“John Bunyan adalah seorang tukang patri yang tidak berpendidikan, yang dipenjara selama dua belas tahun karena berkhotbah. Dari dalam penjara, ia menulis salah satu buku terbesar dalam sejarah sastra Kristen: ‘The Pilgrim’s Progress.’ Kisahnya membuktikan bahwa Tuhan dapat menghasilkan karya yang kekal dari tempat yang paling terbatas sekalipun.”
Religion, ElrolumNews –
Seorang Tukang Patri yang Kasar
John Bunyan lahir pada tahun 1628 di Elstow, sebuah desa kecil dekat Bedford, Inggris. Ia adalah anak seorang tukang patri—seorang pekerja logam yang memperbaiki panci, ceret, dan peralatan rumah tangga lainnya. Keluarganya sangat miskin. John tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang tinggi. Ia belajar membaca dan menulis seadanya, tetapi ia tidak pernah belajar di universitas seperti para teolog pada masanya.
Masa muda John Bunyan jauh dari gambaran seorang yang saleh. Ia dikenal sebagai pemuda yang kasar, suka bersumpah, dan gemar melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Dalam otobiografinya, Grace Abounding to the Chief of Sinners, ia menulis tentang dirinya sendiri sebagai “yang paling utama dari orang-orang berdosa” —seorang yang penuh dengan dosa dan pemberontakan.
Ketika Perang Saudara Inggris meletus, John bergabung dengan tentara Parlemen. Ia bertempur selama beberapa tahun, tetapi kemudian kembali ke Elstow dan menekuni pekerjaan ayahnya sebagai tukang patri.
Pada tahun 1649, John menikah dengan seorang wanita muda yang tidak disebutkan namanya dalam tulisan-tulisan John. Ia adalah seorang wanita Kristen yang taat. Ia membawa dua buku sebagai mas kawinnya: The Plain Man’s Pathway to Heaven dan The Practice of Piety. Kedua buku itu mengubah hidup John.
John mulai membaca buku-buku itu. Ia mulai menghadiri gereja. Ia mulai bergumul dengan dosa-dosanya. Namun pergumulannya tidak mudah. Selama bertahun-tahun, ia hidup dalam ketakutan akan neraka dan penghakiman Tuhan. Ia merasa bahwa ia terlalu berdosa untuk diampuni.
Pertobatan yang Mendalam
Pergumulan rohani John Bunyan berlangsung selama bertahun-tahun. Ia menulis tentang pengalaman itu dalam Grace Abounding:
“Saya dikelilingi oleh ketakutan akan kutukan. Saya merasa bahwa saya telah melakukan dosa yang tidak dapat diampuni. Saya merasa bahwa tidak ada harapan bagi saya.”
Suatu hari, ketika ia sedang berjalan di jalanan Bedford, ia mendengar percakapan sekelompok wanita Kristen yang sedang duduk di depan pintu rumah. Mereka berbicara tentang kasih Tuhan, tentang pengampunan dosa, tentang sukacita iman. John tertegun. Ia belum pernah mendengar percakapan seperti itu sebelumnya.
Ia mulai menghadiri pertemuan-pertemuan Kristen. Ia bertemu dengan John Gifford—seorang pendeta yang menjadi mentor rohaninya. Gifford mengajarkan John tentang kasih karunia Tuhan—bahwa keselamatan bukanlah upah atas perbuatan baik, tetapi anugerah yang diterima melalui iman.
Perlahan-lahan, John mulai memahami. Ia mulai percaya bahwa Tuhan benar-benar mengasihinya. Ia mulai merasakan damai yang selama ini ia cari.
Pada tahun 1653, John dibaptis dan menjadi anggota gereja di Bedford. Tidak lama kemudian, ia mulai berkhotbah.
Panggilan untuk Berkhotbah
John Bunyan tidak pernah ditahbiskan sebagai pendeta. Ia tidak memiliki pendidikan teologi formal. Namun ia memiliki sesuatu yang lebih berharga: pengalaman nyata dengan Tuhan.
Ia mulai berbicara di pertemuan-pertemuan kecil—di rumah-rumah, di ladang, di jalanan. Ia berbicara dengan cara yang sederhana, menggunakan bahasa sehari-hari, dan menyentuh hati orang-orang biasa.
Orang-orang berbondong-bondong datang untuk mendengarkannya. Mereka terpesona oleh cara John berbicara tentang iman—bukan sebagai serangkaian aturan, tetapi sebagai hubungan yang hidup dengan Tuhan.
Pada tahun 1655, John pindah ke Bedford dan mulai berkhotbah secara teratur. Ia menjadi salah satu pengkhotbah paling populer di wilayah itu. Orang-orang datang dari berbagai tempat untuk mendengarkannya—petani, pedagang, pengrajin, dan bahkan beberapa bangsawan.
Namun popularitas John juga menarik perhatian yang tidak diinginkan.
Penangkapan dan Pemenjaraan
Pada tahun 1660, Charles II kembali ke takhta Inggris setelah periode pemerintahan Puritan. Gereja Inggris kembali berkuasa, dan hukum-hukum yang membatasi kebebasan beragama diberlakukan kembali.
Undang-undang baru melarang pertemuan-pertemuan keagamaan di luar Gereja Inggris. Siapa pun yang berkhotbah tanpa izin resmi dapat ditangkap dan dipenjara.
John Bunyan tahu risiko yang ia hadapi. Namun ia tidak berhenti berkhotbah.
Pada tanggal 12 November 1660, John sedang bersiap untuk berkhotbah di sebuah rumah di Lower Samsell, Bedfordshire. Seorang petugas datang dan menangkapnya. Ia dibawa ke hadapan hakim setempat, Sir Francis Wingate.
Hakim itu bertanya: “Mengapa engkau tidak pergi ke gereja biasa?”
John menjawab: “Saya pergi ke gereja biasa, tetapi saya juga berkhotbah di tempat lain.”
Hakim itu menawarkan pilihan: berhenti berkhotbah, atau pergi ke penjara. John memilih penjara.
Ia ditahan di Penjara Bedford—sebuah penjara yang kecil dan tidak sehat. Ia dipenjara selama dua belas tahun —dengan satu jeda singkat pada tahun 1666.
Kehidupan di Dalam Penjara
Penjara Bedford bukanlah tempat yang nyaman. John dipenjara di sel yang sempit, dengan sedikit cahaya, dan kondisi yang tidak sehat. Ia jauh dari keluarganya. Istrinya dan anak-anaknya hidup dalam kemiskinan.
Yang paling menyayat hati adalah anaknya yang buta, Mary. John sangat mengasihi Mary. Ia sering menulis tentang betapa ia merindukan anaknya dan betapa ia khawatir tentang masa depan Mary.
Namun di tengah keterbatasan itu, John tidak berhenti bekerja. Ia justru menemukan panggilan baru: menulis.
Selama di penjara, John menulis beberapa buku. Yang pertama adalah Grace Abounding to the Chief of Sinners—sebuah otobiografi rohani yang menceritakan pergumulannya menuju iman. Buku itu diterbitkan pada tahun 1666.
Ia juga menulis The Pilgrim’s Progress—sebuah alegori tentang perjalanan seorang Kristen dari Kota Kehancuran menuju Kota Sorgawi. Buku itu dimulai di penjara dan selesai setelah ia dibebaskan.
“The Pilgrim’s Progress”
The Pilgrim’s Progress adalah kisah tentang seorang pria bernama Christian yang meninggalkan rumahnya untuk mencari keselamatan. Dalam perjalanannya, ia menghadapi berbagai rintangan: Rawa Keputusasaan, Bukit Kesulitan, Lembah Bayang-Bayang Kematian, Pameran Kesombongan, dan berbagai godaan lainnya.
Kisah itu adalah alegori dari perjalanan iman setiap orang Kristen. Nama-nama tokoh dan tempat dalam buku itu memiliki makna simbolis: Evangelist (Penginjil), Obstinate (Keras Kepala), Pliable (Mudah Terpengaruh), Worldly Wiseman (Orang Bijak Duniawi), dan sebagainya.
Buku itu ditulis dengan bahasa yang sederhana dan langsung. John Bunyan tidak menggunakan bahasa teologis yang rumit. Ia menggunakan bahasa sehari-hari—bahasa yang dapat dipahami oleh petani, pedagang, dan anak-anak.
The Pilgrim’s Progress diterbitkan pada tahun 1678—dua tahun setelah John dibebaskan dari penjara. Buku itu segera menjadi sangat populer. Dalam waktu sepuluh tahun, ia telah dicetak ulang berkali-kali. Dalam waktu lima puluh tahun, ia telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Hingga hari ini, The Pilgrim’s Progress dianggap sebagai salah satu buku terbesar dalam sejarah sastra Kristen. Ia telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 200 bahasa —dan tidak pernah kehabisan cetak selama lebih dari 300 tahun.
Pembebasan dan Pelayanan Selanjutnya
John Bunyan dibebaskan pada tahun 1672. Ia menjadi pendeta gereja di Bedford dan terus berkhotbah sampai akhir hidupnya.
Pada tahun 1673, ia ditangkap lagi dan dipenjara sebentar karena menolak untuk berhenti berkhotbah. Namun kali ini, ia dibebaskan dengan cepat.
John terus menulis. Ia menulis lebih dari 60 buku sepanjang hidupnya. The Pilgrim’s Progress adalah yang paling terkenal, tetapi ia juga menulis The Holy War, Grace Abounding, dan banyak lainnya.
Pada tanggal 31 Agustus 1688, John Bunyan meninggal dunia di London. Ia meninggal setelah terjebak dalam hujan deras saat dalam perjalanan untuk menyelesaikan perselisihan antara seorang ayah dan anaknya. Ia dimakamkan di Pemakaman Bunhill Fields—sebuah pemakaman untuk orang-orang nonkonformis.
Apa yang Diajarkan Kisah John Bunyan?
Dari kehidupan John Bunyan, kita belajar beberapa hal:
Pertama, Tuhan dapat memakai siapa saja. John Bunyan adalah seorang tukang patri yang tidak berpendidikan. Ia bukan teolog. Ia bukan akademisi. Namun Tuhan memakainya untuk menulis salah satu buku terbesar dalam sejarah Kristen. Tuhan tidak membutuhkan gelar atau prestise—Dia hanya membutuhkan hati yang mau dipakai.
Kedua, keterbatasan tidak menghalangi karya Tuhan. John Bunyan menulis The Pilgrim’s Progress dari dalam penjara. Ia tidak memiliki akses ke perpustakaan besar. Ia tidak memiliki kenyamanan. Namun dari tempat yang terbatas itu, lahirlah karya yang mengubah jutaan orang.
Ketiga, penderitaan dapat menghasilkan buah yang kekal. John Bunyan dipenjara selama dua belas tahun. Itu adalah waktu yang ia bisa gunakan untuk mengeluh atau menyerah. Namun ia memilih untuk menulis. Dan dari penjara itu, lahirlah karya yang masih dibaca hingga hari ini.
Untuk Renungan
Kisah John Bunyan adalah kisah tentang karya yang lahir dari tempat yang terbatas.
Ia bukanlah orang yang sempurna. Ia bukanlah orang yang berpendidikan tinggi. Ia hanyalah seorang tukang patri yang bertobat dan dipenuhi oleh kasih Tuhan.
Namun dari kehidupan yang sederhana itu—dan dari sel penjara yang sempit—lahirlah karya yang mengubah dunia.
“Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita.” — 2 Korintus 4:6
“Justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” — 2 Korintus 12:9
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” — Galatia 6:9
Tiga Pelajaran dari John Bunyan
1. Tuhan Dapat Memakai Siapa Saja
John Bunyan adalah seorang tukang patri yang tidak berpendidikan. Ia bukan teolog. Ia bukan akademisi. Namun Tuhan memakainya untuk menulis salah satu buku terbesar dalam sejarah Kristen. Tuhan tidak membutuhkan gelar atau prestise—Dia hanya membutuhkan hati yang mau dipakai.
“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat.” (1 Korintus 1:27)
2. Keterbatasan Tidak Menghalangi Karya Tuhan
John Bunyan menulis The Pilgrim’s Progress dari dalam penjara. Ia tidak memiliki akses ke perpustakaan besar. Ia tidak memiliki kenyamanan. Namun dari tempat yang terbatas itu, lahirlah karya yang mengubah jutaan orang.
“Justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9)
3. Penderitaan Dapat Menghasilkan Buah yang Kekal
John Bunyan dipenjara selama dua belas tahun. Itu adalah waktu yang ia bisa gunakan untuk mengeluh atau menyerah. Namun ia memilih untuk menulis. Dan dari penjara itu, lahirlah karya yang masih dibaca hingga hari ini.
“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” (Mazmur 126:5)
Untuk Renungan
Apakah Anda merasa keterbatasan Anda menghalangi Anda untuk melayani Tuhan?
Apakah Anda sedang mengalami penderitaan yang tampaknya tidak ada gunanya?
Apakah Anda percaya bahwa Tuhan dapat menghasilkan sesuatu yang kekal dari tempat yang terbatas?
Bacalah 2 Korintus 12:1-10 — tentang kuasa Tuhan dalam kelemahan.
Bacalah 1 Korintus 1:26-29 — tentang Tuhan yang memilih yang lemah.
Jika Anda memiliki waktu, bacalah The Pilgrim’s Progress — atau setidaknya ringkasannya.
Kabar baiknya: Tuhan tidak membutuhkan kesempurnaan kita. Dia membutuhkan ketaatan kita. Dan dari ketaatan yang sederhana—bahkan di tengah keterbatasan—Dia dapat menghasilkan buah yang kekal.
Sumber
Bunyan, John. Grace Abounding to the Chief of Sinners (1666). Otobiografi rohani John Bunyan yang menceritakan pergumulannya menuju iman dan panggilannya untuk berkhotbah.
Bunyan, John. The Pilgrim’s Progress (1678). Karya alegori yang menjadi salah satu buku terbesar dalam sejarah sastra Kristen.
Wikipedia. “John Bunyan”. Sumber yang mencatat kelahiran (1628), kematian (31 Agustus 1688), latar belakang sebagai tukang patri, penangkapan (12 November 1660), pemenjaraan di Penjara Bedford selama 12 tahun, dan penulisan The Pilgrim’s Progress.
Britannica. “John Bunyan”. Sumber yang mencatat kehidupan John Bunyan, termasuk pendidikan, pertobatan, pemenjaraan, dan karya-karyanya.
Christian History Institute. “John Bunyan”. Sumber yang mencatat detail kehidupan John Bunyan, termasuk pengaruh istrinya, pertemuannya dengan John Gifford, dan pemenjaraannya.
The John Bunyan Museum. “John Bunyan”. Sumber yang mencatat kehidupan John Bunyan dan warisannya, termasuk Penjara Bedford dan The Pilgrim’s Progress.
Bunhill Fields. “John Bunyan”. Sumber yang mencatat pemakaman John Bunyan di Bunhill Fields, London.
Sharrock, Roger. John Bunyan. London: Macmillan, 1954. Biografi akademis tentang John Bunyan.
Catatan: John Bunyan meninggal pada 31 Agustus 1688 di London. Ia dimakamkan di Bunhill Fields. The Pilgrim’s Progress telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 200 bahasa dan tidak pernah kehabisan cetak selama lebih dari 300 tahun. Buku itu dianggap sebagai salah satu karya sastra terbesar dalam bahasa Inggris.




