HANOI, ElrolumNews — Perekonomian Vietnam mencatat pertumbuhan luar biasa pada kuartal III 2026. Badan Statistik Nasional Vietnam (NSO) melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 9,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan sekitar 8,65 persen.
Capaian ini menjadikan kuartal III 2026 sebagai periode pertumbuhan tercepat sejak kuartal III 2022. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, PDB Vietnam tumbuh 9,01 persen, menempatkan negara itu di jalur untuk mencapai target pertumbuhan dua digit yang ditetapkan pemerintah.
Sektor industri dan konstruksi menjadi motor utama dengan pertumbuhan 12,50 persen, memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB. Sektor jasa tumbuh 9,54 persen, sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,21 persen.
Namun, di balik gemilangnya angka pertumbuhan, terdapat persoalan struktural yang kian melebar. Vietnam mencatat defisit perdagangan sebesar 19,42 miliar dolar AS sepanjang Januari-September 2026, defisit terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah negara itu.
Data menunjukkan ekspor mencapai 434,30 miliar dolar AS, naik 24,5 persen, sementara impor melonjak lebih cepat menjadi 453,72 miliar dolar AS, naik 36,7 persen. Laju pertumbuhan impor yang jauh melampaui ekspor inilah yang memperlebar defisit.
Kenaikan harga energi menjadi penyebab signifikan. Volume impor minyak mentah turun 13,5 persen, tetapi nilainya naik 14,4 persen. Impor bahan bakar olahan naik 11,5 persen secara volume, namun nilainya melonjak 79,3 persen. Konflik yang melibatkan Iran telah mendorong harga energi global melambung, menghantam negara yang sangat bergantung pada impor energi seperti Vietnam.
Meski secara kumulatif masih defisit, September 2026 mencatatkan surplus perdagangan pertama setelah sembilan bulan berturut-turut defisit. Ekspor September mencapai 59,48 miliar dolar AS, sementara impor 58,21 miliar dolar AS, menghasilkan surplus 1,27 miliar dolar AS.
Sektor elektronik menjadi penopang utama. Ekspor komputer, produk elektronik, dan komponennya naik 2,1 kali lipat menjadi 22,6 miliar dolar AS pada September, menyumbang sekitar 38 persen dari total ekspor bulan itu.
Terdapat ketimpangan mendalam dalam neraca perdagangan Vietnam. Sektor domestik mencatat defisit 34,28 miliar dolar AS, sementara sektor investasi asing (FDI) membukukan surplus 14,86 miliar dolar AS. Ekspor sektor domestik hanya tumbuh 7,5 persen, sedangkan ekspor sektor FDI melonjak 29,4 persen.
Data ini mengungkap ketergantungan Vietnam pada perusahaan asing, yang mendominasi hingga 80,7 persen total ekspor negara itu.
Impor yang melonjak sebagian besar didorong oleh kebutuhan produksi. Impor komputer, produk elektronik, dan komponen mencapai 189 miliar dolar AS setelah sembilan bulan, naik 72 persen dan menyumbang 42 persen dari total impor.
Kepala Badan Statistik Nasional, Nguyen Thi Huong, menyatakan bahwa defisit perdagangan tidak seharusnya dinilai hanya dari besarnya angka absolut. Menurutnya, struktur barang impor dan potensinya untuk diubah menjadi produk ekspor di periode berikutnya jauh lebih penting.
“Kami percaya bahwa defisit perdagangan tidak boleh dinilai hanya berdasarkan ukuran absolutnya, melainkan pada struktur barang impor dan potensinya untuk diubah menjadi produk ekspor di periode berikutnya,” ujarnya.
Meski sembilan bulan pertama sudah tumbuh 9,01 persen, pemerintah Vietnam menghadapi tantangan berat untuk mencapai target pertumbuhan dua digit sepanjang tahun. Menteri Keuangan Vietnam menyatakan bahwa kuartal IV harus tumbuh 12,5 persen agar target tahunan tercapai.
Saat ini, 24 dari 34 provinsi di Vietnam masih mencatat pertumbuhan di bawah target nasional, menciptakan tekanan besar pada periode terakhir tahun ini.




