Jakarta, ELrolumNews — Isu potensi gempa megathrust kembali mencuat ke permukaan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sedang memantau secara ketat tiga segmen megathrust yang dinilai memiliki akumulasi energi besar dan telah lama tidak melepaskannya .
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa seluruh segmen megathrust pada dasarnya menyimpan potensi gempa kuat. Namun, tiga wilayah mendapat perhatian khusus: Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba .
“Contohnya ini segmen Mentawai-Siberut, itu yang berkali-kali kita sampaikan sudah lama tidak terjadi gempa. Segmen yang di Selat Sunda ini, sebenarnya masuk ke segmen Jawa bagian Barat ya, ini juga sudah lama tidak terjadi gempa-gempa magnitude besar,” kata Wijayanto .
Ketiga segmen tersebut dikategorikan mengalami seismic gap — wilayah potensi gempa tinggi yang seharusnya telah melepaskan energi sebagai gempa besar, namun berdasarkan data katalog pelepasan energi tersebut belum terjadi .
Berdasarkan catatan sejarah, Megathrust Selat Sunda terakhir kali melepaskan gempa besar pada 1757, sedangkan Mentawai-Siberut pada 1797 .
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa kondisi ini merupakan potensi jangka panjang, bukan prediksi gempa akan segera terjadi .
“Secara ilmiah harus dibedakan antara ‘memiliki kapasitas menghasilkan gempa besar’ dan ‘akan segera mengalami gempa besar’,” tegas Daryono .
Guru Besar Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa lokasi megathrust dapat dipetakan, tetapi waktu terjadinya gempa belum dapat diprediksi secara akurat .
“Apakah megathrust bisa diprediksi? Iya, lokasinya spasial itu bisa diprediksi, kira-kira lokasinya ada di mana. Tetapi dari segi (waktu) kapan? Itu tidak bisa akurat,” jelas Dwikorita .
Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Avianto Amri, justru menyoroti kesenjangan dalam kesiapan Indonesia. Ia melihat alokasi anggaran kebencanaan yang ada saat ini belum mencerminkan urgensi mitigasi .
Anggaran BNPB pada 2026 ditetapkan sebesar Rp491 miliar, turun 75% dibandingkan 2025 yang mencapai Rp2,01 triliun. Sementara itu, BNPB memperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana yang harus ditanggung Indonesia berkisar Rp20 triliun hingga Rp50 triliun setiap tahun .
Para pakar menekankan bahwa langkah paling rasional adalah meminimalkan dampak melalui peningkatan kesiapsiagaan, bukan terjebak dalam kepanikan . Beberapa langkah mitigasi yang dianjurkan antara lain:
Mengenali jalur evakuasi di wilayah masing-masing dan titik kumpul aman
Mengikuti simulasi kebencanaan secara rutin
Menyusun tas siaga bencana yang berisi kebutuhan darurat
Memastikan bangunan memenuhi standar ketahanan gempa
Memantau informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan BPBD setempat
(fvs)





