Gut-Brain Axis: Kenapa Usus Anda Ikut Cemas

Kesehatan Pencernaan & Usus, ElrolumNews – Mual sebelum presentasi. Kembung saat menghadapi tenggat. Perut yang terasa tidak nyaman ketika sedang cemas. Ini bukan sugesti atau kebetulan. Usus dan otak terhubung melalui jaringan komunikasi dua arah yang disebut gut-brain axis — dan ketika otak stres, usus mendengarnya lebih dulu.

Selama bertahun-tahun, ilmu kedokteran memandang usus sebagai sistem sederhana: tempat mencerna makanan. Pandangan itu berubah total dalam dua dekade terakhir. Penelitian yang diterbitkan di Nature Reviews Neuroscience menegaskan bahwa usus memiliki sistem saraf enterik dengan sekitar 500 juta neuron — jumlah yang sebanding dengan otak seekor kucing. Sistem ini sering disebut “otak kedua”, dan komunikasinya dengan otak pusat memengaruhi suasana hati, kecemasan, dan bahkan cara berpikir.

Apa Itu Gut-Brain Axis

Gut-brain axis adalah jaringan komunikasi biokimia yang menghubungkan sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dengan sistem saraf enterik (usus). Komunikasi ini berlangsung melalui beberapa jalur, seperti dijelaskan dalam tinjauan yang diterbitkan di Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology:

1. Jalur saraf vagus.
Saraf vagus adalah jalur utama komunikasi antara usus dan otak. Sekitar 80% sinyal dalam saraf vagus bergerak dari usus ke otak, bukan sebaliknya. Artinya, usus mengirim lebih banyak informasi ke otak daripada yang diterima.

2. Jalur endokrin (hormon).
Usus melepaskan hormon seperti serotonin, kortisol, dan peptida yang memengaruhi suasana hati dan fungsi otak.

3. Jalur imun.
Peradangan di usus dapat memicu peradangan sistemik yang memengaruhi otak.

4. Jalur metabolik.
Bakteri usus menghasilkan asam lemak rantai pendek (SCFA) dan metabolit lain yang memengaruhi fungsi otak.

5. Microbiome.
Triliunan bakteri di usus berperan aktif dalam komunikasi ini, memproduksi neurotransmitter dan memodulasi respons imun.

Serotonin: Ketika Usus Mengatur Mood

Fakta yang paling mengejutkan bagi banyak orang: lebih dari 90% serotonin dalam tubuh diproduksi di saluran pencernaan, bukan di otak. Serotonin adalah neurotransmiter yang mengatur suasana hati, tidur, nafsu makan, dan nyeri.

Sebuah tinjauan yang diterbitkan di Cell menjelaskan bahwa serotonin usus berperan dalam motilitas gastrointestinalsekresi, dan peradangan. Ketika keseimbangan serotonin usus terganggu, fungsi pencernaan ikut terganggu.

Yang menarik, otak dan usus memiliki sistem serotonin yang terpisah. Serotonin otak memengaruhi mood, sementara serotonin usus memengaruhi pencernaan. Namun keduanya saling berkomunikasi melalui saraf vagus dan jalur sistemik.

Microbiome: Penduduk Tak Terlihat

Di dalam usus Anda hidup sekitar 38 triliun bakteri — jumlah yang lebih banyak dari sel tubuh manusia sendiri. Kumpulan bakteri ini disebut microbiome usus, dan komposisinya memengaruhi kesehatan secara luas.

Sebuah tinjauan yang diterbitkan di Nature Reviews Microbiology menjelaskan bahwa microbiome usus:

  • Memproduksi neurotransmitter seperti serotonin, dopamine, dan GABA

  • Memodulasi sistem imun

  • Melindungi dari patogen

  • Mencerna serat yang tidak bisa dicerna tubuh

  • Menghasilkan vitamin seperti K dan B12

Ketika keragaman microbiome menurun — kondisi yang disebut disbiosis — risiko gangguan pencernaan, gangguan mood, dan penyakit metabolik meningkat.

Stres: Ketika Otak Mengirim Sinyal Bahaya ke Usus

Ketika otak mempersepsikan ancaman, ia mengaktifkan HPA axis dan melepaskan kortisol. Kortisol memengaruhi usus melalui beberapa cara:

1. Mengubah motilitas usus.
Stres dapat mempercepat atau memperlambat gerakan usus. Hasilnya bisa diare atau sembelit.

2. Meningkatkan permeabilitas usus.
Stres kronis dapat melemahkan tight junction antar sel usus, meningkatkan permeabilitas atau “kebocoran usus”.

3. Mengubah komposisi microbiome.
Stres dapat mengubah keseimbangan bakteri usus, memicu disbiosis.

4. Memperburuk peradangan.
Stres meningkatkan sitokin proinflamasi yang dapat memperburuk peradangan usus.

Sebuah tinjauan yang diterbitkan di Frontiers in Neuroendocrinology (Elsevier) menegaskan bahwa stres kronis adalah faktor risiko utama untuk gangguan gastrointestinal fungsional seperti IBS dan dispepsia.

Bukti dari Studi Klinis

Hubungan gut-brain axis bukan teori. Ini terbukti dalam studi klinis:

1. Probiotik dan mood.
Sebuah tinjauan yang diterbitkan di Trends in Neurosciences (Elsevier) menemukan bahwa suplemen probiotik dapat mengurangi gejala kecemasan dan depresi pada beberapa populasi.

2. Transplantasi microbiome.
Studi pada hewan menunjukkan bahwa transplantasi microbiome dari manusia dengan depresi ke tikus dapat memicu gejala seperti depresi pada tikus.

3. Diet dan mood.
Sebuah studi yang diterbitkan di Nutrition menemukan bahwa diet kaya serat dan fermentasi berhubungan dengan penurunan risiko depresi.

4. IBS dan kecemasan.
Sebuah studi yang diterbitkan di Gastroenterology menemukan bahwa lebih dari 50% pasien IBS juga mengalami gangguan kecemasan atau depresi.

Yang Bisa Anda Lakukan

1. Makan makanan yang mendukung microbiome.

  • Serat dari buah, sayur, dan biji-bijian

  • Makanan fermentasi seperti yogurt, kefir, tempe, dan kimchi

  • Prebiotik seperti bawang putih, bawang bombay, dan pisang

  • Polifenol dari buah beri, teh hijau, dan dark chocolate

2. Batasi makanan yang merusak microbiome.

  • Gula tambahan

  • Makanan olahan

  • Alkohol berlebihan

  • Pemanis buatan

3. Kelola stres.
Stres kronis merusak microbiome dan memperburuk pencernaan. Lihat artikel kami tentang [Kortisol] dan [Mindfulness untuk Pemula] untuk strategi mengelola stres.

4. Tidur yang cukup.
Tidur memengaruhi microbiome dan fungsi usus. Lihat artikel kami tentang [HPA Axis dan Tidur] untuk panduan lengkap.

5. Gerakkan tubuh.
Olahraga moderat terbukti meningkatkan keragaman microbiome dan mengurangi peradangan.

6. Pertimbangkan probiotik.
Jika Anda mengalami gangguan pencernaan atau mood, probiotik tertentu mungkin membantu. Konsultasikan dengan dokter untuk rekomendasi yang tepat.

Kapan Harus ke Dokter?

Konsultasikan ke dokter jika:

  • Anda mengalami gangguan pencernaan yang berlangsung lebih dari dua minggu

  • Gejala pencernaan disertai dengan penurunan berat badan drastis

  • Anda mengalami darah dalam tinja

  • Anda mengalami kecemasan atau depresi yang mengganggu fungsi sehari-hari

  • Gejala tidak membaik dengan perubahan pola makan


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti nasihat medis profesional. Konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan terpercaya.


Daftar Sumber
  1. Cryan, J. F., et al. (2019). The microbiota-gut-brain axis. Physiological Reviews, 99(4), 1877-2013. American Physiological Society.
  2. Mayer, E. A., et al. (2014). Gut microbes and the brain: Paradigm shift in neuroscience. Journal of Neuroscience, 34(46), 15490-15496.
  3. Furness, J. B. (2012). The enteric nervous system and neurogastroenterology. Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology, 9(5), 286-294. Nature.
  4. Yano, J. M., et al. (2015). Indigenous bacteria from the gut microbiota regulate host serotonin biosynthesis. Cell, 161(2), 264-276. Elsevier.
  5. Gershon, M. D. (2013). 5-Hydroxytryptamine (serotonin) in the gastrointestinal tract. Current Opinion in Endocrinology, Diabetes and Obesity, 20(1), 14-21.
  6. Dinan, T. G., & Cryan, J. F. (2017). The microbiome-gut-brain axis in health and disease. Gastroenterology Clinics of North America, 46(1), 77-89. Elsevier.
  7. Foster, J. A., & McVey Neufeld, K. A. (2013). Gut-brain axis: How the microbiome influences anxiety and depression. Trends in Neurosciences, 36(5), 305-312. Elsevier.
  8. Mayer, E. A., et al. (2015). Gut/brain axis and the microbiota. Journal of Clinical Investigation, 125(3), 926-938.
  9. Kelly, J. R., et al. (2016). Transferring the blues: Depression-associated gut microbiota induces neurobehavioural changes in the rat. Journal of Psychiatric Research, 82, 109-118. Elsevier.
  10. Selhub, E. M., et al. (2014). Fermented foods, microbiota, and mental health: Ancient practice meets nutritional psychiatry. Journal of Physiological Anthropology, 33(1), 2.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Ilustrasi makro bakteri usus yang beragam dalam komposisi seimbang, menggambarkan ekosistem microbiome yang sehat dan beragam.

Microbiome Usus: Ekosistem Triliunan Bakteri yang Menentukan Kesehatan Anda

Kesehatan Pencernaan & Usus, ElrolumNews - Di dalam tubuh Anda hidup sekitar 38 triliun mikroorganisme. Jumlahnya lebih...

More

Recomended

Read More