Religion | ElrolumNews –
Ada penderitaan yang dapat dijelaskan. Ada pula penderitaan yang datang tanpa penjelasan.
Kitab Ayub berbicara tentang jenis penderitaan yang kedua.
Di tanah yang disebut Us, hiduplah seorang pria bernama Ayub. Ia memiliki keluarga besar, harta yang melimpah, dan kehidupan yang tampaknya berjalan baik. Namun di balik semua itu, Kitab Ayub memperkenalkannya bukan terutama karena kekayaannya, melainkan karena karakternya:
“Orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”
— Ayub 1:1
Kemudian, hampir seluruh kehidupannya berubah.
Dalam waktu singkat, Ayub kehilangan harta, anak-anak, kesehatan, dan ketenangan hidupnya. Ia mempertanyakan Tuhan, berdebat dengan sahabat-sahabatnya, bahkan berjuang memahami mengapa semua itu terjadi.
Namun justru di tengah pertanyaan yang tidak terjawab itulah, kisah Ayub menjadi salah satu gambaran paling kuat tentang iman, penderitaan, dan keterbatasan manusia.
Seorang Pria Saleh di Tanah Us
Kitab Ayub menyebut tanah tempat tinggalnya sebagai Us. Lokasi geografis Us tidak dapat dipastikan dengan tepat.
Ayub digambarkan sebagai seorang yang sangat makmur. Ia memiliki tujuh ribu kambing domba, tiga ribu unta, lima ratus pasang lembu, dan lima ratus keledai. Ia juga memiliki tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
Namun penulis kitab tidak memulai kisah ini dengan daftar kekayaannya.
Ia memulai dengan karakternya.
Ayub adalah orang yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan.
Kitab Ayub sendiri tidak memberikan tanggal historis yang pasti mengenai kapan Ayub hidup. Sebagian pembaca melihat kisahnya memiliki nuansa zaman para leluhur, tetapi penanggalan tersebut tidak dapat dipastikan hanya dari informasi yang diberikan kitab.
Yang jelas, sejak awal pembaca diperlihatkan satu hal penting:
Ayub tidak digambarkan sebagai orang yang menderita karena kejahatan yang dilakukannya.
Dan justru di situlah persoalan besar kisah ini dimulai.
Di Balik Penderitaan yang Tidak Diketahui Ayub
Pembaca kitab mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Ayub.
Di awal kisah, terjadi sebuah pertemuan di hadapan Tuhan. Ayub sendiri tidak mengetahui percakapan tersebut.
Tuhan menunjuk kepada Ayub sebagai seorang yang saleh dan jujur. Namun Iblis mempertanyakan ketulusan iman Ayub.
Inti tuduhannya sederhana:
Apakah Ayub mengasihi Tuhan karena Tuhan telah memberkatinya?
Jika semua berkat itu diambil, apakah Ayub masih akan tetap setia?
Tuhan kemudian mengizinkan Ayub mengalami ujian, tetapi dengan batas-batas yang ditentukan-Nya.
Ayub tidak mengetahui semua itu.
Ia hanya mengetahui bahwa hidupnya tiba-tiba mulai runtuh.
Dalam Satu Hari, Semuanya Berubah
Kabar buruk datang satu demi satu.
Lembu dan keledainya dirampas.
Kambing domba dan para pelayannya binasa.
Unta-untanya dirampas.
Kemudian datanglah berita yang paling menghancurkan: rumah tempat anak-anaknya berkumpul roboh, dan seluruh anaknya meninggal.
Sepuluh anak.
Dalam satu rangkaian bencana.
Ayub merobek jubahnya, mencukur kepalanya, lalu sujud menyembah.
Ia berkata:
“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke sana. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”
— Ayub 1:21
Kitab itu kemudian mencatat bahwa dalam semua peristiwa tersebut, Ayub tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
Namun kisahnya belum selesai.
Ujian yang Kedua: Ketika Penderitaan Menyentuh Tubuh
Iblis kembali.
Kali ini penderitaan Ayub tidak lagi berhenti pada harta dan keluarganya. Tubuhnya sendiri diserang.
Ayub menderita barah yang sangat menyakitkan dari telapak kaki sampai kepala. Ia duduk dalam abu dan menggunakan pecahan tembikar untuk menggaruk tubuhnya.
Istrinya berkata:
“Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!”
— Ayub 2:9
Ayub menjawab:
“Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”
— Ayub 2:10
Tetapi penting untuk melihat bahwa iman Ayub bukan berarti ia tidak merasa hancur.
Justru setelah itu, Ayub mulai meratap.
Ia mempertanyakan hari kelahirannya.
Ia mempertanyakan keadilan.
Ia bertanya mengapa Tuhan tampak diam.
Dan pertanyaan-pertanyaan tersebut memenuhi sebagian besar kitab.
Tiga Sahabat yang Datang untuk Menghibur
Elifas, Bildad, dan Zofar datang setelah mendengar penderitaan Ayub.
Mereka duduk bersamanya selama tujuh hari tujuh malam tanpa berbicara.
Pada awalnya, kehadiran mereka justru menjadi bentuk penghiburan yang paling tepat.
Tidak ada ceramah.
Tidak ada nasihat.
Tidak ada penjelasan.
Mereka hanya duduk bersama seorang sahabat yang sedang hancur.
Tetapi kemudian mereka mulai berbicara.
Dan percakapan itu berubah menjadi perdebatan panjang tentang penderitaan, dosa, keadilan, dan Tuhan.
Ketiga sahabat Ayub berulang kali mengarahkan pembicaraan kepada pemikiran bahwa penderitaan Ayub pasti berkaitan dengan kesalahannya.
Elifas bertanya:
“Ingatlah, siapa binasa dengan tidak bersalah?”
— Ayub 4:7
Bildad mengatakan bahwa jika Ayub benar-benar bersih dan jujur, Tuhan tentu akan membelanya.
Zofar bahkan menyiratkan bahwa penderitaan Ayub sebenarnya masih lebih ringan daripada kesalahannya.
Masalahnya adalah:
mereka berusaha memberikan jawaban sederhana kepada penderitaan yang tidak sederhana.
Mereka memiliki teori tentang Tuhan.
Tetapi mereka tidak mengetahui seluruh cerita.
Ayub Tidak Berpura-pura Bahwa Semuanya Baik
Di sinilah salah satu kekuatan terbesar Kitab Ayub terlihat.
Ayub tidak menyembunyikan pergumulannya.
Ia menangis.
Ia mengeluh.
Ia bertanya.
Ia bahkan menuntut kesempatan untuk menyampaikan perkaranya di hadapan Tuhan.
“Ah, sekiranya aku tahu mendapatkan Dia, dan boleh datang menghadap takhta-Nya!”
— Ayub 23:3
Ayub tidak memahami mengapa ia menderita.
Tetapi pergumulannya tidak membuatnya berhenti berbicara kepada Tuhan.
Ia membawa kemarahannya, kebingungannya, kesedihannya, dan pertanyaannya ke hadapan Allah.
Itulah sebabnya kisah Ayub tidak menggambarkan iman sebagai keadaan tanpa pertanyaan.
Iman Ayub justru terlihat ketika ia tetap membawa pertanyaannya kepada Tuhan.
Elihu dan Perspektif yang Berbeda
Di tengah perdebatan tersebut muncul seorang pemuda bernama Elihu.
Ia lebih muda daripada Elifas, Bildad, dan Zofar. Setelah mendengarkan percakapan mereka, Elihu akhirnya berbicara.
Ia menawarkan perspektif berbeda mengenai penderitaan dan kebesaran Tuhan.
Menurut Elihu, manusia tidak selalu mampu memahami cara Tuhan bekerja. Penderitaan juga tidak harus dipahami hanya sebagai hukuman sederhana atas kesalahan seseorang.
Namun Elihu pun tidak memberikan seluruh jawaban yang dicari Ayub.
Dan setelah semua perdebatan itu, datanglah bagian yang paling menentukan.
Ketika Tuhan Berbicara dari Dalam Badai
Tuhan akhirnya berbicara kepada Ayub.
Bukan dengan memberikan penjelasan tentang percakapan di balik layar yang pembaca ketahui dari pasal-pasal awal.
Bukan dengan menjelaskan secara rinci mengapa Ayub kehilangan anak-anaknya.
Bukan pula dengan memberikan jawaban sederhana atas seluruh pertanyaan Ayub.
Tuhan berbicara dari dalam badai.
“Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!”
— Ayub 38:4
Kemudian datang pertanyaan demi pertanyaan.
Tentang laut.
Tentang fajar.
Tentang hujan.
Tentang bintang-bintang.
Tentang binatang-binatang liar.
Tentang ciptaan yang jauh melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikan dan memahaminya.
Tuhan tidak menjelaskan seluruh alasan di balik penderitaan Ayub.
Sebaliknya, Tuhan memperlihatkan betapa terbatasnya pengetahuan manusia dibandingkan dengan hikmat Sang Pencipta.
Ayub menginginkan jawaban tentang mengapa.
Tuhan membawa perhatiannya kepada siapa.
“Sekarang Mataku Sendiri Memandang Engkau”
Setelah mendengar Tuhan, sikap Ayub berubah.
Ia berkata:
“Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan.”
— Ayub 40:4
Kemudian ia berkata:
“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
— Ayub 42:5
Ayub akhirnya tidak memperoleh penjelasan lengkap mengenai penyebab penderitaannya.
Tetapi ia mengalami sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar memperoleh informasi.
Ia berhadapan dengan Tuhan.
Tuhan Menegur Tiga Sahabat Ayub
Bagian akhir kitab juga penting karena menunjukkan bahwa teori ketiga sahabat Ayub tidak dapat dijadikan prinsip sederhana:
“Kalau seseorang menderita, berarti ia pasti berdosa.”
Setelah berbicara kepada Ayub, Tuhan berkata kepada Elifas:
“Aku murka terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.”
— Ayub 42:7
Tuhan kemudian meminta mereka mempersembahkan korban, dan Ayub diminta mendoakan mereka.
Ini menjadi salah satu koreksi penting dalam keseluruhan kitab.
Penderitaan tidak dapat selalu dijelaskan dengan rumus sederhana:
dosa → hukuman.
Kitab Ayub justru memperlihatkan betapa terbatasnya manusia ketika mencoba menjelaskan penderitaan orang lain.
Pemulihan Ayub
Setelah itu, Kitab Ayub mencatat bahwa Tuhan memulihkan keadaan Ayub.
“Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.”
— Ayub 42:10
Jumlah ternaknya kembali bahkan dalam jumlah dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Ayub juga kembali memiliki anak-anak dan hidup sampai usia lanjut.
Namun bagian ini perlu dibaca dengan hati-hati.
Pemulihan di akhir kitab bukan berarti setiap orang yang mengalami penderitaan pasti akan menerima kembali segala sesuatu yang hilang dalam jumlah yang sama atau lebih besar.
Kisah Ayub bukan formula untuk menjanjikan hasil tertentu setelah seseorang melewati masa sulit.
Yang diberikan kitab adalah kisah seorang manusia yang melewati penderitaan yang sangat dalam dan akhirnya kembali melihat hidupnya dalam terang hubungan dengan Tuhan.
Tiga Pelajaran dari Kisah Ayub
1. Penderitaan Tidak Selalu Berarti Hukuman atas Dosa
Ini adalah salah satu pesan terpenting Kitab Ayub.
Ketiga sahabat Ayub mencoba menjelaskan penderitaannya melalui teori bahwa pasti ada kesalahan besar di baliknya.
Tetapi kitab sendiri menolak cara berpikir yang terlalu sederhana itu.
Ayub memang memiliki kelemahan dan pergumulan. Namun penderitaannya tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa ia menerima hukuman karena suatu dosa tertentu.
Karena itu, ketika melihat seseorang sedang menderita, respons pertama kita seharusnya bukan mencari-cari kesalahannya.
Kadang-kadang orang yang terluka lebih membutuhkan seseorang yang mau duduk bersamanya daripada seseorang yang merasa memiliki semua jawabannya.
2. Iman Tidak Berarti Memiliki Semua Jawaban
Ayub bertanya.
Banyak pertanyaannya tidak dijawab secara langsung.
Namun ia tetap membawa semuanya kepada Tuhan.
Itu membuat kisah Ayub sangat relevan bagi siapa pun yang pernah berdoa:
“Tuhan, mengapa ini terjadi?”
Ada kalanya jawaban tidak datang seperti yang kita harapkan.
Iman bukan berarti kita tidak pernah bingung.
Iman juga bukan berarti kita harus berpura-pura kuat setiap saat.
Kisah Ayub menunjukkan bahwa pergumulan dapat menjadi bagian dari perjalanan iman.
3. Mengenal Tuhan Lebih Dalam daripada Sekadar Memahami Keadaan
Pada awal kisah, Ayub mengenal Tuhan berdasarkan apa yang ia pahami tentang-Nya.
Di akhir kisah, ia berkata:
“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
— Ayub 42:5
Ayub tidak memperoleh penjelasan untuk setiap penderitaannya.
Tetapi pandangannya terhadap Tuhan mengalami perubahan.
Dan mungkin di situlah salah satu inti terdalam kitab ini:
Tidak semua pertanyaan hidup mendapatkan jawaban yang lengkap, tetapi pertanyaan itu tetap dapat dibawa kepada Tuhan.
Untuk Renungan
Jika hari ini Anda sedang berada dalam masa yang sulit, kisah Ayub tidak menawarkan jawaban instan.
Ia tidak berkata bahwa semua penderitaan akan segera berakhir.
Ia juga tidak mengajarkan bahwa setiap masalah pasti mempunyai alasan yang dapat kita pahami sekarang.
Tetapi kisah Ayub mengingatkan bahwa kita boleh datang kepada Tuhan dengan kejujuran.
Kita boleh menangis.
Kita boleh bertanya.
Kita boleh mengakui bahwa kita tidak mengerti.
Dan kita tetap dapat berdoa.
“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN.”
— Ayub 1:21
Untuk pembaca Kristen, kisah Ayub juga dapat direnungkan bersama nasihat Yakobus:
“Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun.”
— Yakobus 5:11
Pertanyaan untuk direnungkan
- Apakah saya sedang mengalami sesuatu yang tidak saya mengerti?
- Ketika Tuhan tampak diam, apakah saya tetap mau datang kepada-Nya?
- Apakah saya pernah terlalu cepat menilai penderitaan orang lain?
- Apakah saya lebih membutuhkan sebuah jawaban, atau sedang belajar mempercayai Tuhan di tengah ketidakpastian?
- Apa yang dapat saya pelajari dari cara Ayub membawa pergumulannya kepada Tuhan?
Kesimpulan: Iman yang Tetap Bertahan Ketika Jawaban Tidak Datang
Kisah Ayub bukan terutama kisah tentang seorang pria yang kehilangan banyak hal lalu menjadi kaya kembali.
Ini adalah kisah tentang seorang manusia yang berhadapan dengan pertanyaan terbesar kehidupan:
Mengapa orang yang berusaha hidup benar tetap dapat mengalami penderitaan?
Kitab Ayub tidak memberikan formula sederhana.
Ia tidak mengatakan bahwa semua penderitaan adalah hukuman.
Ia juga tidak mengatakan bahwa manusia akan selalu memahami alasan di balik apa yang terjadi.
Sebaliknya, kitab ini membawa pembaca dari pertanyaan tentang penderitaan menuju perjumpaan dengan kebesaran Tuhan.
Ayub kehilangan banyak hal.
Ia menangis.
Ia mempertanyakan.
Ia bergumul.
Namun ia terus membawa pergumulannya kepada Tuhan.
Dan pada akhirnya ia berkata:
“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
— Ayub 42:5
Mungkin tidak semua pertanyaan kita akan mendapatkan jawaban.
Tetapi kisah Ayub mengingatkan kita bahwa ketiadaan jawaban bukan berarti ketiadaan Tuhan.
Ketika kita tidak memahami jalan yang sedang kita lalui, kita masih dapat memilih untuk datang kepada-Nya.
Dan terkadang, iman bukan tentang mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir.
Iman adalah tetap berjalan bersama Tuhan ketika kita belum mengetahui akhirnya.




