Kembali ke Betel: Pemurnian, Pembaruan Janji, dan Kehilangan – Kejadian 35:1–29

Theology, ElrolumNews – Setelah tragedi di Sikhem, Allah berkata kepada Yakub, “Bersiaplah, pergilah ke Betel dan tinggallah di situ; buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu ketika engkau lari dari Esau.” Perintah ini membawa Yakub kembali ke tempat di mana Allah dahulu menemuinya dalam pelarian. Betel bukan hanya sebuah lokasi geografis, tetapi tempat janji, penyertaan, dan nazar yang pernah diucapkan Yakub.

Sebelum berangkat, Yakub memerintahkan keluarganya untuk membuang ilah-ilah asing, menyucikan diri, dan mengganti pakaian. Mereka menyerahkan semua ilah asing dan anting-anting kepada Yakub, lalu ia menanamnya di bawah pohon dekat Sikhem. Tindakan ini menunjukkan bahwa perjalanan pulang kepada Allah membutuhkan pemurnian rumah tangga. Keluarga Yakub tidak dapat kembali ke Betel sambil terus membawa simbol-simbol kepercayaan lama.

Di Betel, Yakub mendirikan mezbah dan menamai tempat itu El-Betel, “Allah dari Betel”, karena Allah telah menyatakan diri kepadanya. Di sana Debora, pengasuh Ribka, meninggal dan dikuburkan. Setelah itu, Allah kembali menampakkan diri kepada Yakub, meneguhkan nama Israel dan memperbarui janji tentang bangsa serta raja-raja yang akan keluar dari keturunannya.

Namun pemulihan itu berlangsung di tengah kehilangan. Rahel meninggal ketika melahirkan Benyamin dan dikuburkan di dekat Efrata, yaitu Betlehem. Ruben kemudian melakukan hubungan dengan Bilha, dan Ishak meninggal pada usia 180 tahun. Kejadian 35 memperlihatkan bahwa kembali kepada Allah tidak membuat hidup bebas dari kematian dan luka, tetapi menempatkan seluruh kehilangan itu di dalam kesetiaan Allah yang lebih besar.

Illustration – acob and his family standing before a newly built altar at Bethel

Gambaran Umum Kejadian 35

Struktur ringkas:

  • Ayat 1–5: Allah memerintahkan Yakub pergi ke Betel; Yakub menyuruh keluarganya membuang ilah asing, menyucikan diri, dan mengganti pakaian; mereka menyerahkan benda-benda itu dan berangkat.

  • Ayat 6–8: Yakub tiba di Betel, mendirikan mezbah El-Betel; Debora, pengasuh Ribka, meninggal dan dikuburkan di bawah pohon besar yang dinamai Alon-Bakut.alkitab.

  • Ayat 9–15: Allah menampakkan diri kembali kepada Yakub, meneguhkan nama Israel, janji tentang bangsa dan raja-raja, tanah, serta penyertaan; Yakub mendirikan tugu dan menuangkan persembahan curahan.

  • Ayat 16–20: Rahel mengalami persalinan sulit, melahirkan Benyamin, lalu meninggal; Yakub menamai anak itu Benyamin dan Rahel dikuburkan dekat Efrata.

  • Ayat 21–22: Ruben tidur dengan Bilha, gundik ayahnya; Israel mendengar peristiwa itu.

  • Ayat 23–26: Daftar dua belas anak Yakub dari Lea, Rahel, Bilha, dan Zilpa; mereka menjadi leluhur suku-suku Israel.

  • Ayat 27–29: Yakub tiba di Mamre, tempat tinggal Ishak; Ishak meninggal pada usia 180 tahun; Esau dan Yakub menguburkannya.

Inti Teologis (Fokus Reformed + Analisis Mendalam)

1. Allah Memanggil Yakub Kembali kepada Betel

Perintah Allah kepada Yakub berbunyi jelas: bangun, pergi, tinggal, dan dirikan mezbah. Ada empat gerakan penting:

  • Bangun: berhenti tinggal dalam keadaan pasif setelah tragedi.

  • Pergi: meninggalkan tempat yang telah menjadi sumber bahaya.

  • Tinggal: tidak hanya singgah, tetapi menetap dan menata ulang kehidupan.

  • Mendirikan mezbah: mengembalikan penyembahan sebagai pusat keluarga.

Dalam pembacaan Reformed, panggilan ini merupakan bentuk koreksi dan pemulihan. Allah tidak meninggalkan Yakub setelah dosa dan kekacauan di Sikhem, tetapi juga tidak membiarkan Yakub menetap selamanya dalam kondisi yang sama.

Ligonier menekankan bahwa Yakub telah mengucapkan nazar di Betel, dan kini Allah memanggilnya untuk memenuhi nazar itu. Ini memperlihatkan bahwa iman tidak berhenti pada pengalaman masa lalu atau janji yang pernah diucapkan. Komitmen kepada Allah perlu diwujudkan dalam ketaatan nyata.

2. Pemulihan Dimulai dari Pembersihan Rumah

Yakub berkata kepada keluarganya:

  • Buanglah ilah-ilah asing.

  • Sucikanlah diri.

  • Gantilah pakaian.

Urutan ini menunjukkan bahwa perjalanan rohani keluarga tidak hanya melibatkan Yakub sebagai kepala rumah. Seluruh rumah tangga harus ikut meninggalkan praktik lama.

Tindakan membuang ilah asing menegaskan:

  • Pertobatan melibatkan pemutusan hubungan dengan berhala.

  • Pemurnian bukan sekadar perubahan lokasi.

  • Perjalanan menuju Betel membutuhkan perubahan orientasi ibadah.

  • Allah tidak boleh ditempatkan sebagai salah satu dari banyak sumber keamanan.

Kita tidak mengetahui secara pasti fungsi semua benda tersebut. Terafim telah muncul dalam Kejadian 31, dan di sini disebutkan kembali adanya ilah-ilah asing serta anting-anting. Teks tidak menjelaskan setiap benda secara rinci. Namun konteksnya jelas: benda-benda itu harus disingkirkan sebelum keluarga kembali kepada penyembahan yang berpusat pada Allah.

Dalam kerangka Reformed, pertobatan bukan sekadar menambahkan kegiatan rohani, melainkan membuang saingan yang merebut kepercayaan hati.

3. Allah Melindungi Perjalanan Yakub

Setelah keluarga Yakub berangkat, “ketakutan yang dari Allah” meliputi kota-kota di sekeliling mereka sehingga mereka tidak mengejar anak-anak Yakub.

Pernyataan ini mengingatkan kita pada:

  • Perlindungan Allah dalam perjalanan.

  • Kesinambungan dengan penyertaan di Mahanaim.

  • Providensi Allah setelah tragedi di Sikhem.

  • Keterbatasan usaha manusia dalam menghancurkan rencana Allah.

Keluarga Yakub memang telah melakukan tindakan yang menimbulkan bahaya besar. Namun Allah melindungi mereka bukan karena mereka sepenuhnya benar, melainkan karena Ia setia pada janji kovenan-Nya.

Hal ini tidak boleh digunakan untuk menyimpulkan bahwa setiap tindakan berbahaya pasti akan dilindungi Allah. Dalam konteks Kejadian 35, perlindungan itu merupakan bagian dari rencana khusus Allah atas keluarga Yakub.

4. El-Betel: Dari Mengingat Tempat kepada Mengenal Allah

Yakub menamai tempat itu El-Betel, “Allah dari Betel”, bukan hanya Betel.bible+1

Perubahan ini penting:

  • Dahulu Yakub lebih banyak mengingat tempat pengalaman.

  • Kini ia diarahkan untuk mengenal Pribadi yang menyatakan diri di tempat itu.

  • Fokus iman bergeser dari pengalaman kepada Allah.

  • Mezbah tidak boleh menjadi pusat pengganti Allah.

Dalam kehidupan rohani, seseorang dapat terlalu melekat pada:

  • Tempat tertentu.

  • Pengalaman tertentu.

  • Masa lalu pelayanan.

  • Simbol rohani.

  • Kenangan kebangunan rohani.

Kejadian 35 mengingatkan bahwa tempat suci tidak boleh menggantikan Allah yang hadir dan berfirman. Betel bernilai karena Allah menyatakan diri di sana.

5. Pembaruan Nama dan Janji Kovenan

Di Betel, Allah kembali menegaskan nama Israel kepada Yakub dan memperbarui janji tentang bangsa, kumpulan bangsa, serta raja-raja yang akan keluar dari dirinya.

Janji itu mencakup:

  • Identitas baru.

  • Keturunan yang banyak.

  • Bangsa-bangsa.

  • Raja-raja.

  • Tanah yang diberikan kepada Abraham dan Ishak.

  • Kelanjutan kovenan kepada generasi Yakub.

Pembaruan ini menunjukkan bahwa kegagalan di Sikhem tidak membatalkan rencana Allah. Namun pembaruan janji juga tidak berarti dosa tidak penting. Allah memelihara Yakub sambil terus memurnikan keluarganya.

Dalam teologi Reformed:

  • Kovenan bergantung pada kesetiaan Allah.

  • Pemilihan tidak didasarkan pada prestasi moral Yakub.

  • Janji Allah berjalan melalui proses pengudusan yang nyata.

  • Anugerah tidak menghapus tanggung jawab, tetapi menghasilkan panggilan untuk berubah.

6. Debora dan Ratapan yang Tidak Terduga

Debora, pengasuh Ribka, meninggal di Betel dan dikuburkan di bawah pohon besar yang dinamai Alon-Bakut, “pohon ratapan”.

Kehadiran Debora dalam narasi cukup singkat, tetapi kematiannya dicatat dengan penghormatan. Ia bukan tokoh utama dalam konflik kovenan, tetapi hidupnya memiliki tempat dalam sejarah keluarga.

Bagian ini mengajarkan:

  • Tidak semua orang yang berpengaruh selalu tampil di pusat narasi.

  • Pengasuh, pelayan, dan anggota keluarga yang lebih tua memiliki peran penting.

  • Ratapan adalah bagian dari perjalanan iman.

  • Pemulihan tidak menghapus kebutuhan untuk berduka.

Kejadian 35 menunjukkan bahwa Betel bukan hanya tempat sukacita pembaruan, tetapi juga tempat kehilangan dan tangisan.

7. Kematian Rahel: Kehidupan Baru yang Lahir Bersama Kehilangan

Rahel mengalami persalinan sulit dan meninggal setelah melahirkan Benyamin. Ia menamai anak itu Ben-Oni, “anak penderitaanku”, tetapi Yakub menamainya Benyamin, “anak tangan kanan” atau “anak keberuntungan”.

Kisah ini memperlihatkan:

  • Sukacita dan dukacita dapat hadir dalam satu peristiwa.

  • Kelahiran tidak selalu meniadakan penderitaan.

  • Nama dapat menjadi cara menafsirkan pengalaman.

  • Yakub berusaha memberi identitas masa depan kepada anak yang lahir dari kematian ibunya.

Perubahan nama dari Ben-Oni menjadi Benyamin tidak berarti Yakub menghapus kesedihan Rahel. Ia mungkin sedang mengarahkan identitas anak itu agar tidak selamanya dikuasai oleh tragedi kelahirannya.

Rahel dikuburkan di dekat Efrata, yaitu Betlehem. Tempat itu kelak memiliki signifikansi besar dalam sejarah Israel dan dalam narasi kelahiran Mesias. Hubungan kanonik ini perlu dibaca secara hati-hati: Kejadian 35 sendiri terutama menceritakan kematian Rahel, sementara hubungan dengan Betlehem dan Mesias berkembang melalui kesaksian kitab-kitab berikutnya.

8. Ruben dan Penyalahgunaan Kekuasaan Seksual

Ruben tidur dengan Bilha, gundik ayahnya, dan Israel mendengar hal itu. Teks menyampaikannya secara singkat tanpa menjelaskan seluruh motif atau detail.

Namun tindakan ini serius karena:

  • Bilha berada dalam struktur keluarga yang tidak setara.

  • Hubungan itu merupakan pelanggaran terhadap kehormatan ayah.

  • Ruben menyalahgunakan posisi dan kuasa dalam keluarga.

  • Tindakan tersebut memiliki dampak terhadap statusnya sebagai anak sulung.

Dalam Kejadian 49:3–4, Ruben kehilangan keunggulan sebagai anak sulung karena ketidakstabilannya dan pelanggaran tersebut. Jadi, dosa seksual Ruben bukan persoalan privat tanpa akibat; ia berhubungan dengan tanggung jawab kepemimpinan dan warisan.

Kejadian 35 memperlihatkan pola berulang dalam keluarga Yakub: kekerasan seksual, eksploitasi, dan penyalahgunaan kuasa. Keluarga yang sedang dipanggil kepada pemurnian masih membawa luka dan dosa yang harus dihadapi.

9. Daftar Dua Belas Anak: Allah Membentuk Bangsa dari Keluarga yang Rusak

Pasal ini mencatat dua belas anak Yakub:

  • Ruben.

  • Simeon.

  • Lewi.

  • Yehuda.

  • Isakhar.

  • Zebulon.

  • Yusuf.

  • Benyamin.

  • Dan.

  • Naftali.

  • Gad.

  • Asyer.

Mereka berasal dari empat perempuan dan rumah tangga yang penuh persaingan, ketidakadilan, serta dosa. Namun daftar ini menandai pembentukan awal bangsa Israel.

Dalam teologi sejarah penebusan:

  • Allah tidak menunggu keluarga sempurna sebelum menggenapi janji.

  • Dua belas anak ini menjadi dasar struktur umat Israel.

  • Kedaulatan Allah bekerja melalui sejarah yang kompleks.

  • Anugerah tidak membenarkan dosa, tetapi mengatasi kuasa dosa untuk mencapai tujuan-Nya.

Hal ini menolong kita membaca silsilah bukan sekadar daftar nama, melainkan sebagai kesaksian bahwa Allah setia bekerja melalui manusia yang rapuh.

10. Kematian Ishak dan Penguburan oleh Yakub serta Esau

Ishak meninggal pada usia 180 tahun, dan anak-anaknya, Esau serta Yakub, menguburkannya.alkitab.sabda+1

Adegan ini menggemakan pemakaman Abraham dalam Kejadian 25, ketika Ishak dan Ismael bersama-sama menguburkan ayah mereka. Dalam kedua kasus:

  • Konflik keluarga tidak menjadi satu-satunya cerita.

  • Kematian membawa anggota keluarga kembali berkumpul.

  • Warisan kovenan diteruskan setelah generasi sebelumnya meninggal.

  • Yakub berdiri sebagai penerus utama janji, tetapi Esau tetap hadir sebagai saudara.

Kematian Ishak menutup satu generasi. Namun Allah yang menyertai Abraham dan Ishak tetap bekerja melalui Yakub dan anak-anaknya.

Tabel Perbandingan Tradisi

 

AspekReformed / CalvinisArminianKatolikPentakosta / KarismatikOrtodoks Timur
Kembali ke BetelDipahami sebagai koreksi, pembaruan panggilan, dan pemenuhan nazar Yakub.Ditekankan sebagai respons sadar terhadap panggilan Tuhan dan kebutuhan untuk meninggalkan masa lalu.Dibaca sebagai perjalanan pertobatan dan pembaruan ibadah.Sering menjadi simbol kembali kepada hadirat dan panggilan Tuhan setelah kegagalan.Dipahami sebagai gerakan asketis dari kekacauan menuju pemurnian dan penyembahan.
Membuang ilah asingMenunjukkan pertobatan rumah tangga dan penolakan terhadap sinkretisme; pemurnian mendahului ibadah.Ditekankan sebagai keputusan pribadi untuk meninggalkan praktik dan kebergantungan lama.Dibaca sebagai pelepasan dari berhala dan pembaruan komitmen kepada Allah.Sering dikaitkan dengan pelepasan dari ikatan rohani dan kebiasaan lama.Dipahami sebagai pemurnian hati dan pengembalian seluruh hidup kepada Allah.
Pembaruan nama Israel dan janjiMenegaskan kesinambungan kovenan dan kesetiaan Allah meski keluarga Yakub penuh kegagalan.Ditekankan bahwa janji membutuhkan respons ketaatan dan kehidupan yang diperbarui.Dibaca sebagai bagian dari sejarah keselamatan menuju pembentukan umat Allah.Sering dijadikan penguatan tentang identitas baru dan pemulihan panggilan.Dipahami sebagai transformasi manusia melalui perjumpaan dengan Allah.
Kematian Rahel dan kelahiran BenyaminMenunjukkan bahwa janji dan kehilangan berjalan bersama; providensi Allah tidak berarti bebas dari kematian.Ditekankan bahwa manusia tetap bertanggung jawab merawat kehidupan di tengah duka.Dibaca dalam kerangka ratapan, harapan, dan misteri kehidupan serta kematian.Sering dipakai untuk menguatkan keluarga yang mengalami kehilangan saat kelahiran atau masa transisi.Dipahami sebagai misteri salib: sukacita dan penderitaan hadir bersamaan dalam perjalanan iman.
Dosa RubenMenunjukkan dampak serius penyalahgunaan seksual dan kegagalan karakter terhadap kepemimpinan serta warisan.Ditekankan tanggung jawab pribadi dan konsekuensi pilihan moral.Dibaca sebagai pelanggaran berat terhadap keluarga, kehormatan, dan tatanan moral.Sering menjadi peringatan terhadap penyalahgunaan jabatan, seksualitas, dan kepercayaan.Dipahami sebagai kebutuhan pemurnian hawa nafsu dan penguasaan diri.
Kematian IshakMenunjukkan pergantian generasi dan kesinambungan janji Allah setelah kematian leluhur.Ditekankan pentingnya mewariskan iman dan tanggung jawab kepada generasi berikutnya.Dibaca sebagai penutupan satu tahap sejarah keselamatan dan penghormatan terhadap leluhur.Sering dijadikan renungan tentang warisan iman dan pengharapan di tengah kematian.Dipahami sebagai peralihan generasi dalam rencana Allah yang terus berlangsung.

Aplikasi Praktis

1. Personal: Kembali kepada Allah dengan Pertobatan Nyata

Yakub tidak cukup hanya pergi ke Betel. Ia harus memimpin keluarganya membuang ilah asing dan menyucikan diri.

Pertobatan praktis dapat mencakup:

  • Mengakui dosa yang selama ini disembunyikan.

  • Menghentikan kebiasaan yang merusak.

  • Membuang benda atau praktik yang menjadi pusat kebergantungan salah.

  • Meminta pertanggungjawaban dari komunitas yang dewasa.

  • Menata ulang kebiasaan doa dan ibadah.

Pertobatan bukan hanya perasaan menyesal, tetapi perubahan arah hidup.

2. Keluarga: Bangun Budaya Rumah yang Sehat

Yakub bertanggung jawab memimpin rumahnya menuju pemurnian. Keluarga Kristen perlu:

  • Membicarakan iman secara terbuka.

  • Menolak kekerasan dan manipulasi.

  • Menciptakan ruang aman bagi anak.

  • Menegur dosa dengan benar.

  • Mengakui kegagalan tanpa menutupi reputasi keluarga.

  • Menghormati setiap anggota sebagai pribadi.

Keluarga tidak menjadi sehat karena memakai label Kristen, tetapi karena menjalankan kebenaran, kasih, dan tanggung jawab.

3. Spiritual: Identifikasi “Ilah Asing” Masa Kini

Berhala modern tidak selalu berbentuk patung. Ia dapat berupa:

  • Uang.

  • Status.

  • Kenyamanan.

  • Pengakuan.

  • Kontrol.

  • Relasi.

  • Karier.

  • Pengalaman rohani.

  • Keamanan politik atau sosial.

Pertanyaan pentingnya:

  • Apa yang paling saya takut kehilangan?

  • Apa yang paling saya percaya untuk menyelamatkan saya?

  • Apa yang menentukan nilai diri saya?

  • Apa yang mengendalikan keputusan saya lebih kuat daripada firman Allah?

Pemurnian dimulai ketika kita berani menamai dan menyerahkan berhala-berhala tersebut.

4. Relasional: Hadapi Kehilangan tanpa Kehilangan Iman

Kejadian 35 memuat beberapa kematian: Debora, Rahel, dan Ishak. Pemulihan rohani tidak menghapus kebutuhan untuk berduka.

Kita dapat:

  • Mengizinkan diri menangis.

  • Menghormati kenangan orang yang meninggal.

  • Mencari dukungan komunitas.

  • Tidak menganggap duka sebagai kegagalan iman.

  • Memegang janji Allah tanpa menyangkal rasa sakit.

Iman bukan ketidakmampuan untuk berduka. Iman adalah membawa duka ke hadapan Allah.

5. Komunal: Lindungi Mereka yang Rentan terhadap Penyalahgunaan Kuasa

Dosa Ruben terhadap Bilha mengingatkan gereja untuk:

  • Menolak penyalahgunaan seksual.

  • Tidak menutupi pelanggaran pemimpin.

  • Menyediakan mekanisme pelaporan.

  • Melindungi korban dari intimidasi.

  • Mengambil tindakan disipliner yang benar.

  • Memisahkan pengampunan dari pengembalian jabatan.

Pemulihan rohani tidak berarti pelaku langsung kembali memegang kuasa. Kepercayaan dan tanggung jawab harus dibangun kembali melalui proses yang serius.

6. Spiritual: Percaya pada Kesetiaan Allah di Tengah Pergantian Generasi

Kematian Ishak menandai berakhirnya satu generasi, tetapi janji Allah terus berlangsung.

Kita dapat belajar:

  • Mempersiapkan generasi berikutnya.

  • Mewariskan iman, bukan hanya harta.

  • Tidak menganggap pelayanan bergantung pada satu tokoh.

  • Percaya bahwa Allah bekerja setelah kita tidak lagi hadir.

  • Menjalani panggilan dengan kesetiaan sampai akhir.

Kematian manusia tidak mengakhiri rencana Allah.

Kesimpulan

Kejadian 35:1–29 menampilkan fase penting dalam perjalanan Yakub: Allah memanggilnya kembali ke Betel setelah kekacauan di Sikhem, dan Yakub merespons dengan memimpin keluarganya membuang ilah-ilah asing, menyucikan diri, serta mendirikan mezbah. Pemurnian ini menunjukkan bahwa kembali kepada Allah bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perubahan pusat kepercayaan dan ibadah. Allah kemudian melindungi perjalanan mereka, meneguhkan kembali nama Israel, dan memperbarui janji kovenan tentang tanah, keturunan, bangsa-bangsa, serta raja-raja yang akan keluar dari keturunannya.

Namun pembaruan janji itu berlangsung di tengah kehilangan. Debora meninggal di Betel, Rahel meninggal ketika melahirkan Benyamin, dan Ishak akhirnya meninggal pada usia 180 tahun. Kejadian 35 memperlihatkan bahwa penyertaan Allah tidak berarti umat-Nya dibebaskan dari kematian dan duka. Sebaliknya, kesetiaan Allah tetap menopang keluarga kovenan ketika generasi berganti dan luka tidak dapat dihindari.

Pasal ini juga mencatat dosa Ruben terhadap Bilha, menunjukkan bahwa keluarga yang sedang mengalami pemulihan tetap membutuhkan pertobatan dan disiplin. Tidak ada pembaruan rohani yang boleh dianggap selesai hanya karena sebuah mezbah telah dibangun. Dalam perspektif Reformed, anugerah Allah memelihara dan memperbarui umat-Nya, tetapi anugerah itu juga memanggil mereka untuk membuang berhala, menata ulang kehidupan, dan hidup dalam kekudusan.

Kejadian 35 mengajarkan bahwa Allah membawa Yakub kembali kepada tempat janji, tetapi bukan untuk mengulang masa lalu tanpa perubahan. Ia memanggil Yakub kembali sebagai Israel—seorang manusia yang telah dibentuk melalui pergumulan, kehilangan, dan anugerah. Karena itu, gereja dan keluarga dipanggil untuk terus kembali kepada Allah, membuang pusat-pusat kepercayaan palsu, merawat mereka yang berduka, melindungi yang rentan, dan percaya bahwa janji Allah tetap berjalan ketika manusia serta generasi berganti.

(el)

Referensi
Alkitab (Kejadian 35 dan Kejadian 49:3–4), John Calvin, Commentaries on Genesis, Matthew Henry, Complete Commentary on Genesis 35, Keil & Delitzsch, Biblical Commentary on the Old Testament: Genesis, John D. Currid, Genesis: A Study Commentary, Ligonier Ministries tentang pemenuhan nazar Yakub di Betel, bahan Reformed tentang pembaruan kovenan, pemurnian rumah tangga, kematian Rahel, dosa Ruben, dan pergantian generasi

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

gambar ilustrasi

Wahyu 5:1-14 — “Layaklah Anak Domba”: Kristus yang Disembelih...

Theology, ElrolumNews - Dalam Wahyu 4, Yohanes melihat takhta Allah. Tidak ada kekacauan yang dapat mengguncangkan pemerintahan-Nya. Namun...
gambar ilustrasi

Wahyu 4:1-11 — “Satu Takhta Berdiri di Surga”: Kedaulatan...

Theology, ElrolumNews - Setelah menyampaikan pesan kepada tujuh jemaat, Yohanes melihat sebuah pintu terbuka di surga. Ia mendengar...
Foto Ilustrasi

Wahyu 3:1-22 — “Bangunlah dan Berjaga-jagalah”: Kristus Menilai Gereja...

Theology, Elrolumnews - Kristus melanjutkan surat-Nya kepada tujuh jemaat. Kali ini Ia berbicara kepada tiga gereja dengan kondisi...

More

Recomended

Read More