Jakarta, ELrolumNews — Pasar keuangan Indonesia mengawali bulan September 2026 dengan sentimen positif. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa (1/9/2026) bergerak menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp17.715 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.722 per dolar AS . Penguatan ini dipengaruhi oleh koreksi dolar AS akibat kekhawatiran rencana buyback obligasi jangka panjang oleh pemerintah AS .
Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan rupiah diperkirakan akan bergerak datar dengan potensi menguat terbatas di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS .
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga memulai perdagangan dengan penguatan. IHSG dibuka naik 13,1 poin atau 0,20 persen ke level 6.538,12 . Dalam awal perdagangan, IHSG mencapai level tertinggi 6.560,15 . Penguatan terjadi di tengah aktivitas perdagangan yang mencatat volume sekitar 2,66 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp1,06 triliun . Sebanyak 336 saham menguat, 147 saham melemah, dan 224 saham stagnan .
Meski menguat, pergerakan IHSG masih dibayangi aksi jual investor asing yang tercatat melakukan net sell sekitar Rp710,56 miliar pada akhir Agustus .
Pelaku pasar saat ini tengah mencermati rilis data ekonomi domestik yang akan dirilis. Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data inflasi Indonesia pada hari ini, yang diperkirakan naik ke level 0,2 persen secara bulanan (month to month) dan 3,13 persen secara tahunan (year on year), berbalik dari deflasi 0,14 persen pada Juli .
Selain itu, neraca perdagangan Juli 2026 juga akan dirilis. Pasar memperkirakan neraca perdagangan akan kembali mencatat defisit sekitar 300 juta dolar AS akibat lonjakan impor, terutama dari harga minyak mentah yang tinggi yang diprediksi naik 24 persen .
Dari pasar global, eskalasi konflik AS-Iran menjadi perhatian utama. Pasukan AS menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz, yang menandai kembalinya pertempuran antara kedua negara . Serangan ini memicu kenaikan harga minyak lebih dari 2 persen .
Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk kembali menyerang Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, terutama Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia . Harga minyak kembali mendekati level US$90 per barel, berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global .
Sentimen tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun ke level 4,76 persen, tertinggi sejak Januari 2025 . Kenaikan yield dan harga minyak menjadi kombinasi yang kurang menguntungkan bagi aset berisiko, termasuk saham, karena dapat mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global .
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.450-6.570 . Secara bulanan, IHSG tercatat menguat 4,64 persen sepanjang Agustus 2026, meskipun secara tahun berjalan (Januari-Agustus 2026) masih terkoreksi 24,53 persen .
(*/fvs)




