Science, ELrolumnews – Di tengah hutan tropis Amerika Selatan, seekor burung kecil membuka paruhnya.
Lalu terdengar suara yang sulit dipercaya berasal dari seekor burung.
Teriakannya dapat mencapai tingkat suara yang setara dengan lingkungan yang sangat bising—bahkan mendekati volume mesin berat.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Evolution pada 29 September 2026 mengungkap bahwa beberapa burung memiliki kemampuan menghasilkan suara jauh lebih keras daripada yang selama ini diketahui. Para peneliti mengukur amplitudo vokalisasi 123 spesies burung dan menemukan variasi yang sangat besar, dari sekitar 64 desibel hingga 122 desibel pada pengukuran standar satu meter.
Dua spesies yang sebelumnya belum dikenal sebagai pemegang rekor kini muncul sebagai kandidat burung paling keras yang pernah diidentifikasi melalui pengukuran ilmiah tersebut: bare-throated bellbird (Procnias nudicollis) dan red-legged seriema (Cariama cristata).
Namun penelitian ini sebenarnya bukan sekadar mencari burung paling berisik.
Para ilmuwan ingin menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar:
Mengapa beberapa burung dapat menghasilkan suara yang luar biasa keras, sementara burung lain yang hidup di lingkungan serupa hampir tidak melakukannya?
123 spesies menjadi bahan perbandingan
Penelitian dilakukan oleh João C.T. Menezes dan Jeffrey Podos dari University of Massachusetts Amherst.
Selama periode Desember 2018 hingga Januari 2025, mereka mengumpulkan data vokalisasi burung di berbagai lokasi di Amerika Serikat dan Brasil. Pengamatan mencakup wilayah di Massachusetts serta sejumlah negara bagian Brasil, termasuk São Paulo, Mato Grosso do Sul, Rio de Janeiro, Roraima, dan Amazonas.
Sebanyak 123 spesies masuk dalam analisis tersebut.
Angka ini penting karena penelitian mengenai seberapa keras burung dapat bernyanyi sebelumnya menghadapi persoalan metodologis.
Suara tidak dapat dibandingkan begitu saja hanya berdasarkan apa yang terdengar oleh telinga manusia.
Jarak antara burung dan alat perekam, kondisi lingkungan, jenis mikrofon, hingga karakteristik habitat dapat memengaruhi hasil pengukuran.
Karena itu, penelitian ini menggunakan pengukuran amplitudo yang dikalibrasi sehingga suara dari spesies berbeda dapat dibandingkan dengan lebih konsisten.
Dua burung muncul sebagai kandidat baru
Salah satu hasil paling menarik datang dari bare-throated bellbird, burung lonceng berleher telanjang yang hidup di kawasan Hutan Atlantik Amerika Selatan.
Dalam pengukuran standar penelitian, amplitudo maksimum yang tercatat mencapai sekitar 122 desibel. Nilai tersebut menempatkannya di antara suara burung paling keras yang pernah diukur.
Peneliti juga menemukan red-legged seriema, burung berkaki merah dari Amerika Selatan, sebagai kandidat lain yang mampu menghasilkan vokalisasi dengan amplitudo sangat tinggi.
Menariknya, penelitian tersebut tidak menyatakan secara mutlak bahwa salah satu spesies telah menjadi “juara dunia” untuk seluruh burung.
Istilah yang lebih tepat adalah kandidat burung paling keras yang diketahui berdasarkan data pengukuran yang tersedia.
Perbedaan ini penting secara ilmiah karena masih banyak spesies burung di dunia yang belum pernah diukur menggunakan metode yang sama.
Bahkan menurut University of Massachusetts Amherst, 113 dari 123 spesies yang diteliti belum pernah memiliki data volume vokalisasi yang terdokumentasi sebelumnya.
Artinya, rekor tersebut masih sangat mungkin berubah ketika lebih banyak spesies diteliti.
Rahasianya ternyata ada pada tubuh
Pertanyaan berikutnya jauh lebih menarik.
Apa yang membuat seekor burung mampu menghasilkan suara sedemikian keras?
Para peneliti menemukan dua karakteristik tubuh yang memiliki hubungan jelas dengan amplitudo vokalisasi: ukuran tubuh dan lebar bukaan paruh.
Secara umum, burung yang lebih besar cenderung mampu menghasilkan suara dengan amplitudo lebih tinggi.
Begitu pula dengan burung yang memiliki bukaan paruh lebih lebar.
Temuan tersebut memberikan petunjuk bahwa kemampuan menghasilkan suara ekstrem bukan sekadar persoalan “berteriak lebih keras”.
Ada hubungan antara anatomi tubuh dan mekanisme produksi suara.
Dalam bahasa sederhana, tubuh burung ikut menentukan seberapa besar energi akustik yang dapat dihasilkan dan dipancarkan.
Itulah sebabnya dua spesies yang tampak tidak terlalu besar bagi manusia ternyata dapat menghasilkan suara yang luar biasa kuat.
Tidak semua faktor yang diperkirakan ternyata berpengaruh
Para ilmuwan juga menguji beberapa hipotesis mengenai mengapa burung tertentu berevolusi menjadi lebih keras.
Mereka mempertimbangkan antara lain kemampuan terbang, kepadatan habitat, dan sistem perkawinan.
Namun hasilnya tidak memberikan bukti yang cukup kuat bahwa ketiga faktor tersebut secara konsisten menentukan amplitudo suara maksimum.
Ini merupakan salah satu bagian paling menarik dari penelitian.
Dalam sains, hasil yang tidak sesuai dugaan tetap sangat penting.
Sebelumnya, masuk akal untuk menduga bahwa burung yang hidup di hutan lebat mungkin membutuhkan suara lebih keras agar dapat menembus vegetasi.
Begitu pula burung dengan sistem perkawinan tertentu mungkin diduga memiliki tekanan seleksi lebih besar untuk menghasilkan suara yang kuat.
Tetapi data 123 spesies tidak memberikan dukungan yang tegas untuk penjelasan tersebut.
Sebaliknya, faktor morfologi—terutama ukuran tubuh dan bukaan paruh—justru muncul sebagai petunjuk yang lebih konsisten.
Ada burung yang suaranya jauh lebih lembut
Rentang suara dalam penelitian ini juga menunjukkan betapa ekstremnya perbedaan antarspesies.
Amplitudo maksimum yang tercatat membentang sekitar 58 desibel, dari sekitar 64 desibel pada salah satu spesies burung kolibri hingga sekitar 122 desibel pada kandidat burung dengan suara paling keras.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa evolusi menghasilkan berbagai strategi komunikasi.
Tidak semua burung membutuhkan suara yang sangat keras.
Bagi sebagian spesies, suara lembut mungkin sudah cukup untuk berkomunikasi dengan pasangan atau individu lain di dekatnya.
Sebaliknya, bagi spesies tertentu, suara keras dapat membantu sinyal menjangkau wilayah yang lebih luas.
Suara bukan hanya soal volume
Dalam dunia burung, vokalisasi merupakan bagian penting dari komunikasi.
Suara dapat digunakan untuk menarik pasangan, mempertahankan wilayah, memperingatkan individu lain, atau menyampaikan informasi tertentu kepada anggota spesies yang sama.
Amplitudo menentukan salah satu hal yang sangat penting dalam sistem tersebut: seberapa jauh sinyal dapat bergerak.
Karena itu, suara keras bukan sekadar fenomena menarik untuk dicatat dalam Guinness World Records.
Ia merupakan bagian dari persoalan evolusi.
Jika sebuah karakteristik tubuh membuat seekor burung mampu mengirimkan sinyal lebih jauh, karakteristik tersebut berpotensi memberikan keuntungan tertentu—meskipun manfaat sebenarnya dapat berbeda antara spesies dan konteks ekologisnya.
Rekor bukan tujuan utama
Menariknya, para peneliti tidak memulai proyek ini dengan ambisi mencari burung paling keras di dunia.
Tujuan utamanya adalah memahami faktor evolusioner yang menentukan amplitudo vokalisasi burung.
Rekor justru muncul sebagai produk sampingan dari penelitian tersebut.
Pendekatan semacam ini penting karena mengubah cara kita memandang sebuah fenomena alam.
Daripada hanya bertanya:
Burung mana yang paling keras?
ilmuwan bertanya:
Mengapa burung itu bisa begitu keras?
Dan pertanyaan kedua jauh lebih penting bagi ilmu pengetahuan.
Rekor lama belum tentu berakhir
Sebelum penelitian terbaru ini, white bellbird (Procnias albus) dikenal sebagai pemegang rekor suara burung paling keras yang tercatat.
Pada 2019, penelitian sebelumnya oleh Podos dan koleganya menemukan bahwa suara white bellbird dapat mencapai tingkat ekstrem dan kemudian mendapatkan pengakuan Guinness World Records.
Kini, dua kandidat baru membuat persaingan tersebut semakin menarik.
Namun para ilmuwan sendiri mengingatkan bahwa kita masih memiliki peta yang sangat tidak lengkap mengenai kemampuan vokal burung dunia.
Dengan ribuan spesies yang belum diukur menggunakan metode yang sebanding, “burung paling keras” mungkin belum ditemukan.
Bisa jadi jawabannya masih tersembunyi di suatu hutan tropis, padang rumput, pegunungan, atau pulau yang belum pernah menjadi lokasi penelitian bioakustik terkalibrasi.
Teknologi membuka telinga baru bagi ilmu pengetahuan
Penelitian seperti ini juga menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi perekaman mengubah bidang zoologi.
Dahulu, ilmuwan lebih mudah mengamati bentuk tubuh, warna bulu, perilaku, atau lokasi hidup suatu burung.
Kini suara dapat dianalisis dengan presisi yang jauh lebih tinggi.
Rekaman akustik bahkan berpotensi membantu ilmuwan mempelajari keberadaan dan distribusi spesies tanpa harus menangkap atau mengganggu hewan.
Dengan semakin banyak data suara yang dikumpulkan secara sistematis, para peneliti dapat mulai membangun peta akustik berbagai ekosistem.
Dalam jangka panjang, pendekatan ini juga berpotensi membantu penelitian konservasi.
Sebab ketika habitat berubah dan populasi burung menurun, perubahan pola suara dapat menjadi salah satu petunjuk yang dapat dideteksi dari jarak jauh.
Hutan yang tidak pernah benar-benar sunyi
Ada pelajaran sederhana dari penelitian ini.
Hutan yang terlihat sunyi dari kejauhan sebenarnya dipenuhi komunikasi.
Setiap suara memiliki karakteristiknya sendiri.
Ada yang lembut.
Ada yang tinggi.
Ada yang terdengar seperti siulan.
Dan ada yang mampu menembus pepohonan dengan kekuatan suara yang mengejutkan.
Bare-throated bellbird dan red-legged seriema mengingatkan kita bahwa evolusi tidak selalu menghasilkan kemampuan yang mudah terlihat.
Kadang-kadang, salah satu inovasi paling ekstrem dalam tubuh seekor hewan justru tersembunyi di balik sesuatu yang sederhana:
sebuah paruh yang terbuka dan suara yang keluar darinya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa suara paling keras bukan sekadar keajaiban akustik.
Ia adalah hasil dari hubungan panjang antara anatomi, evolusi, komunikasi, dan lingkungan.
Dan mungkin, di suatu tempat di hutan yang belum pernah diukur, masih ada burung lain yang menunggu untuk membuktikan bahwa alam belum selesai membuat kejutan.
Sumber Berita
Menezes, João C. T. & Podos, Jeffrey. “Evolutionary drivers of vocal amplitude in birds.” Evolution, 29 September 2026. DOI: 10.1093/evolut/qpag153.
Nature, “Who’s the loudest of them all? The bare-throated bellbird vies for the prize,” 30 September 2026.
University of Massachusetts Amherst, “UMass Amherst Biologists May Have Discovered Two of the World’s Loudest Birds,” 29 September 2026.
University of Massachusetts Amherst Department of Biology, “UMass Amherst Biology Department Professor May Have Found the Loudest Birds,” 2 Oktober 2026.
EurekAlert!/University of Massachusetts Amherst, “UMass biologists discover what may be the world’s loudest birds,” 29 September 2026.




