Washington DC, ElrolumNews – World Bank (Bank Dunia) merilis laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2026 pada Kamis (11/6/2026) yang memuat kabar buruk bagi perekonomian global. Lembaga keuangan internasional tersebut secara drastis memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun 2026 menjadi hanya 2,5 persen .
Angka ini merupakan level terendah sejak pandemi COVID-19 dan turun signifikan dari capaian tahun 2025 yang sebesar 2,9 persen . Bank Dunia juga memangkas proyeksi untuk dua pertiga negara di dunia .
Ayhan Kose, Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia, menyebut konflik di Timur Tengah—khususnya penutupan Selat Hormuz—telah menciptakan “guncangan pasokan terbesar dalam 50 tahun” .
“Dunia tidak jatuh dari tebing, tetapi telah melambat tajam dan banyak negara berkembang memasuki guncangan ini dengan penyangga yang lebih tipis dan penyerap guncangan yang lebih sedikit,” ujar Kose dalam konferensi pers di Washington DC, Kamis (11/6/2026) .
Penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dunia telah mengakibatkan:
Harga minyak mentah melonjak – Diprediksi rata-rata USD94 per barel pada 2026, naik 36 persen dari tahun 2025
Harga pupuk meroket – Mengancam krisis pangan global
Inflasi global naik – Diprediksi mencapai 4,0 persen pada 2026
Laporan Bank Dunia juga menyajikan skenario risiko yang lebih suram. Jika gangguan energi berlangsung lebih lama dari perkiraan dan harga minyak melambung ke USD115 per barel, pertumbuhan global bisa turun lebih lanjut ke 2,1 persen dengan inflasi mencapai 4,4 persen .
Dalam skenario terburuk—di mana guncangan energi disertai dengan tekanan pasar keuangan yang parah—pertumbuhan global bisa merosot drastis hingga hanya 1,3 persen pada 2026 .
Daerah Terdampak Paling Parah
| Wilayah | Proyeksi 2026 | Perubahan vs 2025 |
|---|---|---|
| Gulf (Teluk) | Mendekati 0% | Dari 3,9% |
| UAE | 2,4% | Turun drastis dari pra-perang |
| Euro Area | 0,8% | Turun dari 1,4% |
| Jepang | 0,7% | Turun dari 1,1% |
| China | 4,2% | Turun dari 5% |
| India | 6,6% | Turun dari 6,8% |
| AS | 2,2% | Stabil (sedikit naik dari 2,1%) |
| Asia Selatan | 6,3% | Masih terkuat, tapi turun dari 7% |
Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia, Ayhan Kose, memberikan pernyataan tegas dalam laporan tersebut.
“Perang ini berdampak besar pada perekonomian global. Kenaikan harga energi dan pupuk telah memicu kembali tekanan inflasi di seluruh dunia dan memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter di banyak negara,” ujar Kose .
Ia menambahkan, “Skenario risiko ini menunjukkan betapa cepatnya prospek ekonomi dapat memburuk jika tekanan energi dan keuangan saling memperkuat” .
Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, mengumumkan bahwa lembaganya siap menyediakan hingga USD100 miliar (sekitar Rp1.600 triliun) untuk negara-negara yang terdampak konflik dalam periode 15 bulan .
“Tugas kami adalah membantu negara-negara menstabilkan kapal, menjaga reformasi tetap berjalan, dan muncul lebih kuat di sisi lain,” ujar Banga dalam pernyataan resmi .
Dana awal sebesar USD50-60 miliar akan segera tersedia melalui instrumen yang sudah ada, termasuk USD25 miliar pembiayaan yang telah diatur sebelumnya .
Ekonomi negara berkembang diperkirakan akan mencatatkan pertumbuhan terlemah pasca-pandemi, yaitu hanya 3,6 persen pada 2026, turun dari 4,4 persen pada 2025 .
Bank Dunia memperingatkan bahwa tahun 2020-an berisiko menjadi “dekade yang hilang” bagi puluhan negara berkembang yang tidak mengalami kemajuan dalam menutup kesenjangan pendapatan dengan negara maju .
“Ekonomi dunia menjadi jauh kurang tangguh saat ini,” kata Indermit Gill, Kepala Ekonom Bank Dunia, dalam keterangan pers.
(*/World Bank)






