JAKARTA, ElrolumNews — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak datar dengan kecenderungan melemah pada pembukaan perdagangan Senin, 2 November 2026. Rupiah dibuka di level Rp18.149 per dolar AS, turun 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.147.
Pergerakan tipis ini mencerminkan sikap pasar yang menahan diri menjelang rilis data ekonomi domestik. Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan rupiah bergerak datar seiring investor menantikan angka inflasi dan neraca perdagangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi tahunan Oktober 2026 sebesar 3,23 persen. Angka ini sedikit lebih rendah dari perkiraan analis yang memperkirakan 3,3 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama dengan inflasi 4,82 persen dan andil 1,40 persen. Cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, dan daging ayam ras menjadi komoditas dominan.
Kelompok transportasi mencatat inflasi 4,87 persen dengan andil 0,59 persen, didorong kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, dan biaya pemeliharaan kendaraan.
Secara bulanan, inflasi Oktober tercatat 0,22 persen. Cabai merah menjadi pemicu utama dengan andil 0,13 persen, disusul cabai rawit 0,05 persen dan tomat 0,04 persen.
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Secara kumulatif Januari-September, surplus mencapai 10,61 miliar dolar AS.
Surplus September ditopang kinerja nonmigas yang membukukan surplus 5,67 miliar dolar AS, menutupi defisit migas 2,31 miliar dolar AS. Komoditas penyumbang utama meliputi lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Untuk periode Januari-September, surplus nonmigas mencapai 34,21 miliar dolar AS, sementara migas defisit 23,60 miliar dolar AS. Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar dengan 14,26 miliar dolar AS, sedangkan Tiongkok menjadi sumber defisit terdalam dengan 21,20 miliar dolar AS.
Meski data inflasi dan neraca dagang relatif mendukung, rupiah belum mampu memanfaatkan pelemahan dolar AS. Indeks dolar AS turun ke 101,88 pada 30 Oktober, dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,94 persen dari sebelumnya di atas 5 persen.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai persoalan terbesar rupiah bukan semata selisih suku bunga, melainkan meningkatnya premi risiko domestik. Imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun yang berada di kisaran 7,5 hingga 7,7 persen mencerminkan kompensasi risiko yang diminta investor.
Tekanan jual pada SBN turut membayangi pergerakan rupiah. Yield SBN tenor 10 tahun sempat menyentuh level 7,7 persen, dan aksi jual tersebut masih menjadi faktor yang menahan penguatan rupiah.
Faktor eksternal lain yang membatasi ruang penguatan rupiah adalah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. The Fed mempertahankan suku bunga di 3,75 hingga 4,00 persen pada 28 Oktober, tetapi pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan lanjutan.
Josua memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.450 per dolar AS hingga akhir 2026, dengan kecenderungan berada di sekitar Rp18.000. Risiko pelemahan menuju Rp18.500 terbuka apabila The Fed menaikkan suku bunga dan arus modal asing semakin tertekan.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.250 pada perdagangan Senin-Selasa. Menurutnya, inflasi Oktober, arah harga minyak, dan arus modal asing menjadi penentu.
Rizal menekankan bahwa stabilisasi rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia. Pemerintah perlu memperkuat kredibilitas fiskal, menjaga konsistensi kebijakan, dan memperbaiki tata kelola pasar keuangan agar kepercayaan investor pulih.




