Jakarta, ELrolumnews – Harga sejumlah bahan pokok di pasaran Jakarta mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Mulai dari beras, cabai, bawang merah, hingga daging ayam, semua ikut terdampak. Kenaikan ini membuat ibu rumah tangga di Ibu Kota mulai “mengencangkan ikat pinggang” dan memutar otak mengatur strategi belanja harian .
Kondisi ini terpantau jelas di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026). Aktivitas jual beli masih berlangsung, namun keluhan warga terdengar hampir di setiap sudut pasar .
Salah seorang warga Senen, Tina (45), mengaku kenaikan paling terasa adalah pada komoditas beras. Dalam sepekan terakhir, harga beras premium naik sekitar Rp1.000 per kilogram.
“Semua naik, beras juga awalnya naik Rp500 sekarang Rp1.000, nggak tahu sampai kapan naik lagi,” keluhnya di Pasar Senen, Jakarta Pusat .
Daftar lengkap kenaikan harga pangan di Jakarta (berdasarkan pemantauan hingga 9-10 Juni 2026) adalah sebagai berikut:
Cabai Merah Keriting: Kenaikan tertinggi mencapai 11,96 persen menjadi Rp66.954 per kilogram .
Cabai Merah TW: Naik 11,04 persen menjadi Rp74.502 per kilogram .
Cabai Rawit Merah: Naik 6,35 persen menjadi Rp91.420 per kilogram .
Bawang Merah: Naik 2,22 persen menjadi Rp61.127 per kilogram .
Daging Ayam: Naik tipis menjadi Rp42.885 per kilogram .
Beras Kualitas Super I: Naik 0,29 persen menjadi Rp17.500 per kilogram.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, mengungkapkan bahwa kelompok cabai mendominasi daftar komoditas dengan kenaikan harga tertinggi pada awal Juni 2026 .
Lonjakan harga ini membuat para pedagang ikut mengeluh. Seorang pedagang ayam di Pasar Senen menyebut harga ayam naik hingga Rp40.000-Rp45.000 per kilogram, membuat pembeli banyak yang mengurangi jumlah belanjaan.
Baik pembeli maupun pedagang mengaku sama-sama terdampak oleh tren kenaikan harga yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Di tengah tekanan inflasi yang membebani dompet, para ibu rumah tangga di Jakarta mulai menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi. Mereka tidak hanya pasrah, tetapi mulai menerapkan strategi cerdas untuk memastikan dapur tetap terisi tanpa menguras tabungan.
Berdasarkan hasil pantauan di pasar, beberapa strategi yang mulai diterapkan oleh warga antara lain:
Mengurangi Frekuensi Belanja Kebutuhan Sekunder: Pengeluaran untuk barang-barang non-esensial mulai dikurangi secara signifikan .
Mengganti Menu dengan Bahan Alternatif yang Lebih Murah: Beberapa warga mulai mengganti daging ayam yang mahal dengan tahu dan tempe sebagai sumber protein nabati .
Berburu Diskon dan Promo: Beberapa warga mengaku mulai lebih intens memanfaatkan promo dan diskon di supermarket atau aplikasi belanja online .
Belanja Lebih Selektif: Warga lebih memilih membeli bahan pangan sesuai kebutuhan pokok saja dan menghindari pembelian impulsif .
Merespons keluhan ini, Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, turun langsung melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Induk Cipinang pada Selasa (9/6/2026).
Dudung mengakui adanya fluktuasi harga pada komoditas cabai dan bawang, namun menilai hal tersebut sebagai dinamika situasi yang wajar pasca-momen Iduladha dan dipengaruhi faktor cuaca. Ia memastikan stok pangan secara keseluruhan masih dalam kondisi melimpah .
“Pasokan dalam negeri melimpah. Petani kita semakin baik, kualitas pupuk, kualitas bibit, dan penyuluhan semakin meningkat,” tegasnya .
Pemerintah juga memastikan harga beras medium di Pasar Induk Kramat Jati masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), yaitu Rp13.200 per kilogram dari batas HET Rp13.500 .
Meski begitu, bagi warga seperti Tina (45), tekanan kenaikan harga ini nyata dan langsung berdampak pada pengeluaran rumah tangga harian. “Saya harus mengurangi belanja buat camilan-camilan, sekarang fokus beli lauk dan beras aja,” ujarnya sembari menghela napas.
(*/dbs)






