Ibu di Balik Penginjil Dunia: Kisah Morrow Coffey Graham

Religi, Elrolumnews –

“Kisah nyata Morrow Coffey Graham, seorang ibu rumah tangga biasa dari peternakan sapi di Carolina Utara, yang dengan setia menanamkan Firman Tuhan dalam diri anak-anaknya. Tanpa ia duga, ketekunannya di ruang tamu rumahnya menuliskan sejarah—salah satu anaknya tumbuh menjadi penginjil yang mengubah dunia abad ke-20.”

Seorang Ibu yang Sederhana

Di sebuah rumah sederhana di tengah peternakan sapi di daerah Carolina Utara, Amerika Serikat, hiduplah seorang ibu bernama Morrow Coffey Graham .

Ia bukanlah tokoh publik yang dikejar-kejar media. Ia bukan pengkhotbah terkenal. Ia bukan penulis buku laris. Ia hanyalah seorang istri petani dan ibu rumah tangga biasa. Namun, di balik kesederhanaannya, ia memiliki komitmen yang luar biasa terhadap imannya dan keluarganya.

Morrow lahir dengan rambut pirang panjang yang indah, dan sering disebut sebagai “Dixie belle” yang cantik dan menawan . Ia belajar memainkan piano, bernyanyi, dan berbicara di depan umum di Elizabeth College .

Pada suatu hari, ia bertemu dengan seorang pemuda tampan bernama William Franklin Graham Sr. di sebuah taman dekat Charlotte. Morrow mengakui, “Aku sudah melihatnya dua atau tiga kali dan ingin bertemu dengannya lebih dari apa pun; jadi aku meminta kepada Tuhan jika itu sesuai dengan kehendak-Nya, bolehkah aku bertemu dengan pemuda tampan itu!”

Doanya dijawab. Mereka berpacaran selama enam tahun sebelum menikah pada tanggal 26 Oktober 1916 .

Ibadah Keluarga yang Setia

Morrow dan suaminya, Frank, memiliki komitmen rohani yang kuat sejak awal pernikahan mereka. Dalam otobiografinya, Just As I Am, Billy Graham menulis tentang orang tuanya:

“Ketika [orang tuaku] membaca Alkitab keluarga di rumah kami, mereka tidak sekadar melakukan ritual saleh. Ibuku memberi tahu kami bahwa mereka telah mendirikan mezbah keluarga dengan pembacaan Alkitab setiap hari sejak hari pertama mereka menikah.” 

Setiap hari, keluarga Graham berkumpul untuk membaca Firman dan berdoa. Ini bukan sekadar rutinitas agama—tetapi fondasi iman yang mereka bangun bersama.

Setiap Minggu sore, Morrow selalu meluangkan waktu untuk mengumpulkan anak-anaknya. Ia tidak hanya bercerita tentang kisah-kisah Alkitab, tetapi juga dengan sabar menuntun mereka menghafal dasar-dasar iman Kristen bahkan sebelum anak-anaknya menginjak usia sepuluh tahun .

Salah satu hal yang paling luar biasa dari kesetiaan Morrow adalah ketekunannya dalam mengajar anak-anaknya mengenal Tuhan. Sebelum Billy Graham berusia sepuluh tahun, ibunya telah membuatnya menghafal Westminster (Presbyterian) Shorter Catechism—sebuah ringkasan pengajaran iman Kristen yang panjang dan mendalam .

Bayangkan seorang anak laki-laki yang energik—yang oleh ibunya digambarkan sebagai “pembuldoser, kambing gunung, tornado, dan malaikat secara bergantian”—harus duduk dan menghafal ajaran iman . Ia berlarian di rumah seperti Tarzan, melempar batu ke kaca mobil orang yang lewat, menjatuhkan piring dan ember susu, dan membuat ibunya “menderita seribu rasa sakit” .

Tapi Morrow tidak menyerah. Ia terus mengajar. Terus mendoakan. Terus percaya bahwa benih Firman yang ia tanam akan bertumbuh.

Doa Seorang Ibu

Morrow Graham adalah wanita yang percaya pada kuasa doa .

Ia tidak hanya mengajar anak-anaknya tentang Tuhan—ia juga mendoakan mereka. Billy Graham menulis:

“Setiap kali ibuku berdoa dengan salah satu dari kami, dan setiap kali orang tuaku berdoa untuk putra-putri mereka, mereka menyatakan ketergantungan mereka pada Tuhan untuk hikmat dan kekuatan dan keberanian untuk tetap mengendalikan kehidupan, apa pun keadaan yang mungkin terjadi. Lebih dari itu, mereka mendoakan anak-anak mereka, agar mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah.” 

Doa ibu ini tidak pernah sia-sia. Salah satu dari anak-anaknya—William Franklin Graham Jr.—tumbuh menjadi seorang pemuda yang pada usia 16 tahun mengalami pertobatan yang mengubah hidupnya. Ia kemudian dikenal dunia sebagai Billy Graham, penginjil terbesar abad ke-20, yang memberitakan Injil kepada lebih dari 200 juta orang di 185 negara.

Tanpa ia sadari, kesetiaannya di ruang tamu rumah peternakan itu menuliskan sejarah. Billy Graham menjadi suara yang mengubah dunia, didengarkan oleh para presiden dan jutaan orang di seluruh penjuru bumi .

Tapi Morrow tidak pernah mencari ketenaran. Ia tetap menjadi ibu yang rendah hati, yang terus mendoakan anak-anaknya sampai akhir hayatnya.

Meneruskan Warisan Iman

Warisan iman Morrow Coffey Graham tidak berhenti pada dirinya.

Billy Graham menikah dengan Ruth Bell, putri dari pasangan misionaris medis di Tiongkok . Ruth memiliki latar belakang iman yang sama kuatnya—ia lahir di Tiongkok pada 10 Juni 1920 dari orang tua yang melayani sebagai misionaris medis . Masa kecilnya dihabiskan di ladang misi Tiongkok, dikelilingi oleh penyakit, keputusasaan, dan kekacauan perang saudara. Penderitaan yang ia saksikan justru memperkuat keyakinannya akan kebutuhan umat manusia akan Juruselamat .

Pada usia 13 tahun, Ruth dikirim ke sekolah asrama di Pyongyang, Korea (sekarang Korea Utara), di mana ia belajar selama tiga tahun. Ia merasakan kerinduan yang mendalam akan kampung halaman, tetapi ia belajar mengatasi kesepian dengan merawat kebutuhan orang lain—keterampilan yang sangat berguna di tahun-tahun mendatang .

Ruth menyelesaikan pendidikan menengahnya di Montreat, Carolina Utara. Pada musim gugur 1937, ia mendaftar di Wheaton College di Illinois, dan tiga tahun kemudian, ia diperkenalkan kepada “Preacher”—julukan yang diberikan mahasiswa lain kepada Billy Graham dari Charlotte .

Mereka mulai berpacaran, dan pergumulan Ruth dimulai: antara panggilannya ke ladang misi dan cintanya yang berkembang kepada Billy. Setelah banyak pergumulan dalam doa pada akhir April 1941, Ruth menyadari bahwa misi hidupnya adalah terikat pada semangat Billy untuk penginjilan .

Mereka menikah pada 13 Agustus 1943 di Montreat.

Sebagai istri dari seorang penginjil dunia, Ruth sering harus membesarkan lima anak mereka sendirian—Virginia (Gigi), Anne, Ruth, Franklin, dan Nelson Edman (Ned)—sementara Billy pergi dalam perjalanan penginjilan yang panjang di seluruh dunia .

Ia juga menjadi penasihat terdekat Billy, membantu menyusun khotbah dan bahkan menamai program radio “Hour of Decision” yang terkenal .

Ruth menulis atau menjadi rekan penulis dari 14 buku, banyak di antaranya adalah kumpulan puisi yang ia tulis sebagai pelepasan emosional saat Billy sering bepergian. Pada tahun 1996, Ruth dan Billy bersama-sama dianugerahi Congressional Gold Medal .

Pelajaran dari Morrow dan Ruth Graham

Dari kehidupan Morrow Coffey Graham dan Ruth Bell Graham, kita belajar banyak hal:

Pertama, kesetiaan dalam hal kecil membawa dampak besar. Morrow tidak pernah membayangkan bahwa anaknya akan menjadi penginjil dunia. Ia hanya setia mengajar, berdoa, dan menanamkan Firman setiap hari. Tuhan yang memberkati kesetiaannya.

“Ajarlah anak muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6)

Kedua, doa ibu adalah investasi rohani yang tidak pernah sia-sia. Morrow dan Ruth sama-sama mendoakan anak-anak mereka dengan tekun. Doa itu tidak selalu terlihat hasilnya segera—tetapi buahnya muncul di kemudian hari.

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16, BIMK)

Ketiga, warisan iman diteruskan dari generasi ke generasi. Morrow menanamkan iman pada Billy. Billy dan Ruth menanamkan iman pada anak-anak mereka—Franklin, Anne, dan lainnya yang kini melayani Tuhan. Iman bukan hanya tentang apa yang kita lakukan sendiri—tetapi tentang apa yang kita wariskan kepada generasi berikutnya.

“Kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya atas anak-anak cucu mereka.” (Mazmur 103:17)

Keempat, ibu adalah gembala di balik penginjil. Tanpa doa, didikan, dan teladan hidup dari seorang ibu yang saleh, pelayanan seorang anak yang besar tidak akan mungkin terjadi.

Saya tidak tahu apa yang Anda hadapi hari ini.

Mungkin Anda adalah seorang ibu yang sedang lelah membesarkan anak-anak. Mungkin Anda bertanya apakah semua yang Anda lakukan berarti. Mungkin Anda merasa bahwa apa yang Anda lakukan tidak terlihat dan tidak dihargai.

Ingatlah Morrow Coffey Graham. Ibu rumah tangga biasa dari peternakan sapi yang tidak pernah mencari ketenaran. Namun kesetiaannya dalam hal-hal kecil—mengajar, mendoakan, dan menanamkan Firman—telah mengubah dunia.

Apakah Anda sedang membesarkan anak-anak? Apakah Anda sedang melayani dalam hal-hal yang tampak kecil? Teruslah setia. Teruslah berdoa. Teruslah menaburkan benih Firman. Anda tidak pernah tahu apa yang Tuhan akan lakukan melalui kesetiaan Anda.

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” — Galatia 6:9

KESIMPULAN

Tiga Pelajaran dari Morrow dan Ruth Graham

1. Kesetiaan dalam Hal Kecil Membawa Dampak Besar

Morrow Coffey Graham tidak pernah membayangkan anaknya akan menjadi penginjil dunia. Ia hanya setia mengajar Firman, berdoa, dan menanamkan iman setiap hari. Tuhan memberkati kesetiaannya.

“Ajarlah anak muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6)

2. Doa Ibu Adalah Investasi Rohani yang Tidak Pernah Sia-Sia

Morrow dan Ruth sama-sama mendoakan anak-anak mereka dengan tekun. Doa itu tidak selalu terlihat hasilnya segera—tetapi buahnya muncul di kemudian hari.

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16, BIMK)

3. Warisan Iman Diteruskan dari Generasi ke Generasi

Morrow menanamkan iman pada Billy. Billy dan Ruth menanamkan iman pada anak-anak mereka. Iman bukan hanya tentang apa yang kita lakukan sendiri—tetapi tentang apa yang kita wariskan kepada generasi berikutnya.

“Kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya atas anak-anak cucu mereka.” (Mazmur 103:17)

Untuk Renungan

  • Apakah Anda seorang ibu atau ayah yang sedang bergumul dengan tanggung jawab membesarkan anak?

  • Apakah Anda merasa apa yang Anda lakukan dalam hal-hal kecil tidak berarti?

  • Bacalah Amsal 22:6 — janji tentang mendidik anak.

  • Bacalah Mazmur 103:17 — tentang kasih setia Tuhan bagi anak cucu.

  • Luangkan waktu untuk berdoa bagi anak-anak atau generasi berikutnya.

Kabar baiknya: Tuhan tidak pernah membuang kesetiaan kita. Setiap benih yang kita tanam, setiap doa yang kita panjatkan, setiap Firman yang kita ajarkan—itu semua adalah investasi bagi generasi yang akan datang.

(el)

Sumber Utama
  1. The Billy Graham Library. “The Mothers of the Ministry: Training Up in the Faith” (2022). Sumber yang mengupas peran Morrow Coffey Graham dan Ruth Bell Graham sebagai ibu yang saleh, termasuk kebiasaan Morrow mengajarkan Westminster Shorter Catechism dan mendirikan mezbah keluarga .
  2. Billy Graham Evangelistic Association. “Ruth Bell Graham”. Sumber resmi tentang kehidupan Ruth Bell Graham, termasuk kelahiran di Tiongkok (10 Juni 1920), pendidikan di Pyongyang dan Wheaton College, pernikahan dengan Billy Graham (13 Agustus 1943), dan kontribusinya dalam pelayanan .
  3. Pollock, John Charles. “The Making of a Crusader”. Biografi awal Billy Graham yang mencatat detail masa kecilnya, termasuk kenakalannya sebagai anak-anak dan kesabaran ibunya .
  4. Bible.com — Renungan “Growing Outward”. Sumber yang mengangkat kisah Morrow Coffey Graham sebagai teladan ibu yang setia mengajar Firman Tuhan kepada anak-anaknya .
  5. Thư Viện Tin Lành. “Sơ Lược Tiểu Sử: Morrow Coffey Graham” (2024). Biografi Morrow Coffey Graham yang mencakup pertemuannya dengan Frank Graham, pernikahan mereka (26 Oktober 1916), dan kehidupan di peternakan .
  6. Wikipedia Indonesia (Arsip). “Ruth Bell Graham”. Sumber yang mencatat detail kehidupan Ruth Bell Graham, termasuk kelahiran di Qingjiang, pendidikan, dan pernikahan .
  7. Billy Graham Evangelistic Association UK. “Ruth Bell Graham”. Sumber yang mengonfirmasi detail kehidupan Ruth Bell Graham, termasuk masa kecil di Tiongkok dan perannya sebagai penasihat Billy Graham .
  8. GovInfo — Congressional Bills 110th Congress. Resolusi Senat AS yang menghormati Ruth Bell Graham, mencatat kelahiran, pernikahan, dan anugerah Congressional Gold Medal pada tahun 1996 .
  9. Vote Smart. “Mourning The Loss Of Ruth Graham” (2007). Pernyataan resmi dari Kongres AS tentang kematian Ruth Bell Graham dan kontribusinya .

Catatan: Billy Graham lahir pada 7 November 1918 dan wafat pada 21 Februari 2018. Ia memberitakan Injil kepada lebih dari 200 juta orang di 185 negara. Morrow Coffey Graham meninggal pada tahun 1981. Ruth Bell Graham meninggal pada 14 Juni 2007 di usia 87 tahun, setelah beberapa bulan terbaring sakit karena pneumonia, dikelilingi oleh suami dan kelima anaknya .

 

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Mengucap Syukur dalam Segala Hal: Belajar dari 1 Tesalonika 5:18

Mengucap Syukur dalam Segala Hal: Belajar dari 1 Tesalonika...

Religi, ElrolumNews -"Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang belajar mengucap syukur dalam segala...
Doa di Tengah Badai: Belajar dari Daud dan Daniel

Doa di Tengah Badai: Belajar dari Daud dan Daniel

Religi, ELrolumNews -"Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang bergumul dengan doa di tengah...
"Sebuah keluarga duduk bersama di ruang tamu yang hangat, berpegangan tangan dalam doa, dengan Alkitab terbuka di atas meja, melambangkan kesatuan, iman, dan doa yang membangun generasi."

Berdoa untuk Keluarga: Doa yang Membangun Generasi

Religi, ElrolumNews -"Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang berdoa untuk keluarga mereka dan...

More

Popular

Read More