Kuliner Nusantara, Elrolumnews – Banyak orang mengira sate Madura lahir di Madura. Faktanya, tidak sesederhana itu.
Pertanyaannya bukan hanya dari mana sate berasal, melainkan bagaimana sate akhirnya menjadi sangat identik dengan satu pulau.
Sate yang Datang dari Luar
Budayawan Sumenep, Ibnu Hajar, dalam wawancara dengan Liputan6.com pada 2017, menuturkan bahwa sate pertama kali masuk ke Madura pada awal abad ke-19, dibawa oleh pedagang jalanan dari Pulau Jawa. Pada awalnya, sate itu hanya berbumbu kecap dengan irisan bawang merah.
Warga Madura kemudian menambahkan tumbukan kacang goreng, irisan bawang putih goreng, dan jeruk nipis. Dari berbagai jenis, menurut Ibnu, yang paling diterima dan berkembang adalah sate ayam.
Pengaruh Pedagang Arab
Masih menurut Ibnu Hajar, kedatangan orang Arab ke Madura turut memperkaya variasinya. Mereka memperkenalkan bahwa sate tidak hanya berbahan ayam, tetapi juga daging kambing, dan belakangan juga daging sapi. Ia juga menyebut lidah orang Madura mengubah pelafalan “satai” menjadi “sate”.
Nama yang Menempel pada Penjualnya
Menurut penjelasan Good News from Indonesia, penyebutan “sate Madura” bukan karena sate itu pertama kali dibuat di Madura, melainkan karena sate tersebut dijual oleh orang Madura. Itulah sebabnya sate Madura mudah ditemukan di berbagai kota, jauh dari pulau asal para penjualnya.
Ciri yang Mudah Dikenali
Menurut kajian yang dimuat dalam laman Litbangda Kabupaten Bangkalan, sate Madura umumnya menggunakan ayam atau kambing dengan irisan daging yang lebih kecil dibanding sate lain, dan bumbu kacangnya digiling agak kasar dengan campuran bawang putih, gula merah, serta sedikit kecap manis. Good News from Indonesia juga mencatat bahwa dagingnya diolesi kecap sebelum dibakar, lalu disajikan dengan taburan bawang merah iris mentah, cabai rawit, dan irisan tomat. Penyajian bisa berbeda antara satu penjual dan penjual lain.
Dari gerobak pikulan yang dijajakan berkeliling hingga menjadi identitas kuliner yang dikenal lintas daerah, sate Madura menunjukkan bahwa sebuah nama kadang melekat bukan pada tempat lahirnya, melainkan pada orang-orang yang membawanya ke mana-mana.
(el)




