Laut Bisa Menyerap Lebih Banyak CO₂, tetapi Ilmuwan Kini Meminta Cara yang Lebih Hati-Hati

Science, ElrolumNews – Selama jutaan tahun, laut telah menjadi salah satu penyerap karbon terbesar di planet ini.

Kini, para ilmuwan sedang mengembangkan cara untuk meningkatkan kemampuan alami tersebut: mengubah kimia air laut agar dapat menyerap dan menyimpan lebih banyak karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer.

Teknik ini dikenal sebagai ocean alkalinity enhancement (OAE) atau peningkatan alkalinitas laut.

- Advertisement -

Gagasannya terdengar sederhana. Dengan meningkatkan alkalinitas air laut, sebagian CO₂ yang terlarut dapat diubah menjadi bentuk bikarbonat dan karbonat yang relatif stabil sehingga karbon dapat tersimpan di laut dalam waktu yang sangat lama.

Tetapi sebuah perspektif ilmiah terbaru mengingatkan bahwa persoalannya jauh lebih rumit daripada sekadar menambahkan zat alkali ke laut.

- Advertisement -

Dalam artikel yang diterbitkan pada 6 Oktober 2026 di Nature Reviews Earth & Environment, tim ilmuwan internasional mengusulkan agar OAE tidak lagi terutama dipandang sebagai proyek geoengineering raksasa berskala global.

Sebaliknya, mereka mendorong pendekatan lokal, bertahap, terukur, dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah laut.

Mengapa Alkalinitas Bisa Membantu Laut Menyerap CO₂?

Untuk memahami teknologi ini, kita perlu melihat kimia dasar laut.

Ketika CO₂ dari atmosfer masuk ke air laut, gas tersebut berinteraksi dengan sistem karbonat yang secara alami terdapat di lautan.

Sebagian karbon akhirnya berada dalam bentuk bikarbonat dan karbonat.

Jika alkalinitas laut ditingkatkan, kapasitas kimia air untuk menyerap CO₂ dapat meningkat. Dalam kondisi tertentu, karbon yang terserap dapat berada dalam bentuk bikarbonat yang relatif stabil dan bertahan dalam sistem laut selama waktu yang sangat panjang.

Secara sederhana, OAE berusaha memperkuat proses kimia yang sebenarnya sudah berlangsung secara alami akibat pelapukan batuan.

Bahan alkali dapat berasal dari berbagai jalur. Beberapa pendekatan menggunakan mineral, sementara pendekatan lainnya memanfaatkan proses elektrokimia.

Namun, setiap jalur memiliki karakteristik, biaya, risiko, dan kebutuhan energi yang berbeda. Karena itu, tidak ada satu resep OAE yang otomatis cocok untuk seluruh lautan dunia.

Dari Geoengineering Global ke Solusi Lokal

Pada awalnya, OAE sering dibayangkan sebagai teknologi berskala sangat besar.

Dalam skenario semacam itu, peningkatan alkalinitas laut dapat menjadi bagian dari strategi penghilangan karbon dioksida dalam jumlah sangat besar.

Namun, tim penulis Nature Reviews Earth & Environment menilai pendekatan semacam itu terlalu menyederhanakan kenyataan.

Laut bukanlah satu wadah kimia yang seragam.

Setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda—mulai dari suhu, arus, kedalaman, sedimen, organisme laut, hingga kondisi kimia air.

Karena itu, para ilmuwan mengusulkan pendekatan yang lebih terdesentralisasi: banyak proyek kecil yang dirancang berdasarkan kondisi lokal, bukan satu program global dengan satu metode yang diterapkan di mana-mana.

Dalam pandangan tersebut, peningkatan skala dapat terjadi secara bertahap apabila masing-masing proyek terbukti aman bagi lingkungan, benar-benar menghasilkan penghilangan karbon bersih, dan memperoleh kepercayaan masyarakat.

Laut Bukan Sekadar Tangki Penyimpan Karbon

Salah satu kesalahan terbesar dalam membicarakan OAE adalah menganggap bahwa satu-satunya persoalan adalah apakah karbon dapat disimpan.

Padahal, laut merupakan ekosistem yang sangat kompleks.

Ketika manusia mengubah kimia air laut, perubahan tersebut tidak selalu berhenti pada target utama berupa alkalinitas.

Proses OAE dapat menimbulkan perubahan lain, termasuk perubahan sementara pada pH dan konsentrasi CO₂, keberadaan material tersuspensi, nutrien, serta unsur jejak tertentu.

Dampaknya dapat berbeda tergantung pada bahan yang digunakan dan lokasi pelepasannya.

Karena itu, menurut perspektif terbaru tersebut, penilaian lingkungan harus dilakukan berdasarkan jalur teknologi dan lokasi spesifik, bukan dengan menganggap semua metode OAE memiliki risiko yang sama.

Sedimen Dasar Laut Bisa Mengubah Hasilnya

Ada persoalan lain yang mungkin tidak terlihat dari permukaan.

Banyak kemungkinan penerapan OAE akan berlangsung di wilayah pesisir yang berinteraksi dengan sedimen dasar laut.

Di sana, mineral yang ditambahkan dapat mengalami pelarutan, membentuk mineral baru, atau berinteraksi dengan proses alami yang menghasilkan alkalinitas.

Interaksi tersebut dapat menentukan berapa banyak alkalinitas yang benar-benar bertahan dan berapa banyak karbon yang pada akhirnya benar-benar tersimpan.

Artinya, menambahkan bahan alkali tidak otomatis sama dengan menghilangkan sejumlah CO₂ yang sama dari atmosfer.

Efektivitasnya harus dihitung berdasarkan kondisi nyata di lokasi penerapan.

Masalah Terbesarnya: Bagaimana Membuktikan Karbon Benar-Benar Hilang?

Inilah salah satu tantangan teknis paling penting.

Jika sebuah proyek mengklaim telah menghilangkan CO₂ dari atmosfer, ilmuwan harus dapat menunjukkan bahwa karbon tersebut memang telah berpindah ke laut dan tersimpan secara cukup lama.

Masalahnya, laut secara alami selalu berubah.

Arus bergerak. Suhu berubah. CO₂ keluar dan masuk dari permukaan. Musim berganti. Produktivitas biologis berubah.

Sinyal yang ditimbulkan oleh sebuah proyek OAE dapat menjadi sangat kecil dibandingkan dengan variasi alami laut.

Karena itu, para penulis menyerukan penggunaan pengamatan langsung di lokasi, model beresolusi tinggi, serta sistem verifikasi karbon yang mampu membedakan efek proyek dari perubahan alami laut.

Tanpa sistem pengukuran yang kuat, angka penghilangan karbon hanya akan menjadi perkiraan.

Dan dalam konteks perubahan iklim, perkiraan yang terlalu optimistis dapat menjadi masalah besar.

Ada Penelitian yang Menunjukkan Risiko Eksperimen Bisa Terlalu Dibesar-besarkan

Menariknya, penelitian lain yang dipimpin Lennart Bach dan diterbitkan pada Agustus 2026 memberikan konteks penting.

Penelitian tersebut menggunakan perhitungan pengenceran serta model regional dan global untuk melihat seberapa besar perubahan alkalinitas yang secara realistis mungkin terjadi ketika OAE diterapkan di laut.

Para peneliti menemukan bahwa perubahan alkalinitas ekstrem lebih dari 1.000 mikromol per kilogram hanya akan terjadi dalam volume air yang sangat kecil dan dalam waktu sangat singkat pada kondisi tertentu.

Sebaliknya, perubahan sekitar 1–100 mikromol per kilogram diperkirakan jauh lebih umum dalam skenario penerapan nyata.

Temuan tersebut penting karena sebagian eksperimen laboratorium menggunakan perubahan alkalinitas yang jauh lebih besar daripada yang kemungkinan dialami sebagian besar organisme di laut dalam kondisi penerapan realistis.

Artinya, hasil eksperimen harus selalu dibaca berdasarkan konteks.

Risiko yang terlihat sangat besar dalam sebuah percobaan belum tentu menggambarkan kondisi yang akan terjadi di seluruh laut.

Namun, itu juga bukan alasan untuk mengabaikan risiko lain yang mungkin muncul dari bahan, lokasi, atau proses penerapan tertentu.

Bukan Teknologi “Menaburkan Batu ke Laut”

Gambaran sederhana tentang OAE sering kali terdengar seperti manusia cukup menghancurkan mineral alkali lalu menaburkannya ke laut.

Kenyataannya jauh lebih kompleks.

Setiap metode membutuhkan pertimbangan mengenai:

  • sumber bahan;
  • energi yang digunakan;
  • transportasi;
  • kecepatan pelarutan;
  • interaksi dengan sedimen;
  • perubahan kimia air;
  • dampak terhadap organisme;
  • dan jumlah karbon yang benar-benar tersimpan.

Bahkan proses menghasilkan dan mengangkut bahan alkali dapat menghasilkan emisi.

Karena itu, sebuah proyek tidak dapat disebut sebagai carbon removal hanya karena CO₂ berhasil diserap secara kimia oleh air laut.

Perhitungan harus mempertimbangkan seluruh jejak emisi dari proses tersebut.

Target akhirnya bukan sekadar menyerap CO₂, tetapi menghasilkan penghilangan karbon bersih.

Mengapa Pendekatan Lokal Bisa Lebih Masuk Akal?

Bayangkan dua wilayah pesisir.

Wilayah pertama memiliki sedimen tertentu, arus kuat, ekosistem tertentu, dan sumber bahan alkali yang tersedia tidak jauh dari lokasi.

Wilayah kedua memiliki kondisi laut yang berbeda, ekosistem sensitif, dan biaya transportasi yang jauh lebih tinggi.

Menggunakan metode OAE yang sama untuk kedua wilayah tersebut belum tentu menghasilkan hasil yang sama.

Itulah alasan pendekatan lokal menjadi penting.

Menurut para penulis, proyek OAE sebaiknya dirancang berdasarkan kondisi geokimia, ekologis, sosial, dan tata kelola setempat.

Dalam skenario tertentu, misalnya, limbah atau sumber daya lokal dapat menjadi bagian dari strategi peningkatan alkalinitas. Dalam skenario lain, pendekatan elektrokimia dapat lebih sesuai.

Dengan demikian, masa depan OAE mungkin bukan satu teknologi raksasa.

Melainkan portofolio banyak pendekatan kecil yang bekerja di tempat yang berbeda.

Teknologi Ini Belum Menjadi Jalan Pintas Mengatasi Perubahan Iklim

Di sinilah pentingnya membedakan antara potensi ilmiah dan solusi yang sudah siap digunakan secara luas.

OAE memiliki dasar kimia yang kuat dan berpotensi membantu mengurangi CO₂ atmosfer.

Tetapi para ilmuwan sendiri menekankan bahwa masih terdapat ketidakpastian besar.

Efektivitas penghilangan karbon harus diverifikasi.

Dampak lingkungan harus dipantau.

Sumber bahan dan kebutuhan energinya harus diperhitungkan.

Dan sistem tata kelolanya harus mampu menentukan siapa yang bertanggung jawab ketika sebuah proyek berlangsung di lingkungan laut yang melintasi batas wilayah.

Karena itu, OAE belum dapat diposisikan sebagai pengganti pengurangan emisi.

Mengurangi emisi dari bahan bakar fosil tetap merupakan bagian utama dari mitigasi perubahan iklim. Teknologi penghilangan karbon, termasuk OAE, lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari portofolio strategi iklim, bukan sebagai alasan untuk menunda pengurangan emisi.

Masa Depan Penghilangan Karbon Mungkin Tidak Datang dari Satu Teknologi

Perubahan iklim telah mendorong ilmuwan mencari cara baru untuk mengurangi jumlah CO₂ yang berada di atmosfer.

Sebagian pendekatan mencoba menangkap karbon langsung dari udara.

Sebagian mengandalkan hutan dan ekosistem.

Sebagian lainnya mencoba menggunakan proses kimia laut.

OAE berada di kelompok terakhir.

Yang menarik dari perkembangan terbaru bukan sekadar gagasan bahwa laut dapat menyimpan lebih banyak karbon.

Yang lebih penting adalah perubahan cara ilmuwan memandang teknologi tersebut.

Bukan lagi proyek geoengineering raksasa yang diterapkan secara seragam ke seluruh planet, tetapi serangkaian intervensi lokal yang harus dibuktikan efektivitas dan keamanannya satu per satu.

Laut memang memiliki kemampuan luar biasa untuk menyimpan karbon.

Tetapi kemampuan itu tidak berarti manusia dapat mengubah kimianya tanpa konsekuensi.

Jika suatu hari OAE benar-benar menjadi bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim, keberhasilannya mungkin tidak ditentukan oleh seberapa besar kita mampu mengubah laut.

Melainkan oleh seberapa hati-hati kita memahami laut sebelum mengubahnya.


Sumber Berita
  1. Bach, L. T., Atamanchuk, D., Britton, D. et al. (2026). “Rethinking ocean alkalinity enhancement.” Nature Reviews Earth & Environment, 7, 725–742. DOI: 10.1038/s43017-026-00828-5. Diterbitkan 6 Oktober 2026.
  2. Bach, L. T., Tyka, M. D., Wang, B. & Fennel, K. (2026). “Lethal by design? Resolving differences between experimental and real-world alkalinity perturbations in ocean alkalinity enhancement.” Journal of Geophysical Research: Oceans, 131, e2025JC023598. Diterbitkan 12 Agustus 2026.
  3. University of Tasmania / Institute for Marine and Antarctic Studies. “Shifting focus to enhance seawater’s natural alkalinity for CO₂ removal.” 6 Oktober 2026.
  4. IPCC. Climate Change 2023: Synthesis Report — sebagai rujukan konteks pengurangan emisi dan penghilangan karbon dalam mitigasi perubahan iklim.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Iklan

Terkait
Masa depan Tata Surya ditentukan oleh perubahan gravitasi Matahari.

Tata Surya Bisa Berakhir Lebih Cepat dari Dugaan: Kehilangan...

Science, ELrolumnews - Selama ini, Tata Surya dianggap sebagai sistem yang akan bertahan dalam keadaan relatif stabil...
Jejak nano- dan mikroplastik ditemukan pada jaringan predator laut di tiga samudra

Mikroplastik Ternyata Tersembunyi di Jaringan Tuna dan Mahi-Mahi: Jejak...

Science, ElrolumNews - Lautan dunia menyimpan jejak polusi yang jauh lebih sulit dilihat daripada sampah plastik yang...
James Webb mengungkap kelahiran bintang di nebula NGC 7129

James Webb Menangkap Tempat Bintang Dilahirkan: Nebula 3.300 Tahun...

Science, ElrolumNews - Di balik awan debu yang tampak gelap dan tenang, bintang-bintang sedang lahir.Sekitar 3.300 tahun...
Advertisement

Lainnya

Popular