Kuliner Nusantara, Elrolumnews – Sayurnya direbus. Sambalnya dari kacang yang dihaluskan. Wadahnya selembar daun pisang yang dilipat menjadi pincuk.
Sederhana. Tetapi di balik kesederhanaan itu, pecel punya banyak versi cerita.
Dua Cerita tentang Asal Kata
Menurut ANTARA, kata “pecel” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “dilumat” atau “dihancurkan”, merujuk pada sambal kacang yang dihaluskan sebelum disiram ke sayur dan nasi. Sementara itu, Good News from Indonesia menyebut, berdasarkan Babad Tanah Jawi, hidangan ini mulanya berasal dari Yogyakarta, dan kata “pecel” berasal dari “dipecel” yang berarti diperas dan dibuang airnya. Kedua penjelasan ini berbeda, sehingga sebaiknya dibaca sebagai versi yang beredar, bukan satu kesimpulan tunggal.
Madiun dan Ponorogo
Meski pecel dikenal di banyak daerah, ANTARA mencatat bahwa Madiun dan Ponorogo sering disebut sebagai tempat asal mulanya. Di Madiun, nasi pecel biasa ditemani rempeyek kacang atau teri.
The Jakarta Post pada 2015 mencatat komposisi sambal pecel Madiun berupa kacang tanah, cabai, daun jeruk purut, bawang merah, bawang putih, asam, merica, dan garam, dengan pelengkap rempeyek kacang dan kerupuk puli yang di Madiun juga disebut kerupuk lempeng.
Satu Hidangan, Banyak Versi
Good News from Indonesia mencatat sejumlah varian pecel, antara lain pecel Madiun, pecel Ponorogo, pecel tumpang, dan pecel ndeso. Ada pula variasi pendamping yang berbeda-beda, seperti tempe bacem di Yogyakarta, atau mi yang disiram sambal pecel di sejumlah daerah di Jawa Tengah.
Dari Warung ke Sambal Kemasan
Laporan The Jakarta Post yang sama menyebut bahwa sebuah usaha rumahan di Madiun mulai fokus memproduksi sambal pecel kemasan pada 1971, dan produknya dicari konsumen dari Yogyakarta dan Solo lewat informasi dari mulut ke mulut.
Dari sayur rebus sederhana hingga sambal yang dibawa pulang sebagai oleh-oleh, pecel memperlihatkan bagaimana satu hidangan harian bisa berkembang menjadi identitas daerah dan usaha keluarga.
(el)




