Dietrich Bonhoeffer: Teolog yang Melawan Nazi

Religi, ELrolumnews –

“Kisah nyata Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog dan pendeta Lutheran Jerman yang menentang Hitler dan Nazi. Ia memilih untuk tetap tinggal di Jerman dan berbagi penderitaan bangsanya, meskipun ia bisa melarikan diri. Ia ditangkap, dipenjara, dan akhirnya dieksekusi—tetapi imannya tidak pernah goyah.”

Seorang Anak dari Keluarga Terhormat

Aku lahir pada tanggal 4 Februari 1906 di Breslau, Jerman—kota yang sekarang bernama Wroclaw, Polandia . Namaku Dietrich Bonhoeffer. Aku adalah anak keenam dari delapan bersaudara dalam keluarga Bonhoeffer .

Ayahku, Karl Bonhoeffer, adalah seorang profesor psikiatri dan neurologi di Universitas Berlin. Ia adalah seorang ilmuwan yang dihormati dan skeptis terhadap agama. Ketika aku, pada usia tiga belas tahun, mengumumkan bahwa aku ingin menjadi teolog, ayahku terkejut . Ia tidak menyangka anaknya akan memilih jalan yang begitu berbeda dari dunia akademis yang ia kenal.

Ibuku, Paula, berasal dari keluarga yang lebih religius. Dari dia, aku belajar tentang kasih Tuhan dan pentingnya iman. Meskipun demikian, keluarga kami adalah keluarga intelektual. Para tamu di rumah kami termasuk teolog terkenal seperti Adolf von Harnack dan Ernst Troeltsch, serta Max Weber, salah satu pendiri sosiologi modern .

Aku tumbuh dalam lingkungan yang menghargai pemikiran kritis dan kebebasan berpikir. Aku belajar teologi di Universitas Tübingen dan Berlin, dan kemudian di Union Theological Seminary di New York . Di sanalah aku mulai menyadari kenyataan yang lebih luas—terutama tentang ketidakadilan rasial—ketika aku menghadiri Abyssinian Baptist Church di Harlem .

Kembali ke Jerman di Saat yang Salah

Tahun 1931, aku kembali ke Jerman. Aku menjadi pendeta di Gereja Sion di Berlin dan dosen teologi di Universitas Berlin . Aku juga terlibat dalam gerakan ekumenis, berusaha mempersatukan gereja-gereja Kristen di seluruh dunia.

Tetapi kemudian, pada tanggal 30 Januari 1933, Adolf Hitler menjadi Kanselir Jerman.

Dua hari setelah Hitler naik ke tampuk kekuasaan, aku memberikan siaran radio tentang perbedaan antara seorang pemimpin (Führer) dan seorang penyesat (Verführer) . Aku berbicara tentang bahaya ketika seorang pemimpin menuntut ketaatan mutlak. Siaranku dipotong di tengah kalimat. Aku tahu bahwa aku telah membuat musuh yang berbahaya.

Pada bulan April 1933, aku menulis sebuah esai yang berjudul “Gereja dan Pertanyaan Yahudi.” Dalam esai itu, aku menyatakan bahwa Nazi adalah bentuk pemerintahan yang tidak sah dan harus ditentang atas dasar iman Kristen . Aku menguraikan tiga tahap perlawanan: pertama, gereja harus mempertanyakan ketidakadilan negara; kedua, gereja memiliki kewajiban untuk membantu semua korban ketidakadilan, apakah mereka Kristen atau tidak; ketiga, gereja mungkin dipanggil untuk “menghalangi roda” untuk menghentikan mesin ketidakadilan .

Aku juga menyatakan dengan tegas: “Hanya dia yang berseru untuk orang Yahudi yang boleh menyanyikan nyanyian Gregorian.”

Confessing Church: Gereja yang Menolak Kompromi

Ketika Nazi mulai menekan gereja-gereja Jerman untuk menyesuaikan diri dengan ideologi mereka—mengeluarkan orang-orang Yahudi dari gereja, menghapus pengaruh Yahudi dari liturgi—banyak pemimpin gereja yang menyerah. Mereka membentuk apa yang disebut “Gereja Reich” yang pro-Nazi .

Aku tidak bisa tinggal diam.

Bersama dengan Martin Niemöller dan yang lainnya, aku membantu mendirikan Confessing Church (Gereja yang Mengaku)—sebuah gereja yang menolak tunduk pada Nazi . Kami menandatangani Deklarasi Barmen pada tahun 1934, yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Firman Tuhan yang harus didengarkan, dan bahwa gereja tidak boleh tunduk pada ideologi politik apa pun .

Pada tahun 1935, aku menjadi kepala seminari Confessing Church di Finkenwalde . Di sana, aku melatih generasi baru pendeta yang berani berdiri teguh pada Firman Tuhan. Seminari itu dilarang oleh Nazi pada tahun 1937, tetapi aku terus mengoperasikannya secara rahasia hingga tahun 1940 .

Dari pengalaman ini, lahirlah buku Life Together—refleksi tentang kehidupan komunitas Kristen yang sejati .

Anugerah yang Mahal

Pada tahun 1937, aku menerbitkan buku yang paling terkenal: The Cost of Discipleship (Judul asli: Nachfolge) .

Dalam buku itu, aku menulis tentang perbedaan antara “anugerah yang murah” dan “anugerah yang mahal.”

Anugerah yang murah adalah anugerah yang dianggap remeh—pengampunan tanpa pertobatan, baptisan tanpa disiplin, komuni tanpa pengakuan dosa. Anugerah yang murah adalah anugerah yang tidak menuntut apa-apa .

Anugerah yang mahal—itulah yang diajarkan Yesus—adalah anugerah yang memanggil kita untuk mengikut Dia dengan sepenuh hati. Anugerah yang mahal adalah “harta yang tersembunyi di ladang, yang karena menemukannya, orang pergi dan menjual segala miliknya dan membeli ladang itu.” Anugerah yang mahal adalah anugerah yang menuntut nyawa kita .

Aku menulis: “Anugerah yang murah adalah musuh paling berbahaya bagi gereja.”

Pilihan yang Sulit

Ketika Perang Dunia II dimulai, aku dihadapkan pada pilihan yang sulit.

Aku bisa tetap tinggal di Amerika Serikat. Teman-teman Amerikaku berusaha meyakinkanku untuk tidak kembali ke Jerman . Aku memiliki kesempatan untuk mengajar di Union Theological Seminary. Aku bisa hidup dengan aman.

Tetapi aku tidak bisa.

Aku menulis dalam suratku: “Aku harus mengalami periode sejarah nasional yang sulit ini bersama dengan orang-orang Kristen di Jerman. Aku tidak akan memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pembangunan kembali kehidupan Kristen setelah perang jika aku tidak berbagi cobaan pada masa ini dengan bangsaku.”

Aku kembali ke Jerman pada tahun 1939. Aku tahu apa yang menantiku. Tetapi aku tidak bisa melarikan diri dari penderitaan bangsaku.

Terlibat dalam Perlawanan

Pada tahun 1941, iparku, Hans von Dohnanyi, “merekrut” aku ke dalam dinas intelijen militer (Abwehr) . Ini memberiku kesempatan untuk bepergian ke luar negeri dan menjadi kurir bagi gerakan perlawanan.

Aku membawa pesan-pesan dari para konspirator kepada Sekutu. Aku berusaha meyakinkan dunia bahwa tidak semua orang Jerman mendukung Hitler. Aku bertemu dengan uskup-uskup dan pemimpin-pemimpin politik di Swedia dan Swiss .

Selama waktu itu, aku juga bekerja pada buku Ethics—di mana aku bergumul dengan pertanyaan yang paling sulit: bagaimana seorang Kristen harus bertindak di dunia yang penuh dengan kejahatan? .

Aku bergumul dengan pertanyaan: apakah seorang Kristen boleh terlibat dalam pembunuhan seorang tiran? Aku tahu bahwa beberapa temanku sedang merencanakan pembunuhan Hitler. Aku tidak secara langsung terlibat dalam rencana itu—tetapi aku tahu tentangnya, dan aku tidak menghentikannya .

Ini adalah pergumulan teologis yang paling berat dalam hidupku.

Penangkapan dan Pemenjaraan

Pada tanggal 5 April 1943, aku ditangkap oleh Gestapo .

Aku ditahan di penjara Tegel di Berlin. Selama dua tahun berikutnya, aku menghabiskan waktu dalam penjara—menunggu, berdoa, dan menulis.

Dari penjara, aku menulis surat-surat kepada sahabatku Eberhard Bethge. Surat-surat itu kemudian dikumpulkan menjadi buku Letters and Papers from Prison—yang menjadi salah satu karya teologis paling berpengaruh di abad ke-20 .

Dalam surat-surat itu, aku menulis tentang apa yang aku sebut “Kekristenan tanpa agama” (religionless Christianity) . Aku menulis: “Manusia telah belajar untuk mengatasi dirinya sendiri dalam segala hal penting. … Bagaimana kita bisa memberitakan Kristus kepada orang dewasa yang telah menjadi dewasa?”

Aku tidak sedang meninggalkan imanku. Aku sedang bergumul dengan bagaimana iman berbicara kepada dunia yang telah berubah.

Kematian yang Penuh Penyerahan

Pada tanggal 9 April 1945, di kamp konsentrasi Flossenbürg, aku dijatuhi hukuman mati.

Aku dibawa ke tiang gantungan. Aku berjalan dengan tenang. Seorang dokter penjara SS yang menyaksikan eksekusi itu kemudian berkata:

“Dalam hampir 50 tahun saya bekerja sebagai dokter, saya hampir tidak pernah melihat seorang pria mati dengan begitu sepenuhnya menyerahkan diri pada kehendak Tuhan.”

Aku berlutut dan berdoa. Aku berdoa untuk bangsaku, untuk gerejaku, untuk teman-temanku. Aku berdoa untuk mereka yang telah membunuhku.

Lalu aku berdiri. Tali itu dilingkarkan. Dan aku mati.

Aku mati pada usia 39 tahun. Hanya sebelas hari sebelum kamp itu dibebaskan oleh tentara Amerika . Aku tidak pernah melihat akhir perang. Aku tidak pernah melihat kejatuhan Nazi. Aku tidak pernah melihat pembangunan kembali gereja di Jerman.

Tetapi aku tahu: Tuhan setia. Dan aku percaya bahwa pekerjaanku tidak sia-sia.

Pelajaran dari Dietrich Bonhoeffer

Dari kehidupan Dietrich Bonhoeffer, kita belajar banyak hal:

Pertama, anugerah yang mahal menuntut segalanya. Bonhoeffer mengajarkan bahwa anugerah bukanlah izin untuk berbuat dosa, tetapi panggilan untuk mengikut Kristus dengan sepenuh hati. Anugerah yang mahal menuntut nyawa kita .

Kedua, keberanian sejati berasal dari iman yang mendalam. Bonhoeffer berdiri di hadapan Nazi ketika banyak orang Kristen lain memilih untuk diam. Ia tidak takut, karena ia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih berharga dari hidup ini.

Ketiga, kesetiaan kepada Kristus bisa berharga nyawa. Bonhoeffer memilih untuk tetap tinggal di Jerman dan mati sebagai martir. Ia tidak melarikan diri. Ia memilih untuk setia sampai akhir.

Saya tidak tahu apa yang Anda hadapi hari ini.

Mungkin Anda sedang menghadapi tekanan untuk berkompromi dengan dunia. Mungkin Anda merasa takut untuk berdiri teguh pada kebenaran. Mungkin Anda bertanya: “Apakah aku harus tetap setia, meskipun itu sulit?”

Ingatlah Dietrich Bonhoeffer.

Ia berdiri teguh pada Firman Tuhan ketika dunia di sekitarnya memilih untuk berkompromi. Ia memilih untuk mati daripada menyangkal Kristus. Dan kematiannya bukanlah akhir—kesaksiannya terus hidup dan menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” — Matius 10:38

KESIMPULAN

Tiga Pelajaran dari Dietrich Bonhoeffer

1. Anugerah yang Mahal Menuntut Segalanya

Bonhoeffer mengajarkan bahwa anugerah bukanlah izin untuk berbuat dosa, tetapi panggilan untuk mengikut Kristus dengan sepenuh hati. Anugerah yang mahal menuntut nyawa kita.

“Anugerah yang murah adalah musuh paling berbahaya bagi gereja.” — Dietrich Bonhoeffer

2. Keberanian Sejati Berasal dari Iman yang Mendalam

Bonhoeffer berdiri di hadapan Nazi ketika banyak orang Kristen lain memilih untuk diam. Ia tidak takut, karena ia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih berharga dari hidup ini.

“Hanya dia yang berseru untuk orang Yahudi yang boleh menyanyikan nyanyian Gregorian.” — Dietrich Bonhoeffer

3. Kesetiaan kepada Kristus Berharga Nyawa

Bonhoeffer memilih untuk tetap tinggal di Jerman dan mati sebagai martir. Ia tidak melarikan diri. Ia memilih untuk setia sampai akhir.

“Aku harus mengalami periode sejarah nasional yang sulit ini bersama dengan orang-orang Kristen di Jerman.” — Dietrich Bonhoeffer

Untuk Renungan

  • Apakah Anda percaya pada “anugerah yang murah” atau “anugerah yang mahal”?

  • Apakah Anda bersedia berdiri teguh pada kebenaran, meskipun itu sulit?

  • Apakah ada area di mana Anda dipanggil untuk berkorban bagi Kristus?

  • Bacalah Matius 5:10-12 — janji bagi mereka yang dianiaya karena kebenaran.

  • Bacalah Matius 16:24-26 — tentang memikul salib dan mengikut Kristus.

  • Doakan saudara-saudara kita yang masih mengalami penganiayaan karena iman mereka.

Kabar baiknya: Kematian bukanlah akhir bagi orang percaya. Kesaksian hidup kita—jika dijalani dalam iman—akan terus berbicara bahkan setelah kita tiada.

(el)

Sumber Utama
  1. United States Holocaust Memorial Museum. “Dietrich Bonhoeffer”. Holocaust Encyclopedia. Sumber resmi yang mencatat kelahiran (4 Februari 1906), latar belakang keluarga, pendidikan di Tübingen dan Berlin, studi di Union Theological Seminary (1930-1931), esai “The Church and the Jewish Question” (April 1933), dan perannya dalam Confessing Church .
  2. Oxford Reference. “Dietrich Bonhoeffer”. Sumber yang mencatat peran Bonhoeffer dalam Barmen Declaration (1934), kepemimpinannya di seminari Finkenwalde (1935), keterlibatannya dalam Military Intelligence Department, penangkapan (5 April 1943), dan eksekusi di Flossenbürg .
  3. BBC News. “A Hitler dilemma” (13 April 2006). Sumber yang mencatat detail eksekusi Bonhoeffer, kesaksian dokter penjara SS: “In almost 50 years that I worked as a doctor, I have hardly ever seen a man die so entirely submissive to the will of God”, dan perannya dalam plot pembunuhan Hitler .
  4. Bible.com (YouVersion). “Bertahan dalam Iman – Hari ke 5”. Sumber yang mencatat peran Bonhoeffer sebagai pendeta dan teolog yang menentang Hitler, pendirian Confessing Church, dan kematiannya sebagai martir .
  5. Google Books. “Discipleship” (Dietrich Bonhoeffer Works). Sumber yang mencatat publikasi Discipleship (1937), Life Together (1938), Ethics, dan Letters and Papers from Prison .
  6. Deutsche Digitale Bibliothek. “Pacifism, just war, and tyrannicide: Bonhoeffer’s church-world theology”. Sumber akademis yang mengkaji pergeseran pemikiran Bonhoeffer dari pasifisme ke keterlibatan dalam perlawanan politik .
  7. Garuda (Kemdiktisaintek). “Dietrich Bonhoeffer’s thought on the relationship between faith and politics” (2026). Sumber akademis yang mengkaji relevansi pemikiran Bonhoeffer bagi Gereja Indonesia kontemporer .
  8. Repository SEABS. “Seratus Tahun Dietrich Bonhoeffer” oleh Daniel Lucas Lukito. Sumber yang mencatat kelahiran Bonhoeffer di Breslau (sekarang Wroclaw, Polandia) .
  9. Google Books. “El precio de la gracia” (The Cost of Grace). Sumber yang mencatat latar belakang keluarga Bonhoeffer, pengaruh Karl Barth, dan kematiannya di Flossenbürg .
  10. Google Books. “Bonhoeffer the Assassin?” (2013). Sumber yang mengkaji kontroversi seputar keterlibatan Bonhoeffer dalam plot pembunuhan Hitler .

Catatan: Dietrich Bonhoeffer dieksekusi pada 9 April 1945 di kamp konsentrasi Flossenbürg, hanya 11 hari sebelum kamp itu dibebaskan oleh tentara Amerika. Warisannya—terutama The Cost of Discipleship dan Letters and Papers from Prison—terus menginspirasi jutaan orang Kristen di seluruh dunia.

 

 

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkait
Lima sola Reformasi menegaskan bahwa Alkitab, iman, anugerah, Kristus, dan kemuliaan Allah berada di pusat iman Kristen. Foto ilustrasi: ELrolumNews.

Lima Sola Reformasi: Fondasi Iman yang Mengembalikan Gereja kepada...

Religion, ElrolumNews - Reformasi abad ke-16 bukan sekadar gerakan yang mengubah wajah gereja di Eropa. Di balik...
Allah telah memberikan segala sesuatu yang diperlukan untuk hidup dan kesalehan; karena itu, bertumbuhlah dalam iman, kekudusan, dan kasih.

Renungan 2 Petrus 1:3–15: Anugerah yang Mengubah Hidup

Anugerah yang Mengubah Hidup: Bertumbuh dalam Panggilan dan Pemilihan Allah — 2 Petrus 1:3–15 Religion, ElrolumNews - Ada...
Ulrich Zwingli, reformator Swiss abad ke-16, dikenal melalui khotbah ekspositorisnya di Grossmünster Zurich yang membantu membentuk Reformasi di Swiss. Foto ilustrasi: ELrolumNews.

Ulrich Zwingli: Ketika Khotbah Alkitab Mengubah Zurich

Religion, ElrolumNews - Pada 1 Januari 1519, Huldrych Zwingli memulai pelayanannya di Grossmünster, gereja utama Zurich, dengan...

Lainnya

Popular