London, Elrolumnews — Situasi di Selat Hormuz kembali memanas. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah tanker minyak terkena proyektil tak dikenal di Selat Hormuz hingga menyebabkan kebakaran .
“Api telah dipadamkan. Seluruh kru dalam kondisi selamat. Dampak lingkungan dari insiden ini masih belum diketahui,” demikian pernyataan resmi UKMTO, seperti dikutip Antara .
Laporan ini muncul hanya berselang beberapa jam setelah Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang dan menghentikan sebuah tanker minyak yang mencoba melintas secara ilegal melalui Selat Hormuz .
Berdasarkan laporan yang dihimpun, tanker tersebut melintas di perairan Selat Hormuz ketika terkena proyektil tak dikenal. Kebakaran terjadi di atas kapal, namun kru berhasil memadamkan api sebelum menjalar lebih luas. Seluruh awak kapal dilaporkan dalam kondisi selamat .
UKMTO belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Penyelidikan masih berlangsung untuk mengidentifikasi asal proyektil dan motif di balik insiden ini .
Sebelumnya, IRGC melalui pernyataan resminya mengklaim telah menghentikan sebuah tanker minyak yang mencoba melintas secara ilegal melalui Selat Hormuz. IRGC menyatakan bahwa tanker tersebut tidak mematuhi aturan pelayaran yang ditetapkan Iran .
“Kami menghentikan tanker yang mencoba melintas tanpa izin. Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Iran,” demikian pernyataan IRGC .
Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur utama ekspor minyak dunia. Sejak konflik AS-Iran memanas pada awal tahun, lalu lintas pelayaran di selat tersebut mengalami penurunan drastis .
Data pelacakan kapal menunjukkan hanya sekitar 10 kapal komoditas per hari yang melintasi Selat Hormuz dalam 10 hari terakhir, angka terendah sejak Mei 2026. Sebelum konflik, lebih dari 100 kapal melintas setiap hari .
Ketegangan yang terus berlanjut di Selat Hormuz turut memengaruhi harga minyak dunia. Harga minyak Brent berada di level US$107 per barel**, sementara WTI berada di sekitar **US$102 per barel .
Para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda. Hal ini turut memberikan tekanan pada ekonomi global, terutama negara-negara pengimpor minyak .
UKMTO mengimbau seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz untuk meningkatkan kewaspadaan dan melaporkan setiap aktivitas mencurigakan. Operator kapal juga diminta untuk mempertimbangkan rute alternatif jika situasi semakin membahayakan.
(fvs)





