Pekanbaru, ElrolumNews — Kualitas udara di Pekanbaru, Riau, pada Minggu, 18 Oktober 2026, masih berada pada kategori tidak sehat akibat kabut asap yang terus menyelimuti kota. Meskipun Riau sendiri tidak lagi memiliki titik panas, asap dari kebakaran lahan di Sumatera Selatan terbawa angin dan menjadi penyebab utama penurunan kualitas udara.
Berdasarkan data Stasiun BMKG Pekanbaru, pada Minggu pukul 06.00 WIB, konsentrasi PM2.5 mencapai 83,3 mikrogram per meter kubik dengan Indeks Kualitas Udara sebesar 170, masuk kategori tidak sehat. Sebagai perbandingan, batas aman harian PM2.5 yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia adalah 5 mikrogram per meter kubik, sehingga konsentrasi saat ini lebih dari 16 kali lipat.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Mari Frystine, menyatakan bahwa hasil pemantauan titik panas di Riau nihil. Namun, total titik panas di Pulau Sumatera mencapai 1.489 titik, dengan Sumatera Selatan menyumbang 1.121 titik dan menjadi sumber utama asap.
“Berdasarkan pemantauan titik panas, di bagian selatan Riau masih terdapat titik panas. Sementara arah angin dominan dari tenggara ke selatan menuju barat laut hingga utara, sehingga asap dari wilayah selatan Riau terbawa ke sini,” jelas Mari.
Dampak kabut asap terhadap jarak pandang terlihat signifikan di sejumlah wilayah. Pada Minggu pagi, jarak pandang di Pekanbaru tercatat sekitar 2 kilometer. Sehari sebelumnya, Sabtu, Stasiun Meteorologi Pekanbaru mencatat jarak pandang sempat turun hingga 900 meter, sementara Indragiri Hulu hanya 800 meter.
BMKG sebelumnya menyebut empat kabupaten dan kota paling terdampak, yaitu Pekanbaru, Indragiri Hulu, Pelalawan, dan Kampar. Penurunan jarak pandang berdampak pada transportasi darat dan udara.
Menghadapi memburuknya kualitas udara, Pemerintah Kota Pekanbaru mengambil sejumlah langkah pembatasan aktivitas publik. Kepala Dinas Perhubungan Kota Pekanbaru, Maskur Tarmizi, memastikan kegiatan hari bebas kendaraan atau car free day yang dijadwalkan Minggu, 18 Oktober 2026, dibatalkan.
“Hari bebas kendaraan Minggu, 18 Oktober 2026, sementara dibatalkan,” kata Maskur melalui pesan singkat kepada media pada Sabtu.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Pekanbaru telah menerapkan pembelajaran jarak jauh pada 14 hingga 17 Oktober 2026. Kebijakan itu diperpanjang karena kualitas udara belum membaik. Pemkot juga menutup sejumlah ruang terbuka hijau dan taman kota, serta mengimbau warga menghentikan olahraga luar ruangan.
Berdasarkan pemantauan IQAir AirVisual pada Sabtu, indeks kualitas udara Pekanbaru sempat mencapai 217, masuk kategori sangat tidak sehat, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 141,8 mikrogram per meter kubik.
Dinas Kesehatan Provinsi Riau mengaktifkan rumah oksigen di kawasan Kantor Dinas Kesehatan Jalan Cut Nyak Dien, Pekanbaru. Fasilitas ini memiliki tiga tempat tidur, dilengkapi peralatan oksigen dan tenaga medis siaga, khusus melayani warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap.
Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, menyatakan fasilitas tersebut diaktifkan karena kabut asap meningkat dalam beberapa hari terakhir. Langkah ini mengikuti arahan Gubernur Riau agar seluruh fasilitas kesehatan bersinergi menangani dampak asap terhadap kesehatan masyarakat. Sejak dioperasikan pada 12 Oktober 2026, rumah oksigen dan pos kesehatan terkait telah melayani 17 pasien.
Data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru menunjukkan, sejak 25 Agustus hingga 10 Oktober 2026, tercatat 11.707 kasus kesehatan terkait kabut asap. Rinciannya mencakup 9.816 kasus infeksi saluran pernapasan akut dan 892 kasus asma.
Prakiraan BMKG menunjukkan Riau masih berpotensi hujan pada Minggu, dengan Pekanbaru dan sekitarnya diperkirakan mengalami hujan ringan hingga sedang. Hujan berpotensi menurunkan konsentrasi partikel di udara. Namun, prakiraan juga menyebut bahwa jarak pandang akibat asap masih mungkin terjadi meskipun hujan turun.
BMKG mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker, mengurangi aktivitas luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.




