Denpasar, ElrolumNews — Krisis bahan bakar minyak di Bali memasuki babak baru dengan penerapan sistem ganjil-genap pengisian Pertalite. Kebijakan yang berlaku sejak Sabtu, 17 Oktober 2026, hingga Senin, 19 Oktober 2026, ini diambil untuk mengurai antrean panjang yang selama sepekan terakhir melumpuhkan mobilitas warga dan sektor pariwisata.
Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan bahwa kebijakan ini mengacu pada Surat Gubernur Bali Nomor B.21.500.1/16673/V/DISNAKER.ESDM. Pengisian BBM disesuaikan dengan angka terakhir pada pelat nomor kendaraan.
“Pengisian BBM pada hari Sabtu diperuntukkan bagi kendaraan dengan pelat nomor ganjil. Sementara Minggu menjadi giliran bagi kendaraan bernomor polisi genap,” kata Ahad di Denpasar.
Selain ganjil-genap, Pertamina bersama Pemprov Bali juga menetapkan batas maksimal pembelian. Kendaraan roda empat dibatasi 20 liter, sedangkan kendaraan roda dua maksimal 3 liter per pengisian. Kendaraan ambulans dan pemadam kebakaran mendapat prioritas. Sementara pengisian BBM untuk truk hanya dapat dilakukan pada malam hari.
Memasuki hari kedua penerapan, sejumlah wilayah melaporkan perbaikan signifikan. Di Klungkung, antrean di SPBU Gunaksa, Kecamatan Dawan, dilaporkan hanya membutuhkan waktu tunggu 10 hingga 15 menit pada Minggu, 18 Oktober 2026.
“Sudah normal. Ini saya baru lima menit,” kata Wayan Agus, seorang warga Gunaksa, seperti dikutip detikBali.
Seorang petugas Polsek Dawan yang memantau lokasi menyatakan kondisi di seluruh SPBU di wilayah tersebut hampir seragam. “Semua normal. Rata-rata antrean sekitar 50 meter dengan waktu tunggu 10 sampai 15 menit,” ujarnya.
Pertamina juga mencatat perbaikan bertahap di sejumlah SPBU sejak hari pertama penerapan. “Kami melihat perkembangan positif. Antrean di beberapa SPBU mulai menunjukkan perbaikan secara bertahap,” ujar Ahad.
Namun, perbaikan belum merata. Di Kabupaten Buleleng, antrean masih mengular panjang pada Sabtu pagi. Di SPBU Banyuasri, antrean kendaraan roda dua memutar hingga ke depan Pasar Banyuasri, sementara kendaraan roda empat memanjang sekitar satu kilometer.
Putu Nova, warga Desa Baktiseraga, mengaku harus mengantre sejak pukul 04.15 hingga 08.00 WITA, atau hampir empat jam, untuk mendapatkan BBM. “Parah banget antreannya,” katanya.
Warga lainnya, Putu Rika, bahkan menunggu sejak malam sebelumnya. Ia mendatangi SPBU Gajah Mada pada pukul 20.00 WITA, namun SPBU tutup pukul 01.00 dan baru kembali buka pukul 06.00. “Sekitar jam 04.00 saya ke sana lagi,” ujarnya.
Pantauan di lapangan juga menunjukkan bahwa pada hari pertama, kendaraan dengan pelat nomor genap masih bisa mengisi BBM meskipun giliran seharusnya diperuntukkan bagi pelat ganjil.
Untuk mempercepat pemulihan, Pertamina mendatangkan pasokan tambahan sekitar 57,9 juta liter BBM secara bertahap. Sekitar 19 juta liter Pertalite dan Pertamax telah tiba di Fuel Terminal Sanggaran serta Terminal Manggis.
Pertamina menyiagakan 108 mobil tangki beserta 465 awak armada. Kedua terminal bahan bakar beroperasi penuh 24 jam. Sebanyak 66 SPBU di Denpasar dan Badung juga beroperasi 24 jam untuk memperluas akses layanan.
“Kami memastikan ketersediaan stok BBM di Terminal Sanggaran dan Terminal Manggis Karangasem saat ini mencapai 48 juta liter. Jumlah tersebut sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Bali selama 14 hingga 15 hari ke depan,” ujar Ahad.
Dukungan personel juga dikerahkan. Sebanyak 100 personel TNI Kodam IX/Udayana diterjunkan sebagai operator SPBU di malam hari, sementara Polda Bali melakukan pengawalan terhadap distribusi mobil tangki ke SPBU.




