Lumajang, ElrolumNews – Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, melaporkan terjadi tiga kali erupsi pada Sabtu (18/7) pagi .
Erupsi pertama terjadi pada pukul 05.24 WIB dengan tinggi kolom letusan sekitar 500 meter di atas puncak. Erupsi kedua pada pukul 06.21 WIB dengan tinggi kolom letusan 1.000 meter di atas puncak dan disertai luncuran awan panas guguran sejauh 3,5 kilometer ke arah Besuk Kobokan. Erupsi ketiga terjadi pada pukul 09.09 WIB, juga dengan tinggi kolom letusan sekitar 1.000 meter di atas puncak.
Kolom abu vulkanik teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur laut, tenggara, dan selatan. Erupsi kedua terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 6 menit 35 detik.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, memastikan bahwa luncuran awan panas tidak berdampak terhadap pemukiman penduduk.
“Informasi dari Pos Pantau Gunung Semeru, awan panasnya sudah berhenti, kondisi masyarakat di sana masih aman, warga tetap beraktivitas seperti biasa,” ujar Isnugroho .
BPBD Lumajang menyiagakan tim reaksi cepat (TRC) untuk bersiap mengamankan warga apabila luncuran awan panas terus berlangsung dan mendekati kawasan permukiman di radius 8 kilometer dari puncak kawah.
Saat ini Gunung Semeru berada pada status Level III (Siaga) . Badan Geologi Kementerian ESDM mengimbau masyarakat untuk:
Tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi) .
Tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak .
Tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar) .
Mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Meskipun luncuran awan panas tidak berdampak pada pemukiman, material vulkanik berupa pasir dan batu yang dimuntahkan Semeru semakin menumpuk di lereng. Jika terjadi hujan lebat di kawasan puncak, material tersebut berpotensi terbawa banjir lahar yang dapat membahayakan warga di sekitar aliran sungai.
(*/fvs)





