Mantan Menkeu Chatib Basri: Ekonomi tak Separah yang Dikira, tapi Kelas Menengah Kita Anjlok Tujuh Tahun! Jangan Sampai “Middle Income Trap” Makin Parah!

Jakarta, ELrolumNews – Di tengah isu pelemahan rupiah dan gejolak global, mantan Menteri Keuangan sekaligus ekonom senior, Chatib Basri, memberikan gambaran unik tentang kondisi ekonomi Indonesia. Ia menyebut realitas di lapangan tidak seburuk yang dibayangkan banyak pihak, namun ada satu masalah serius yang mengintai: melemahnya daya beli kelas menengah yang sudah berlangsung selama tujuh tahun terakhir.

Hal ini disampaikan Chatib Basri dalam sebuah diskusi ekonomi di Jakarta, Selasa (9/6/2026), yang digelar menyikapi dinamika ekonomi nasional dan global.

Menurut Chatib, jika dicermati secara mendalam, ada beberapa fondasi ekonomi yang masih cukup kokoh menopang stabilitas.

“Situasi di domestik itu tidak seburuk yang dibayangkan. Kalau kita bedah performa pada kuartal pertama tahun ini, konsumsi rumah tangga kita posisinya masih relatif lumayan,” ujar Chatib.

Ia menjelaskan bahwa terjaganya kinerja ekonomi di awal tahun ini ditopang kuat oleh denyut konsumsi masyarakat yang terakselerasi berkat momentum Ramadan dan Idulfitri, serta suntikan stimulus yang masif dari pos pengeluaran pemerintah. Pada kuartal pertama, pemerintah melakukan penyerapan belanja yang sangat agresif hingga menyentuh angka hampir 22 persen.

Sinyal positif lain juga terlihat pada pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang masih solid di 5,11 persen (year on year). Penjualan ritel melonjak 19,9 persen secara bulanan di bulan Maret 2026, meskipun terkoreksi menjadi -3,6 persen secara tahunan (YoY) .

Kendati indikator makro secara umum tampak aman, Chatib memberikan peringatan keras agar pengambil kebijakan tidak terlena.

“Sinyal lampu kuning mulai terlihat dari angka Indeks Penjualan Ritel per April yang anjlok ke level 1,9 persen,” ujarnya .

Sinyal paling memprihatinkan justru datang dari struktur sosial ekonomi masyarakat. Menurut Chatib, potret daya beli masyarakat Indonesia saat ini tidak bisa lagi dinilai secara rata-rata atau agregat.

“Masalah paling pelik justru tengah mendera kelompok masyarakat kelas menengah, yaitu mereka yang memiliki pengeluaran antara Rp3 juta hingga Rp10 juta per bulan,” ungkap Chatib.

Ia memaparkan data mengejutkan bahwa kelompok ini nyata-nyata mengalami pertumbuhan negatif dalam tujuh tahun terakhir.

“Kelompok ini nyata-nyata mengalami pertumbuhan negatif dalam tujuh tahun terakhir,” ujar Chatib.

Keadaan ini diperparah dengan beban utang. Kelas menengah yang umumnya memiliki akses pinjaman, baik melalui kartu kredit, kredit kendaraan, maupun kredit perumahan (KPR), mulai merasakan tekanan berat menjelang akhir tahun.

Kelelahan ekonomi kelas menengah ini juga berdampak linier pada sektor perbankan, di mana rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) mulai merangkak naik akibat kelompok ini kesulitan memenuhi kewajiban finansial mereka.

Pengamat Ekonomi dari INDEF, Ahmad Heri Firdaus, menilai fenomena ini perlu menjadi perhatian serius karena terkait langsung dengan target menjadi negara maju.

“Kelas menengah adalah tulang punggung ekonomi. Mereka adalah konsumen utama barang elektronik, perumahan, dan kendaraan bermotor. Jika daya beli mereka terus tergerus selama tujuh tahun, kita sedang berada di jurang middle income trap yang sangat dalam,” ujar Ahmad .

Ia mengingatkan bahwa negara yang gagal melindungi kelas menengahnya akan sulit keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

“Pemerintah harus segera melakukan intervensi. Jangan cuma andalkan belanja pemerintah. Kelas menengah perlu kepastian pekerjaan, pengendalian harga, dan insentif pajak yang meringankan,” tambahnya .

Sebelumnya, Bank Dunia dalam laporan Indonesia Economic Prospects (Juni 2026) juga menyoroti fenomena “The Missing Middle” atau menghilangnya kelas menengah. Laporan itu menyebut bahwa pandemi Covid-19 telah mendorong sekitar 10 juta jiwa penduduk Indonesia ke dalam kemiskinan atau rentan miskin, banyak di antaranya berasal dari calon kelas menengah.

Jika tidak ada terobosan, bukan tidak mungkin kelas menengah akan terus menciut dan memperlebar ketimpangan sosial. Peringatan ini sejalan dengan kondisi yang diuraikan Chatib Basri .

(*/dbs)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Dijual Rumah - Nego langsung dengan pemilik-Tanpa Perantara

Rumah di Mountain view residen blok c1 no 9 paniki bawah kota manado - Asri, lokasi strategis dekat bandara, dekat pusat bisnis -Nego langsung dengan pemilik - tanpa perantara - SHM - Luas bangunan 125m2, luas tanah 330 m2, 4 kamar, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, air perumahan, listrik 5500 watt, carport, security 24/7 - yang berminat bisa menghubungi:
Pemilik: wa: 0811439028

More like this

Ironi IPO SpaceX: Investor Ritel Dipaksa Tahan Saham 30...

New York, ElrolumNews – Kesuksesan IPO SpaceX pada Jumat (12/6/2026) menyisakan cerita pahit bagi investor ritel. Di satu...

BREAKING: World Bank Peringatkan “Guncangan Pasokan Minyak Terbesar dalam...

Washington DC, ElrolumNews – World Bank (Bank Dunia) merilis laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2026 pada Kamis (11/6/2026) yang...

Emak-emak Jakarta Mulai Hitung-hitungan! Harga Beras dan Cabai Naik,...

Jakarta, ELrolumnews – Harga sejumlah bahan pokok di pasaran Jakarta mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Mulai...

More

Recomended

Read More