Jakarta, ElrolumNews — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Senin, 2 November 2026, dengan tekanan jual yang sempat menembus batas psikologis 5.000. Namun, indeks berhasil berbalik arah dan menutup sesi pertama di zona hijau.
IHSG dibuka melemah di level 5.039,54, turun 17,51 poin atau 0,35 persen dari penutupan sebelumnya di 5.057,05. Tekanan berlanjut hingga indeks menyentuh level terendah intraday di 4.981,52, atau turun 1,49 persen.
Setelah pukul 10.00 WIB, arus beli mulai masuk. IHSG berbalik menguat dan mencapai level tertinggi harian di 5.125,74, sebelum akhirnya menutup sesi pertama di 5.105,20, naik 48,15 poin atau 0,95 persen. Volume transaksi tercatat 198,2 juta lot dengan nilai sekitar Rp6,38 triliun.
Pergerakan indeks hari ini tidak lepas dari sikap pasar yang menahan diri menjelang rilis sejumlah data ekonomi. Badan Pusat Statistik dijadwalkan mengumumkan inflasi Oktober dan neraca perdagangan September. Pasar juga mencermati Purchasing Managers’ Index manufaktur, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026, serta data cadangan devisa.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyatakan secara teknikal IHSG diperkirakan menguji level 4.900 hingga 5.000. Jika indeks mampu bertahan di atas 5.000, ada peluang bergerak sideways di kisaran 5.000 sampai 5.200.
“Peluang untuk menutup gap di 5.800 masih terbuka jika IHSG mampu bertahan di atas 5.450,” ujar Ratna dalam kajiannya.
Faktor lain yang memengaruhi perdagangan hari ini adalah kebijakan Bursa Efek Indonesia yang secara efektif mengeluarkan saham-saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026. BEI mencatat lebih dari 80 saham masuk dalam kategori kepemilikan terkonsentrasi tinggi.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai kebijakan ini dapat meningkatkan kualitas dan transparansi indeks. Namun, ia memprediksi IHSG masih berada dalam tren bearish secara teknikal, dengan potensi menguji support di 5.026 hingga 4.942.
“Candle terakhir menunjukkan respons beli di bawah 5.000, tetapi MACD masih negatif dengan garis MACD di bawah signal line. Selama support bertahan, peluang konsolidasi atau technical rebound tetap terbuka, dengan resistance terdekat di 5.116 sampai 5.170,” kata Reza.
Meski indeks berbalik menguat, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih. Data BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan pembelian asing sebesar Rp2,21 triliun dan penjualan Rp2,55 triliun, menghasilkan net sell sekitar Rp342,08 juta pada sesi pertama.
Saham yang paling banyak dilepas asing adalah AADI, BMRI, dan BBRI. Sementara itu, saham yang paling banyak dibeli asing adalah TPIA, BUMI, dan PTRO.
Secara sektoral, hampir seluruh sektor bergerak positif. Sektor barang baku mencatat kenaikan tertinggi 2,26 persen, disusul sektor energi 1,94 persen. Sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang melemah, turun 1,75 persen.




