Sembelit Kronis: Ketika Buang Air Besar Jadi Perjuangan

Kesehatan Pencernaan & Usus, ElrolumNews – Buang air besar seharusnya menjadi rutinitas yang tidak perlu dipikirkan. Tapi bagi jutaan orang, ini menjadi sumber kecemasan harian. Mengejan berlebihan, merasa tidak tuntas, atau tidak bisa BAB selama berhari-hari. Sembelit bukan sekadar ketidaknyamanan. Jika berlangsung kronis, ia dapat memengaruhi kualitas hidup secara signifikan.

World Gastroenterology Organisation (WGO) mendefinisikan sembelit kronis sebagai kondisi yang berlangsung lebih dari tiga bulan, dengan gejala seperti buang air besar kurang dari tiga kali per minggutinja kerasmengejan berlebihan, atau perasaan tidak tuntas setelah BAB. Sebuah tinjauan yang diterbitkan di Gastroenterology (Elsevier) mencatat bahwa prevalensi sembelit kronis di seluruh dunia berkisar antara 7% hingga 19% pada orang dewasa.

Masalahnya, banyak orang menganggap sembelit sebagai hal sepele yang bisa diatasi dengan “makan lebih banyak serat.” Padahal, sembelit kronis bisa memiliki berbagai penyebab, dan penanganan yang salah bisa memperburuk kondisi.

Apa Itu Sembelit Kronis

Sembelit kronis bukan sekadar “susah BAB.” Ini adalah kondisi medis dengan kriteria diagnostik yang jelas.

Menurut Rome IV Criteria — standar diagnostik untuk gangguan gastrointestinal fungsional — seseorang didiagnosis mengalami sembelit fungsional jika mengalami dua atau lebih gejala berikut selama tiga bulan terakhir:

  • Mengejan saat lebih dari 25% buang air besar

  • Tinja keras (Bristol Stool Type 1 atau 2) pada lebih dari 25% BAB

  • Perasaan tidak tuntas pada lebih dari 25% BAB

  • Sensasi obstruksi atau penyumbatan pada lebih dari 25% BAB

  • Membutuhkan bantuan manual untuk BAB pada lebih dari 25% BAB

  • Kurang dari tiga kali BAB per minggu

Sebuah tinjauan yang diterbitkan di The Lancet menegaskan bahwa sembelit kronis dapat dibagi menjadi beberapa subtipe:

1. Constipation with normal transit.
Motilitas usus normal, tapi ada gangguan pada sensasi atau koordinasi otot.

2. Slow transit constipation.
Gerakan usus lambat, tinja bergerak lambat melalui kolon.

3. Defecatory disorders.
Ada masalah pada otot panggul atau sfingter yang menghambat pengeluaran tinja.

4. Irritable bowel syndrome with constipation (IBS-C).
Sembelit disertai nyeri perut dan kembung.

Penyebab Sembelit Kronis

Sembelit kronis bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti dijelaskan dalam tinjauan yang diterbitkan di Mayo Clinic Proceedings:

1. Pola makan rendah serat.
Serat menambah volume tinja dan mempercepat transit usus. Diet rendah serat adalah penyebab paling umum.

2. Kurang cairan.
Dehidrasi membuat tinja keras dan sulit dikeluarkan.

3. Kurang aktivitas fisik.
Olahraga merangsang motilitas usus. Kurang gerak memperlambat pencernaan.

4. Obat-obatan.
Beberapa obat dapat menyebabkan sembelit, termasuk opioidantidepresanantikolinergik, dan suplemen kalsium atau zat besi.

5. Gangguan hormon.
Hipotiroidisme, diabetes, dan gangguan hormon lainnya dapat memengaruhi motilitas usus.

6. Kondisi neurologis.
Parkinson, multiple sclerosis, dan cedera sumsum tulang belakang dapat memengaruhi saraf yang mengatur usus.

7. Gangguan otot panggul.
Dysynergic defecation adalah kondisi di mana otot panggul tidak rileks dengan benar saat BAB.

8. Stres dan kesehatan mental.
Stres memengaruhi gut-brain axis dan dapat memperlambat atau mempercepat transit usus.

9. Perubahan rutinitas.
Bepergian, perubahan jadwal, atau menahan keinginan BAB dapat mengganggu pola.

10. Penuaan.
Motilitas usus melambat seiring usia, dan risiko sembelit meningkat.

Sembelit dan Microbiome

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa microbiome usus berperan dalam sembelit. Sebuah tinjauan yang diterbitkan di Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology menemukan bahwa orang dengan sembelit kronis cenderung memiliki komposisi microbiome yang berbeda dibandingkan orang sehat, dengan penurunan bakteri penghasil butirat.

Butirat adalah asam lemak rantai pendek yang memberi energi pada sel usus dan merangsang motilitas. Ketika produksi butirat menurun, gerakan usus melambat.

Sembelit dan Kesehatan Mental

Hubungan antara sembelit dan kesehatan mental bersifat dua arah. Sebuah tinjauan yang diterbitkan di Neurogastroenterology & Motility (Wiley) menemukan bahwa:

  • Orang dengan sembelit kronis memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan dan depresi

  • Stres dan kecemasan dapat memperburuk gejala sembelit

  • Mengobati gangguan mental dapat memperbaiki gejala pencernaan

Ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam menangani sembelit.

Cara Mengatasi Sembelit

1. Tingkatkan serat secara bertahap.
Targetkan 25-30 gram serat per hari dari buah, sayur, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Tingkatkan secara bertahap untuk menghindari kembung.

2. Minum cukup air.
Targetkan 8-10 gelas air per hari. Serat tanpa air justru memperburuk sembelit.

3. Gerakkan tubuh.
Olahraga moderat seperti jalan cepat 30 menit sehari dapat merangsang motilitas usus.

4. Buat rutinitas BAB.
Coba BAB pada waktu yang sama setiap hari, terutama setelah sarapan, ketika refleks gastrokolik paling kuat.

5. Jangan menahan keinginan BAB.
Ketika tubuh memberi sinyal, respons. Menahan dapat melemahkan sinyal alami.

6. Gunakan posisi yang tepat.
Duduk dengan kaki di bangku kecil (posisi jongkok) dapat memudahkan pengeluaran tinja.

7. Pertimbangkan prebiotik dan probiotik.
Prebiotik memberi makan bakteri baik, probiotik menambah bakteri baik. Lihat artikel kami tentang [Probiotik vs Prebiotik].

8. Batasi makanan yang memperburuk.
Alkohol, kafein berlebihan, dan makanan olahan dapat memperburuk sembelit.

9. Konsultasikan obat.
Jika Anda mengonsumsi obat yang menyebabkan sembelit, diskusikan dengan dokter tentang alternatif.

10. Jangan gunakan laxative berlebihan.
Penggunaan laxative jangka panjang tanpa pengawasan dapat melemahkan otot usus.

Mitos tentang Sembelit

Mitos 1: “BAB setiap hari itu wajib.”
Fakta: Frekuensi BAB normal bervariasi. Rentang normal adalah tiga kali sehari hingga tiga kali seminggu.

Mitos 2: “Sembelit selalu karena kurang serat.”
Fakta: Serat adalah salah satu faktor, tapi bukan satu-satunya. Dehidrasi, kurang gerak, obat, dan gangguan otot juga berperan.

Mitos 3: “Laxative aman digunakan setiap hari.”
Fakta: Penggunaan laxative jangka panjang tanpa pengawasan dapat menyebabkan ketergantungan dan gangguan elektrolit.

Mitos 4: “Sembelit tidak berbahaya.”
Fakta: Sembelit kronis dapat menyebabkan wasir, fisura ani, dan pada kasus berat, obstruksi usus.

Mitos 5: “Minum kopi bisa mengatasi sembelit.”
Fakta: Kopi dapat merangsang motilitas usus pada sebagian orang, tapi efeknya bervariasi dan bukan solusi jangka panjang.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter jika:

  • Sembelit berlangsung lebih dari tiga minggu

  • Muncul darah dalam tinja

  • Anda mengalami penurunan berat badan drastis tanpa sebab

  • Anda mengalami nyeri perut berat

  • Sembelit bergantian dengan diare

  • Anda mengalami muntah atau tidak bisa buang gas

  • Anda memiliki riwayat kanker usus dalam keluarga

  • Sembelit muncul setelah usia 50 tahun tanpa sebab jelas


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti nasihat medis profesional. Konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan terpercaya.


Referensi
  1. World Gastroenterology Organisation. (2019). WGO Global Guidelines: Constipation. WGO.
  2. Mearin, F., et al. (2016). Bowel disorders. Gastroenterology, 150(6), 1393-1407. Elsevier.
  3. Bharucha, A. E., et al. (2013). American Gastroenterological Association medical position statement on constipation. Gastroenterology, 144(1), 211-217. Elsevier.
  4. Camilleri, M., et al. (2017). Chronic constipation. Nature Reviews Disease Primers, 3, 17095. Nature.
  5. Bharucha, A. E., & Lacy, B. E. (2020). Mechanisms, evaluation, and management of chronic constipation. Gastroenterology, 158(5), 1232-1249. Elsevier.
  6. Lacy, B. E., et al. (2016). Bowel disorders. Gastroenterology, 150(6), 1393-1407.
  7. Dimidi, E., et al. (2019). Mechanisms of action of probiotics and the gastrointestinal microbiota on gut motility and constipation. Advances in Nutrition, 10(4), 685-694. Oxford Academic.
  8. Vandeputte, D., et al. (2016). Stool consistency is strongly associated with gut microbiota richness and composition, enterotypes and bacterial growth rates. Gut, 65(1), 57-62. BMJ.
  9. Koloski, N. A., et al. (2016). Evidence that independent gut-to-brain and brain-to-gut pathways operate in the irritable bowel syndrome and functional dyspepsia: A 1-year population-based prospective study. Alimentary Pharmacology & Therapeutics, 44(6), 592-600. Wiley Online Library.
  10. Rao, S. S. C., et al. (2015). Anorectal disorders. Gastroenterology, 150(6), 1430-1442. Elsevier.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Beragam sumber probiotik dan prebiotik alami tersusun berdampingan, menggambarkan perbedaan dan peran keduanya bagi kesehatan usus.

Probiotik vs Prebiotik: Apa Bedanya dan Mana yang Anda...

Kesehatan Pencernaan & Usus, ElrolumNews - Rak-rak apotek dan supermarket kini dipenuhi produk yang mengklaim "mendukung kesehatan...
Ilustrasi makro bakteri usus yang beragam dalam komposisi seimbang, menggambarkan ekosistem microbiome yang sehat dan beragam.

Microbiome Usus: Ekosistem Triliunan Bakteri yang Menentukan Kesehatan Anda

Kesehatan Pencernaan & Usus, ElrolumNews - Di dalam tubuh Anda hidup sekitar 38 triliun mikroorganisme. Jumlahnya lebih...
Ilustrasi konseptual yang menggambarkan jaringan komunikasi antara otak dan usus, menggambarkan gut-brain axis sebagai penghubung antara pencernaan dan kesehatan mental.

Gut-Brain Axis: Kenapa Usus Anda Ikut Cemas

Kesehatan Pencernaan & Usus, ElrolumNews - Mual sebelum presentasi. Kembung saat menghadapi tenggat. Perut yang terasa tidak...

More

Popular

Read More