Boto, Lumba-lumba Pink Sungai Amazon yang Semakin Langka! Ini Fakta Unik dan Ancaman yang Mengintai

Animals, ElrolumNews – Jika membayangkan lumba-lumba, kebanyakan dari kita akan membayangkan mamalia laut berwarna abu-abu yang melompat-lompat di ombak. Namun, jauh di pedalaman hutan hujan Amazon, hiduplah sepupu mereka yang sangat berbeda: lumba-lumba pink Amazon, atau yang lebih dikenal dengan nama Boto.

Boto adalah spesies lumba-lumba air tawar terbesar di dunia, dengan panjang tubuh jantan bisa mencapai 2,7 meter dan berat hingga 180 kilogram . Mereka mendiami sungai-sungai di Amerika Selatan, terutama di aliran Sungai Amazon dan Orinoco yang melintasi negara-negara seperti Brasil, Peru, Kolombia, hingga Venezuela .

Keistimewaan utama Boto tentu saja warnanya yang merah muda. Namun, ternyata mereka tidak terlahir dengan warna tersebut. Bayi Boto berwarna abu-abu gelap dan perlahan berubah menjadi abu-abu muda saat remaja. Barulah setelah dewasa, warna pink mulai muncul.

Penyebab warna pink ini masih menjadi perdebatan para ilmuwan . Namun, ada beberapa faktor utama yang diyakini berperan:

  1. Pola Makan (Karotenoid): Sama seperti flamingo, warna pink pada Boto diduga berasal dari makanan mereka yang kaya akan karotenoid, pigmen organik yang ditemukan pada ikan dan krustasea yang mereka santap .

  2. Usia dan Kapiler: Warna pink menjadi lebih intens seiring bertambahnya usia. Jantan dewasa umumnya lebih pink daripada betina. Salah satu teori menyebutkan bahwa warna ini dipengaruhi oleh posisi pembuluh darah kapiler yang dekat dengan permukaan kulit dan jumlah jaringan parut akibat perkelahian .

  3. Faktor Lingkungan: Kejernihan air dan paparan sinar matahari juga memengaruhi intensitas warna pink pada tubuh mereka .

Fungsi utama warna pink ini ternyata adalah untuk menarik pasangan. Semakin merah muda dan banyak jaringan parut yang dimiliki pejantan, dianggap semakin kuat dan menarik bagi betina .

Untuk bertahan hidup di perairan keruh dan penuh rintangan, Boto dibekali kemampuan luar biasa. Leher mereka fleksibel karena tulang lehernya tidak menyatu, memungkinkan mereka menggerakkan kepala ke berbagai arah hingga 90 derajat . Sirip mereka yang lebar dan panjang membantu bermanuver dengan lincah di antara akar pohon dan pepohonan yang terendam banjir .

Mereka juga memiliki “melon”, yaitu dahi menonjol yang dapat berubah bentuk untuk membantu sistem ekolokasi atau sonar alami mereka dalam berburu mangsa .

Meski terlihat imut, Boto adalah predator puncak di ekosistemnya. Mereka adalah hewan karnivora yang memakan sekitar 50 spesies ikan, termasuk ikan piranha yang ganas, serta kepiting dan penyu kecil .

Di sisi lain, Boto adalah hewan yang cerdas dan sangat sosial. Mereka dikenal suka bermain, bahkan tercatat pernah “bermain” dengan ular anakonda di Bolivia . Bagi masyarakat setempat, Boto adalah makhluk mistis. Dalam legenda, mereka dipercaya memiliki kekuatan magis dan bisa berubah menjadi pria tampan di malam hari untuk merayu wanita desa .

Di balik keunikan dan pesonanya, Boto kini berada dalam status Rentan (Vulnerable) dalam Daftar Merah IUCN dan terancam punah .

Populasi mereka terancam oleh aktivitas manusia seperti pembangunan bendungan yang memecah habitat, penebangan hutan, polusi air, dan penangkapan ikan berlebihan yang mengurangi sumber makanan mereka . Perburuan juga menjadi ancaman, karena warna mencolok mereka membuat Boto lebih mudah menjadi sasaran nelayan.

Source: BBC Science Focus, Mongabay, Britannica, National Geographic, WWF, Bobo.ID

 

(*/el)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Kuda Nil yang Mengubah Peta Afrika: Warisan Tak Terduga...

History, ElrolumNews - Pada 1978, seorang gembong narkoba bernama Pablo Escobar membangun istana mewah di tanah kelahirannya,...

Sandal Jepit yang Mengguncang Istana: Ketika Sepatu Karet Mengubah...

History, ElrolumNews - 27 Juli 1996, Jakarta sedang panas-panasnya. Bukan karena cuaca—tapi politik. Di kantor pusat Partai...

Pintu Tak Terkunci yang Mengubah Sejarah Dunia: Runtuhnya Konstantinopel...

History, ElrolumNews - Selama lebih dari 1.000 tahun, Konstantinopel bertahan melawan aliran serangan tanpa henti. Tembok Theodosius—benteng raksasa...

More

Recomended

Read More