengan niat mencari jaket atau sepatu tertentu.
Mereka bisa menemukan sebuah produk melalui video, gaya berpakaian seseorang atau cerita kreator.
Dari sana muncul rasa tertarik, kemudian transaksi.
Perubahan ini membuat kreativitas konten menjadi bagian dari strategi bisnis.
Kreator menjadi jembatan baru
Kreator fashion kini tidak hanya berperan sebagai pembuat konten.
Mereka dapat menjadi kurator gaya, pemberi rekomendasi sekaligus penghubung antara merek dan konsumen.
Bagi merek lokal, kondisi tersebut membuka peluang untuk membangun pasar tanpa harus memiliki jaringan toko fisik di banyak kota.
Namun ada tantangan lain.
Semakin mudah sebuah produk ditemukan, semakin tinggi pula persaingan untuk mendapatkan perhatian.
Produk tetap harus mampu berbicara
Konten dapat membuat orang berhenti menggulir.
Tetapi kualitas produk yang menentukan apakah konsumen akan kembali.
Desain, bahan, harga, layanan, pengiriman dan kepercayaan tetap menjadi fondasi.
Karena itu, masa depan fashion lokal mungkin bukan sekadar tentang siapa yang paling sering muncul di layar.
Yang lebih penting adalah siapa yang mampu mengubah perhatian menjadi hubungan jangka panjang dengan konsumen.




