Religi, ELrolumNews –
“Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang pernah kehilangan dan belajar bersyukur dalam keadaan sulit. Nama dan detail disamarkan untuk menjaga privasi, tetapi kebenaran Firman di dalamnya nyata dan hidup.”
“Kehilangan yang paling pahit dalam hidupku justru mengajarkaniku sesuatu yang tidak pernah kupelajari di masa-masa kelimpahan: arti syukur yang sejati — bukan karena keadaan berubah, tetapi karena Tuhan tetap baik.”
Saat Kelimpahan Menjadi Kehampaan
Tiga tahun lalu, saya kehilangan seorang sahabat.
Bukan sahabat biasa. Dia adalah orang yang saya anggap seperti saudara kandung. Kami tumbuh bersama di gereja yang sama, belajar di universitas yang sama, bahkan menikah di tahun yang sama. Kami berbagi mimpi, berbagi suka, berbagi duka. Dia adalah orang pertama yang saya telepon ketika ada kabar baik, dan orang pertama yang saya cari ketika ada kabar buruk.
Suatu pagi, ponsel saya berdering. Nama istrinya muncul di layar. Saya angkat dengan senyum, berpikir mungkin dia ingin mengundang kami makan malam akhir pekan ini.
Tapi di ujung telepon, istrinya menangis.
“Dia … dia sudah tidak ada,” istrinya terisak. “Kecelakaan tadi malam. Dia pergi.”
Saya tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Yang saya ingat, saya terjatuh di lantai dapur. Ponsel saya masih tergenggam, istrinya masih menangis di ujung telepon, tapi saya sudah tidak bisa mendengar apa-apa. Telinga saya mendenging. Dunia terasa berputar.
Pemakaman sahabat saya adalah hari terberat dalam hidup saya. Saya berdiri di samping peti matinya, menatap wajahnya yang tenang, dan tidak bisa menahan tangis. Seribu kenangan melintas di benak saya. Tawa kami saat masih mahasiswa. Perjalanan kami ke gunung. Doa-doa panjang kami di kebaktian malam.
Dan sekarang — semua itu hanya tinggal kenangan.
Iman yang Terguncang
Minggu-minggu setelah kepergian sahabat saya adalah minggu-minggu tergelap.
Saya marah. Saya tidak mengerti. Saya dan sahabat saya sama-sama mengasihi Tuhan. Kami sama-sama melayani di gereja. Kami sama-sama berdoa dan berpuasa. Mengapa Tuhan mengizinkan dia pergi? Mengapa bukan saya? Mengapa dia yang memiliki istri dan anak-anak kecil?
Saya berhenti bersyukur.
Saya tidak bisa mengucapkan kata “terima kasih” kepada Tuhan. Yang saya rasakan hanyalah kehilangan, kemarahan, dan ketidakmengertian. Setiap kali saya mencoba berdoa, yang keluar dari mulut saya adalah keluhan dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.
Suatu malam, istri saya duduk di samping saya.
“Kamu tidak bisa terus begini,” katanya pelan. “Aku juga kehilangan dia. Tapi aku tidak bisa kehilangan kamu juga.”
Saya menatapnya. Matanya lelah. Saya belum menyadari selama ini betapa berat juga baginya — bukan hanya kehilangan sahabat, tetapi juga kehilangan suami yang dulu ia kenal. Suami yang penuh sukacita, yang selalu bersyukur, yang selalu tersenyum.
“Aku mencoba,” kata saya. “Tapi aku tidak tahu caranya. Aku kehilangan sahabatku. Dan aku kehilangan imanku.”
Istri saya memegang tangan saya.
“Kamu tidak kehilangan iman,” katanya. “Kamu hanya sedang berduka. Dan itu boleh. Bahkan Daud berduka. Bahkan Yesus menangis.”
Saya diam. Dan untuk pertama kalinya, saya membuka Alkitab.
Bisikan dari Mazmur 34
Saya membuka Mazmur 34.
Bukan karena saya mencari ayat tertentu. Saya membukanya karena itu adalah Mazmur favorit sahabat saya. Dulu kami sering membacanya bersama di persekutuan.
Dan saya membaca:
“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” (Mazmur 34:2)
Saya berhenti.
“Pada segala waktu.” Termasuk waktu ini? Termasuk ketika saya kehilangan sahabat? Termasuk ketika hati saya hancur dan iman saya goyah?
Saya melanjutkan:
“Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!” (Mazmur 34:4)
Saya menutup Alkitab. Saya tidak bisa melanjutkan. Kata-kata itu terasa terlalu sulit.
Tapi malam itu, saya tidak bisa tidur. Kata-kata Daud terus berputar di kepala saya: “Pada segala waktu.” Bagaimana Daud bisa berkata begitu? Daud juga kehilangan banyak hal. Daud dikejar-kejar oleh musuhnya. Daud kehilangan anaknya. Daud menangis dan berduka. Tapi ia tetap memuji Tuhan. Mengapa?
Dan perlahan, saya mulai mengerti:
Daud memuji Tuhan bukan karena keadaannya baik. Daud memuji Tuhan karena Tuhan itu baik — apa pun keadaannya.
Pelajaran dari Ayub
Saya mulai membaca kitab Ayub.
Saya tahu kisah Ayub sejak kecil. Tapi ketika saya membacanya kembali di masa duka, kata-kata itu terasa berbeda.
Ayub kehilangan segalanya — anak-anak, harta, kesehatan. Dan di tengah kehilangan yang paling pahit, ia berkata:
“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke sana. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21)
Ayub tidak mengatakan bahwa kehilangan itu baik. Dia tidak mengatakan bahwa dia tidak sedih. Tapi dia mengatakan: “Terpujilah nama TUHAN.” Bahkan ketika segalanya diambil, Ayub tetap memuji.
Saya membaca lebih lanjut. Ketika istri Ayub menyuruhnya mengutuk Tuhan, Ayub menjawab:
“Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang jahat?” (Ayub 2:10)
Saya diam.
Selama ini, saya hanya mau bersyukur ketika Tuhan memberi. Tapi ketika Tuhan mengambil, saya marah. Saya hanya mau memuji ketika keadaan baik. Tapi ketika keadaan buruk, saya diam.
Ayub mengajarkan saya: syukur sejati tidak bergantung pada keadaan. Syukur sejati adalah sikap hati yang percaya bahwa Tuhan tetap baik — bahkan ketika kita tidak mengerti.
Menemukan Syukur di Tengah Duka
Perlahan, saya mulai belajar bersyukur kembali. Bukan karena luka saya hilang — luka itu masih ada, dan mungkin akan selalu ada. Tapi karena saya mulai melihat hal-hal yang masih saya miliki.
Saya masih punya istri yang setia. Selama berbulan-bulan, ia tetap di sisi saya, meskipun saya sulit untuk diajak bicara. Saya masih punya anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Saya masih punya keluarga yang mendukung. Saya masih punya iman — meskipun goyah, tetapi masih ada.
Dan yang paling penting: saya masih punya Tuhan yang tidak pernah pergi.
Saya teringat pada perkataan Daud di bagian lain:
“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” (Mazmur 34:19)
Di masa duka, saya merasakan kehadiran Tuhan lebih nyata daripada di masa-masa kelimpahan. Di saat saya paling lemah, saya merasakan tangan-Nya paling kuat. Di saat saya paling patah hati, saya merasakan pelukan-Nya paling hangat.
Saya mulai bersyukur — bukan untuk kehilangan saya, tetapi untuk kehadiran Tuhan di tengah kehilangan itu.
Syukur yang Lahir dari Duka
Sekarang, saya bisa bersyukur lagi.
Bukan berarti saya sudah melupakan sahabat saya. Saya masih merindukannya. Saya masih menangis ketika mengingatnya. Tapi di tengah duka itu, saya menemukan syukur yang lebih dalam — syukur yang tidak tergantung pada keadaan, tetapi pada kebaikan Tuhan yang tetap.
Saya bersyukur untuk setiap kenangan yang saya miliki bersama sahabat saya. Saya bersyukur untuk waktu yang Tuhan berikan kepada kami. Saya bersyukur bahwa suatu hari nanti, saya akan bertemu dengannya lagi — di tempat yang tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi perpisahan, tidak ada lagi kehilangan.
Dan saya bersyukur bahwa di tengah duka ini, Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Dia tetap baik. Dia tetap setia. Dia tetap bersama.
“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.”
Saya akhirnya mengerti apa yang Daud maksudkan.
Bukan karena selalu mudah. Bukan karena selalu terasa. Tapi karena Tuhan layak dipuji — pada segala waktu.
Saya tidak tahu apa yang Anda hadapi hari ini.
Mungkin Anda kehilangan seseorang yang Anda kasihi. Mungkin Anda kehilangan pekerjaan, kesehatan, atau mimpi yang selama ini Anda genggam. Mungkin Anda sedang bertanya-tanya: “Bagaimana mungkin aku bersyukur di saat seperti ini?”
Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu untuk Anda. Tapi saya bisa berbagi apa yang saya pelajari:
Syukur tidak lahir dari keadaan yang baik. Syukur lahir dari hati yang percaya bahwa Tuhan tetap baik — meskipun keadaannya tidak baik.
Anda tidak perlu berpura-pura bahagia. Anda tidak perlu menyembunyikan duka Anda. Tapi di tengah duka itu, Anda bisa berbisik kepada Tuhan:
“Tuhan, aku tidak mengerti. Tapi aku percaya Engkau baik. Dan aku bersyukur — bukan karena keadaan ini, tetapi karena Engkau tetap bersamaku.”
Itulah syukur sejati. Syukur yang lahir dari duka. Syukur yang tidak tergoyahkan oleh apa pun.
“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” — Mazmur 34:2
KESIMPULAN
Tiga Kebenaran tentang Syukur dari Firman Tuhan
Syukur bukanlah perasaan yang muncul ketika keadaan baik. Syukur adalah keputusan — keputusan untuk percaya bahwa Tuhan tetap baik, apa pun keadaannya.
1. Syukur Adalah Keputusan Iman, Bukan Perasaan
Daud berkata: “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu.” Kata “hendak” menunjukkan keputusan — bukan perasaan. Daud memutuskan untuk memuji, meskipun ia mungkin tidak merasa seperti itu.
“Karena itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15)
Syukur adalah korban — persembahan yang kita berikan kepada Tuhan, apa pun yang kita rasakan.
2. Syukur Tidak Bergantung pada Keadaan
Ayub kehilangan segalanya, tetapi ia tetap berkata: “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub tidak bersyukur untuk kehilangan itu. Dia bersyukur karena Tuhan tetap layak dipuji.
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)
Bukan untuk segala hal, tetapi dalam segala hal — di tengah duka, di tengah kehilangan, di tengah penderitaan.
3. Tuhan Dekat dengan Orang yang Patah Hati
Daud menulis: “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.” Tuhan tidak jauh dari duka kita. Dia dekat. Dia hadir. Dan di dalam kehadiran-Nya, kita menemukan kekuatan untuk bersyukur.
“Berbahagialah orang yang berkabung, karena mereka akan dihibur.” (Matius 5:4)
Syukur tidak berarti kita berpura-pura bahwa duka tidak ada. Syukur berarti kita percaya bahwa penghiburan Tuhan lebih besar dari duka kita.
Untuk Renungan:
Apa yang sedang kau hadapi hari ini? Kehilangan apa yang membuatmu sulit bersyukur?
Apakah kau percaya bahwa Tuhan tetap baik — bahkan ketika kau tidak mengerti?
Bacalah Mazmur 34 perlahan-lahan. Renungkan setiap kata.
Cobalah untuk mengucapkan syukur — bukan untuk keadaanmu, tetapi untuk Tuhan yang tetap setia di tengah keadaanmu.
Kabar baiknya: Tuhan dekat dengan orang yang patah hati. Dan di dalam kehadiran-Nya, kita belajar bersyukur — bukan karena keadaan berubah, tetapi karena Dia tetap baik.
(el)




