Jakarta, ELrolumNews – Jika menyebut kata “bridge”, mungkin yang terbayang adalah permainan kartu remi yang kerap dimainkan di sore hari sambil ditemani secangkir kopi. Namun, tahukah Anda bahwa permainan ini memiliki sejarah panjang—bahkan sempat dianggap sebagai “ciptaan iblis” dan dilarang oleh raja-raja Eropa?
Kini, bridge telah menjelma menjadi cabang olahraga resmi yang dipertandingkan di ajang bergengsi seperti Asian Games. Berikut perjalanan panjangnya.
Asal usul kartu remi yang menjadi media permainan bridge tidak dapat dipisahkan dari peradaban kuno. Permainan kartu diyakini berasal dari Tiongkok pada masa Dinasti Tang (618-907 M) . Dari sana, kartu menyebar ke berbagai belahan dunia.
Bukti lain menunjukkan bahwa kartu remi mulai dikenal di Eropa sekitar tahun 1370, diperkenalkan ke Italia dan Spanyol, kemungkinan besar berasal dari Mesir . Pada awalnya, kartu tidak digunakan untuk bermain, melainkan untuk meramal—seperti yang masih terlihat pada kartu Tarot yang diperkenalkan di Italia pada tahun 1440 .
Pada abad pertengahan, kartu remi mendapat stigma yang sangat buruk. Pada tahun 1432, seorang pendeta Inggris bernama Saint Bernardo menyebut bahwa kartu diciptakan oleh iblis . Di mata kaum Puritan Inggris, kartu kemudian dikenal sebagai “The Devil’s Picture Book” (Buku Gambar Iblis) .
Stigma ini berujung pada pelarangan. Pada tahun 1495, Raja Henry VII melarang permainan kartu dimainkan, kecuali pada saat liburan Natal . Larangan ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh moral dan agama terhadap permainan yang saat itu sudah mulai populer.
Meski demikian, kartu remi justru semakin populer di kalangan masyarakat, terutama di kasino-kasino Eropa, dan mulai identik dengan perjudian . Pada tahun 1883, praktik mempertaruhkan uang dalam setiap permainan kartu semakin menguatkan citra negatif ini .
Permainan bridge modern tidak lahir begitu saja. Ia berevolusi dari permainan kartu Inggris bernama Whist yang populer pada abad ke-18 . Whist dimainkan oleh empat orang dalam dua tim dengan tujuan memenangkan trik (putaran kartu).
Pada abad ke-19, Whist berevolusi menjadi Bridge Whist, yang memperkenalkan elemen baru: penawaran (bidding). Pemain mulai menawar jumlah trik yang mereka yakini dapat dimenangkan .
Versi bridge yang kita kenal sekarang, yaitu Contract Bridge, lahir pada tahun 1920-an . Permainan ini mengalami lonjakan popularitas besar-besaran pada tahun 1930 . Sosok penting di balik popularitas ini adalah Ely Culbertson, yang menerbitkan edisi pertama majalah “The Bridge World” pada tahun 1929 .
Popularitas bridge tidak hanya di kalangan masyarakat biasa. Tokoh bisnis dan investor legendaris, Warren Buffett, adalah penggemar berat bridge. Ia pernah berkata:
“Bridge adalah permainan yang sangat sensasional, sehingga saya tidak keberatan dipenjara jika saya memiliki tiga teman satu sel yang merupakan pemain yang layak dan bersedia menjaga permainan berlangsung 24 jam sehari.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa bridge bukan sekadar permainan untung-untungan, melainkan olahraga otak yang membutuhkan strategi, kalkulasi, dan komunikasi tim.
Di Indonesia, bridge mulai dikenal sekitar tahun 1880, dibawa oleh bangsa Eropa, terutama Belanda . Perkembangan organisasi bridge di Indonesia terbilang cukup awal. Pada 12 Desember 1953, Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI) didirikan di Surabaya oleh Willy Th. Roring, seorang perwira TNI-AL, bersama rekannya .
Kejuaraan Nasional bridge pertama kali diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 1957 . Pada tahun 1960, GABSI bergabung dengan World Bridge Federation (WBF) dan Far East Bridge Federation (FEBF) yang kini berganti nama menjadi Pacific Asia Bridge Federation (PABF) .
Puncak pengakuan bridge sebagai olahraga terjadi ketika ia dipertandingkan dalam ajang Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang . Ini menjadi tonggak sejarah yang membuktikan bahwa bridge bukan sekadar permainan kartu biasa, melainkan cabang olahraga yang memerlukan kemampuan analitis, strategi, dan konsentrasi tinggi.
Sebuah penelitian dari University of California-Berkeley pada tahun 2000 menemukan bahwa bridge adalah permainan strategis yang dapat menjaga ingatan tetap aktif, merangsang otak, dan menjaga kesehatan tubuh . Area otak yang digunakan saat bermain bridge juga menstimulasi sistem kekebalan tubuh.
(*/dbs)






