New York, ElrolumNews — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato bersejarah di Sidang Umum PBB ke-81 di New York, Rabu (23/9/2026). Ini merupakan pertama kalinya seorang presiden dari negara yang sedang berperang dengan Amerika Serikat menginjakkan kaki di wilayah AS untuk berpidato di PBB.
Dalam pidatonya yang berlangsung sekitar 30 menit, Pezeshkian menyampaikan pesan tegas bahwa Iran adalah korban agresi, bukan pelaku terorisme.
“Kami hanya membela diri. Kami bukan teroris. Kami adalah korban terorisme yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel,” ujar Pezeshkian di hadapan para pemimpin dunia.
Momen paling mengharukan terjadi ketika Pezeshkian mengangkat sebuah foto besar yang menampilkan almarhum Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama lebih dari 150 anak sekolah yang tewas pada hari-hari pertama perang.
“Anak-anak ini tidak bersalah. Mereka adalah korban kebrutalan rezim Zionis dan pendukungnya,” tegas Pezeshkian dengan suara bergetar.
Ia juga menyoroti dampak kemanusiaan dari perang yang telah berlangsung lebih dari enam bulan. Menurutnya, ribuan warga sipil Iran telah menjadi korban, sementara infrastruktur vital negara hancur akibat serangan udara AS dan Israel.
Pezeshkian juga menyinggung ketegangan di Selat Hormuz yang masih berlangsung. Ia menegaskan bahwa Iran memiliki hak untuk mengontrol jalur pelayaran strategis tersebut sebagai bentuk pertahanan diri.
“Selat Hormuz adalah jalur kehidupan kami. Kami tidak akan menyerahkan kedaulatan kami kepada siapa pun,” ujarnya.
Ia juga menuntut pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pembebasan aset Iran yang dibekukan, dan penghentian perang di semua front sebagai syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Momen menegangkan terjadi ketika Pezeshkian menyebut AS sebagai “teroris”. Delegasi AS yang dipimpin oleh seorang diplomat senior langsung meninggalkan ruang sidang sebagai bentuk protes. Beberapa delegasi negara sekutu AS juga terlihat mengikuti langkah tersebut.
Sebelumnya, dalam pidatonya sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut Iran sebagai “sponsor terorisme utama dunia”. Selama pidato Trump berlangsung, seluruh delegasi Iran kecuali satu orang meninggalkan ruang sidang sebagai bentuk protes.
Pidato Pezeshkian ini terjadi hanya beberapa jam setelah pembicaraan langsung antara AS dan Iran berlangsung di sela-sela Sidang Umum PBB. Menlu Iran Abbas Araghchi bertemu dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner selama tiga jam.
Menurut laporan media pemerintah Iran, Araghchi menyampaikan syarat-syarat tegas Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump sendiri menyebut pertemuan itu “sangat baik” dan mengisyaratkan potensi kesepakatan setelah pemilihan umum pertengahan masa jabatan AS pada November mendatang.
Pidato Pezeshkian menuai beragam reaksi dari komunitas internasional. Sejumlah negara yang bersimpati pada perjuangan Palestina dan Iran menyampaikan dukungan.
“Kami mendukung hak Iran untuk membela diri. Agresi AS dan Israel tidak bisa dibenarkan,” ujar seorang diplomat dari negara sahabat Iran.
Sementara itu, delegasi AS dan sekutunya mengecam pidato tersebut sebagai “propaganda” dan “distorsi fakta”. Mereka menegaskan bahwa Iran adalah pihak yang memulai konflik dengan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Setelah pidato di PBB, Pezeshkian dijadwalkan menggelar serangkaian pertemuan bilateral dengan sejumlah pemimpin dunia. Ia juga dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Qatar dan Menteri Luar Negeri Turki untuk membahas upaya mediasi perdamaian.
(fvs)





