Religi, ELrolumnews –
“Kisah nyata Yosua bin Nun, seorang pemuda yang setia melayani Musa selama puluhan tahun, yang kemudian dipilih Tuhan untuk memimpin bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian. Dari hidupnya, kita belajar bahwa kesetiaan dalam proses adalah kunci untuk menerima promosi dari Tuhan.”
Seorang Pelayan yang Setia
Namaku Yosua bin Nun, dari suku Efraim. Aku lahir di Mesir, pada masa perbudakan yang pahit . Namaku sebenarnya Hosea, tetapi Musa memanggilku Yehoshu’a — Yosua — yang berarti “Tuhan adalah keselamatan” .
Sejak muda, aku melihat sendiri bagaimana Tuhan membebaskan umat-Nya dari Mesir. Aku menyaksikan kesepuluh tulah yang menghukum Firaun. Aku menyaksikan Laut Merah terbelah. Aku menyaksikan tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari .
Tetapi yang paling mengubah hidupku adalah ketika Musa memilihku untuk menjadi pembantunya.
Aku tidak tahu mengapa Musa memilihku. Aku hanyalah seorang pemuda biasa. Tetapi aku memutuskan untuk setia. Aku melayani Musa dengan sepenuh hati. Aku mengikutinya ke mana pun ia pergi. Aku belajar dari setiap perkataannya. Aku memperhatikan cara ia memimpin umat yang keras kepala itu.
Ketika Musa naik ke Gunung Sinai untuk menerima Kesepuluh Hukum, akulah satu-satunya orang yang menyertainya . Aku melihat kemuliaan Tuhan. Aku merasakan kekudusan-Nya. Dan aku belajar bahwa Tuhan sangat menghargai mereka yang setia melayani.
Setiap kali Musa masuk ke Kemah Pertemuan untuk berbicara dengan Tuhan, aku tinggal di luar. Aku tidak iri. Aku tidak mengeluh. Aku hanya menunggu dengan sabar . Karena aku tahu: waktuku akan datang.
Dua Belas Pengintai, Dua yang Percaya
Ketika bangsa Israel akhirnya tiba di perbatasan Kanaan, Musa mengirim dua belas pengintai untuk melihat negeri itu. Akulah salah satunya .
Kami mengintai negeri itu selama empat puluh hari. Kami melihat buah anggur yang begitu besar sehingga harus diangkut oleh dua orang dengan tongkat. Kami melihat tanah yang subur. Kami melihat negeri yang berlimpah susu dan madunya.
Tetapi kami juga melihat raksasa-raksasa. Kami melihat kota-kota yang berkubu tinggi sampai ke langit. Dan sepuluh dari pengintai itu kembali dengan laporan yang membuat hati umat Israel ciut.
“Kita tidak dapat maju melawan bangsa itu,” kata mereka. “Mereka lebih kuat dari kita. Kita seperti belalang di hadapan mereka.”
Hanya aku dan Kaleb yang berdiri tegak.
“Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya,” kataku. “Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan memberikannya kepada kita — suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka itu makanan bagi kita.”
Aku dan Kaleb berusaha meyakinkan umat. Kami mengingatkan mereka pada janji Tuhan. Kami mengingatkan mereka pada mukjizat-mukjizat yang telah Tuhan lakukan di Mesir.
Tetapi mereka tidak mau mendengar. Mereka ingin melempari kami dengan batu .
Akibat ketidakpercayaan itu, Tuhan menghukum umat Israel. Mereka harus mengembara di padang gurun selama empat puluh tahun — satu tahun untuk setiap hari pengintaian. Generasi yang tidak percaya itu tidak akan pernah melihat Tanah Perjanjian. Hanya aku dan Kaleb yang akan masuk, karena kami tetap setia kepada Tuhan .
Empat Puluh Tahun di Padang Gurun
Aku menghabiskan empat puluh tahun berikutnya di padang gurun.
Bukan sebagai pemimpin. Bukan sebagai tokoh penting. Tetapi sebagai pelayan Musa.
Aku melihat generasi yang tidak percaya itu mati satu per satu. Aku melihat Musa memimpin dengan sabar, meskipun ia sendiri harus menanggung beban yang begitu berat. Aku melihat bagaimana Tuhan memelihara umat-Nya — memberikan manna setiap pagi, air dari batu, dan pakaian yang tidak pernah usang.
Aku terus melayani. Aku terus belajar. Aku terus menunggu.
Ada saat-saat di mana aku bertanya: “Tuhan, apakah aku akan melihat Tanah Perjanjian?” Aku sudah tidak muda lagi. Empat puluh tahun adalah waktu yang sangat panjang.
Tetapi aku percaya. Aku percaya bahwa Tuhan akan menepati janji-Nya. Aku percaya bahwa Dia tidak pernah lupa.
Musa Pergi, Aku Dipanggil
Pada suatu hari, Musa naik ke Gunung Nebo. Ia melihat Tanah Perjanjian dari jauh — negeri yang tidak akan pernah ia masuki karena dosanya di Meriba. Dan di sana, di puncak gunung itu, Musa meninggal .
Aku berduka. Musa adalah mentor, pembimbing, dan bapaku dalam iman. Aku kehilangan sahabat terdekatku.
Tetapi Tuhan tidak membiarkan umat-Nya tanpa pemimpin. Dan pada saat itulah, Tuhan berbicara kepadaku.
“Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kukatakan kepada Musa.” (Yosua 1:2-3)
Aku terdiam. Empat puluh tahun aku menunggu. Dan sekarang, Tuhan berkata: “Bersiaplah.”
Tuhan melanjutkan:
“Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu.” (Yosua 1:5-6)
Janji itu menguatkanku. Aku bukan Musa. Aku tidak memiliki karisma Musa. Aku tidak memiliki pengalaman Musa. Tetapi aku memiliki Tuhan yang sama. Dan itu cukup.
Menyeberangi Yordan
Aku memerintahkan para imam untuk mengangkat Tabut Perjanjian dan berjalan di depan umat. Ketika kaki para imam menyentuh air Sungai Yordan — yang saat itu sedang meluap karena musim panen — air itu terbelah. Umat Israel menyeberang di tanah kering .
Aku memerintahkan dua belas orang untuk mengambil dua belas batu dari dasar sungai. Batu-batu itu kami dirikan sebagai peringatan. Agar generasi mendatang bertanya: “Apa arti batu-batu ini?” Dan kami akan menjawab: “Ini adalah tanda bahwa Tuhan menghentikan air Yordan di hadapan kita, seperti yang dilakukan-Nya di Laut Merah.”
Aku ingin umat tidak pernah lupa. Aku ingin mereka mengingat kesetiaan Tuhan dari generasi ke generasi.
Yerikho: Kemenangan oleh Iman
Kota pertama yang harus kami taklukkan adalah Yerikho. Kota itu kuat. Temboknya tinggi dan tebal. Gerbangnya tertutup rapat.
Tetapi Tuhan memberikan strategi yang aneh: “Berjalanlah mengelilingi kota itu satu kali setiap hari selama enam hari. Pada hari ketujuh, berjalanlah tujuh kali, dan para imam meniup sangkakala, dan seluruh umat bersorak.”
Secara manusia, itu terdengar konyol. Berjalan mengelilingi kota tidak akan meruntuhkan tembok.
Tetapi aku sudah belajar satu hal selama empat puluh tahun di padang gurun: ketaatan kepada Tuhan lebih penting daripada logika manusia.
Aku memerintahkan umat untuk taat. Dan pada hari ketujuh, ketika para imam meniup sangkakala dan umat bersorak, tembok Yerikho runtuh .
Kemenangan itu bukan karena kekuatan kami. Itu adalah kemenangan iman. Tuhan yang berperang untuk kami.
Kekalahan di Ai dan Pelajaran tentang Kekudusan
Setelah Yerikho, kami menyerang kota Ai. Aku mengirim hanya tiga ribu orang, karena Ai tampak kecil dan lemah.
Tetapi kami kalah. Tiga puluh enam orang Israel mati. Dan aku jatuh tersungkur di hadapan Tuhan, bertanya: “Mengapa?”
Tuhan menjawab: “Orang Israel telah berbuat dosa. Mereka telah mengambil dari barang yang dikhususkan untuk-Ku.”
Seorang pria bernama Akhan telah mengambil emas, perak, dan pakaian dari Yerikho — barang-barang yang seharusnya dihancurkan. Dosa satu orang telah membawa kekalahan bagi seluruh bangsa .
Aku belajar pelajaran yang pahit: kekudusan bukanlah pilihan. Itu adalah tuntutan. Tuhan tidak akan memberkati umat yang tidak taat.
Setelah Akhan dihukum, kami kembali menyerang Ai. Kali ini, kami menang.
Matahari Berhenti, Tuhan Berperang
Pertempuran terbesar terjadi di Gibeon.
Lima raja Amori bersekutu untuk menyerang Gibeon, yang telah membuat perjanjian damai dengan kami. Aku memimpin pasukanku berjalan sepanjang malam untuk menyelamatkan mereka.
Tuhan membuat musuh-musuh kami kebingungan. Dan ketika mereka melarikan diri, Tuhan menghujani mereka dengan batu es dari langit. Lebih banyak musuh yang mati karena hujan batu daripada yang mati oleh pedang kami .
Tetapi hari mulai gelap. Aku tahu kami butuh lebih banyak waktu untuk menyelesaikan kemenangan itu. Dan di hadapan seluruh umat Israel, aku berseru:
“Matahari, berhentilah di atas Gibeon! Dan engkau bulan, di atas lembah Ayalon!”
Dan matahari itu berhenti. Sehari menjadi seperti dua hari. Tidak ada hari seperti itu sebelumnya, dan tidak akan pernah ada lagi — karena Tuhan berperang untuk Israel .
Aku tidak melakukan itu dengan kekuatanku sendiri. Aku hanya percaya bahwa Tuhan yang berjanji akan menyertaiku benar-benar menyertaiku.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Setelah bertahun-tahun berperang, kami akhirnya menguasai Tanah Perjanjian. Aku membagi tanah itu kepada kedua belas suku Israel, dengan bantuan imam Eleazar .
Aku memberikan kota Hebron kepada Kaleb, sahabatku, karena ia juga setia kepada Tuhan sampai akhir.
Dan ketika aku sudah tua — seratus sepuluh tahun — aku mengumpulkan seluruh bangsa Israel. Aku tahu waktuku sudah dekat.
Aku berkata kepada mereka:
“Kamu telah melihat segala yang dilakukan TUHAN, Allahmu, kepada segala bangsa itu, karena TUHAN, Allahmulah yang berperang untuk kamu… Maka kuatkanlah hatimu, supaya kamu tetap berpegang pada segala yang tertulis di dalam kitab Taurat Musa… dan supaya kamu tidak menyimpang daripadanya ke kanan atau ke kiri… Sebab itu takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.”
Aku memberikan mereka pilihan:
“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah… Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15)
Itu adalah komitmenku. Itu adalah warisanku. Aku ingin umat Israel mengingat bahwa Tuhan yang membawa mereka keluar dari Mesir, yang membelah Laut Merah, yang meruntuhkan tembok Yerikho, yang menghentikan matahari — Tuhan itu setia. Dan Dia layak untuk disembah.
Aku mati pada usia seratus sepuluh tahun, dan aku dimakamkan di Tanah Perjanjian — tanah yang aku tunggu selama empat puluh tahun, tanah yang aku perjuangkan selama bertahun-tahun .
Aku tidak pernah menjadi Musa. Aku tidak perlu menjadi Musa. Aku hanya perlu menjadi Yosua — setia pada Tuhan yang memanggilku.
Pelajaran dari Yosua
Dari kehidupan Yosua, kita belajar banyak hal:
Pertama, kesetiaan dalam proses adalah kunci untuk promosi dari Tuhan. Yosua melayani Musa selama puluhan tahun sebelum ia dipanggil untuk memimpin. Ia tidak mengeluh. Ia tidak iri. Ia hanya setia .
Kedua, keberanian sejati berasal dari kehadiran Tuhan. Yosua diberkati bukan karena ia kuat, tetapi karena Tuhan menyertainya. “Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau.”
Ketiga, ketaatan kepada Tuhan lebih penting daripada logika manusia. Tembok Yerikho runtuh bukan karena strategi militer yang cerdas, tetapi karena ketaatan pada perintah Tuhan yang tampak konyol.
Keempat, kekudusan adalah tuntutan, bukan pilihan. Kekalahan di Ai mengajarkan bahwa dosa satu orang dapat membawa akibat bagi seluruh komunitas.
Saya tidak tahu apa yang Anda hadapi hari ini.
Mungkin Anda sedang berada di musim penantian. Mungkin Anda merasa tidak dihargai. Mungkin Anda bertanya: “Tuhan, kapan giliranku?”
Ingatlah Yosua.
Ia menunggu selama empat puluh tahun. Ia melayani tanpa dihargai. Ia setia dalam hal-hal kecil. Dan pada waktu yang tepat, Tuhan mempromosikannya.
Tuhan tidak melupakan kesetiaan Anda. Dia tidak pernah lupa. Mungkin Anda belum melihat hasilnya. Tetapi Dia sedang mempersiapkan Anda. Dan ketika waktunya tiba, Dia akan berkata: “Bersiaplah, seberangilah.”
“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.” — Yosua 1:9
KESIMPULAN
Tiga Pelajaran dari Yosua
1. Kesetiaan dalam Proses Mendahului Promosi dari Tuhan
Yosua melayani Musa selama puluhan tahun sebelum ia dipanggil untuk memimpin. Ia tidak mengeluh. Ia tidak iri. Ia hanya setia dalam hal-hal kecil. Dan pada waktu yang tepat, Tuhan mempromosikannya.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara yang kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara yang besar.” (Lukas 16:10)
2. Keberanian Sejati Berasal dari Kehadiran Tuhan
Yosua diberkati bukan karena ia kuat, tetapi karena Tuhan menyertainya. Tuhan berkata: “Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu.” (Yesaya 41:10)
3. Ketaatan Membuka Pintu bagi Kuasa Tuhan
Tembok Yerikho runtuh bukan karena strategi militer, tetapi karena ketaatan pada perintah Tuhan. Matahari berhenti bukan karena kekuatan Yosua, tetapi karena imannya. Ketaatan kita membuka pintu bagi kuasa Tuhan untuk bekerja.
“Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu… maka segala berkat ini akan datang kepadamu dan tetap padamu.” (Ulangan 28:1-2)
Untuk Renungan
Apakah Anda sedang berada di musim penantian? Apakah Anda tetap setia?
Apakah Anda percaya bahwa Tuhan menyertai Anda, seperti Dia menyertai Yosua?
Apakah ada area di mana Tuhan meminta Anda untuk taat, meskipun itu tampak tidak masuk akal?
Bacalah Yosua 1:1-9 — janji Tuhan kepada Yosua.
Bacalah Yosua 24:14-15 — komitmen Yosua untuk beribadah kepada Tuhan.
Kabar baiknya: Tuhan tidak melupakan kesetiaan kita. Dia sedang mempersiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar. Dan pada waktu yang tepat, Dia akan berkata: “Bersiaplah.”
(el)
Sumber Utama
Alkitab SABDA. Tafsiran Kitab Yosua. Sumber yang mencatat latar belakang Yosua sebagai pembantu Musa, pengalamannya menyertai Musa ke Gunung Sinai, perannya sebagai pengintai, dan kepemimpinannya setelah Musa wafat .
Tribun Manado. “Kisah Yosua, Seorang Penuh dengan Roh Allah yang Terpilih Merebut Tanah Kanaan.” Sumber yang mencatat nama asli Yosua (Hosea bin Nun), asal suku Efraim, kelahirannya di Mesir, dan kematiannya pada usia 110 tahun .
USCCB (United States Conference of Catholic Bishops). Sirach, Chapter 46. Sumber yang mencatat Yosua sebagai “pahlawan perkasa” dan “pembantu Musa,” serta perannya sebagai penyelamat besar umat pilihan Tuhan .
Church of Jesus Christ. “Joshua the Prophet.” Sumber yang mencatat kisah penyeberangan Sungai Yordan, kejatuhan Yerikho, dan kepemimpinan Yosua .
Alkitab SABDA. Ciri-ciri Khas Kitab Yosua. Sumber yang mencatat struktur kitab Yosua, mukjizat-mukjizat ilahi, dan penggenapan dalam Perjanjian Baru .
United Church of God Australia. “Joshua – God is salvation.” Sumber yang mencatat kisah kekalahan di Ai, dosa Akhan, dan pertempuran di Gibeon dengan hujan batu es .
University of Michigan. Bible, Revised Standard Version – Sirach 46. Sumber yang mencatat Yosua sebagai penerus Musa dan pahlawan perang yang mengalahkan musuh-musuh Israel .
Easy English Bible. “Joshua.” Sumber yang mencatat janji-janji Tuhan kepada Yosua: kehadiran Tuhan, janji Tuhan, rencana Tuhan, dan kuasa Tuhan .
Catatan: Yosua memimpin bangsa Israel selama sekitar 25-30 tahun. Ia adalah salah satu dari dua orang dewasa yang keluar dari Mesir (selain Kaleb) yang diizinkan masuk ke Tanah Perjanjian, karena kesetiaan mereka kepada Tuhan.




