Moskow, ELrolumNews — Pemilihan umum Duma Negara Rusia yang berlangsung pada 18-20 September 2026 resmi berakhir. Berdasarkan hasil penghitungan suara yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum Rusia, partai “Rusia Bersatu” yang didukung Presiden Vladimir Putin meraih kemenangan telak dengan lebih dari 50 persen suara.
Ketua Komisi Pemilihan Umum Rusia, Ella Pamfilova, menyatakan bahwa partai Rusia Bersatu berhasil mengamankan 343 kursi dari total 450 kursi di Duma Negara. Ini merupakan mayoritas konstitusional yang memungkinkan partai tersebut untuk mengubah konstitusi tanpa persetujuan partai lain.
“Partai Rusia Bersatu meraih lebih dari 50 persen suara. Dengan perolehan ini, mereka mengamankan 343 kursi di Duma Negara. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 47,81 persen,” ujar Pamfilova dalam konferensi pers di Moskow, Minggu (20/9/2026).
Berikut perolehan suara partai politik peserta Pemilu Duma Rusia 2026
| Peringkat | Partai | Perolehan Suara | Kursi |
|---|---|---|---|
| 1 | Rusia Bersatu | 50,2% | 343 |
| 2 | Partai Komunis | 19,4% | 57 |
| 3 | Partai Liberal Demokrat | 8,7% | 21 |
| 4 | Rusia Adil | 7,3% | 19 |
| 5 | Partai Baru | 5,1% | 10 |
| 6 | Partai Lainnya | 9,3% | 0 |
Partai-partai oposisi mengecam hasil pemilu ini sebagai tidak demokratis. Pemimpin Partai Komunis Rusia, Gennady Zyuganov, menyatakan bahwa pemilu berlangsung tidak adil dan penuh tekanan terhadap oposisi.
“Pemilu ini tidak demokratis. Pemerintah menggunakan seluruh kekuatannya untuk menekan oposisi. Kami akan menuntut pemilu ulang,” tegas Zyuganov.
Sementara itu, pemimpin Partai Liberal Demokrat, Leonid Slutsky, menyatakan akan tetap berjuang di parlemen meskipun perolehan suaranya menurun.
“Kami akan terus memperjuangkan aspirasi rakyat di parlemen. Kami tidak akan menyerah,” ujarnya.
Komunitas internasional memberikan respons beragam terhadap hasil pemilu Duma Rusia. Amerika Serikat dan Uni Eropa menyatakan keprihatinan atas proses pemilu yang dinilai tidak bebas dan adil.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Matthew Miller, menyatakan bahwa pemilu Rusia tidak memenuhi standar internasional.
“Kami prihatin dengan proses pemilu di Rusia. Kami mendesak Rusia untuk menghormati hak asasi manusia dan kebebasan demokrasi,” ujarnya.
Sementara itu, Tiongkok dan Iran menyampaikan ucapan selamat kepada Putin atas kemenangan partainya.
Kemenangan telak partai Rusia Bersatu ini memperkuat posisi Putin di panggung politik Rusia. Dengan mayoritas konstitusional, Putin dapat dengan mudah mengubah konstitusi jika diperlukan, termasuk kemungkinan memperpanjang masa jabatannya.
Analis politik Rusia, Dr. Andrei Kolesnikov, menilai bahwa pemilu ini hanya formalitas untuk melegitimasi kekuasaan Putin.
“Pemilu ini tidak mengubah apapun secara substansial. Putin sudah memegang kekuasaan selama lebih dari dua dekade. Pemilu ini hanya alat untuk melegitimasi kekuasaannya,” tegas Kolesnikov.
Duma Negara Rusia yang baru akan dilantik pada Oktober 2026. Mereka akan segera memulai tugas legislatif, termasuk membahas anggaran tahunan dan kebijakan strategis lainnya.
(fvs)





