Riyadh, ElrolumNews — Suara ledakan dan intersepsi rudal mengguncang ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu dini hari (19/9/2026). Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara kerajaan berhasil mencegat sejumlah objek tak dikenal yang mendekati wilayah Riyadh.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Brigadir Jenderal Turki Al-Malki, menyatakan bahwa intersepsi dilakukan sebagai respons terhadap ancaman yang terdeteksi oleh sistem pertahanan udara.
“Kami mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara Kerajaan Arab Saudi telah berhasil mencegat objek tak dikenal yang mendekati wilayah Riyadh. Situasi terkendali dan tidak ada korban jiwa,” ujar Al-Malki dalam pernyataan resmi yang dikutip Saudi Press Agency (SPA), Sabtu (19/9/2026).
Berdasarkan laporan yang dihimpun, suara intersepsi terdengar sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Warga di beberapa distrik di Riyadh melaporkan melihat kilatan cahaya di langit dan mendengar dentuman keras yang disertai getaran.
Abdullah Al-Harbi, seorang warga Riyadh, menceritakan pengalamannya saat kejadian berlangsung.
“Saya sedang tidur ketika mendengar suara ledakan yang sangat keras. Jendela rumah bergetar. Saya keluar dan melihat kilatan cahaya di langit. Situasi sangat menegangkan,” ujarnya kepada Arab News.
Warga lainnya, Fatimah Al-Zahrani, menyatakan bahwa ia dan keluarganya sempat panik dan berlindung di ruang bawah tanah.
“Kami tidak tahu apa yang terjadi. Kami hanya mendengar suara ledakan dan langsung mencari perlindungan. Alhamdulillah, situasi kembali tenang setelah beberapa saat,” tuturnya.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi memastikan bahwa situasi di Riyadh telah terkendali. Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Kami mengimbau seluruh warga untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari otoritas. Jangan menyebarkan kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Al-Malki.
Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa kelompoknya meluncurkan sejumlah rudal balistik dan drone ke arah target strategis di Riyadh.
“Kami melancarkan serangan terhadap target-target penting di Riyadh sebagai balasan atas agresi Arab Saudi terhadap Yaman,” ujar Saree dalam pernyataan yang disiarkan melalui kanal resmi Houthi.
Namun, klaim Houthi ini belum dapat diverifikasi secara independen. Otoritas Arab Saudi belum mengonfirmasi apakah serangan berasal dari Houthi atau pihak lain.
Pengamat keamanan Timur Tengah, Dr. Riad Kahwaji, Direktur Institut Timur Dekat dan Analisis Militer Teluk, menilai bahwa insiden ini menunjukkan peningkatan kapasitas militer Houthi.
“Serangan ini menunjukkan bahwa Houthi memiliki kemampuan untuk menjangkau wilayah yang lebih jauh. Ini adalah eskalasi yang serius,” ujar Kahwaji kepada Al Arabiya.
Kahwaji menambahkan bahwa sistem pertahanan udara Arab Saudi, termasuk sistem Patriot dan THAAD, telah terbukti efektif dalam mencegat serangan tersebut.
“Keberhasilan intersepsi ini menunjukkan bahwa pertahanan udara Arab Saudi bekerja dengan baik. Namun, eskalasi ini tetap perlu diwaspadai,” tegasnya.
Insiden di Riyadh ini turut memengaruhi pasar energi global. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya berada di level US$107 per barel sempat melonjak ke US$109 per barel sebelum kembali stabil di US$108 per barel.
Dr. Fatih Birol, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), menyatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah.
“Kami memantau situasi dengan cermat. Stabilitas pasokan energi di kawasan ini sangat penting bagi ekonomi global,” ujar Birol dalam keterangannya.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan akan terus meningkatkan kesiapsiagaan pertahanan udara untuk melindungi wilayah kerajaan. Otoritas juga akan melakukan investigasi menyeluruh terkait sumber serangan.
“Kami akan terus menjaga keamanan dan stabilitas Kerajaan Arab Saudi. Setiap ancaman akan kami hadapi dengan tegas,” pungkas Al-Malki.
(fvs)





