Mikroplastik Ternyata Tersembunyi di Jaringan Tuna dan Mahi-Mahi: Jejak Polusi Ditemukan di Tiga Samudra

Science, ElrolumNews – Lautan dunia menyimpan jejak polusi yang jauh lebih sulit dilihat daripada sampah plastik yang mengapung di permukaan.

Sebuah penelitian terbaru menemukan nano- dan mikroplastik (NMP) di jaringan otot dua predator pelagis penting—tuna sirip kuning (Thunnus albacares) dan mahi-mahi atau dolphinfish (Coryphaena hippurus)—yang berasal dari tiga samudra utama: Atlantik, Pasifik, dan Hindia.

Temuan ini menarik bukan hanya karena plastik ditemukan pada ikan predator, tetapi karena jejak polusi tersebut menunjukkan pola yang tidak sesederhana dugaan sebelumnya. Ikan yang berada lebih tinggi dalam rantai makanan ternyata tidak otomatis memiliki beban mikroplastik lebih tinggi.

Penelitian tersebut diterbitkan pada 6 Oktober 2026 di Scientific Reports.

Bukan Lagi Sekadar Plastik di Permukaan Laut

Ketika berbicara mengenai mikroplastik, gambaran yang sering muncul adalah serpihan kecil yang mengambang di laut atau tertelan oleh organisme laut.

Namun, penelitian terbaru melihat persoalan dari sisi yang berbeda: apa yang terjadi ketika partikel-partikel tersebut telah masuk ke jaringan tubuh predator laut?

Para peneliti menganalisis jaringan otot tuna sirip kuning dan mahi-mahi dari wilayah Atlantik, Pasifik, dan Hindia. Mereka menggunakan metode pyrolysis gas chromatography–tandem mass spectrometry (Py-GC-MS/MS) dengan koreksi lipid untuk mengidentifikasi dan mengukur kandungan nano- serta mikroplastik.

Hasilnya menunjukkan bahwa NMP ditemukan pada jaringan otot kedua spesies di ketiga samudra yang diteliti.

Dengan kata lain, keberadaan plastik tidak hanya terlihat sebagai masalah di permukaan atau pesisir. Jejaknya juga dapat ditemukan pada predator yang hidup dan berpindah di lingkungan laut terbuka.

Lima Jenis Plastik Mendominasi

Yang ditemukan para peneliti bukan satu jenis plastik saja.

Sekitar 99 persen konsentrasi NMP yang terdeteksi pada kedua spesies berasal dari lima jenis polimer, yaitu polycarbonate, polyethylene, polypropylene, polyvinyl chloride atau PVC, dan nylon-66.

Di antara semuanya, polyethylene menjadi polimer yang paling dominan pada jaringan otot kedua jenis ikan tersebut. Setelahnya terdapat nylon-66, polypropylene, dan PVC.

Komposisi ini penting bagi ilmuwan karena jenis polimer dapat membantu memberikan petunjuk mengenai sumber dan riwayat paparan plastik yang dialami seekor ikan.

Plastik yang ditemukan pada seekor predator, dengan demikian, bukan hanya menunjukkan bahwa hewan tersebut pernah terpapar polusi. Komposisinya juga berpotensi menjadi semacam sidik jari lingkungan.

Tuna yang Lebih Tinggi di Rantai Makanan Justru Tidak Selalu Memiliki Lebih Banyak Plastik

Di sinilah salah satu temuan penelitian menjadi sangat menarik.

Secara ekologis, tuna sirip kuning umumnya memiliki posisi trofik lebih tinggi daripada mahi-mahi. Jika mikroplastik secara sederhana semakin terkonsentrasi ketika naik melalui rantai makanan, seharusnya tuna memiliki beban NMP yang lebih tinggi.

Namun, data penelitian tidak menunjukkan pola tersebut.

Dalam banyak wilayah dan cekungan samudra yang dibandingkan, beban NMP pada tuna sirip kuning justru jauh lebih rendah dibandingkan mahi-mahi di wilayah yang sama.

Para peneliti juga tidak menemukan hubungan antara jumlah NMP dalam tubuh dan posisi trofik kedua spesies tersebut.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa perjalanan mikroplastik di laut jauh lebih kompleks daripada sekadar konsep “semakin tinggi rantai makanan, semakin banyak plastik”.

Mengapa Bisa Berbeda?

Ada banyak faktor yang dapat menentukan berapa banyak plastik yang akhirnya ditemukan pada tubuh predator laut.

Jenis makanan, lokasi mencari makan, pola migrasi, ukuran tubuh, kondisi lingkungan, hingga karakteristik plastik itu sendiri dapat memengaruhi paparan.

Tuna dan mahi-mahi juga merupakan ikan pelagis yang dapat melakukan perjalanan sangat jauh. Mereka tidak hidup dalam satu lingkungan yang tetap.

Karena itu, kandungan NMP pada jaringan mereka berpotensi merekam paparan lingkungan dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Penelitian tersebut menemukan variasi geografis dalam konsentrasi dan komposisi polimer. Para peneliti menilai pola ini membuka kemungkinan bahwa tanda tangan NMP dapat digunakan untuk memperkirakan riwayat paparan atau asal geografis seekor ikan.

Predator Laut Bisa Menjadi “Penanda” Polusi

Inilah alasan mengapa penelitian tersebut tidak hanya melihat tuna dan mahi-mahi sebagai korban polusi.

Para peneliti mengusulkan bahwa predator laut dapat digunakan sebagai indikator atau sentinel untuk membantu ilmuwan memetakan keberadaan nano- dan mikroplastik dalam ekosistem pelagis.

Pendekatan ini menarik karena pengukuran plastik secara langsung di laut tidak selalu mudah menggambarkan keseluruhan paparan yang dialami organisme.

Seekor predator yang melakukan perjalanan jauh dapat membawa rekaman biologis mengenai lingkungan yang telah dilaluinya.

Jika pendekatan ini terus dikembangkan, jaringan ikan pelagis berpotensi menjadi salah satu cara untuk memahami di mana polusi plastik berada, bagaimana distribusinya berubah, dan lingkungan seperti apa yang telah dilalui oleh organisme laut.

Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum metode tersebut dapat digunakan sebagai sistem pemantauan rutin.

Apakah Ini Berarti Makan Tuna Berbahaya?

Tidak sesederhana itu.

Temuan adanya NMP pada jaringan otot ikan memang penting dari sudut pandang ekologi. Tetapi penelitian ini tidak membuktikan bahwa mengonsumsi tuna atau mahi-mahi menyebabkan penyakit pada manusia.

Penelitian tersebut berfokus pada keberadaan, konsentrasi, dan komposisi nano- serta mikroplastik dalam jaringan predator laut serta potensinya sebagai indikator pencemaran.

Karena itu, akan keliru jika temuan ini langsung diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa ikan yang mengandung NMP otomatis tidak aman dikonsumsi.

Yang dapat dikatakan dengan lebih hati-hati adalah bahwa keberadaan NMP dalam jaringan otot predator menunjukkan bahwa polusi plastik telah menjadi bagian dari lingkungan laut yang berinteraksi dengan organisme pada tingkat trofik tinggi.

Dampak biologis jangka panjang dan konsekuensinya terhadap kesehatan ekosistem masih membutuhkan penelitian lanjutan.

Laut Tidak Selalu Menunjukkan Polusinya di Permukaan

Selama ini, salah satu tantangan terbesar dalam memahami polusi plastik adalah sifatnya yang tersebar dan sulit dilihat.

Botol, kantong, dan jaring yang mengapung hanyalah bagian yang paling mudah terlihat.

Sebagian plastik terurai menjadi partikel yang jauh lebih kecil. Sebagian lainnya bergerak mengikuti arus, masuk ke jaringan makanan, dan berpindah bersama organisme yang melakukan migrasi melintasi wilayah laut yang sangat luas.

Penelitian terhadap tuna sirip kuning dan mahi-mahi memperlihatkan bahwa polusi plastik tidak berhenti pada garis pantai atau permukaan laut.

Jejaknya dapat ditemukan jauh di dalam sistem biologis laut terbuka.

Dan mungkin justru ikan-ikan yang selama ini kita kenal sebagai penguasa lautan itulah yang membantu ilmuwan membaca seberapa luas jejak tersebut telah menyebar.

Dari Sampah yang Terlihat Menjadi Polusi yang Tak Terlihat

Temuan ini mengubah cara kita melihat persoalan plastik di laut.

Masalahnya bukan lagi hanya berapa banyak sampah yang mengapung di permukaan, melainkan seberapa jauh material tersebut telah memasuki sistem kehidupan laut.

Tuna dan mahi-mahi menunjukkan bahwa jawabannya mungkin lebih dalam daripada yang terlihat.

Namun penelitian ini juga membawa pesan yang lebih penting: laut bukan tempat di mana polusi berhenti ketika sampah menghilang dari pandangan.

Kadang-kadang, plastik yang tidak lagi terlihat justru meninggalkan jejak yang lebih sulit dihapus—di dalam ekosistem itu sendiri.


Sumber Berita
  1. Rooker, J. R., Kaiser, K., Wells, R. J. D. et al. (2026). “Ocean predators as indicators of nano- and microplastic prevalence in pelagic food webs.” Scientific Reports. DOI: 10.1038/s41598-026-72552-5. Diterbitkan 6 Oktober 2026.
  2. Scientific Reports — Nature Portfolio, artikel penelitian dan informasi metodologi mengenai analisis NMP pada jaringan otot tuna sirip kuning dan mahi-mahi.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkait
James Webb mengungkap kelahiran bintang di nebula NGC 7129

James Webb Menangkap Tempat Bintang Dilahirkan: Nebula 3.300 Tahun...

Science, ElrolumNews - Di balik awan debu yang tampak gelap dan tenang, bintang-bintang sedang lahir.Sekitar 3.300 tahun...
Katai cokelat perlahan mentransfer materi kepada bintang kecil dalam orbit 87 menit

Bintang Kecil Ini Sedang Memakan Tetangganya: Katai Cokelat Mengorbit...

Science, ElrolumNews - Sekitar 300 tahun cahaya dari Bumi, dua benda langit sedang menjalani hubungan kosmik yang...
Ketika cahaya kota mengubah malam, ekosistem ikut merespons

Ketika Malam Tidak Lagi Gelap: Cahaya Kota Diam-Diam Mengubah...

Science, ElrolumNews - Malam bagi manusia mungkin hanya berarti waktu untuk menyalakan lampu. Bagi alam, malam adalah bagian...

Lainnya

Popular