Perang Dagang AS-China 2026: Dampak terhadap Ekspor dan Nilai Tukar Rupiah

Ekonomi Makro & Kebijakan, ELrolumNews – Perang dagang antara Amerika Serikat dan China memasuki babak baru di 2026. Presiden AS memberlakukan tarif 25% pada impor produk China, sementara Beijing membalas dengan pembatasan ekspor logam langka dan komponen elektronik.

Bagi Indonesia, eskalasi ini membawa peluang dan ancaman sekaligus.

Dampak terhadap Ekspor Indonesia

Menurut Dr. Rizal Affandi, Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS), “Indonesia bisa diuntungkan dengan diversifikasi rantai pasok global. Perusahaan multinasional mulai pindahkan produksi dari China ke ASEAN, termasuk Indonesia.”

Sektor yang Diuntungkan:

  • Tekstil & garmen (naik 18% YoY)

  • Elektronik (investasi baru dari Samsung, LG)

  • Alas kaki (Nike, Adidas tambah order ke vendor Indonesia)

Sektor yang Terancam:

  • Komponen otomotif (bergantung pada impor dari China)

  • Baja (tarif AS membuat harga global turun, tekan margin)

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan ekspor Indonesia ke AS naik 12% pada Q1 2026, sementara ke China melambat jadi 3%.

Dampak terhadap Nilai Tukar Rupiah

Perang dagang memicu flight to safety, investor global pilih USD dan emas. Rupiah melemah ke Rp15.800/USD, tekanan terberat sejak 2020.

“Rupiah tertekan karena (1) penguatan USD global, (2) defisit neraca perdagangan sementara, dan (3) ketidakpastian pasar emerging market,” jelas Dr. Rizal.

Faktor Penopang Rupiah:

  • Cadangan devisa BI masih kuat (USD 145 miliar)

  • Arus masuk FDI (Foreign Direct Investment) meningkat

  • Harga komoditas (batu bara, CPO) stabil

Strategi bagi Pelaku Bisnis

  1. Hedging valuta asing untuk importir

  2. Diversifikasi pasar ekspor (jangan bergantung AS-China saja)

  3. Manfaatkan insentif pemerintah (tax allowance untuk eksportir)

Proyeksi Akhir 2026

  • Ekspor Indonesia: Tumbuh 6–8% (didorong relokasi pabrik)

  • Rupiah: Stabil di Rp15.500–15.900/USD jika BI Rate stabil

  • FDI: Masuk USD 25–28 miliar (rekor baru)

Perang dagang AS-China 2026 adalah pedang bermata dua bagi Indonesia: peluang relokasi industri vs tekanan rupiah. Pelaku bisnis perlu adaptif dengan diversifikasi pasar dan manajemen risiko valuta asing.

(fvs)

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Ilustrasi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 yang didorong oleh konsumsi domestik, ekspor, dan investasi infrastruktur

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026: Tantangan dan Peluang

Ekonomi Makro & Kebijakan, ELrolumNews – Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,2–5,5% pada 2026, naik...
Kebijakan kenaikan BI Rate memengaruhi akses kredit UMKM dan tingkat inflasi, menjadi fokus analisis ekonomi makro ELrolumNews di 2026.

Dampak Kenaikan BI Rate terhadap Kredit UMKM dan Inflasi...

Ekonomi Makro & Kebijakan, ELrolumNews – Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar...
The Fed naikkan suku bunga 25 bps jadi 3,75-4,00%

The Fed Naikkan Suku Bunga 25 bps Jadi 3,75-4,00%,...

Washington, ElrolumNews — Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00%...

More

Popular

Read More