Science, ElrolumNews – Bayangkan sebuah hutan kehilangan satu demi satu spesiesnya.
Seekor serangga menghilang. Kemudian satu jenis burung. Disusul tumbuhan tertentu, jamur, mikroorganisme, atau hewan yang selama ini nyaris tidak pernah diperhatikan manusia.
Dari kejauhan, hutan itu mungkin masih terlihat seperti hutan.
Pepohonan masih berdiri. Sungai masih mengalir. Burung masih terdengar.
Namun sebuah penelitian global terbaru menunjukkan bahwa kehilangan keanekaragaman hayati dapat mengubah sesuatu yang jauh lebih mendasar: kemampuan ekosistem menjalankan fungsi yang menopang kehidupan.
Dalam studi yang diterbitkan pada 6 Oktober 2026 di Nature Ecology & Evolution, para peneliti menganalisis 423 studi dari berbagai ekosistem di dunia untuk mengukur hubungan antara biodiversitas dengan fungsi ekosistem serta jasa yang diberikan alam kepada manusia.
Hasilnya memperkuat satu kesimpulan penting:
Semakin tinggi biodiversitas, semakin banyak fungsi dan jasa ekosistem yang cenderung dapat dipertahankan.
Dan untuk beberapa fungsi penting, kehilangan spesies bukan sekadar kehilangan satu bagian dari alam.
Ia dapat berarti hilangnya kemampuan ekosistem menyediakan layanan yang dibutuhkan manusia.
Dari 423 penelitian menjadi satu gambaran global
Hubungan antara keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem sebenarnya telah diteliti selama puluhan tahun.
Namun sebagian besar penelitian dilakukan pada lokasi, organisme, atau ekosistem tertentu.
Masalahnya, alam tidak bekerja dalam satu skala.
Sebuah padang rumput berbeda dari hutan tropis. Laut berbeda dari danau. Ekosistem pesisir berbeda dari lahan pertanian.
Karena itu, pertanyaan besarnya adalah:
Apakah pola yang ditemukan dalam satu ekosistem juga berlaku secara umum di seluruh dunia?
Tim peneliti dari berbagai institusi, termasuk Imperial College London, King’s College London, James Cook University, Natural History Museum London, dan Alan Turing Institute, mencoba menjawabnya.
Mereka membangun basis data global yang mencakup 423 studi, lebih dari dua kali ukuran basis data terbesar sebelumnya dalam bidang tersebut.
Database tersebut mencakup ekosistem darat, air tawar, laut, dan estuari. Para peneliti kemudian menganalisis bagaimana perubahan biodiversitas berkaitan dengan berbagai fungsi dan jasa ekosistem.
Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan tersebut memang nyata—tetapi tidak selalu sesederhana yang dibayangkan.
Biodiversitas ternyata bekerja seperti sistem cadangan
Salah satu gagasan penting dalam ekologi adalah bahwa beberapa spesies dapat memiliki fungsi yang mirip.
Jika satu spesies berkurang, spesies lain mungkin masih mampu menjalankan sebagian fungsi yang sama.
Konsep ini sering disebut sebagai functional redundancy atau redundansi fungsional.
Namun penelitian terbaru memberikan peringatan penting.
Untuk banyak fungsi ekosistem, hubungan antara biodiversitas dan kinerja ekosistem tidak menunjukkan bahwa manfaat segera mencapai titik jenuh setelah hanya beberapa spesies hadir.
Dalam banyak kasus, manfaat ekologis masih terus meningkat seiring bertambahnya biodiversitas.
Artinya, asumsi bahwa “sebagian besar spesies sebenarnya tidak terlalu penting karena spesies lain bisa menggantikannya” mungkin terlalu sederhana.
Sebagian spesies memiliki peran yang unik.
Dan ketika spesies dengan fungsi unik tersebut hilang, ekosistem tidak selalu memiliki pengganti yang setara.
Air bersih dan penyerbukan ikut bergantung pada biodiversitas
Para peneliti menemukan bahwa sejumlah jasa regulasi, termasuk kualitas air dan penyerbukan, sering menunjukkan hubungan yang relatif linear dengan biodiversitas.
Ini memiliki arti penting.
Dalam hubungan yang mendekati linear, tambahan keanekaragaman tidak langsung kehilangan manfaatnya setelah melewati ambang tertentu.
Dengan kata lain, mempertahankan komunitas yang kaya spesies dapat terus memberikan keuntungan ekologis.
Bayangkan sebuah ekosistem pertanian.
Lebah dan serangga lain membantu penyerbukan. Predator alami membantu mengendalikan organisme pengganggu. Mikroorganisme tanah membantu berbagai proses biogeokimia.
Tidak semuanya memiliki fungsi yang sama.
Semakin kompleks komunitas biologisnya, semakin banyak interaksi yang dapat menopang sistem tersebut.
Karena itu, biodiversitas bukan sekadar daftar panjang nama spesies.
Ia adalah jaringan kerja biologis.
Laut memberikan peringatan yang sangat kuat
Salah satu temuan paling menonjol berkaitan dengan penyimpanan karbon di laut.
Penelitian menunjukkan bahwa penyerapan karbon oleh ekosistem laut—sering disebut blue carbon—termasuk fungsi yang sangat sensitif terhadap biodiversitas.
Ini sangat penting dalam konteks perubahan iklim.
Ekosistem laut membantu menyerap dan menyimpan karbon dari atmosfer.
Namun kemampuan tersebut tidak hanya bergantung pada luas ekosistem atau keberadaan habitatnya.
Keanekaragaman organisme di dalamnya juga memiliki peran.
Temuan ini memperkuat argumen bahwa perlindungan ekosistem laut tidak seharusnya hanya berfokus pada keberadaan habitat secara fisik.
Menjaga biodiversitas di dalam habitat tersebut juga penting.
Para peneliti bahkan menyimpulkan bahwa strategi blue carbon perlu mempertimbangkan biodiversitas sebagai komponen utama, bukan sekadar perlindungan habitat.
Alam tidak selalu bisa digantikan oleh beberapa spesies
Ada anggapan bahwa alam memiliki banyak “cadangan”.
Jika satu spesies menghilang, spesies lain akan mengambil alih pekerjaannya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kenyataannya lebih rumit.
Beberapa fungsi memang menunjukkan pola saturasi. Dalam kondisi tertentu, tambahan spesies tidak lagi menghasilkan peningkatan fungsi yang besar.
Tetapi untuk banyak fungsi lainnya, titik jenuh tersebut belum tercapai dalam data yang tersedia.
Artinya, manusia mungkin selama ini melebih-lebihkan kemampuan alam untuk menggantikan spesies yang hilang.
Sebuah ekosistem mungkin terlihat stabil meskipun beberapa spesies telah menghilang.
Tetapi stabilitas visual tidak selalu berarti stabilitas fungsi.
Perubahan yang lebih besar dapat terjadi ketika spesies dengan peran ekologis unik mulai hilang.
Ada satu pengecualian penting
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tidak semua fungsi ekosistem merespons biodiversitas dengan cara yang sama.
Contohnya adalah pengaturan bahaya atau kejadian ekstrem.
Dalam kategori ini, biodiversitas secara keseluruhan menunjukkan hubungan yang relatif lebih lemah.
Para peneliti menduga bahwa fungsi semacam ini dapat sangat bergantung pada sejumlah kecil spesies yang memiliki karakteristik unik dan berperan sebagai spesies fondasional.
Ini merupakan alasan mengapa konservasi tidak cukup hanya menghitung jumlah spesies.
Dua hutan bisa memiliki jumlah spesies yang sama, tetapi kehilangan satu spesies tertentu dapat memberikan dampak yang jauh berbeda pada masing-masing ekosistem.
Yang penting bukan hanya berapa banyak spesies yang tersisa, tetapi spesies mana yang tersisa.
Pertanian juga bisa terkena dampaknya
Para peneliti kemudian menggunakan hasil analisis mereka untuk membuat proyeksi mengenai salah satu jasa ekosistem yang sangat penting bagi manusia:
pengendalian hama secara alami.
Model mereka menunjukkan bahwa hilangnya biodiversitas dapat mengurangi rasio musuh alami terhadap organisme pengganggu tanaman.
Dalam skenario pembangunan yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil, penurunan perlindungan alami terhadap hama diproyeksikan menjadi lebih besar. Dampaknya juga dapat berbeda antarwilayah dan berkaitan dengan pertumbuhan penduduk serta pembangunan.
Ini membawa persoalan biodiversitas langsung ke meja makan manusia.
Jika populasi predator alami menurun, petani mungkin menghadapi tekanan hama yang lebih besar.
Akibatnya, ketergantungan terhadap pengendalian buatan dapat meningkat.
Dengan demikian, kehilangan biodiversitas tidak hanya menjadi persoalan konservasi.
Ia dapat berubah menjadi persoalan produksi pangan.
Dunia tropis masih kurang terwakili dalam penelitian
Ada ironi lain dalam studi ini.
Meskipun analisisnya bersifat global, distribusi data penelitian yang tersedia ternyata tidak merata.
Sebagian besar penelitian berasal dari ekosistem darat dan negara-negara maju.
Ekosistem air tawar dan laut jauh lebih sedikit terwakili. Wilayah seperti Afrika dan Amerika Selatan juga masih kurang mendapatkan perhatian dibandingkan kawasan tertentu di negara maju.
Hal tersebut penting karena wilayah tropis memiliki sebagian besar biodiversitas dunia.
Jika data dari kawasan tersebut masih terbatas, kemampuan ilmuwan untuk memperkirakan konsekuensi kehilangan biodiversitas secara global juga masih memiliki keterbatasan.
Dengan kata lain, penelitian ini memberikan gambaran global yang jauh lebih baik—tetapi sekaligus menunjukkan berapa banyak yang masih belum kita ketahui.
Biodiversitas bukan dekorasi alam
Selama ini, alasan mempertahankan biodiversitas sering dikaitkan dengan keindahan alam.
Hutan memiliki satwa liar.
Laut memiliki terumbu karang.
Pegunungan memiliki tumbuhan endemik.
Semua itu memang penting.
Tetapi ilmu ekologi menunjukkan alasan yang jauh lebih fundamental.
Biodiversitas membantu menjaga fungsi sistem kehidupan.
Penyerbukan.
Pengendalian hama.
Produksi biomassa.
Siklus materi.
Kualitas air.
Penyimpanan karbon.
Dan berbagai proses lain yang sering berlangsung tanpa kita sadari.
Manusia tidak membayar tagihan untuk setiap fungsi tersebut.
Namun kita bergantung padanya setiap hari.
Tidak semua spesies memiliki pekerjaan yang sama
Salah satu pesan terpenting dari penelitian ini adalah bahwa konservasi tidak bisa dilakukan hanya dengan pendekatan “sebanyak mungkin spesies”.
Para ilmuwan menemukan bahwa beberapa spesies memiliki kontribusi yang sangat khas.
Spesies semacam ini dapat disebut sebagai functionally unique species—spesies yang menjalankan fungsi yang tidak mudah digantikan oleh organisme lain.
Kehilangan mereka dapat membuat sebuah ekosistem jauh lebih rentan.
Karena itu, kebijakan konservasi perlu mempertimbangkan dua hal sekaligus:
mempertahankan keragaman secara keseluruhan dan melindungi spesies yang memiliki fungsi unik.
Alam memiliki batas sebelum kehilangan menjadi masalah besar
Penelitian ini juga mengubah cara kita melihat konsep “titik aman”.
Sebuah ekosistem tidak harus menunggu sampai banyak spesies punah untuk mulai kehilangan fungsi.
Jika hubungan antara biodiversitas dan fungsi bersifat linear, penurunan biodiversitas dapat berhubungan dengan penurunan fungsi bahkan sebelum sistem mencapai kondisi yang terlihat sangat rusak.
Sebaliknya, pada hubungan yang bersifat saturasi, ekosistem mungkin mampu menyerap sebagian kehilangan biodiversitas tanpa kehilangan fungsi yang besar—setidaknya sampai melewati titik tertentu.
Itulah sebabnya tidak ada satu angka universal yang dapat mengatakan:
“Jika spesies yang hilang sudah mencapai X persen, ekosistem pasti runtuh.”
Responsnya bergantung pada fungsi yang sedang kita bicarakan, ekosistemnya, serta spesies yang hilang.
Pelajaran terbesar datang dari sesuatu yang tidak terlihat
Kita mungkin tidak menyadari hilangnya satu serangga dari sebuah hutan.
Tidak ada alarm.
Tidak ada lampu merah.
Tidak ada suara peringatan.
Namun serangga itu mungkin berperan dalam penyerbukan.
Atau menjadi makanan bagi burung.
Atau mengendalikan populasi organisme lain.
Atau membantu proses pembusukan.
Atau berinteraksi dengan mikroorganisme tanah.
Satu kehilangan mungkin tampak kecil.
Tetapi jika kehilangan tersebut terjadi terus-menerus, jaringan interaksi ekologis dapat semakin sederhana.
Dan semakin sederhana jaringan tersebut, semakin sedikit pilihan yang tersedia ketika lingkungan berubah.
Alam yang beragam adalah alam yang memiliki lebih banyak pilihan
Inilah mungkin cara paling sederhana untuk memahami hasil penelitian terbaru tersebut.
Biodiversitas memberi ekosistem lebih banyak pilihan biologis.
Jika suhu berubah, terdapat organisme yang memiliki toleransi berbeda.
Jika satu sumber makanan berkurang, organisme lain mungkin mengambil peran.
Jika satu spesies predator menurun, spesies lain mungkin masih mempertahankan sebagian fungsi.
Tidak semuanya dapat menggantikan satu sama lain.
Tetapi keberagaman membuat sistem memiliki lebih banyak kemungkinan untuk bertahan.
Dalam dunia yang menghadapi perubahan iklim, perubahan penggunaan lahan, polusi, dan tekanan manusia lainnya, kemampuan tersebut menjadi semakin penting.
Hutan yang sehat bukan hanya hutan yang masih hijau
Pada akhirnya, penelitian terbaru ini membawa kita pada cara pandang baru mengenai konservasi.
Hutan yang masih berdiri belum tentu memiliki biodiversitas yang utuh.
Laut yang masih terlihat biru belum tentu memiliki jaringan kehidupan yang sehat.
Sungai yang masih mengalir belum tentu memiliki fungsi ekologis seperti sebelumnya.
Ukuran keberhasilan konservasi tidak cukup hanya dengan melihat apakah sebuah habitat masih ada.
Kita juga perlu bertanya:
Berapa banyak kehidupan yang masih bekerja di dalamnya?
Penelitian global yang baru diterbitkan ini memberikan bukti kuat bahwa biodiversitas menopang banyak fungsi dan jasa ekosistem di seluruh dunia. Bahkan setelah menggabungkan ratusan penelitian, para ilmuwan masih menemukan bahwa hubungan tersebut sangat bergantung pada jenis ekosistem dan fungsi yang diukur.
Artinya, alam bukan sebuah mesin dengan satu suku cadang.
Ia lebih menyerupai jaringan raksasa yang terdiri dari jutaan hubungan.
Dan semakin banyak bagian penting dari jaringan itu yang hilang, semakin sedikit pilihan yang dimiliki bumi untuk mempertahankan fungsi yang selama ini kita anggap biasa.
Biodiversitas, pada akhirnya, bukan sekadar tentang berapa banyak spesies yang hidup di planet ini.
Ia adalah tentang seberapa baik planet ini masih mampu bekerja.
Sumber Berita
Moffett, E. R. et al. “Biodiversity safeguards ecosystem services and functions worldwide.” Nature Ecology & Evolution, 6 Oktober 2026. DOI: 10.1038/s41559-026-03200-4.
King’s College London, publikasi penelitian “Biodiversity safeguards ecosystem services and functions worldwide,” 2026.
Nature Ecology & Evolution, daftar publikasi 2026 dan ringkasan penelitian global biodiversitas–fungsi ekosistem.
Zenodo, dataset dan kode penelitian Biodiversity safeguards ecosystem services and functions worldwide.




