Jakarta, ELrolumNews — Aktivitas seismik di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus berlanjut hingga Kamis (3/9/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat total 11.630 gempa susulan setelah gempa utama M7,7 pada 15 Agustus 2026, hingga pukul 05.00 WIB .
Dari ribuan gempa susulan yang tercatat, BMKG mendata kekuatan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sementara gempa susulan dengan kekuatan paling kecil yang berhasil tercatat berada pada magnitudo 0,6 . Sebanyak 36 gempa susulan memiliki kekuatan magnitudo di atas 5,0, dan 168 kali gempa susulan dilaporkan dapat dirasakan oleh masyarakat .
BMKG menyatakan bahwa rentetan guncangan diperkirakan akan terus meluruh secara bertahap hingga sekitar empat pekan setelah gempa utama .
Berdasarkan pembaruan data BMKG, gempa kembali mengguncang wilayah NTT pada Kamis pagi, di antaranya:
Magnitudo 3,1 terjadi pada pukul 07.57 WIB di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 3 kilometer .
Magnitudo 4,5 terjadi sekitar pukul 10.45 Wita di laut, 39 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, pada kedalaman 8 kilometer .
Magnitudo 4,2 terjadi sekitar pukul 10.24 Wita di laut, 56 kilometer utara Ruteng, Manggarai, pada kedalaman 6 kilometer . Guncangan gempa dirasakan di Manggarai dengan intensitas III MMI .
Magnitudo 2,6 terjadi pada pukul 03:17 WIB di 38 km arah timur laut Ruteng pada kedalaman 5 kilometer .
Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menjelaskan bahwa gempa-gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust dan merupakan rangkaian susulan dari gempa utama M7,7 pada 15 Agustus lalu .
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada terhadap potensi gempa susulan. Masyarakat di wilayah terdampak diminta untuk tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi . Bagi warga yang berada di bangunan yang telah retak atau rusak, disarankan untuk menghindarinya demi keselamatan .
(*/fvs)





