Jakarta, Elrolumnews — Pasar kripto masih bergerak hati-hati pada perdagangan Rabu (5/8). Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$64.104,6, menguat 0,92 persen dalam 24 jam terakhir . Ethereum (ETH) juga ikut menguat 0,52 persen ke US$1.870,11 .
Meski bergerak positif, investor dinilai masih menunggu kepastian dari arah kebijakan moneter maupun perkembangan regulasi aset digital di Amerika Serikat, khususnya pembahasan CLARITY Act.
Bitcoin bergerak stabil di atas US$64.000, melanjutkan pemulihan di tengah harapan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz . Reli saham global juga turut mendukung sentimen, namun kripto masih tertinggal dari penguatan pasar saham yang mencatat rekor.
Namun, sentimen negatif masih membayangi. Strategy, pemegang Bitcoin korporat terbesar, dilaporkan kembali menjual sebagian kepemilikannya . Selain itu, peretasan berprofil tinggi baru-baru ini turut menekan sentimen pasar.
Data dari KuCoin menunjukkan Bitcoin masih sekitar 49 persen di bawah level tertinggi sepanjang masa di US$126.000 yang dicapai pada Oktober 2025.
Salah satu indikator yang menarik perhatian adalah anjloknya volume perdagangan kripto. Menurut data Kaiko, volume spot harian di bursa kripto turun ke sekitar US$15 miliar pekan lalu, level terendah sepanjang 2026 . Volume perdagangan telah turun 70 persen dari puncak pada Januari.
Namun, beberapa analis menilai penurunan ini lebih mencerminkan pergeseran dari bursa terpusat (CEX) ke bursa terdesentralisasi (DEX). Rasio volume DEX terhadap CEX meningkat dari 20 persen pada April menjadi sekitar 46 persen pada Agustus.
Di tengah ketidakpastian global, industri kripto Indonesia justru menunjukkan pertumbuhan positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp28,58 triliun pada Juni 2026, tumbuh 24,2 persen secara bulanan (month-to-month).
Jumlah konsumen perdagangan aset kripto juga meningkat menjadi 22,69 juta konsumen pada Juni 2026 . Kapitalisasi pasar aset kripto tercatat sebesar Rp20,14 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso menilai kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital di Indonesia masih terjaga dengan baik di tengah ketidakpastian global .
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan kondisi ketidakpastian global mendorong investor menjadi lebih selektif dalam menentukan aset yang diperdagangkan. Data Bittime menunjukkan aktivitas perdagangan kembali terkonsentrasi pada USDT, Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Solana (SOL).
“Dalam kondisi seperti ini, investor umumnya lebih mengutamakan pengelolaan risiko dan memilih aset dengan likuiditas yang kuat,” ujar Ryan dalam keterangan tertulisnya.
Perhatian pasar tertuju pada perkembangan CLARITY Act di AS, rancangan undang-undang yang bertujuan memberikan kejelasan hukum bagi industri aset kripto . JPMorgan menilai tertundanya pembahasan regulasi tersebut masih menjadi faktor yang menahan sentimen pasar . Peluang persetujuan RUU ini terus menurun, terutama setelah Gedung Putih gagal merespons proposal dari Thom Tillis dan Ruben Gallego.
Di Indonesia, OJK terus memperkuat ekosistem aset kripto melalui regulatory sandbox. Hingga 31 Juli 2026, OJK telah menerima 343 kali permintaan konsultasi dari calon peserta sandbox dan 35 permohonan untuk menjadi peserta . Saat ini terdapat dua peserta yang tengah melaksanakan proses uji coba, sementara enam peserta sebelumnya telah dinyatakan lulus, termasuk PT Dana Kripto Indonesia pada 17 Juli 2026.
(Fvs)


