Renungan 2 Tawarikh 19:4–11: Keadilan dan Takut Akan Tuhan

Ketika Allah Menjadi Dasar Keadilan: Belajar dari 2 Tawarikh 19:4–11

Renungan Kristen, ElrolumNews – Ada sesuatu yang menarik setelah Yosafat kembali dari pertempuran.

Ia baru saja menerima teguran dari Yehu bin Hanani karena bersekutu dengan Ahab, raja Israel yang jahat. Yehu berkata kepadanya:

“Sepatutnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan orang-orang yang membenci TUHAN?”

Teguran itu serius. Namun Yosafat tidak berhenti pada penyesalan. Ia melakukan pembaruan.

Dalam 2 Tawarikh 19:4–11, kita melihat Yosafat berjalan dari satu kota ke kota lain dan membawa rakyat kembali kepada TUHAN. Ia kemudian mengangkat hakim-hakim dan memberikan kepada mereka tanggung jawab yang sangat besar.

Mereka harus mengadili bukan sekadar menurut kepentingan manusia, melainkan di hadapan Allah.

Di sinilah kita menemukan sebuah prinsip penting: iman kepada Allah tidak hanya menentukan bagaimana seseorang beribadah, tetapi juga bagaimana ia menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.

Dari pertobatan menuju pembaruan kehidupan

Ayat 4 mengatakan bahwa Yosafat tinggal di Yerusalem, tetapi kemudian ia keluar lagi di tengah-tengah rakyat, dari Bersyeba sampai pegunungan Efraim, dan membawa mereka kembali kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.

Urutannya penting.

Yosafat telah ditegur karena keputusan politiknya yang salah. Namun responsnya bukan sekadar merasa bersalah. Ia kemudian melakukan sesuatu yang konkret bagi kehidupan bangsa.

Ia membawa rakyat kembali kepada Tuhan.

Ini memperlihatkan sesuatu yang sering hilang dalam pemahaman kita mengenai pertobatan.

Pertobatan yang sejati tidak berhenti pada perasaan bersalah. Pertobatan membawa manusia kembali kepada Allah dan kemudian menghasilkan perubahan nyata dalam cara ia menjalani panggilannya.

Dalam perspektif Reformed, kita tidak boleh membalik urutan ini. Perubahan hidup bukanlah alat untuk memperoleh kasih karunia Allah. Sebaliknya, perubahan hidup merupakan buah dari pekerjaan anugerah Allah.

Manusia diselamatkan bukan karena ia telah memperbaiki dirinya terlebih dahulu. Tetapi ketika Allah bekerja dalam diri manusia, anugerah itu tidak membuatnya semakin nyaman dalam dosa.

Anugerah mengubah arah hidup.

Karena itu, pembaruan rohani tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak seseorang berbicara tentang Tuhan. Pertanyaannya juga adalah: apakah kehidupan yang telah disentuh oleh firman Tuhan mulai menghasilkan kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kesetiaan?

Hakim-hakim harus mengingat siapa yang sebenarnya mereka layani

Setelah membawa rakyat kembali kepada Tuhan, Yosafat mengangkat hakim-hakim di negeri itu.

Kemudian ia memberikan instruksi:

“Pertimbangkanlah apa yang kamu lakukan, karena bukanlah untuk manusia kamu menghakimi, melainkan untuk TUHAN, dan Ia menyertai kamu dalam menjatuhkan keputusan.”

Kalimat ini merupakan pusat teologis dari bagian ini.

Para hakim memang menjalankan tugas di hadapan manusia. Mereka berhadapan dengan perkara-perkara nyata, konflik nyata, dan orang-orang nyata.

Namun otoritas mereka pada akhirnya tidak berasal dari manusia.

Mereka bertanggung jawab kepada Allah.

Ketika seseorang memahami bahwa pekerjaannya dilakukan di hadapan Allah, standar integritasnya tidak lagi ditentukan oleh siapa yang sedang melihatnya.

Seorang hakim dapat saja bersembunyi dari manusia. Ia mungkin dapat menyembunyikan keputusan yang tidak adil. Ia mungkin dapat memperoleh keuntungan dari sebuah perkara.

Tetapi ia tidak dapat bersembunyi dari Allah.

Inilah yang membuat konsep “takut akan Tuhan” menjadi sangat penting.

Takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat manusia menjauh dari Allah. Dalam pengertian Alkitab, takut akan Tuhan mencakup penghormatan, kekaguman, ketundukan, dan kesadaran bahwa Allah adalah Hakim yang sempurna.

Karena itu Yosafat berkata:

“Dan sekarang biarlah takut akan TUHAN ada pada kamu. Bertindaklah dengan saksama, karena pada TUHAN, Allah kita, tidak ada kecurangan, tidak ada kezaliman dan tidak ada suap.”

Perhatikan dasar moralnya.

Bukan sekadar:

“Jangan menerima suap.”

Tetapi:

“Allah kita tidak melakukan ketidakadilan.”

Dengan kata lain, standar keadilan manusia harus berakar pada karakter Allah.

Allah tidak dapat disuap

Salah satu pernyataan yang sangat kuat dalam teks ini adalah:

“pada TUHAN, Allah kita, tidak ada kecurangan, tidak ada kezaliman dan tidak ada suap.”

Allah tidak dapat dibeli.

Allah tidak dapat dipengaruhi oleh status sosial.

Allah tidak mengubah kebenaran karena seseorang kaya, berkuasa, terkenal, atau mempunyai hubungan dengan orang tertentu.

Ini berbeda dengan kecenderungan hati manusia.

Manusia mudah sekali dipengaruhi oleh keuntungan pribadi.

Kita dapat tergoda untuk bersikap lunak kepada orang yang kita sukai dan keras kepada orang yang tidak kita sukai.

Kita dapat lebih mudah memaafkan kesalahan orang yang menguntungkan kita.

Kita dapat mengubah prinsip ketika kepentingan pribadi mulai terancam.

Karena itu, masalah terbesar dalam keadilan manusia bukan hanya kurangnya peraturan.

Masalahnya adalah hati manusia.

Alkitab berkali-kali menunjukkan bahwa manusia berdosa cenderung membengkokkan sesuatu demi dirinya sendiri.

Teologi Reformed mengambil persoalan ini dengan serius.

Kerusakan manusia akibat dosa tidak berarti setiap manusia selalu melakukan kejahatan dalam tingkat yang sama. Tetapi dosa telah merusak seluruh keberadaan manusia, termasuk kehendak, pikiran, keinginan, dan pertimbangannya.

Karena itu, manusia membutuhkan hukum, pemerintahan, struktur sosial, dan mekanisme pertanggungjawaban.

Namun bahkan semua struktur tersebut tidak dapat mengubah hati manusia.

Keadilan yang sejati membutuhkan lebih daripada sistem yang baik; manusia juga membutuhkan hati yang ditundukkan kepada Allah.

Jabatan bukan tempat mencari keuntungan

Dalam dunia kuno maupun dunia modern, kekuasaan selalu memiliki godaan yang sama: menggunakan jabatan untuk keuntungan pribadi.

Karena itu larangan terhadap suap dalam bagian ini bukan perkara kecil.

Suap merusak keadilan karena keputusan tidak lagi didasarkan pada kebenaran, melainkan pada keuntungan.

Orang yang memiliki uang mendapatkan perlakuan berbeda.

Orang yang memiliki hubungan mendapatkan perlakuan berbeda.

Orang yang memiliki kekuasaan mendapatkan perlakuan berbeda.

Dan akhirnya hukum kehilangan maknanya.

Prinsip ini juga berlaku jauh melampaui pengadilan.

Setiap orang yang menerima tanggung jawab—di pemerintahan, gereja, perusahaan, organisasi, keluarga, maupun pelayanan—menghadapi godaan yang sama.

Jabatan dapat dipandang sebagai kesempatan untuk melayani atau kesempatan untuk memperoleh keuntungan.

2 Tawarikh 19 mengarahkan kita kepada pilihan yang pertama.

Jabatan dalam perspektif Alkitab bukan pertama-tama hak untuk dilayani, melainkan tanggung jawab untuk melayani.

Ini merupakan prinsip yang sangat penting bagi kehidupan gereja.

Pemimpin gereja tidak dipanggil untuk menikmati kehormatan jabatan. Ia dipanggil untuk menjaga kawanan domba Kristus.

Karena itu karakter lebih penting daripada popularitas, integritas lebih penting daripada citra, dan kesetiaan lebih penting daripada kemampuan memengaruhi orang.

Ketika keputusan sulit harus dibuat

Ayat 8–10 memperlihatkan bahwa Yosafat juga mengatur sistem pengadilan di Yerusalem.

Ia menempatkan orang-orang Lewi, imam-imam, dan kepala-kepala kaum keluarga untuk menangani perkara-perkara hukum.

Tugas mereka tidak sederhana.

Mereka harus menyelesaikan perselisihan dan memberikan peringatan agar umat tidak berdosa terhadap TUHAN.

Ini menunjukkan bahwa keadilan dalam kehidupan umat Allah bukan sekadar persoalan administratif.

Ada dimensi rohani di dalamnya.

Keputusan yang tidak adil bukan hanya merugikan manusia. Itu juga merupakan pelanggaran terhadap Allah.

Sebab manusia diciptakan menurut gambar Allah.

Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil, masalahnya bukan hanya hubungan antarmanusia. Ada persoalan moral di hadapan Pencipta.

Karena itu, Alkitab tidak pernah memisahkan kehidupan rohani secara mutlak dari kehidupan sehari-hari.

Kita tidak dapat berkata:

“Saya saleh dalam ibadah, tetapi urusan pekerjaan adalah urusan lain.”

Tidak.

Allah yang kita sembah pada hari Minggu adalah Allah yang sama yang melihat cara kita memperlakukan bawahan, pelanggan, keluarga, rekan kerja, orang miskin, orang yang tidak memiliki pengaruh, dan orang yang tidak dapat memberikan keuntungan kepada kita.

Kesalehan yang sejati selalu memiliki konsekuensi terhadap cara kita memperlakukan manusia.

Amariah dan Zebadiah: pembagian tanggung jawab

Bagian terakhir teks ini menarik karena menyebut dua tokoh secara khusus.

Amariah, imam besar, bertanggung jawab dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan TUHAN.

Zebadiah, seorang pemimpin dari suku Yehuda, bertanggung jawab dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan raja.

Ada pembagian tanggung jawab.

Ini tidak berarti Alkitab sedang mengajarkan bahwa kehidupan rohani dan kehidupan publik sama sekali tidak berhubungan.

Sebaliknya, semuanya berada di bawah pemerintahan Allah.

Namun teks ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tanggung jawab dan bidang pelayanan.

Prinsip tersebut penting dalam memahami panggilan manusia.

Allah memberikan berbagai macam panggilan kepada manusia.

Ada yang melayani gereja secara khusus. Ada yang melayani masyarakat melalui pemerintahan. Ada yang bekerja sebagai guru, dokter, pengusaha, petani, pekerja, hakim, pegawai, dan berbagai profesi lainnya.

Semua pekerjaan yang sah dapat menjadi ruang untuk menjalankan tanggung jawab di hadapan Allah.

Dalam tradisi Reformed, konsep panggilan atau vocation memiliki tempat yang penting.

Kekudusan tidak hanya ditemukan di mimbar gereja.

Seorang Kristen juga dipanggil untuk memuliakan Allah melalui kesetiaan dalam pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.

Seorang guru dapat memuliakan Allah dengan mengajar secara jujur.

Seorang pengusaha dapat memuliakan Allah dengan memperlakukan pekerja secara adil.

Seorang pegawai dapat memuliakan Allah dengan bekerja tanpa korupsi.

Seorang pemimpin dapat memuliakan Allah dengan menggunakan kekuasaan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi untuk kebaikan orang yang dipercayakan kepadanya.

“Bertindaklah dengan saksama”

Yosafat berkata kepada para hakim agar mereka bertindak dengan saksama.

Mengapa?

Karena Tuhan menyertai mereka.

Ini menarik.

Penyertaan Allah tidak menjadi alasan untuk bekerja sembarangan.

Sebaliknya, karena Allah menyertai mereka, mereka harus semakin bertanggung jawab.

Kadang-kadang orang Kristen berbicara tentang penyertaan Tuhan seolah-olah penyertaan itu berarti semua akan menjadi mudah.

Tetapi dalam Alkitab, penyertaan Allah sering kali justru menjadi dasar bagi kesetiaan dalam tugas yang sulit.

Allah menyertai.

Karena itu, tetaplah jujur.

Allah menyertai.

Karena itu, jangan menerima suap.

Allah menyertai.

Karena itu, jangan memutarbalikkan kebenaran.

Allah menyertai.

Karena itu, jangan menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.

Kesadaran bahwa Allah hadir seharusnya bukan membuat kita ceroboh, melainkan membuat kita semakin berhati-hati dalam menjalankan tanggung jawab.

Dari Yosafat kepada Kristus

Namun kita perlu berhati-hati.

Jika kita membaca 2 Tawarikh 19 hanya sebagai pelajaran:

“Jadilah hakim yang adil.”

“Jangan korupsi.”

“Jangan menerima suap.”

“Takutlah kepada Tuhan.”

maka kita dapat kehilangan kedalaman Injil.

Mengapa?

Karena kita tahu dari seluruh kesaksian Alkitab bahwa masalah manusia jauh lebih dalam daripada kurangnya nasihat moral.

Manusia membutuhkan hati yang baru.

Manusia berdosa bukan hanya membutuhkan informasi mengenai apa yang benar. Ia membutuhkan anugerah Allah yang mengubah dirinya.

Di sinilah Injil membawa kita lebih jauh.

Kita melihat kepada Kristus.

Yesus Kristus adalah Hakim yang sempurna sekaligus Juruselamat bagi orang berdosa.

Ia tidak memutarbalikkan keadilan.

Ia tidak menerima suap.

Ia tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan status.

Ia sendiri mengalami ketidakadilan manusia, tetapi tetap menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa.

Dan di salib, kita melihat sesuatu yang jauh lebih dalam.

Allah tetap adil terhadap dosa, tetapi pada saat yang sama Ia membenarkan orang berdosa yang percaya kepada Kristus.

Dalam bahasa teologi Reformed, pembenaran bukanlah Allah berpura-pura bahwa manusia tidak berdosa.

Allah tidak mengabaikan keadilan.

Sebaliknya, hukuman dosa ditanggung oleh Kristus.

Di salib, keadilan dan kasih karunia tidak dipertentangkan. Keadilan Allah ditegakkan, dan orang berdosa yang percaya menerima pengampunan di dalam Kristus.

Karena itu, orang Kristen tidak menjalankan keadilan supaya mendapatkan keselamatan.

Ia menjalankan keadilan karena telah menerima keselamatan.

Perbuatan baik bukan akar keselamatan.

Perbuatan baik adalah buah dari keselamatan.

Di sinilah perbedaan antara Injil dan moralitas menjadi sangat penting.

Moralitas berkata:

“Jadilah baik supaya Allah menerima engkau.”

Injil berkata:

“Di dalam Kristus, Allah menyelamatkan orang berdosa; karena itu, hiduplah sebagai orang yang telah menerima anugerah-Nya.”

Takut akan Tuhan dan kehidupan sehari-hari

2 Tawarikh 19:4–11 akhirnya membawa kita kepada pertanyaan yang sangat pribadi.

Apakah kita sungguh-sungguh hidup di hadapan Allah?

Bukan hanya ketika berada di gereja.

Bukan hanya ketika berdoa.

Bukan hanya ketika Alkitab terbuka di depan kita.

Tetapi ketika tidak ada orang yang melihat.

Ketika kita memiliki kesempatan untuk memperoleh keuntungan secara tidak jujur.

Ketika kita memiliki kekuasaan untuk memihak orang tertentu.

Ketika keputusan kita dapat merugikan orang yang lemah.

Ketika tidak ada seorang pun yang mungkin mengetahui apa yang kita lakukan.

Di situlah karakter diuji.

Dan di situlah doktrin tentang Allah menjadi nyata.

Jika Allah sungguh Mahatahu, maka integritas bukan pilihan tambahan.

Jika Allah sungguh kudus, maka dosa bukan perkara sepele.

Jika Allah sungguh Hakim, maka setiap tanggung jawab harus dijalankan dengan takut akan Dia.

Dan jika kita sungguh telah menerima anugerah di dalam Kristus, maka kita tidak lagi ingin menggunakan kebebasan kita untuk hidup bagi diri sendiri.

Kita ingin hidup bagi Dia.

Renungan

2 Tawarikh 19:4–11 mengajarkan bahwa kehidupan umat Allah tidak dapat dipisahkan dari karakter Allah.

Yosafat membawa rakyat kembali kepada Tuhan, kemudian memperbaiki cara bangsa itu menjalankan keadilan.

Urutannya memberikan pelajaran penting.

Pertobatan kepada Allah seharusnya menghasilkan pembaruan dalam kehidupan.

Takut akan Tuhan seharusnya menghasilkan integritas.

Iman seharusnya menghasilkan kesetiaan.

Dan anugerah seharusnya menghasilkan kehidupan yang semakin kudus.

Kita mungkin tidak pernah menjadi hakim seperti yang diceritakan dalam teks ini.

Namun kita semua memiliki keputusan yang harus dibuat.

Kita semua memiliki orang yang harus kita perlakukan dengan benar.

Kita semua memiliki tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita.

Kita semua memiliki kesempatan untuk memilih antara kepentingan diri sendiri dan kesetiaan kepada Allah.

Maka pertanyaan bagi kita bukan hanya:

“Apakah saya orang Kristen?”

Pertanyaannya juga:

“Apakah iman saya kepada Kristus terlihat dalam cara saya menjalankan tanggung jawab yang Allah percayakan kepada saya?”

Sebab pada akhirnya, kita tidak hidup terutama di hadapan manusia. Kita hidup coram Deo—di hadapan wajah Allah.

Pertanyaan untuk direnungkan

  1. Apakah saya menjalankan tanggung jawab saya dengan kesadaran bahwa saya melakukannya di hadapan Allah?
  2. Apakah ada area dalam kehidupan saya di mana kepentingan pribadi mulai memengaruhi keputusan saya?
  3. Apakah saya memperlakukan orang berdasarkan kebenaran, atau berdasarkan status, kedekatan, dan keuntungan yang dapat mereka berikan?
  4. Apakah saya memahami pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari sebagai bagian dari panggilan Allah?
  5. Apakah anugerah Kristus semakin menghasilkan integritas dan kekudusan dalam hidup saya?

Doa

Tuhan Allah yang kudus dan adil,

ajarilah kami untuk hidup di hadapan-Mu dengan takut dan hormat.

Ampunilah kami ketika kepentingan diri sendiri lebih besar daripada kebenaran. Ampunilah kami ketika kami memperlakukan manusia berdasarkan keuntungan, kedudukan, atau kedekatan, bukan berdasarkan kasih dan keadilan.

Terima kasih karena di dalam Yesus Kristus kami menerima pengampunan dan pembenaran bukan karena kebaikan kami, tetapi semata-mata karena anugerah-Mu.

Oleh Roh Kudus, bentuklah hati kami supaya anugerah yang kami terima tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menghasilkan kehidupan yang kudus, jujur, adil, dan setia.

Ajarlah kami menjalankan setiap tanggung jawab yang Engkau percayakan dengan kesadaran bahwa Engkau melihat segala sesuatu.

Biarlah dalam pekerjaan, pelayanan, keluarga, masyarakat, dan setiap keputusan kami, nama Kristus dimuliakan.

Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa.

Amin.

 

Referensi
Alkitab. Alkitab Terjemahan Baru (TB). Lembaga Alkitab Indonesia.
Calvin, John. Commentary on the Book of Chronicles. Calvin’s Commentaries.
Calvin, John. Institutes of the Christian Religion.
Bavinck, Herman. Reformed Dogmatics. Baker Academic.
Berkhof, Louis. Systematic Theology. Eerdmans.
Henry, Matthew. Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible.
Pratt, Richard L., Jr. 1 & 2 Chronicles. A Mentor Commentary. Christian Focus Publications.
Waltke, Bruce K. An Old Testament Theology. Zondervan.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkait
Lima sola Reformasi menegaskan bahwa Alkitab, iman, anugerah, Kristus, dan kemuliaan Allah berada di pusat iman Kristen. Foto ilustrasi: ELrolumNews.

Lima Sola Reformasi: Fondasi Iman yang Mengembalikan Gereja kepada...

Religion, ElrolumNews - Reformasi abad ke-16 bukan sekadar gerakan yang mengubah wajah gereja di Eropa. Di balik...
Allah telah memberikan segala sesuatu yang diperlukan untuk hidup dan kesalehan; karena itu, bertumbuhlah dalam iman, kekudusan, dan kasih.

Renungan 2 Petrus 1:3–15: Anugerah yang Mengubah Hidup

Anugerah yang Mengubah Hidup: Bertumbuh dalam Panggilan dan Pemilihan Allah — 2 Petrus 1:3–15 Religion, ElrolumNews - Ada...
Ulrich Zwingli, reformator Swiss abad ke-16, dikenal melalui khotbah ekspositorisnya di Grossmünster Zurich yang membantu membentuk Reformasi di Swiss. Foto ilustrasi: ELrolumNews.

Ulrich Zwingli: Ketika Khotbah Alkitab Mengubah Zurich

Religion, ElrolumNews - Pada 1 Januari 1519, Huldrych Zwingli memulai pelayanannya di Grossmünster, gereja utama Zurich, dengan...

Lainnya

Popular