Jakarta, ElrolumNews — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 24,26 poin atau 0,37% ke level 6.501,67 pada perdagangan Senin (24/8/2026). Pelemahan terjadi sejalan dengan melemahnya mayoritas bursa global dan regional Asia, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, koreksi IHSG tersebut sesuai dengan analisis teknikal yang disampaikan pihaknya.
“Pergerakan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang juga terkoreksi, serta pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD,” ujarnya kepada Kontan, Senin (24/8/2026).
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, IHSG sempat bergerak menguat pada awal perdagangan sebelum berbalik ke zona merah hingga penutupan.
Kondisi tersebut dipengaruhi aksi profit taking dan pelemahan rupiah. Rupiah ditutup melemah 0,11%. Pelemahan tersebut terjadi seiring dengan mayoritas mata uang Asia yang tertekan oleh penguatan dolar AS, meski harga minyak mentah mengalami koreksi.
“Indeks sempat bergerak menguat di awal sesi, sebelum kemudian bergerak di teritori negatif hingga penutupan perdagangan akibat profit taking dan pelemahan Rupiah,” jelas Alrich.
Dari sisi sektoral, sektor properti mencatatkan koreksi terdalam sebesar 1,67%. Sebaliknya, sektor basic materials menjadi satu-satunya sektor yang menguat, yakni sebesar 1,38%.
Tim Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan bursa regional Asia cenderung melemah. Kondisi tersebut terjadi seiring pelemahan futures saham Amerika Serikat (AS) menjelang pengumuman kebijakan baru terhadap Iran.
“Investor mencermati rencana sanksi tambahan AS terhadap Iran,” kata tim Pilarmas. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dijadwalkan memberikan keterangan terkait rencana tersebut.
Investor juga menantikan pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Tiongkok pada 25-28 Agustus 2026. Ini akan menjadi perhatian untuk melihat sinyal kebijakan baru guna memperkuat pertumbuhan ekonomi negara itu.
Tim Pilarmas menilai sejumlah data ekonomi Tiongkok yang mengecewakan turut meningkatkan perhatian investor. “Pelaku pasar berharap Beijing mengeluarkan kebijakan tambahan untuk mendorong pertumbuhan,” ucapnya.
Dari dalam negeri, tekanan IHSG turut dipengaruhi kekhawatiran terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan yang mencapai level tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini disebabkan oleh menyusutnya surplus barang dan meningkatnya biaya impor energi.
Pada kuartal II 2026, defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai sekitar USD12,49 miliar. Ini berarti setara dengan sekitar 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan terhadap posisi eksternal Indonesia. Pelebaran defisit juga berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap pasar domestik.
Untuk perdagangan Selasa (25/8/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas. Ia menempatkan level support di 6.488 dan resistance di 6.507.
“Untuk Selasa, kami perkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan support 6.488 dan resist 6.507,” ujar Herditya.
Secara teknikal, Alrich melihat IHSG masih bertahan di atas moving average (MA) 100. Histogram MACD juga masih berada di area positif, meski indikator Stochastic RSI mulai mendekati area overbought.
“IHSG berpotensi bergerak sideways pada kisaran 6.450-6.570 pada perdagangan Selasa,” katanya.
MNC Sekuritas merekomendasikan investor mencermati saham tambang: PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS).
ANTM: Target harga Rp3.300 – Rp3.450
PTBA: Kisaran Rp2.520 – Rp2.570
TINS: Kisaran Rp4.300 – Rp4.420
Menurut Herditya, investor akan mencermati pergerakan harga emas yang masih cenderung menguat. Selain itu, pelaku pasar juga akan menantikan agenda Jackson Hole serta sejumlah rilis data makroekonomi Amerika Serikat pada pekan ini.
(*/fvs)




