Bangkok, ELrolumNews — Dunia pendidikan Thailand diguncang tragedi penembakan massal di Sekolah Menengah Debsirin, Provinsi Nonthaburi, dekat Bangkok, Jumat (7/8) pagi. Korban tewas dalam insiden ini bertambah menjadi tujuh orang .
Otoritas setempat merinci tujuh orang yang tewas terdiri atas tiga guru, tiga siswa, dan seorang pelaku yang merupakan siswa kelas 9 di sekolah tersebut . Pelaku kemudian mengakhiri hidupnya setelah melakukan aksi tersebut .
Selain korban jiwa, dua orang lainnya dilaporkan terluka parah dan 15 lainnya mengalami cedera . Total korban luka-luka mencapai 17 orang.
Penembakan terjadi di Sekolah Debsirin Nonthaburi, Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, yang terletak di sebelah barat laut Bangkok . Sekolah ini dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan terbaik di Thailand untuk siswa yang hendak mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.
Pelaku yang mengenakan jaket ungu dilaporkan melepaskan puluhan tembakan di dalam sekolah . Seorang saksi mata yang merupakan siswa di dalam sekolah mengaku awalnya mengira suara tembakan adalah petasan atau suara benda terbentur.
“Pada awalnya saya tidak mengira itu suara tembakan. Ada banyak tembakan: bang, bang, bang. Lalu hening. Kemudian mulai lagi,” ujarnya kepada Reuters.
Polisi Nonthaburi mengidentifikasi pelaku sebagai siswa kelas 9, yang berusia sekitar 14 tahun . Menurut keterangan saksi, pelaku sempat berkeliaran ke ruang-ruang kelas sebelum melepas tembakan.
Polisi juga menemukan puluhan butir amunisi dari tas pelaku . Sementara itu, senjata api yang digunakan diduga milik salah satu anggota keluarga pelaku.
Personel darurat segera dikerahkan ke lokasi. Yayasan Poh Teck Tung, organisasi penyelamatan berbasis di Bangkok, meminta pengendara di sekitar untuk membuka jalan agar kendaraan darurat dapat melintas tanpa hambatan.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyampaikan duka cita mendalam dan menyebut insiden ini sebagai peristiwa “mengerikan”. Ia mendesak pihak berwenang untuk segera memberikan bantuan kepada para korban luka.
“Ini sungguh buruk. Hal ini seharusnya tidak terjadi. Saya tidak hanya merasa prihatin terhadap para korban, tetapi juga menyayangkan terjadinya peristiwa ini. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi di negara kita?” kata Anutin.
“Inilah sebabnya pemerintah tidak mengizinkan (warga) memiliki senjata api,” tambahnya, menegaskan larangan bagi warga sipil untuk memiliki senjata.
Thailand memiliki salah satu tingkat kepemilikan senjata api tertinggi di kawasan Asia Tenggara, dengan sekitar 10 juta senjata api yang beredar atau sekitar satu senjata untuk setiap tujuh penduduk .
Insiden ini menjadi penembakan di sekolah kedua di Thailand tahun ini. Pada Februari lalu, polisi Thailand menembak dan menangkap seorang remaja pelaku penembakan di sebuah sekolah di wilayah selatan negara itu, yang menewaskan kepala sekolah dan melukai dua siswa.
Pada 2022, seorang mantan polisi yang membawa senjata api dan pisau menyerbu sebuah taman kanak-kanak di wilayah utara Thailand dan membunuh 24 anak serta 12 orang dewasa — menjadi salah satu kasus pembantaian paling mematikan di Thailand.
(Reuters/fvs)





